Mbah Bonto

Jika Mbah Bonto Menjelma Macan Putih

Mbah Bonto.0003Mbah Bonto atau Kyai Bonto, hanyalah sebuah wayang kayu peninggalan Kerajaan Mataram. Tetapi, masyarakat amat mengkeramatkannya. Hanya karena sering berubah wujud sebagai siluman macan putih?

Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, masuk kawasan Blitar Selatan. Lazimnya daerah-daerah di Blitar Selatan, tingkat kesuburan tanahnya kurang bisa dihandalkan. Dulu, sebelum tersentuh proyek lahan kering dan konservasi tanah, daerah ini acap kali disebut kawasan kritis tandus.

Karena berada di wilayah selatan, masyarakat Kabupaten Blitar sering kali menyebut kawasan Blitar Selatan sebagai brang kidul. Mungkin, karena letaknya di ‘seberang selatan’ itu. Anehnya, meski tingkat kesuburan tanahnya kurang menjanjikan, toh mayoritas warga brang kidul ini hidup sebagai petani. Sebagian lainnya, yang bermukim di dekat-dekat pantai akan hidup sebagai nelayan.

Mbah Jarni (53) adalah warga Dusun Pakel, sudah 14 tahun menjadi juru kunci Mbah Bonto. Ada juga warga yang menyebutnya Kyai Bonto. Sebutan Mbah ataupun Kyai untuk wayang keramat yang diduga peninggalan Kerajaan Mataram itu, semata-mata merupakan refleksi rasa hormat warga terhadap wayang kayu itu sendiri.

Mbah Bonto.0001Dalam kesehari-hariannya, wayang tersebut berada di rumah Musiman, seo­rang kamituwo dongkol (mantan perangkat desa). Tersimpan dalam sebuah kotak kayu, berikut dua wayang kayu lainnya. Secara gaib, konon kedua wayang ini merupakan patih Mbah Bonto. Satu di antaranya, sepintas terlihat sebagai Pragata, salah satu tokoh pewayangan. Yang satunya laginya, seperti tokoh Buto. Sedang sosok Mbah Bonto sendiri mirip dengan tokoh Semar, salah seorang punakawan dalam dunia pewayangan.

MACAN PUTIH

Sosok Mbah Bonto suka-suka menjelma sebagai macan putih, beberapa kali penduduk melihatnya sendiri. “Macan jelmaan Mbah Bonto ukurannya besar sekali, tidak seperti umumnya macan-macan dalam dunia nyata,” menurut penduduk setempat, atas pengalamannya beberapa kali bertemu macan jel­maan Kyai Bonto. “Pertama kali melihat­nya, jantung saya seperti mau copot,” lanjutnya, mengenang pengalaman pertamanya bertemu dengan macan putih jel­maan Mbah Bonto.

Menurut Mbah Jarni, sebagai juru kunci Mbah Bonto, ia termasuk generasi ke 3. Dua generasi sebelumnya, adalah kakek dan ayahnya, masing-masing bernama Mbah Suro Kabi dan Mbah Lontarejo. “Menurut wasiat dari almarhum kakek saya, jatah keluarga kami menjadi juru kunci Mbah Bonto sampai generasi ke sembilan,” jelasnya.

Mbah jarni mengaku tidak tahu, bagaimana nantinya nasib Mbah Bonto setelah habis generasi ke sembilan. Baik kakek ataupun orangtuanya tak pernah memberitahukannya. Mbah Jarni pun kemudian mengira-ira, “Ya mungkin nanti akan ada wangsit, bagaimana nanti­nya Mbah Bonto,” ujarnya.

Ternyata, bukan penduduk saja yang sempat memergoki macan putih jelmaan Mbah Bonto. Mbah Jarni pun, per­nah mengalaminya. Bahkan, berulang kali. “Hampir setiap kali saya butuhkan, Mbah Bonto akan menemui saya dalam wujudnya se­bagai macan putih yang besar sekali,” ungkap Mbah Jarni serius.

Banyak orang datang dalam rangka sebuah upaya spiritual ke Mbah Bonto. Keinginan mereka pun bermacam- macam. Mbah Jarni lah yang mengkomunikasikan permohonan-permohonan para pengalab berkah itu kepada Mbah Bonto dengan satu ritual yang cukup sederhana. “Tetapi, penampakkan Mbah Bonto dalam jelmaannya sebagai macan putih, tak terkait dengan peristiwa tertentu,” tegas Mbah Jarni.

KYAI PRADA

Keberadaan Mbah Bonto di Blitar, ternyata masih ada kaitannya dengan gong pusaka Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sotojayan, Blitar Selatan. Kedua benda keramat tersebut, sama-sama berasal dari Kerajaan Matarapi di era abad 17-an. Ihwal keberadaannya di Kabupaten Blitar, terkait dengan satu peristiwa suksesi di kerajaan tersebut.

Disebut-sebut dalam legenda, Paku Buwono I adalah adik lain ibu dari Pangeran Prabu. Penobatan sang adik seba­gai raja, membuat hati Pangeran Prabu sangat kecewa. Kekecewaan tersebut diam-diam membangkitkan keinginannya untuk mengalang kekuatan dalam rangka kudeta. Tetapi sayang, sebelum keinginan tersebut terlaksana, raja mencium rencana busuk sang pangeran.

Karena dianggap membahayakan kedudukannya, maka Pangeran Prabu pun diusir dari kerajaan untuk menjalani hukuman pembuangan. Dengan kesatria, hukuman tersebut dijalaninya. Tetapi sebelum meninggalkan Mataram, terlebih dulu Pangeran Prabu pergi ke Glagah Wangi (Demak) untuk berguru ke Kyai Tunggul Manik. Atas kebaikan sang guru, Pangeran Prabu pun diberi piandal berupa gong pusaka dan wayang kayu.

Dalam pengembaraannya menjalani hukuman pembuangan, akhirnya Pangeran Prabu bersama isterinya dan abdi setianya sampailah di kawasan Blitar Selatan. Satu ketika, saat bertapa di Hutan Lodoyo yang masih lebat dan wingit, seorang abdi setianya yang bernama Ki Amat Tariman mencari-carinya den­gan memukul-mukul Gong Kyai Pradah. Di luar dugaan, sesaat setelah gong dipukul, munculnya berekor-ekor macan mengerubutinya. Sejak itu, Gong Kyai Pradah dipercaya banyak masyarakat bisa menjelma menjadi macan putih seperti halnya Mbah Bonto.

Seperti halnya Gong Kyai Pradah, pensucian Mbah Bonto dengan siraman air kembang setaman itupun atas wasiat Pangeran Prabu. Dalam wasiatnya yang berlaku secara turun menurun hingga sekarang, setiap tanggal 12 Maulud dan 1 Syawal hendak pusaka-pusaka itu dimandikan dengan siraman air kembang setaman. Sedang air bekas pensucian, harap dibagi-bagikan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Pasalnya, air tersebut amat berkhasiat untuk kesembuhan suatu penyakit dan awet muda.

Kepercayaan masyarakat akan wasiat tersebut, hingga kini masih tetap terjaga. Buktinya, setiap kali dihelat upacara adat siraman Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang dan siraman Mbah Bonto di Desa Kebonsari, antusiasme masyarakat yang ingin ngalab berkah tak pernah padam. ■ hir

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, Edisi 2223, 11-20 Mei 2005, hlm. 50-51

Batik Jonegoroan, Kabupaten Bojonegoro 2

Bupati Bojonegoro, H Suyoto, meresmikan Toko Bojonegoro yang menyediakan Batik Jonegoroan dan kaos Jonegoroan (2/8/2013).

batik jonegoroan.TOKO di komplek pertokoan Jl Gajah Mada itu menampung hasil produksi batik masyarakat dari enam desa di tiga kecamatan binaan Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Mobil Cepu Limited (MCL), operator Migas Blok Cepu. Enam desa yang sebelumnya mendapatkan program industri kreatif batik Jonegoroan dan sablon kaos Jonegoroan itu adalah Desa Ngunut dan Dander, Kec Dander; Desa Sukoharjo dan Leran, Kec Kalitidu, dan Desa Ngasem dan Sendangharjo, Kec Ngasem.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, mendukung kreasi anak muda Bojonegoro yang turut memberi identitas bagi Bojonegoro dalam bentuk kreasi dan karya seperti yang dilakukan Ademos. “Apa yang dilakukan ini dapat ikut mempromosikan produk lokal Bojonegoro dan sekaligus membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya,” kata Suyoto.

Dia berharap, dengan hadirnyaToko Bojonegoro ini dapat lebih memudahkan masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro dalam memperoleh produk lokal Bojonegoro, khususnya Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro Untuk itu, Kang Yoto berpesan, agar para perajin maupun pengelola Toko Bojonegoro lebih kreatif lagi dalam menyajikan desain produknya.”Sehingga toko ini bisa diminati semua kalangan dan menjadi jujugan,”tutur Suyoto.

Ketua Ademos, Aziz Ghosali, menerangkan, selain untuk menampung hasil kerajinan para perajin, Toko Bojonegoro ini merupakan salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro. KarenaToko Bojonegoro ini menyajikan varian produk beragam mulai kalangan tua hingga remaja. “Untuk produknya sengaja didesain berbeda sesuai selera remaja masa kini,”sambung Aziz.

Untuk lebih memperluas pemasaran produk Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro ini Ademos juga memasarkannya secara online dengan alamat www. tokobojonegoro.com. Sementara itu Menko Kesra, HR Agung Laksono, usai membuka pasar murah, langsung meninjau stan milik Dekranasda dan tertarik serta membeli batik khas Jone­goroan dengan warna kuning motif daunjati. *

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Galeria, Edisi 14; September – Oktober 2013

Cungkup

Cungkup iyalah suatu bangunan yang didirikan diatas sebuah makam, dengan dibangunnya suatu cungkup dalam halaman ke III suatu komplex pemakaman pesisir Utara Jawa Timur, maka akan terjadi pulalah perulangan pembagian kedalam tiga bagian yaitu :

  1. Ruang a :

yang dibentuk oleh pemunculan sebuah kijing yang diberi berkiswa atau kelambu sebagai suatu peraduan, dan disinilah letak makam yang dimaksud.

  1. Ruang b :

yang dibatasi oleh dinding keliling dan membentuk suatu bilik makam.

  1. Ruang c. :

yalah lorong langkan yang mengelilingi bilik makam dan terbentuk karena adanya dinding cungkup.

Memperhatikan pembagian ruangan ini dalam tiga bagian tersebut, maka tidaklah berbeda keadaannya dengan suatu percandian sebagai suatu tempat pemakaman raja-raja dalam masa Jawa Timur ( abad X — abad XV ). Ruang a. dapat kita bandingkan dengan sumuran pada suatu percandian tempat peripih abu penjenazahan diletakkan sedang ruang b. dapat dipersamakan dengan bilik percandian. Ruang c. yang merupakan lorong langkan dalam suatu cungkup, akan tidak jauh berbeda pula dengan lorong-lorong langkan pradaksina atau prasavya dalam suatu prosesi keagamaan mengelilingi percandian-percandian. 16).

Kenyataan yang kitB hadapi hingga kini dalam suatu cungkup pemakaman antara lain yang terdapat didaerah Gersik, justru pada lorong langkan inilah banyak terlihat kitab suci al Qur’an atau Surat Yassin tersimpan dan ada kalanya para penziarah dapat melakukan pengajian dan bersembahyang dalam lorong langkan ini.

Dengan memperhatikan perbandingan ini serta mengingat kembali akan tanggapan-tanggapan pada fase-fase a, b, c, yang menganggap bahwa makam- makam tersebut sebagai tempat kediaman/tempat peristirahatan yang mewakilL suatu bentuk gunung maka terlihatlah lambang-lambang gunung menghiasi cungkup-cungkup ini. Pada puncak cungkup pemakaman umumnya terdapat mahkota atap yang melambangkan meru ( Mahameru ). Bidang-bidang pada dinding cungkup maupun tiang-tiangnya penuh dengan hiasan-hiasan motif tumpal ( antefix ), tepi awan, lidah api, meander, swastika, lengkung-lengkung kala merga dengan kepala ular naga atau singa-singa, bentuk-bentuk binatang yang distilir serta arabesque, untaian daun padma yang kesemuanya mewujudkan attribute-attribute mahameru.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Issatriadi: Kekunoan Islam Pesisir Utara Jawa Timur, Proyek Rehabilitasi Dan Perluasan Museum Jawa Timur 1976-1977, hlm. 10

Payung Siti Hinggil

Payung Siti Hinggil Hilang, Empat Nyawa Melayang

Setelah 4 warga meninggal secara misterius, Paguyuban Olah Rasa Sejati mengganti payung- payung keramat yang hilang dari petilasan Raden Wijaya Siti Hinggil. Benarkah kematian mereka akibat kutukan leluhur Majapahit?

Aroma magis langsung terasa, begitu berada di Siti Hinggil, situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Wangi asap kemenyan dan kembang

sekaran seolah tidak pernah tidak ada dari tempat keramat itu. Di tempat inilah Minggu (16/4) pekan lalu Paguyuban Olah Roso Sejati menggelar ritual penggantian payung cungkup Raden Wijaya yang beberapa waktu lalu hilang dicuri orang.Bukan hanya payung

di cungkup Raden Wijaya saja yang diganti dalam upacara tersebut, tetapi juga payung Garwapadmi Gayatri. Sedang tiga pa­yung lain milik selir dan abdi dalem yang berada dalam satu kompleks Siti Hinggil yang sudah terlihat lusuh juga turut dicuci.

Setelah melakukan kontak batin sesaat dengan para le­luhur Majapahit di depan Sanggar Pamujan yang terletak di sudut Siti Hinggil, tim yang beranggotakan sekitar 25 orang ini langsung mensucikan ketiga payung itu de­ngan menggunakan air sumur yang Siti Hinggil yang berada di sekitar kompleks tersebut. Setelah disucikan, payung-payung itu ditempatkan dalam Sanggar Pamujan Siti Hinggil. “Karena bukan pa­yung sembarangan, sehingga diperlukan upacara khusus jika ingih menggantinya,” kata Sunar, juru bicara Paguyuban Olah Roso Sejati. Lebih jauh dikemukakan, dengan ditempatkannya payung-payung itu di Sanggar Pamujan, maka akan mengembalikan kekuatan gaib dari sejumlah payung tersebut.

Berkah

Payung-payung terse­but banyak dipercaya kalangan spiritual memili- ki kekuatan khsusus. Sa- lah satunya bisa menambah kewibawaan dan kharisma bagi siapapun yang bisa memilikinya. Tak heran, jika sebelum diganti oleh Paguyuban Olah Roso Sejati dua pa­yung di petilasan Raden Wijaya dan permaisuri- nya hilang dicuri. Pencurinya pun, banyak diper­caya warga setempat memiliki kesaktian luar biasa. Mungkin karena ini pula, hingga sekarang kasus pencurian payung bertuah itu belum terungkap.

Salah seorang warga setempat yang mengikuti jalannya upacara penggantian payung di Siti Hinggil mengaku amat senang dengan prosesi tersebut. “Saya senang kalau ada yang mau mengganti payung milik Gusti Prabu Raden Wijaya,” katanya. “Ya, karena sejak payung itu hilang ada saja kejadian aneh di desa ini,” lanjut lelaki itu tanpa bersedig menyebutkan namanya.

Kejadian aneh yang dimaksud, antara lain sakitnya seorang warga setempat yang secara tiba-tiba hingga terenggut jiwanya. “Sejak payung itu hilang sekitar bulan Suro lalu, sedikitnya ada empat warga sini yang meninggal dunia tanpa sebab yang jelas,” lanjutnya serius. “Makanya, kami hanya bisa berucap teri- ma kasih, kalau ada yang mau mengganti payung Gusti Ra­den Wijaya,” tandas laki itu.

Lalu benarkah kasus hilangnya payung-payung terse­but mengakibatkan kutukan bagi warga di sekitarnya? Berdasarkan olah spiritual dari leluhur Paguyuban. Olah Roso Sejati pada Gaib Raden Wija­ya, sebenarnya leluhur Majapahit ini tidak mempermasalahkan hilangnya payung-payung tersebut. “Tapi bisa jadi ada aparat gaib dari Kerajaan Majapahit yang tidak terima bila payung milik rajanya hilang begitu saja. Nah itu juga bisa berarti macam-macam kan,” ungkap Sunar mencoba menerjemahkan peristiwa aneh di balik hilangnya payung- payung bertuah tersebut menurut kacamata spiritual.

Menurut Sunar, meskipun Kerajaan Majapahit sudah hilang dari jagad raya ini, namun aura gaib kerajaan itu hingga kini masih ada di seputar Siti Hinggil dan kawasan .Bejijong. Bahkan secara gaib pula, wujud fisik kerajaan itu berikut para punggawanya masih bisa dilihat. Bebe- rapa warga sekitar Siti Hinggil bahkan mengaku, sesekali melihat “penampakan” sosok-sosok berpenampilan ala prajurit-prajurit kera­jaan. “Ya, kami mengira sosok-sosok misterius itu sebagai arwah tentara Ma­japahit yang kama- nungsan,” paparnya.

Kilatan Aura

Pagi hari sekitar pukul 9.00 wib, pro­ses pencucian dan penyucian payung selesai. Dua buah Payung Jagat milik Raden Wijaya dan Garwapadmi Gayatri serta tiga payung milik selir dan abdi dalem langsung di- buka serentak oleh para sesepuh pagu­yuban. Saat membuka kelima payung inilah, beberapa anggota paguyuban mendadak mengarahkan pandangannya pada pohon yang memayungi petilasan Raden Wijaya itu.

Ada apa? “Kalau tadi Anda melihat, waktu sesepuh paguyuban membuka payung, ada kilatan cahaya yang keluar di atas petilasan selama beberapa detik. Mirip lampu blitz kamera,” ungkap Sunar yang diamini beberapa anggota pagu­yuban. Rupanya kilatan cahaya ini sempat pula terekam oleh kamera salah satu anggota paguyuban.

Kilatan cahaya misterius ini terekam pada saat anggota paguyuban mencuci ketiga payung milik selir dan abdi dalem di sekitar lokasi sumur. Dalam dokumentasi foto itu, terlihat bayangan putih me­mayungi mereka yang sedang mencuci payung. Sesepuh paguyuban menyebutkan, baya­ngan putih tersebut sebenarnya aura dari payung-payung bertu­ah yang akan disucikan. “Hasil terawangan gaib kami mengatakan, itu adalah bukti bahwa para leluhur Majapahit merestui apa yang sudah kami lakukan. Ya, semoga saja payung-payung itu tetap bisa mengayomi rakyat seperti yang dilakukan oleh Majapahati waktu dulu,” begitu hasil rapat Paguyuban Olah Roso Sejati. ■ lay

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2267, 1-10 MEI 2008

Tradisi Nyusuk, Kabupaten Gresik

Tradisi Nyusuk GresikCUACA cerah kala Jumat (20/9/2013), ratusan warga desa Kedamean Gresik nyusuk di waduk desa setempat. Nyusuk adalah tradisi mencari ikan beramai-ramai di waduk atau tambak setelah ikan dipanen. Ini dilakukan karena paskapanen, biasanya debit air surut dan masih menyisakan ikan. Nah, kesempatan ini tak disia-siakan warga untuk berburu ikan.

Alat yang digunakan sangat sederhana. Namanya susuk, bentuknya menyerupai sangkar ayam dalam ukuran kecil. Cara menggunakanya pun juga tidak terlalu susah, cukup disusukan berulang-ulang ke tambak yang airnya nyemek- nyemek. Dan ikan akan terperangkap di dalamnya. “Tapi kalau tidak biasa, tidak paham dengan karakteristik gerakan ikan ya susah juga,” tukas Madenan.

Menurut Made, panggilan akrabnya, tradisi nyusuk itu ada yang gratis ada juga yang berbayar. Nyusuk gratis biasa­nya dilakukan di waduk milik desa. Karena, selain berfungsi sebagai pengairan waduk juga kerap ditanami ikan. Hasil panen ikan menjadi pendapatan asli desa, sementara masyarakat diberi kesempatan menikmatinya dengan nyusuk gratis. Pendapatannya tentu beda, sesuai dengan kepiawaiannya masing-masing. Bagi yang terampil tentu akan mendapat hasil yang lumayan.

Nyusuk berbayar biasanya dilakukan perorangan. Usai mbanjang (memanen ikan) bia­sanya petani tambak memanggil broker susuk. Kemudian broker melakukan survei ke lokasi. Tambak yang habis dipanen itu masih banyak ikannya atau tidak, broker sudah hafal, broker ini sudah memiliki komunitas. Jika sudah ada kesepakatan harga dengan pemilik tambak, broker menghubungi komunitas. “Tarifnya bervariasi. Biasanya setiap orang dikenakan Rp 50.000,” kisah Made.

Tradisi nyusuk ini kerap menyita perhatian warga. Mereka menjadikannya sebagai tontonan gratis. Betapa tidak, ratusan orang dengan membawa susuk tumplek blek bermandikan lumpur. Sebagian besar me­reka sekujur tubuhnya penuh lumpur demi mencari ikan.

 

Dibandingkan dengan hasilnya jelas jauh dari memadai. Tapi mereka semangat sekali. Bagi warga Gresik tradisi ini hal biasa. Tapi, bagi warga luar Gresik tentu menjadi pemandangan luar biasa. Ingin menyaksikannya, inilah saatnya!

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: PRIYANDONO: SURYA, SELASA-1 OKTOBER 2013, hlm. 13

 

 

Tradisi Lamaran di Kabupaten Lamongan

Istilah yang berlaku di daerah Lamongan berumah tangga adalah laki-rabi Bahwa wanita membutuhkan laki-laki, dan pria membutuhkan rabi. Maka dari itu wanita dan pria melaksanakan laki-rabi agar mempunyai keturunan. Menurut istilah Lamongan tidak ada wanita yang rabi, tetapi wanita yang dirabeni atau dirabi, atau dinikahi. Untuk dapat mendapatkan jodoh, karena pada jaman dahulu wanita jarang keluar rumah dan pergaulannya terbatas, pada umumnya ada yang bertindak sebagai perantara atau mak jomlang yang di Lamongan diistilahkan sebagai jalciram (Wawancara dengan Priyo Utomo, 15 Juni 2003).

Dalam kehidupan perkawinan, suami maupun isteri seharusnya dapat memahami arti istilah-istilah yang berkaitan dengan perkawinan. Selanjutnya setelah memahami diharapkan dapat melaksanakan maksud-maksud yang tercantum didalamnya. Istilah-istilah tersebut menurut Damardjati Supadjar (1985: 202-203) adalah:

1, Laki-rabi. Kata laki adalah kata majemuk, yang berasal dari kata lara, yang artinya terhormat, dan kata ki, artinya lelaki. Jadi kata laki, artinya orang lelaki yang terhormat. Mak- sudnya bagi isteri di seluruh dunia ini hanya ada satu orang lelaki saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji), yaitu suaminya Kata rabi, juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata ra yang artinya terhormat, dan bi yang artinya perempuan. Jadi kata rcibi artinya orang perempuan yang terhormat. Maksudnya bagi suami di seluruh dunia ini hanya ada seorang perempuan saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji) yaitu isterinya.

2. Jodho. Kata jodho juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata jo =ji (siji) dan dho = dua. Maksudnya satu jiwanya tetapi dua orangnya, yaitu suami dan isteri yang keduanya menuju satu cita-cita yaitu kebahagiaan keluarga.

Tradisi lamaran di daerah Lamongan, wanita yang melamar pria. Keluarga wanita yang melamar dengan membawa buah tangan bahan makanan dan kue yang bersifat rekat. Tradisi wanita melamar pria di daerah Lamongan karena terpengaruh oleh adanya kejadian pada abad ke 17, yaitu lamaran putri Andansari dan Andanwangi. Keduanya adalah putri Adipati Wirasaba (sekarang Kertosono), yang melamar Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris, kedua putra Bupati Lamongan ketiga itu, yaitu Raden Panji Puspokusuma (Wawancara dengan Suharjo, 22 Juni 2003; Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Adat lamaran ini sampai sekarang masih tetap dipegang teguh masyarakat di 11 kecamatan Kabupaten Lamongan, yaitu: Kecamatan Mantup, Karanggeneng, Sambeng, Kembang bahu, Bluluk, Sukorame, Modo, Ngimbang, Sugio, Tikung, dan sebagaian Kecamatan Kota. Tetapi daerah-daerah lain di Kabupaten Lamongan (16 kecamatan) sudah mulai luntur. Terbukti bahwa gadis Lamongan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, terutama yang mengenyam pendidikan di kota-kota besar, ada kecenderungan malu atau merasa gengsinya turun bila melakukan tradisi lamaran ini. Selain sudah enggan dijodohkan oleh orangtuanya, juga karena mereka terpengaruh tradisi daerah lain setelah mereka mengetahui bahwa secara umum di daerah lain tradisi lamaran dilakukan oleh pihak pria kepada pihak wanita. Dan mereka umumnya sudah mengenal pacaran dengan teman kuliah yang berasal dari daerah di luar Lamongan (Wawancara dengan Suyari, 21 Juli 2003; dan Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Jalan tengah yang bijaksana ditempuh oleh gadis dan jejaka Lamongan yang telah berpendidikan tinggi, yaitu sebelum memutuskan pihak mana yang harus melaksanakan lamaran, antara kedua belah pihak mengadakan kesepakatan terlebih dahulu untuk menentukan keluarga mana yang harus melamar. Setelah terjadi kata sepakat, baru kedua pihak keluarga melaksanakan acara lamaran sesuai hasil kesepakatan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan hasil kesepakatan mereka bahwa pihak wanita yang harus melamar sebagai penghormatan kepada tradisi daerah kelahiran mereka (Wawancara dengan Mbah Arso, 15 Juli 2003).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. 

Pengantin Bekasri, Tradisi pernikahan di Lamongan

Daerah Lamongan mempunyai tradisi sendiri dalam melaksanakan upacara pernikahan. Tradisi pernikahan di Lamongan ini disebut Pengantin Bekasri, berasal dari kata bek dan asri; bek berarti penuh, dan asri berarti indah menarik, jadi Bekasri berarti penuh dengan keindahan yang menarik hati. Tradisi ini cukup unik dan tidak terdapat di daerah lain. Pada dasarnya rangkaian pelaksanaan tradisi pernikahan di Lamongan dapat dikelompokkan menjadi empat tahapan, diantaranya :

  1. tahap mencari menantu;
  2. tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan;
  3. tahap pelaksanaan peresmian pernikahan dan
  4. tahap setelah peresmian pernikahan. 

Tahap mencari menantu terdiri dari beberapa kegiatan yaitu:

(1)   ndelok/nontok atau madik/golek lancu,

(2)   nyontok/ganjur atau nembung gunem,

(3)   linten atau negesi,

(4)   ningseti atau lamaran,

(5)   mbales atau totogan,

(6)   mboyongi,

(7)   ngethek dina.

 

Tahap persiapan menjelang peresmian pernikahan meliputi kegiatan-kegiatan:

(1)   repotan,

(2)   gedheg dan atau mendirikan tarup/terop,

(3)   ngaturi atau selamatan.

 

Tahap pelaksanaan peresmian pernikahan terdiri dari kegiatan:

(1)   akad nikah atau ijab kabul,

(2)   memberikan tata rias dan busana pengantin,

(3)   upacara panggih/temu pengantin,

(4)   resepsi.

 

Tahapan setelah peresmian pernikahan yang merupakan tahapan terakhir adalah sepasaran.

Semua kegiatan dalam masing-masing tahapan ini dapat dilaksanakan seluruhnya secara penuh, tetapi dapat juga yang dilaksanakan kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi lokal setempat, dan kondisi keluarga kedua belah pihak.

Pada tahap pelaksanaan peresmian pernikahan, kedua pengantin merupakan pusat perhatian semua tamu yang hadir, maka dari itru, agar tidak sama dengan para tamu yang hadir, pengantin perlu dirias dan diberi busana yang lain dari busana sehari-hari. Tata rias dan busana pengantin Bekasri mempunyai keunikan tersendiri yang pada dasarnya meniru busana raja dan permaisuri atau busana bangsawan. Karena daerah Lamongan pada zaman kerajaan Majapahit merupakan wilayah yang dekat dengan ibukota Majapahit, maka busana yang ditiru dengan sendirinya busana raja dan permaisuri Majapahit.

Tetapi karena daerah lamongan mempunyai berbagai produk busana daerah yang mempunyai ciri tersendiri, misalnya kain batik khas Lamongan, maka corak kain batik ini tentu saja mewarnai corak busana pengantin Bekasri.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Tata Rias dan Tata Busana Pengantin Bekasri: Pengantin Lamongan. Pemerintah Kabupaten Lamongan, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. hlm. 1-2

Tari Barongan, Kabupaten Blitar

Tari Barongan Sebagai penolak marabahaya yang ditimbulkan letusan Gunung Kelud.

Selain Kethek Ogleng, masyarakat Blitar juga mengenal Tari Barongan sebagai kesenian pertunjukan yang lain. Pada dasarnya.Tari Barongan hampir sama den­gan yang ada pada kesenian Jaranan atau Kuda Lumping yang lain. Bedanya, jika dalam Jaranan tarian yang ada didominasi oleh penari yang membawa kuda- kudaan dari anyaman bambu, pada Barongan justru tarian ini yang paling mendominasi jalannya tarian secara keseluruhan. Barongan berasal dari Bahasa Jawa yang secara harfiah artinya hutan bambu, tarian ini disebut Barongan karena topeng yang digunakan pemain san­gat besar sehingga seperti hutan bambu berjalan. Bentuknya yang seperti hutan bambu ditambah permainannya yang sarat unsur mistik dipercaya masyarakat mampu menjadi pagar sehingga dapat menolak marabahaya yang ditimbulkan letusan Gunung Kelud.

Untuk tujuan ini, biasanya pertunjukan den­gan tari-tarian pembuka atau di tengah tarian, Mbah Warok, selaku pimpinan sekaligus tikoh spiritual kelompok penari mengajak para pemain dan penonton yang hadir untuk berdoa kepadaTuhan YME agar terhindarkan dari bahaya letu­san Gunung Kelud. Bagi masyarakat Blitar, Kediri,Tulungagung dan sekitarnya, sudah lazim dikenal bahwa Barongan selain berfungsi sebagai tarian pertunjukan untuk menghibur masyarakat juga dapat digu­nakan sebagai media spiritu­al guna memohon kepada TuhanYME agar terkabul segala hajat dan keinginan seperti menolak maraba­haya. »RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY , 11 -20 APRIL 2012

Petik Laut, Kota Pasuruan

Lebih Berwarna

Petik Laut0002Upacara tradisi Petik Laut tahun ini yang diselenggarakan masyarakat pesisir Kota Pasuruan, ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan Petik Laut kali ini selain melakukan konvoi perahu seperti biasanya ke tengah laut, juga didahului dengan pawai budaya.

Selain itu, juga dihadirkan berbagai atraksi seni dan budaya, seperti tari- tarian, pencak silat serta pertunjukan seni lainnya, hal ini menambah semaraknya kegiatan upacara tradisi tersebut. Respon yang ditunjukkan warga sekitar untuk menyaksikan rangkaian acara Petik Laut juga cukup tinggi.

Petik Laut0001Namun kegiatan ini masih terkesan dilaksanakan seadanya, ke depannya perlu dikemas agar lebih menarik dan dapat dijadikan sebagai salah satu paket wisata budaya. Sehingga lebih memikat para pengunjung wisata di Kota Pasuruan.Acara ini dihadiri langsung walikota, wakil walikota dan juga jajaran Muspida Kota Pasuruan. Tidak ketinggalan beberapa pejabat di lingkungan Pemkot Pasuruan juga turut menghadirinya.

Kegiatan Upacara tradisi Petik Laut merupakan salah satu atraksi budaya yang biasa diselenggarakan masyarakat pesisir. Dalam sejarahnya, diselenggarakannya Petik Laut ini adalah sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya hasil laut yang diperoleh para nelayan. *****

MAJALAH BANGKIT EDISI I, Tahun V, Januari- Maret, 2013