Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur

Topeng Jabung 1Istifah Topeng Jabung berasal dari nama desa tempat kesenian ini berkembang. Desa yang terletak di sebelah timur jalan raya Malang-Sjngasari, di kaki gunung Manggungan pada ketinggian antara 500-600 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Jabung, di sekitar Kecamatan Tumpang Desa ini terletak lebih kurang 12 km. dari Singasari dan sekitar 19 km. dari kota Malang.

Di desa ini masih terpelihara suatu kesenian topeng yang dimungkinkan oleh adanya kepercayaan dan kebiasaan masyarakat Tengger yang masih menganut sisa-sisa kebudayaan Indonesia-Hindu. Masyarakat Tengger yang hidup di lereng gunung Bromo itu menganggap bahwa mehanggap pertunjukan wayang kulit itu adalah tabu. Oleh sebab itu mereka lebih gemar menyelenggarakan pertunjukan dramatari topeng. Lakon yang paling digemari adalah Cerita Panji di samping lakon Mahabarata dan lakon Ramayana.

Kesenian topeng telah mendarah daging pada masyarakat Indonesia, baik pada upacara seni topeng yang dihubungkan dengan pemujaan terhadap arwah leluhur, sampai kepada pemunculan pertunjukan topeng klasik di Istana, serta pertunj ukan topeng rakyat » yang semata-mata mengandung nilai hiburan.

Namun, ternyata pasang surutnya kerajaan/istana yang merupakan panutan sekaligns pengayom akar kesenian tersebut telah ikut pula menggoyahkan kelangsungan kesenian tradisi yang dibinanya. Oleh sebab itu, banyak kesenian-kesenian tradisi yang langka mulai hilang dari peredaran, sementara pendokumen- tasian sejarah tentang kesenian tersebut belum pernah dilakukan.

Drama Tari Topeng JabungUsaha-usaha pemerintah dan para peneliti untuk menggali, melestarikan, dan mengembangkan kesenian yang hampir punah tersebut, ternyata bukanlah usaha yang mudah. Berbagai kendala teknis yang dijumpai di lapangan menunjukkan kenyataan bahwa bangsa kita miskin dokumentasi. Banyak di antara para sesepuh, penari, serta pengamat kesenian tradisi yang sudah meninggal dunia sebelum sempat dikorek pengetahuannya.Kendala lain yang menyebabkan sulit berkembangnya pembinaan kesenian tradisional kita adalah kurangnya dan minimnya minat generasi muda sekarang terhadap warisan budaya masa lampau.

Munculnya media hiburan elektronik modern sekarang ini, seperti televisi, antena parabola, film bioskop, video, dan lainnyasecara langsung telah menyebabkan berkurangnya minat masyarakat untuk menonton pertunjukan kesenian tradisonal.                                                    Hal ini telah pula menjadi kendala besar bagi pengembangan dan pelestariari kesenian-kesenian tradisional di tanah air, termasuk dramatari Topeng Jabung.

Kiranya menjadi tugas bagi para budayawan dan pemerintah untuk membangkitkan gairah dan minat generasi muda sekarang supaya dapat mengenal, menghayati, mencintai, dan memelihara warisan budaya bangsanya demi masa depan, agar kita tidak kehilangan akar budaya nasional. Salah satu langkah awal yang telah dilakukan adalah mencoba untuk menerbitkan hasil kumpulan data tentang dramatari Topeng Jabung ini.

Semoga !

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994. hlm.sampul belakang dan bab penutup

Dramatari Topeng Jabung

Topeng JabungIstilah Topeng Jabung berasal dari nama tempat di mana kesenian ini berkembang, yaitu di Desa Jabung, di sekitar Kecamatan Tumpang. Penemuan bahwa di daerah ini masih terpelihara suatu kesenian topeng adalah suatu hal yang amat menggembirakan. Sekalipun di daerah-daerah lain juga ditemukan adanya kegiatan pertunjukan dramatari topeng, namun tidak ditemukan sebagaimana di Desa Jabung.

Desa Jabung terletak di sebelah timur jalan raya Malang – Singasari, di kaki gunung Manggungan pada ketinggian antara 500-600 meter di atas permukaan laut. Desa ini terletak lebih kurang 12 km. dari Singasari dan sekitar 19 km. dari kota Malang.

Drama Tari Topeng Jabung0002Masih dipeliharanya dramatari topeng di Desa Jabung itu dimungkinkan oleh adanya kepercayaan dan kebiasaan masyarakat Tengger yang masih menganut sisa-sisa kebudayaan Indonesia-Hindu. Masyarakat Tengger yang hidup di lereng Gunung Bromo itu menganggap bahwa menanggap pertunjukan wayang kulit adalah tabu. Oleh sebab itu, mereka selalu menyelenggarakan pertunjukan dramatari topeng. Cerita Panji merupakan lakon yang paling digemari di samping lakon Mahabarata dan Ramayana.

Dengan adanya kepercayaan yang demikian, maka kesenian dramatari topeng di Desa Jabung dimungkin­kan dapat terus berlangsung sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994. hlm.3

Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian adat upacara  untuk wanita masa dewasa rakyat biasa. Memakai pakaian yang dibedakan menurut letaknya, bagian atas Kebaya Rancongan, bagian bawah samper/sarong batik.

Sedangkan unsur perlengkapan pakaian

Bagian kepala

  • Rambut sebagai mahkota diatur dalam bentuk gellung sendhal, terutama yang berambut panjang. Bentuknya seperti gelung sehari-hari. Rambut disisir ke belakang, digelung dan diberi roncean bunga melati melingkari eellung.
  • Tusuk konde Cucuk harnal, terbuat dari emas atau selaka, berwarna kuning emas atau putih perak ukurannya kecil bergaris tengah ± 1 cm, dengan bentuk seperti harnal pada umumnya tetapi agak kecil.
  • Rias wajah dititik beratkan pada mata, bahannya dari tanah suci Mekkah, berwarna hitam. Bentuknya merupa­kan garis hitam di bawah mata. 

Bagian atas

Kebaya rancongan, bahannya brokat atau katun, dengan memakai model berbunga, atau polos. Adapun warnanya menurut selera, biasanya cenderung menyolok, dan warna yane kuat. Ukuran bagian badan dan lengannya mepres (nas) de­ngan si pemakai. Panjang kebaya persis di atas pinggul dan di bagian depan bentuknya runcing ciri khas dari ke­baya ini ialah pada kelimannya yang lebar ± 15 cm. Bentuk seperti kebaya pada umumnya tetapi tanpa memakai kutu baru. Di bagian pinggang ada 6 buah kup- nat, 3 di pinggang kanan dan 3 di pinggang kiri.

Kutang

Bahannya katun, tidak bermotif. Warnanya biasanya menyolok kontras dengan kebayanya, misalnya merah, hijau daun pupus atau biru benhur. Ukurannya pas ba­dan (ketat). Panjang kutang ada yang pendek ada pula vang panjang sampai ke perut. Bentuk seperti kutang pada umumnya tetapi bukannya terdapat di depan. Pe- nutupnya bisa kancing, bisa pula tali ikatan. Pada ba­gian kiri bawah ada 1 buah saku tempat menyimpan uang.

Perhiasan kebaya Peneti Dinar renteng

Bahannya emas, tidak bermotif, dengan warna keku- ning-kuningan, ukurannya sesuai dengan kemampuan ekonomi si pemakai. Bentuknya bundar berentang dari atas ke bawah semakin banyak jumlah dinarnya, berarti semakin panjang rentengannya.

Bagian bawah

Samper/sarong batik, bahannya kain batik tulis, bermotif bunga, atau bu rung. Warnanya merah soga dengan motif berwarna pu tih atau sebaliknya. Bentuknya seperti pada umumnya kain panjang (seperti pakaian remaja putri).

Alas kaki, untuk di rumah memakai alas kaki bacca.

Cara memakai pakaian

Sebelum gadis berpakaian lengkap, maka disaat upacara disiap- kan si gadis diberi pakaian berupa Samper (kain panjang) batik dan dipakai sampai sebatas dada. Sebelum dimandikan, gadis harus menyediakan bunga di macam. Setelah dimandikan dengan mengenakan samper sebatas dada, si gadis baru memakai pakaian lengkap yaitu kebaya, samper serta tidak lepas dari alas kaki sam­pai waktu menstruasi tersebut habis.

Fungsi pakaian ini, hanya untuk ke kegunaan praktis, selayaknya yang dipakai sehari-hari.

Arti simbolis :

  • Adalah menggambarkan suatu keceriaan kegembiraan (warna pakaian).
  • 41 bunga sebagai perlengkapan upacara iuempunyai arti suatu pengharapan agar kemuliaan dan kegembiraan ter- limpah pada hidupnya kelak.
  • Pada masa haid si gadis tidak diperkenankan menginjak kotoran karena jika ia menginjak kotoran akan mengakibatkan bau yang tidak sedap. Sehingga kelak jika sudah bersuami, suaminya akan menolak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.116-118

Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Kepotren

Pakaian Adat Tradisional Madura Kabupaten Bangkalan, pakaian resmi bangsawan wanita remaja (Pakaian Kepotren). Nama pakaian: bagian atas kebaya Bengkal, bagian bawah kain Songket

Perlengkapan Pakaian:

Bagian Kepala : Rambut memakai sanggul bokor nongop (bokor tengkurap) bahannya rambut asli, bentuknya seperti gelung tekuk Jawa, tengahnya diberi bunga bangbabur yaitu irisan daun pandan dibuat bulatan seperti bola lalu dimasukkan ke dalam gelung agar bisa bulat. Kemudian di tengah irisan daun pandan tersebut diberi bunga mawar asli berwarna merah. Di sekeliling sanggul diberi bunga melati asli yang dironce, na- manya pagar temor (pagar timur). Letak sanggul agak tinggi di atas tengkuk.

Hiasan telingan Giwang kerabu, bahan, permata intan atau berlian, serta pengikatnya emas atau suasa warnanya kekuning-kuningan. Ukurannya : lingkar tengah ± 7 mm, dan bentuknya : bulat utuh seperti biji jagung.

Hiasan leher Kembang kates Kalung Kembang kates, bahannya emas bermata intan, dengan motif kembang Kates, dan warna Kuning emas dan putih, bentuk perhiasan  umumnya.

Bagian atas

  • Kebaya Bengkal, bahannya beludru bersulam benang emas, berwarna me­rah kendola, motifnya polos dengan sulaman bermotif madduh empak (sudut empat) dalam kotak-ketak berisi daun si’dratul muntaha, yaitu daun yang paling agung dari surga, dengan ukuran sesuai dengan badan pemakainya, bentuknya seperti kebaya pendek biasa, memakai kutu baru dengan hisan bunga mawar yang sesuai dengan hias­an pada sanggulnya. Hiasan mawar tersebut dari benang emas yang terjalin rapat.
  • Kotang, bahannya katun, dan biasanya warnanya cenderung gelap, ukuran pas dengan badan pemakai. Panjangnya relatif. Bentuknya, seperti kotang pada umumnya, tetapi bukannya terdapat di depan. Penutupnya bisa kancing bisa pula tali ikatan.
  • Hiasan Kebaya: Peneti Ronyok (ketter) yang berarti goyang-goyang. Bahannya emas atau warnanya kuning.
  • Sap-osap (Saputangan),  bahannya beludru atau katun dan bersulam benang emas, dan biasanya motifnya di bagian pinggirnya berhiaskan bunga melati. Warnanya merah Kendola, dengan ukuran 20 x 30 cm. Bentuknya seperti umumnya saputangan.
  • Hiasan Jari (Selok) Bahannya emas. Warnanya kuning emas dengan permata intan. Ukurannya sesuai dengan lingkar jari pemakainya.

Bagian bawah

  • Kain songket bahannya sutra, warnanya merah kendola. Motifnya kotak-kotak dengan motif tumpal di pinggirnya. Bentuk­nya seperti kain songket pada umumnya (tidak memakai wiron).
  • Ikat pinggang : Pending bahannya emas, yang biasanya mengambil mo­tif berkembang-kembang, dan berwarna, kuning emas. Bentuknya, seperti biasanya ikat pinggang tetapi agak lebar.
  • Alas kaki: Selop bahannya kulit sapi, berwarna hitam memakai manik-manik, ukurannya sesuai dengan kaki si pemakai, bentuknya tertutup sewperta umumnya, namun tidak bertumit. 

Cara memakai pakaian :

Mula-mula mengenakan kain panjang/songket tanpa memakai wi- ru. Setelah kain diikat dengan seutas tali lalu dikencangkan de­ngan pending. Kemudian memakai kotang dan kebaya. Saputa- ngan diletakkan di bawah pending ditampakkan di bawah keba­ya. Terakhir mengenakan selop.

Fungsi pakaian :

Dipakai oleh para putri bangsawan untuk menghadiri acara- acara yang bersifat resmi. Bahkan pada jaman dahulu pakaian kepotren ini dipakai un­tuk menghadiri acara formal, misalnya menyambut tamu agung atau menghadap kepada raja dan gubernur Belanda.

Arti simbolis pakaian :

Secara keseluruhan kebaya bengkel mempunyai arti lebar atau luas akalnya. Diharapkan sipemakai dapat mempunyai pikiran yang luas dan terang. Mengenai warna : Warna yang dipakai oleh remaja putri biasanya memakai warna cerah, misalnya jika merah maka merahnya adalah merah kendola (merah pink). Disini men- cerminkan suatu kecerahan, kegembiraan seperti yang ter- pancar dalam warna, tersebut. Sebagai seorang remaja maka segala kegembiraan yang dilukiskan adalah kegembiraan/ kecerahan yang wajar dan tidak berlebihan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.

Ceprotan, Upacara Tradisional Pacitan

“CEPROTAN” MENJADI IDOLA WISATA TRADISIONAL PACITAN
Kita mendengar sebutan Pacitan, mungkin benak pikiran kita hanya terpancang pada dampak negatifnya bahwa Kota Pacitan merupakan kota yang tandus dan terpencil dibanding dengan Daerah Tingkat II yang lain di Propinsi Jawa Timur ini.

Namun dibalik semua itu Kabupaten Daerah Tingkat II Pacitan, telah menyimpan banyak potensi yang cukup handal seperti halnya industry kerajinan batu akik, hasil perkebunan buah jeruk yang sudah dikenal dengan jeruk Pacitannya. Lebih dari itu potensi-potensi pariwisata yang dimiliki oleh kabupaten ini cukup banyak jumlahnya  dan sangat menarik obyek wisatanya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang mondar-mandir di Kota Pacitan manpun ditempat-tempat obyek wisata, bahkan tak j arang pula wisatawan manca Negara tersebut yang menyempatkan untuk bermalam sekaligus menikmati suasana malam di Kabupaten Pacitan yang terpencil.

Kabupaten Paeitan, memang merupakan salah satu pintu masuk wisatawan yang cukup potensial, khususnya para wisatawan dari Wonogiri Solo Jawa Tengah. Satu hal yang menjadi kendala bagi wisatawan setelah menikmati berbagai obyek-obyek wisata di Kabupaten Pacitan, mereka umumnya enggan untuk melanjutkan perjalanan ke kabupaten-kabupaten lain yang terdekat dengan Pacitan, karena jaraknya yang terlalu jauh dan tanpa didukung obyek wisata. Untuk itulah maka wisatawan mancanegara lebih senang setelah menikmati keindahan Pacitan, kembali lewat Wonogiri menuju Solo untuk melanjutkan perjalanan ke obyek wisata lain sesuai dengan selera.

UPACARA TRADISIONAL CEPROTAN
Wisata budaya berupa upacara tradisional Ceprotan, nampaknya sudah menjadi idola bagi masyarakat Pacitan, bahkan banyak pula wisatawan dari luar Kabupaten yang datang untuk menyaksikan jalannya upacara tradisional Ceprotan tersebut.

Upacara tradisional Ceprotan ini biasanya diselenggarakan pada hari Senin Kliwon, jika tidak ada hari Senin Kliwon pada bulan itu diadakan pada hari Minggu Kliwon bulan Longkang bertempat di desa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan. Untuk penyelenggaraan upacara tradisional Ceprotan pada tahun ini jatuh pada tanggal 1 Mei 1994 ditempat yang sama dan dimulai pada pukul 16.00 WIB.

Lokasi upacara Ceprotan ini terletak didaerah perbatasan dengan Wonogiri, atau sekitar 40 km arah barat daya dari Kota Pacitan, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dengan memakan waktu hampir satu setengah jam.

Upacara tradisional Ceprotan, dimaksudkan untuk mengenang sejarah kehidupan Kyai Godeg dan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kediri yang menurut masyarakat desa Sekar merupakan orang yang pertama yang bertempat tinggal I cikal bakal didesa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan.

Mulai saat itulah Kyai Godeg membuat desa Sekar setiap hari Senin Kliwon bulan Dulkangidah /Longkang diadakan bersih desa yang sekaligus sebagai ulang tahun I hari jadi desa Sekar dengan diadakan Upacara Adat Ceprotan dengan kelapa muda untuk mengingat asal usul desa Sekar.

Tidak jauh dari lokasi upacara tersebut, tepatnya didesa Tabuhan wisatawan dapat pula menikmati wisata alam berupa gua dengan sebutan Gua Tabuhan, di gua ini kita dapat menanggap gamelan/tabuhan dari batu-batuan didalam gua dengan harus mengeluarkan uangsebesar Rp 15.000, belum termasuk sewa lampu untuk menikmati keindahan didalam gua yaitu sebesar Rp 1.000,-. Di tempat ini pula ada kios-kios souvenir khas Pacitan khususnya batu akik.

Selain itu pula, bagi wisatawan sebelum menuju desa Sekar untuk menyaksikan upacara tradisional Ceprotan khususnya yang berangkat dari Kota Pacitan pada pagi hari. Sayang rasanya jika tidak mampir terlebih dahulu, ke obyek wisata pantai yang sangat dekat dengan kota sekitar 3 Km, yaitu wisata alam pantai Teleng Ria yang cukup indah serta masih alami, yang dihiasi dengan pepohonan kelapa yang masih kecil dan hiruk pikuknya nelayan mendaratkan ikannya, dari kota kita dapat naik dokar/saldo maupun kendaraan lain. Di lokasi ini pula lengkap dengan fasilitas kolam renang, tempat bemain untuk anak, serta penginapan yang memadai.

Berdekatan dengan pantai Teleng Ria terdapat  pantai lain yang sudah dikenal pula yaitu wisata pantai Tamperan, di pantai ini wisatawan dapat berbelanja ikan segar di Tempat Pelelangan ikan (TPI), serta kios makanan khas Tiwul yangkini sangat sulit kita jumpai. (Agus Dm).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  MIMBAR JATIM, EDISI: 159, APRIL 1994, hlm. 20

Sarung Tenun Tradisional, Gresik

Wedani, Desa Penghasil Sarung Tenun Tradisional

Tak salah apabila Gresik dikenal dengan sebutan sebagai kota santri, karena selain sebagai pusat penghasil songkok, Kabupaten Gresik juga merupakan penghasil sarung tenun yang menjadi simbol identitas kaum santri.

Di kota ini, selain banyak berdiri perusahaan sarung tenun besar yang  menggunakan alat tenun mesin (ATM) semacam PT. Behaestex, juga banyak dijumpai indutri rumah tangga (home industry) sarung tenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Tentunya pengerjaannya masih dilakukan secara tradisional. Meskipun pengerjaannya masih tradisional, namun mutu sarung tenun yang dihasilkan tidak kalah bahkan lebih baik bila dibandingkan dengan sarung tenun produk mesin (ATM). Harga sarung tenun tradisional harganya jauh lebih mahal dibanding dengan sarun tenun ATM. Tidak hanya dari segi mutu, corak serta motif yang lebih bernuansa alam tampaknya menjadikan pesona tersendiri bagi para konsumennya sehingga banyak yang rela merogoh kantongnya untuk membeli dengan harga yang mahal.

Di Kabupaten Gresik, sentra penghasil sarung tenun tradisional ini banyak tersebar di Kecamatan Cerme dan Benjeng. Ada yang merupakan cabang usaha (binaan) dari perusahaan sarung tenun besar semacam PT. Behaestex seperti yang terletak di Desa  Ngembung dan Dungus Kecamatan Cerne, ada juga yang merupakan usaha mandiri keluarga yang banyak dijumpai di Desa Wedani Kecamatan Cenne. Di Desa Wedani ini, tak kurang dari 25 unit usaha keluarga (home industry) sarung tenun tradisional, baik yang berskala kecil (± 10 orang tenaga kerja) sampai skala yang agak besar (± 100 orang tenaga kerja).

Proses Produksi
Pembuatan sarung tenun tradisional ini membutuhkan keterampilan tersendiri. Namun, bagi penduduk desa Wedani ketrampilan seperti ini tidak memerlukan pendidikan khusus karena dipelajari secara turun temurun. Bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan sarung tenun ini terdiri dari 2 (dua) bahan pokok, yaitu benang dan bahan pewarna. Untuk benang terdiri dari 2 macam (ukuran), benang boom (ukuran 210) sebagai bahan dasar, sedangkan benang yang dipakai untuk bahan corak (pakan) berukuran lebih besar yaitu 140. Sedangkan pewarna berupa pewarna sintetis khusus untuk pewarna kain (benang). Proses pembuatan sarung tenun ini diawali dari proses pencucian benang baik benang boom maupun benang pakan sehingga dihasilkan benang yang benar-benar putih.

Kemudian benang boom dicelup dalam larutan pewarna sintetis dalam kondisi panas (dimasak). Karena digunakan sebagai bahan dasar, maka warna benang disesuaikan dengan warna dorninan kain sarung yang akan dihasilkan. Sedangkan benang pakan belum diwarna karena akan dimotif terlebih dahulu. Selanjutnya benang boom dikeringkan dan di’kloos’ (digulung). Untuk membuat motif, benang pakan di ‘medang’, pada kayu berukuran (0,5 x 0,5) meter, kemudian motifnya digambar dengan pensil dan diwarna. Pekerjaan ‘ngkloos’ dan ‘medang’ ini dilakukan secara terpisah pada waktu yang bersamaan.

Sesudah dilakukan ‘kloos’ pada benang boom, maka benang di’skir’, yaitu disusun berdasarkan motif dasar yang dikehendaki. Kumpulan benang hasil ‘skiran’ tadi kemudian digulung kembali menggunakan alat bantu yang dinamakan ‘boom’. Makanya benang untuk bahan dasar tadi lebih dikenal dengan nama benang ‘boom’ , karena digulung dengan alat yang bantu bernama ‘boom’. Satu gulungan ‘boom’ bisa menghasilkan 21-25 lembar sarung dengan jumlah serat benang per lembar sarung ±1950 benang.

Pada saat proses ‘skir’ dilakukan, benang yang sudah di”medang” tadi dicelup dalam larutan pewarna yang warnanya sama dengan warna dasar. Agar motifnya tidak ikut terwarnai saat dilakukan pencelupan, maka pada motif yang sudah diwarna saat di ‘medang’ diikat dengan tali rafia. Sesudah selesai tahapan pekerjaan pada benang boom maupun benang pakan, maka selanjutnya benang-benang tersebut disusun pada alat tenun. Kemudian dilakukan penenunan dengan motif yang berbeda-beda. Untuk satu orang pekerja tenun, bisa menghasilkan 1,5 lembar sarung setiap hari. Rata-rata mereka menerima upah sejumlah Rp 17.500,- s/d Rp 21.000,- untuk tiap lembar sarung. Sehingga penghasilan yang diperoleh para penenun ini berkisar Rp 26.000.- s/d Rp 35.000,- per hari dengan jam kerja antara pukul 08.00 WIB s/d pukul 17.00 WIB.

Berdasarkan penuturan Siti Fathonah, pemilik salah satu unit usaha pembuatan sarung tenun di Desa Wedani Kecamatan Cerme, usaha yang sudah dilakukan sejak tahun 1976 ini, dalam kondisi normal memiliki omzet produksi rata-rata 10 kodi atau 200 lembar sarung perminggu. Berarti dalam satu bulan sekitar 40 kodi atau 800 lembar sarung. Bila harga jual per lembar sarung sekitar Rp 100.000,- s/d Rp 125.000, maka dalam satu bulan bisa dihasilkan pemasukan kotor sebesar Rp 80.000.000,- s/d Rp 80.000.000,-. Artinya, Fathonah bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 20.000.000,- s/d Rp 30.000.000,- per bulan. Dari hasil tenun sarung ini pula, keluarga Fathonah dengan suaminya Tasripin mampu mengantarkan anak sulungnya menjadi dokter. Sedangkan satu anaknya yang lain saat ini sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Kota Malang. (rif)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 20, Maret – April 2005, hlm. 45

Ceprotan, Budaya Pacitan

Ceprotan Keselamatan bagi Pacitan

Tradisi dan mitos menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nyaris tak ada yang bisa mengubahnya. Seperti yang terjadi di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Warga desa tersebut memiliki, upacara bersih desa yang sarat muatan religius. Upacara memetri desa (selamatan untuk desa) itu mereka sebut dengan istilah ceprotan. Lazim dilaksanakan secara gotong royong. Namun setelah dikemas menjadi objek wisata, Pemkab Pacitan dan Dinas Pariwisata setempat ikut andil dalam pelaksanaannya.

Keselamatan desa merupakan tujuan pokok dari pelaksanaan prosesi ceprotan. Warga desa berharap mendapatkan keselamatan lahir-batin, rukun, damai, terbebas dari gangguan makhluk halus, dan terhindar dari malapetaka. Upacara ceprotan dilaksanakan setahun sekali, tiap bulan Selo atau Longkang (Dulkangidah/Dzul Qa’dah), hari dan pasaran Senin Kliwon. Bila pada bulan tersebut tidak terdapat hari Senin Kliwon, maka upacara dilaksanakan pada hari Minggu Kliwon. Even kali ini tepat tanggal 19 Januari 2004. Prosesi ceprotan berlangsung selama dua jam mulai pukul 14.00.

Sebuah tradisi dan mitos (sejarah) sebuah desa, lazimnya tidak boleh berubah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan pola pikir masyarakat Desa Sekar, ceprotan pun tak luput menjadi dua versi cerita. Sehingga tak mustahil terjadi pro-kontra dan saling tuding ketika terjadi malapetaka. Semua itu bermuara pada pelaksanaan upacara ceprotan yang dianggap tidak sesuai dengan tatanan awal.

Versi pertama mengalir dari tradisi lokal di Desa Sekar, seperti yang disampaikan H. Sakiman, mantan lurah. Konon, desa tersebut semula merupakan kawasan perbukitan tandus dan tak berpenghuni. Lokasinya di utara Keraton Wirati, kediaman Prabu Prawirayuda yang populer dengan julukan Gusti Kalak. Ketika Ki Gadheg (salah satu anak Gusti Kalak dengan garwo selir yang bernama Mbak Prawan) membuka hutan untuk membangun padepakan, bertemu dengan Dewi Sekartaji yang sedang berkelana mencari Panji Asmarabangun, kekasihnya.

Konon, dalam perjalanan itu Dewi Sekartaji kehausan dan minta air kepada Ki Gadheg. “Jangankan air untuk minum, sedangkan hutan saja baru dibabat,” jawab yang dimintai. Namun, demi Dewi Sekartaji, dia berusaha mencari air minum. Sesaat dia bersemedi di dekat sebuah teleng (goa). Dengan kekuatan gaib, sekejab mata Ki Gadheg telah masuk Laut Selatan, lokasi Keratan Wirati, dan kembali dengan membawa sebuah kelapa muda. Setelah minum air kelapa tersebut, kesegaran dan kekuatan Dewi Sekartaji pulih. Sisa air kelapa ditumpahkan di tanah. Dengan kekuatan Sang Hyang Widi bekas tumpahan itu menjadi sumber mata air. “Bila suatu saat nanti terjadi kemakmuran (rejaning jaman), namakan tempat ini Sekar. Setiap tahun harus diadakan upacara bersih desa,” pesan Dewi Sekartaji.

Dilempar Kelapa
Versi kedua yang disampaikan Mbah Iman Tukidjo, lurah sekarang, lain lagi. Status Dewi Sekartaji dan Ki Godheg adalah suami-istri. Mereka mendirikan padepokan untuk mengembangkan ilmu. Calon murid yang hendak berguru harus membawa perlengkapan persyaratan. Rincinya, cengkir, beraspari, beras ketan, mori, pitik putih mulus, kembang setaman, dan menyan. Pada waktu yang ditentukan, para murid datang menghadap sang guru. Mereka ada yang membawa perbekalan dan ada juga yang tidak. Murid yang membawa perbekalan dianggap tidak faham wejangan Ki Godheg. Sedangkan yang tidak membawa dianggap faham, karena yang dimaksud perlengkapan tersebut adalah falsafah berupa akronim. Cengkir adalah kencenge pikir (lurusnya pikiran). Beras pari maksudnya biar aber kekerasane (tak mudah marah). Beras ketan maknanya keket tan ana tandinge (menjadi manusia seutuhnya). Mori dimaksudkan supaya bisa ngemori (menyatu dengan masyarakat). Pitik putih mutus artinya pikirane mletik lan tulus, dengan maksud jika orang sudah beragama hidupnya akan berlandaskan tujuan baik dan iman kuat. Kembang setaman maksudnya mengembangkan perbuatan baik yang utama. Menyan atau dupa, bermakna bahwa setiap orang harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Maka perlengkapan yang sudah dibawa para murid dimasak bersama-sama dan dibagi-bagikan secara merata.

Hingga kini, jenis makanan itulah yang dijadikan ragam sesajen. Pada saat pembagian selesai, tersisa dua ayam panggang. Ki Godheg membuat sayembara, “Barang siapa yang dapat mengambil dua buah ayam panggang serta berani dilempari dengan cengkir (kelapa muda), boleh memiliki ayam panggang tersebut. Akhirnya terjadilah peristiwa pelemparan kelapa muda pada murid yang mengambil ayam panggang dimaksud. Karena yang dilemparkan kelapa muda yang telah dikupas, maka terjadi percikan (cipratan) air kelapa muda. Peristiwa ini akhimya di sebut ceprotan. Meski ada dua versi, namun sajian pertunjukan tetap serupa. Mulai dari sesajen hingga ucapara ritualnya yang diakhiri saat matahari terbenam. Saat itulah diyakini roh-roh halus yang akan mengganggu ketentraman warga desa muncul.

Prosesi pelemparan cengkir pun dilaksanakan saat menjelang matahari terbenam. Upacara ditutup dengan pembagian sesaji pada warga, dan diberkati doa. Acara ceprotan itu telah menjadi sajian budaya khas Pacitan. Hebatnya, ceprotan itu mampu menyedot puluhan wisatawan manca negara. Diantaranya dari Jerman, Cekoslovakia, Jepang, Belanda, Taiwan, dan Inggris. “Begitu pula untuk even mendatang, diperkirakan tamu-tamu tersebut (wisatawan) akan hadir,” kata Endro Waluyo, Kabag Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pacitan.Aida Ceha

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Jatim News, Tabloid Wisata Plus,
 Edisi 26, 9-23 Januari 2004 Th. II