Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

dam-bagongTrenggalek merupakan kabupaten kecil, indah dan menarik. Banyak obyek yang bersifat khas daerah. Kabupaten yang kaya potensi wisata menarik yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi, baik wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu budaya yang terus dilestarikan oleh warga Trenggalek adalah Upacara Adat bersih Dam Bagong atau lebih dikenal dengan sebutan Tradisi Nyadran di Dam Bagong. Upacara adat merupakan salah satu bagian dari adat kebiasaan yang ada di masyarakat, yaitu bentuk pelaksanaan upacara adat yang di dalamnya terdapat nilai budaya yang tinggi dan banyak memberikan inspirasi bagi kekayaan budaya daerah yang dapat menambah keanekaragaman kebudayaan nasional. Upacara tersebut mengajarkan kepada manusia sebagai manusia berbudaya untuk ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam seisinya, ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Nyadran merupakan tradisi dari daerah Trenggalek yang biasanya diperingati pada Jum’at Kliwon bulan Selo atau bulan jawa. Nyadran biasanya dilakukan di daerah Bagong yaitu tepatnya Dam Bagong dan dihadiri ribuan orang dari Trenggalek sendiri maupun dari luar Trenggalek. Dam Bagong adalah dam pembagi aliran sungai Bagong yang biasa digunakan untuk mengairi persawahan di Kota Trenggalek. Pertama kali Dam Bagong dibangun oleh Adipati Menak Sopal yang juga merupakan pendiri cikal bakal kota Trenggalek.

dam-bagongRitual upacara Nyadran diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh para pejabat daerah dan warga masyarakat. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan. Tarian kepahlawanan khas Trenggalek ini disajikan dengan penuh semangat, diiringi gamelan yang dinamis dan menghentak serta nyanyian dari pesinden yang jelita. Tarian ini sangat digemari karena identik dengan tarian magis yang bernuansa mistis. Tak jarang, para penari jaranan kesurupan saat menyajikan tarian ini.

Acara puncak yang paling ditunggu dalam ritual nyadran adalah pelemparan tumbal kepala kerbau atau larung. Dalam upacara Nyadran Dam Bagong ini dikorbankan seekor kerbau yang kemudian disembelih dan kepala, kulit beserta tulang-tulangnya dilempar ke sungai lalu diperebutkan oleh warga masyarakat sekitar. Tujuan ritual nyadran ini sebagai tolak balak, tidak hanya sebagai tolak balak upacara ini juga sebagai simbol agar kehidupan warga Trenggalek gemah ripah loh jinawi. Biasanya beberapa pemuda telah bersiap-siap di dalam sungai dengan bertelanjang dada untuk memperebutkan kepala kerbau yang dilarung. Sorak sorai kegirangan dan rona kegembiraan terpampang di wajah mereka dan wajah para penonton, kala kepala kerbau dan tulang-belulangnya berhasil diketemukan. Ada anggapan bahwa dengan mendapatkan kepala kerbau, mereka akan memperoleh berkah dalam hidupnya. Rangkaian upacara nyadran ditutup dengan pagelaran wayang kulit.

dam-bagong-300x200Dengan penyelenggaraan upacara yang serba lengkap menurut tradisi akan memberikan kemantapan batin kepada pelakunya dalam mengagungkan berkat, rahmat dan perlindunganNya. Hal ini diharapkan pula terjadi dengan dilaksanakannya upacara Tradi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Bagi masyarakat yang hidup dipedesaan, adat atau istiadat merupakan sesuatu yang melibatkan setiap orang di dalam setiap kegiatannya dan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar apabila melahirkan kebersamaan dan pola tingkah laku dalam masyarakat yang bersangkutan. Adapun pelaksanaan tradisi upacara adat “Nyadran” ini oleh masyarakat Kelurahan Ngantru, sebagai ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai upaya untuk mengenang jasa Adipati Menak Sopal yang telah berjuang untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek yang mayoritas sebagai petani. Dalam upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong-royong warga masyarakat sekitar Kelurahan Ngantru.

Gotong-royong adalah sekumpulan orang yang bekerja sukarela untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang mereka anggap merupakan kepentingan bersama dan kepentingan umum. Dalam pelaksanaan kegiatan upacara tradisi nyadran peran serta masyarakat sangatlah diperlukan demi kelancaran acara tersebut. Khususnya para petani di daerah tersebut yang mengairi sawahnya dari Dam Bagong. Mereka bergotong-royong dalam mempersiapkan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan saat memperingati upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong ini pula masyarakat bisa lebih akrab antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar masyarakat. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul “Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek”.

Latar Belakang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Menurut R. Linton (dalam Elly, 2011:27-28), mengatakan bahwa Kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.

Peringatan tradisi nyadran di Dam Bagong tidak terlepaskan dari memperingati dan mengenang Adipati Menak Sopal. Adipati Menak Sopal adalah seorang ulama yang berdakwah menyiarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek, mulai dari lereng Gunung Wilis sebelah selatan sampai pantai selatan Samudra Indonesia, mulai dari perbatasan Sawo Ponorogo sampai Ngrowo-Boyolangu. Sehingga secara kuntitas penduduk Trenggalek beragama Islam seluruhnya.

Adipati Menak Sopal juga sebagai pahlawan pertanian di Kabupaten Trenggalek. Karena beliau telah membangun Dam Bagong yang terletak di Kelurahan Ngantru. Dam Bagong ini sangat bermanfaat bagi para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan karena dengan adanya dam tersebut mereka dapat mengairi sawahnya. Sehingga sangat pantas apabila jasa Adipati Menak Sopal itu diperingati setiap tahunnya oleh segenap lapisan masyarakat mulai dari pejabat dan rakyatnya khususnya para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan.

Tradisi nyadran di Dam Bagong ini berawal dari kisah Adipati Menak Sopal yang berjuang membangun Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Sahibul Hikayat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di Timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau biasa disingkat Ki Ageng Galek. Dahulu kala Ki Ageng Galek ditugasi untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yaitu Amisayu. Dinamakan Amisayu karena meskipun ayu atau cantik, sayangnya kaki putri tersebut berpenyakit dan berbau amis atau busuk.

Saat itu Ki Ageng Galek merasa bingung bagaimana cara mengobati kaki Putri Amisayu tersebut. Lalu Ki Ageng Galek menyuruh Dewi Amisayu untuk mandi di Sungai Bagongan yang terletak di Kelurahan Ngantru. Pada saat mandi di sungai tersebut tiba-tiba munculah Buaya Putih yang berubah wujud menjadi manusia yang sangat tampan yang bernama Menak Sraba. Kemudian Menak Sraba mengobati luka di kaki Dewi Amisayu dengan cara menjilati. Akhirnya penyakit di kaki Dewi Amisayu bisa sembuh dan Menak Sraba kemudian menikah dengan Dewi Amisayu.

Tidak lama setelah menikah Dewi Amisayu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal sesuai dengan pesan Menak Sraba. Setelah Menak Sopal tumbuh dewasa kemudian dia bertanya kepada ibunya yaitu Dewi Amisayu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dengan terpaksa Dewi Amisayu member tahu siapa ayahnya yang sebenarnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika mengetahui siapa ayahnya Menak Sopal meminta izin kepada ibunya utuk menemui ayah kandungnya. Akhirnya Menak Sopal bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Menak Sraba di Demak Bintara. Disana Menak Sopal diajari dan dididik mengenai ajaran Agama Islam.

Sepulang dari tempat ayahnya Menak Sopal berusaha untuk menyebarkan Agama Islam di Trenggalek. Karena pada saat itu mayoritas penduduk sebagai petani maka Menak Sopal berkeinginan membangun tanggul air atau dam yang bisa mengairi sawah mereka. Dalam pembangunan tanggul itu Menak Sopal dibantu warga masyarakat namun pembangunan tanggul itu selalu gagal. Lalu Menak Sopal meminta petunjuk kepada ayahnya bagaimana caranya agar tanggul air itu bisa berhasil dibangun. Menak Sraba (ayah Menak Sopal) memberikan petunjuk supaya ditumbali kepala Gajah Putih.

Menak Sopal mengikuti saran dari ayahnya lalu menyembelih Gajah Putih yang kepalanya dimasukkan ke dalam Sungai Bagongan dan dagingnya dibagikan kepada warga yang ikut bergotong-royong. Setelah diberi tumbal Gajah Putih akhirnya tanggul air bisa berhasil dibuat dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dam Bagong. Dari hasil perjuangan Menak Sopal tersebut akhirnya sawah para petani bisa dialiri air dan hasil panen mereka meningkat. Sejak saat itu warga Trenggalek memeluk Agama Islam.

Dalam upacara tradisi nyadran terdapat unsur mistis dan unsur fungsional. Unsur mistis itu saat Dam Bagong meminta tumbal gajah putih agar pembuatan dam dapat terwujud dan dapat mengairi sawah para petani. Sedangkan unsur fungsional terlihat dari tujuan uapacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu bersyukur kepada Allah SWT dan menghargai perjuangan Adipati Menak Sopal karena sudah membangun Dam Bagong yang mengairi sawah para petani sehinggan pendapatan petani semakin meningkat. Selain itu, agar terhindar dari berbagai macam bahaya atau bencana.

Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa berkat perjuangan Menak Sopal tersebut maka setiap tahun sekali di bulan Selo selalu diperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong sebagai rasa syukur warga Trenggalek. Namun dalam pelaksanaannya bukan gajah putih lagi yang dijadikan tumbal atau dilarung tetapi diganti dengan kerbau. Karena saat ini sudah tidak ada lagi gajah putih.

Bentuk Ritual Atau Tata Cara Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Walaupun namanya nyadran tetapi sasarannya jelas, bukan untuk makhluk halus tetapi untuk memperingati atas keberhasilan Adipati Menak Sopal membangun Dam Bagong untuk yang pertama kalinya. Pelaksanaan tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru itu dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya tradisi nyadran itu dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon di bulan Selo. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang tetap diperingati sampai sekarang ini.

Berdasarkan hasil wawancara dalam peringatan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru masyarakat harus bergotong-royong dalam mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut. Karena dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut banyak sekali perlengkapan yang harus dipersiapkan. Misalnya saja, sebelum pelaksanaan upacara tersebut masyarakat bergotong-royong membersihkan tempat atau makam yang akan digunakan untuk memperingati nyadran di Dam Bagong serta membuat panggung dan mendirikan terop.

Masyarakatlah yang mempersiapkan perlengkapan yang akan dijadikan sebagai perlengkapan nyadran dan ruwatan saat pelaksanaan upacara nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru. Karena banyak sekali bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk sesaji dan ruwatan tersebut. Semua perlengkapan yang diperlukan untuk sesaji dan ruwatan itu harus lengkap atau dalam bahasa Jawa “Pepak”.

Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru antara lain sebagai berikut:

  • Penyembelihan kerbau (berkorban) yang dilakukan di dekat Dam Bagong yang bertujuan agar tidak terjadi banjir bandang lagi.
  • Bersesaji yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri dan lain-lain.
  • Berdoa bersama saat melakukan sekarang di makam Adipati Menak Sopal sebagai penghormatan dan menghargai jasa-jasanya.
  • Berprosesi terlihat saat bapak bupati dan masyarakat berjalan dari makam Adipati Menak Sopal menuju Dam Bagong yang akan melemparkan kepala, kaki, kulit serta tulang kerbau ke dalam Dam Bagong.
  • Makan bersama yang dilakukan oleh para undangan dan masyarakat setelah acara larung selesai. Mereka semua makan daging kerbau yang sudah dimasak.
  • Ruwatan Wayang Kulit semalam suntuk yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Trenggalek demi menghindari bahaya dan bencana yang tidak diinginkan serta agar Dam Bagong tetap bisa mengairi sawah- sawah penduduk sehingga tetap bermanfaat.

Wayangan merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upacara nyadran sesuai dengan pendapat Depdikbud (1994:20), bahwa dalam suatu sistem upacara yang kompleks mengandung berbagai unsur yang terpenting antara lain sebagai berikut:

  • Sesaji

Pada banyak upacara bersaji, orang memberi makanan yang oleh manusia dianggap lezat, seolah-olah dewa-dewa atau roh itu mempunyai kegemaran yang sama dengan manusia.

  • Berdoa

Biasanya doa bersama diiringi dengan gerak dan sikap-sikap tubuh yang dasarnya merupakan gerak dan sikap menghormati dan merendahkan diri terhadap para leluhurnya, para dewa atau terhadap Tuhan. di dalam berdoa, arah muka atau kiblat merupakan suatu unsur yang amat penting dalam konsep religi. Dalam berdoa, ada pula suatu unsur yaitu kepercayaan bahwa kata-kata yang diucapkan itu mempunyai kekuatan gaib dan sering kali kata yang diucapkan itu dalam suatu bahasa yang tidak dipahami masyarakat, karena bahasa yang digunakan bahasa kuno. Tetapi justru itulah rupanya yang memberikan susunan gaib dan keramat kepada doa itu.

  • Makan bersama

Makan bersama juga merupakan suatu unsur perbuatan yang amat penting dalam upacara adat. dasar pemikiran di belakang perbuatan itu adalah untuk mencari hubungan dengan dewa-dewa, dengan cara mengundang dewa-dewa pada suatu pertemuan makan bersama. Perbuatan makan bersama terdapat dalam banyak upacara keagamaan di dunia, baik sebagai bagian dari upacara- upacara maupun sebagai upacara itu sendiri.

  • Berprosesi atau berpawai

Pada saat berprosesi sering dibawa benda-benda keramat seperti lambing, bendera, dengan maksud supaya kesaktian yang memancar dari benda-benda itu bisa memberi pengaruh pada keadaan sekitar tempat tinggal manusia dan terutama pada tempat-tempat yang dilalui prosesi atau pawai itu. Prosesi sering juga dimaksudkan untuk mengusir makhluk halus, hantu dan segala kekuatan yang menyebabkan penyakit serta bencana dari sekitar tempat tinggal manusia. Hal ini dilakukan tidak dengan benda sakti, tetapi dengan cara menakuti makhluk halus tadi dengan cara prosesi tersebut.

Ada beberapa niatan saat melakukan upacara tradisi nyadara misalnya sebagai berikut:

  1. Ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. (Tasyakuran atau syukuran) atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya bagi penduduk atau rakyat Trenggalek baik yang lama oleh Adipati Menak Sopal dan penggantinya, walaupun yang baru dibangun oleh Pemerintahan Hindia Belanda secara permanen.
    1. Mengenang tokoh pelaku Adipati Menak Sopal, Ki Ageng Galek, Rara Amiswati, Ki Demang Surohandoko dan lain-lain, untuk didoa’kan semoga diterima amalnya dan diampuni dosa-dosanya.
    2. Semua lillahi ta’ala untuk Allah SWT, tidak untuk makhluk halus (jin, syaitan, dan sebagainya).

Upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek mempunyai unsur-unsur upacara yang sama dengan upacara keagamaan pada umumnya.

Hakikat Gotong-royong Dalam Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Manusia tidak dapat memenuhi kebetuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial, pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong masyarakat Trenggalek Keluraham Ngantru khususnya para petani bergotong-royong agar pekerjaan yang dilakukan bisa cepet selesai. Sistem tolong menolong yang dalam bahasa Jawa biasanya disebut “Sambatan” (Sambat=Minta tolong), atau secara umum oleh orang Indonesia disebut gotong- royong. Dalam gotong-royong ini masyarakat tidak memikirkan kompensasi, dalam masyarakat jawa gotong-royong seperti ini tidak hanya terjadi di bidang pertanian saja, namun juga dalam kegiatan pembangunan rumah, upacara adat, dan upacara kematian.

Jiwa atau semangat gotong-royong itu dapat kita artikan sebagai perasaan rela terhadap sesama warga masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, kebutuhan umum akan dinilai lebih tinggi dari pada kebutuhan pribadi, sehingga bekerja bakti untuk umum dinilai sebagai suatu kegiatan yang terpuji dan mulia. Hal ini sama halnya dengan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek saat memperinganti upacara tradisi nyadran di Dam Bagong. Dalam bergotong-royong tidak terlihat pebedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.

Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong bisa meningkatkan rasa kebersamaan antar warga dan mempererat tali silaturahmi antar warga. Selain itu, bisa saling kenal antara warga yang satu dengan warga yang lain yang awalnya belum pernah kenal.

Persepsi Masyarakat Tentang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Nama nyadran kini “Nyadran Dam Bagong ” diganti dengan “Peringatan Dam Bagong” dan disosialisasikan kepada masyarakat agar tidak salah persepsi. Mayoritas warga masyarakat menganggap nyadran ini sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, juga sebagai rasa terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong, yang sangan bermanfaat bagi masyarakat. karena dengan adanya dam itu para petani di Kelurahan Trenggalek dan Kelurahan Pogalan dapat mengairi sawahnya.

Prospektif Mengenai Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Bagi Masyarakat di Masa Depan

Prospektif masyarakat ke depan mengenai tradisi nyadran di Dam bagong Kelurahan Ngantru, tradisi ini akan tetap dijaga dan dilestarikan, konon ceritanya dulu tradisi nyandran ini pernah tidak diperingaati terus pada tanggal 21 April 2006 di Trenggalek terjadi banjir bandang. Terus pada saat itu ada salah satu warga yang bermimpi kalau tradisi nyadran tersebut tidak diperingati akan terjadi banjir bandang yang lebih besar dari itu. Setelah mengetahui itu semua lalu tradisi tersebut diperingati dengan menyembelih 4 (empat) kerbau karena sudah empat tahun tradisi tersebut tidak diperingati oleh masyarakat Kabupaten Trenggalek.

Berdasarkan prospektif masyarakat sampai kapanpun tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru akan tetap diperingati. Karena sudah menjadi kebudayaan dan icon pariwisata Kabupaten Trenggalek.

——————————————————————————————-Tahes Ike Nurjana, Suwarno Winarno, Yuniastuti. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-Royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahanngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Universitas Negeri Malang

Sumber Gambar:  wisatatrenggalek.com/2016/09

Edit: 84N70

 

Ki Ageng Putu Surya Alam

cerita dari bahasa Jawa daerah Trenggalek

Terkisahlah sebuah kerajaan Kecil yang berada didaerah Ponoro­go, Kerajaan Wengker nanianya. Kerajaan kecil ini merupakan bagian yang erat dengan kerajaan Majapahit yang agung. Adapun yang memerintah kerajaan Wengker yang kecil ini adalah Ki Ageng Putu Surya Alam di­bantu oleh dua orang saudara seperguruannya, yakni Ki Ageng Anggagana dan Ki Ageng Anggajaya. Sebagai seorang raja yang menguasai sebu­ah kerajaan yang kecil, Ki Ageng merasa hidupnya aman tenteram dan damai, dengan dikaruniai dua orang anak. Yang sulung bernama Sulastri seorang wanita yang sangat rupawan, dan yang bungsu adalah Menak Sopal, seorang ksatria yang gagah perkasa.

Konon, dengan perkembangan Majapahit, yang sangat pesat ini, Ki Ageng Putu Surya Alam mengamatinya dari kacamata yang lain. Dengan kehadiran para pedagang asing yang kemudian menetap di tlatah Kerajaan Majapahit, Ki Ageng Putu Surya Alam, merasa sangat khawatir, sebab menurut Ki Ageng Surya Alam, bila keadaan yang demikian ini dibiarkan berlarut-larut bisa berakibat membahayakan ekonomi, yang kemudian bisa merembet ke bidang keamanan dan bidang-bidang yang lain. Salah-salah Majapahit terganggu keselamatan serta keutuhannya sebagai negara yang besar, agung dan sedang menduduki puncak kejaya­an.

Demikianlah, akhirnya dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang, Ki Ageng Surya Alam menghadap baginda raja Majapahit. Ki Ageng Surya Alam kemudian mengajukan usul-usul dan saran-saran tentang kehadiran pedagang asing di negara Majapahit, yang kemudian bertempat tinggal tetap di wilayah Kerajaan Majapahit. Pedagang-peda­gang ini sebaiknya dicegah atau setidak-tidaknya dibatasi kehadiran dan ruang geraknya.

Namun apa yang terjadi ? Usul dan saran-saran Ki Ageng Putu Surya Alam ditolak mentah-mentah oleh Baginda Raja Majapahit. Ki Ageng Putu sangat kecewa akan sikap dan tanggapan Baginda Raja Maja­pahit. Oleh karena itu sejak saat itu Ki Ageng Putu Surya Alam, memu­tuskan untuk tidak akan datang lagi, menghadap ke Kerajaan Majapahit. Tegasnya mulai saat itu Ki Ageng Surya Alam membangkang terhadap raja Majapahit. Ia bersumpah tidak akan datang menghadap raja lagi sebelum semua usul dan saran-sarannya dikabulkan oleh Baginda Raja.

Oleh karena itu untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi atas kerajaan kecil Wengker yang sangat dicintainya, Ki Ageng Putu Surya Alam, meningkatkan dan mengembangkan pertahanan ne­gerinya. Ki Ageng membentuk dan melatih prajurit dengan giat, demi ketahanan negerinya.

Latihan dan ulah keprajuritan terus ditingkatkan. Disiplin prajurit di­perketat. Prajurit-prajurit tidak diperkenankan kawin terlalu muda, supaya bisa memusatkan perhatiannya pada tugas-tugasnya sebagai se­orang prajurit yang pilih tanding. Pendek kata Wengker telah menjadi sebuah kerajaan kecil yang mempunyai pertahanan yang kuat. Prajurit- prajurit selalu dalam keadaan siap tempur. Ki Ageng menyadari bahwa tindakannya ini akan menimbulkan kemurkaan Baginda Raja Majapahit. Dan bukan tidak mungkin Majapahit sewaktu-waktu akan mengirimkan pasukannya untuk menghancurkan Wengker.

Meskipun sahabat dan saudara seperguruan Ki Ageng, yakni Ki Ageng Anggajaya dan Ki Ageng Anggalana, selalu memberikan nasehat dan pe­tuah, bahwa tindakan Ki Ageng Putu tersebut sangat berbahaya bagi Kerajaan Wengker, Ki Ageng Putu tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan mau menghadap ke Majapahit, sebelum semua saran dan usulnya dika­bulkan oleh Baginda Raja Majapahit.

Memang benar apa yang diduga Ki Ageng Putu, Majapahit sangat murka akan tindakan Wengker. Oleh sebab itu Majapahit mengirimkan pasukan yang cukup kuat untuk menangkap Ki Ageng Putu Surya Alam yang telah berani membangkang kepada Baginda Raja Majapahit.

Namun Wengker sekarang bukanlah Wengker yang dahulu. Weng­ker memang sudah siap dengan segala kemungkinan. Prajurit-prajurit­nya adalah baik. Terjadilah pertempuran yang sengit antara prajurit- prajurit Majapahit dengan prajurit-prajurit Wengker. Tidak sia-sialah Ki Ageng Putu Surya Alam mengembleng para prajuritnya. Prajurit- prajurit Majapahit tidak mampu menjebol pertahanan Wengker yang demikian kuat dan sempurna. Maka korban pun mulai berjatuhan.. Prajurit-prajurit Majapahit banyak yang gugur di medan laga. Gagallah usaha Majapahit untuk menghukum dan menangkap Ki Ageng Wengker. Berkali-kali Majapahit berusaha untuk menjebolkan benteng per­tahanan Wengker. Namun tidak ada hasilnya sama sekali. Bahkan tentara Majapahit seakan-akan lumpuh sama sekali bila menghadapi Wengker. Memang tidak begitu saja Ki Ageng berani membangkang ke Maja­pahit. Ki Ageng memang mempunyai andalan, yakni sebuah pusaka yang

berujud sebuah keris yang amat sakti, yang termasyuhur dengan sebutan keris Eyang Puspitarini. Keris ini mempunyai daya perbawa yang hebat. Bila keris ini ditujukan pada musuh, maka musuh itu gatal-gatal seluruh tubuhnya, bagaikan kena rawe. Oleh sebab itu tidak mengherankan bila prajurit Majapahit selalu menderita kalah dalam usahanya menghan­curkan Wengker. Wengker mempunyai prajurit yang kuat, yang terlatih baik, yang berdisiplin baja, yang masih ditunjang dengan andalan pusaka ampuh keris Eyang Puspitarini.

Maka Baginda Raja Majapahit lalu mencari daya dan upaya lain. Bagaimana caranya bisa menaklukkan Wengker tanpa banyak jatuh kor­ban. Majapahit lalu mengutus Batara Katong untuk menyusup ke Weng­ker. Betara Katong berhasil masuk ke dalam istana dan diterima, sebagai tamu yang terhormat. Setelah Batara Katong menghadap Ki Age’ng Putu Surya Alam maka ia lalu mengajak Ki Ageng untuk berdebat tentang pengetahuan asal-usul kehidupan dan akhir serta kelanjutan kehidupan manusia di dunia ini. Mereka berdebat tentang ilmu sejati, tentang ulah kebatinan, dan segala macam ilmu yang menyangkut kehidupan yang sangat pelik.

Rupa-rupanya Batara Katong berhasil menarik perhatian Ki Ageng Putu terhadap anak muda yang mumpunni dalam segala ilmu kebatinan ini. Tertarik akan Batara Katong, maka Ki Ageng Putu Surya Alam lalu mengambil keputusan mengambil menantu Batara Katong, dan di­kawinkan dengan Sulastri puteri Sulungnya.

Demikianlah akhirnya Batara Katong menjadi suami Sulastri. Batara Katong bahasil menjadi menantu Ki Ageng Putu Surya Alam. Pintu sudah terkuak untuk membuka tabir yang penuh dengan misteri tentang Wengker. Sulastri ternyata seorang wanita patut diteladani. Ia sangat mencintai suaminya, lahir dan batin, Batara Katong sungguh- sungguh menyayanginya sebagai seorang istri. Sulastri pun mulai hamil lima bulan. Namun Batara Katong tidak melupakan tugas sucinya dari Kerajaan Majapahit untuk melumpuhkan Wengker tanpa pertumpahan darah. Ia mendapat tugas rahasia untuk menyingkirkan Ki Ageng Putu di Wengker, yang sekarang tidak lain ialah mertuanya sendiri.

Pada suatu hari yang sangat baik, Batara Katong mengutarakan maksudnya untuk melihat pusaka keris sakti Eyang Puspitarini. Mula­nya Sulastri sangat ragu akan maksud Batara Katong, dan demi cintanya kepada Batara Katong, akhirnya ia bersedia untuk mengambilkan keris pusaka tersebut. Sulastri tahu benar bahwa keris Eyang Puspitarini ada­

lah pusaka andalan ayahnya, dan juga andalan Wengker. Bila pusaka ini jatuh pada orang lain, maka ini berarti akan tamatlah Wengker. Namun demi cihtanya dia rela mengorbankan segalanya. Dengan perasaan hancur dia terpaksa meluluskan permintaan suaminya, Batara Katong.

Maka Sulastri pun dengan bersembunyi-sembunyi berhasil men­curi keris ayahanda, keris Eyang Puspitarini, dan diserahkannya kepada Batara Katong, suaminya.

Setelah berhasil memperoleh keris Eyang Puspitarini, maka Bata­ra Katong lalu menghadap ayahanda mertuanya, Ki Ageng Putu Surya Alam. Bagaimanapun ia adalah tetap pada jalur tugasnya sebagai seorang utusan dari Kerajaan Majapahit yang bertugas untuk menyingkirkan Ki Ageng Putu Surya Alam, tanpa menimbulkan peperangan yang besar.

Setelah menghadap Ki Ageng Putu, berkatalah Batara Katong, “Ayahanda prabu Ki Ageng Putu. Sebelumnya perkenankanlah hamba mohon maaf. Sebenarnya kehadiran saya di tengah-tengah Kerajaan Wengker yang perkasa ini, mengemban tugas yang amat berat. Hamba sebenarnya adalah duta Kerajaan Majapahit, yang mendapat tugas yang untuk menghadapkan Ki Ageng ke Majapahit. Kami mohon dengan hor­mat sudilah Ki Ageng menghadap ke Majapahit bersama dengan kami. Sebab dengan demikian Wengker akan manunggal kembali dengan Maja^ pahit. Dan ini berarti peperangan – peperangan yang banyak membawa korban dapat dihindarkan”.

Mendengar ucapan sang menantu yang demikian lancang itu, maka Ki Ageng Putu sangat murkanya. Ujarnya,

“Hai Batara Katong. Lancang benar ucapamu. Ingatlah, engkau, engkau adalah menantuku. Berani benar engkau menantangku. Apa yang akan kau andalkan, hai Batara Katong. Kau seorang diri, akan mengha­dapi Ki Ageng Putu. Sedang tentara Majapahit segelar sepapan tidak mam­pu menundukkan saya, Ki Putu, yang mempunyai wewenang untuk me­nentukan menghadap ke Majapahit atau membangkang Majapahit. Tidak ada seorang pun yang mampu mendikte saya”

Dengan ketenangan Seorang satria Batara Katong menjawab ujar sang mertua.

“Ayahanda Prabu. Memang tidak akan ada yang bisa mengalah­kan ayahanda Prabu. Karena ayahanda memang memiliki pusaka yang amat ampuh, keris Eyang Puspitarini. Selama keris itu masih ada pada ayahanda memang tak akan ada yang mengalahkan sang prabu. Tetapi kini, lihatlah apa yang ada di tangan saya ini. Keris sakti Eyang Puspi­tarini”

Betapa terkejut sang Prabu Wengker demi melihat keris sakti Eyang Pustitarini beradq, di tangan Batara Katong. Tidak mengira sama sekali bahwa pusaka andalannya tersebut akan jatuh ke tangan orang lain

“Ayahanda prabu. Terpaksa ananda memaksa ayahanda mengha­dap ke Majapahit bersama dengan ananda. Apakah ayahanda masih me­nolak? Pusaka keris Eyang Puspitarini sudah ada di tangan ananda”, ujar Batara Katong.

Ternyata Ki Ageng Putu Surya Alam bukanlah seorang pengecut. Meski pusaka andalannya sudah lepas dari tangannya, namun dia tetap bersikeras tidak mau menghadap ke Majapahit. Akhirnya Batara Katong mengambil jalan keras. Dan berakhirlah riwayat seorang raja kecil di Wengker Ki Ageng Surya Alam, di tangan menantunya, dengan pusaka­nya sendiri yang paling diandalkan. Tragis memang. Manusia mati di ujung pusakanya sendiri yang dikasihi melebihi segalanya. Manusia mati karena orang yang dikasihinya.

Setelah Ki Ageng Putu tewas, Batara Katong masih mengkhawa­tirkan akan putera Ki Ageng, yakni Menak Sopal. Bagaimanapun selalu terbuka adanya kemungkinan bahwa sang putera ini akan membela ke- matian ayahandanya. Maka Batara Katong lalu mengutus Ki Anggalana dan Ki Ageng Anggajaya untuk memanggil Menak Sopal, supaya meng­hadap ke Wengker. Utusan diberi wewenang penuh untuk menghadap­kan Menak Sopal. Jika membangkang harus diambil garis keras. Mau tidak mau Menak Sopal harus menghadap ke Wengker.

Ternayata utusan tidak mengalami kesulitan untuk menghadap kan Menak Sopal ke Wengker. Setelah mendengarkan semua keterangan Sulastri, tentang kematian ayahandanya, Menak Sopal sadar bahwa per­satuan antara Wengker dengan Majapahit harus diwujudkan. Meski kor­ban harus ada. Dan korban itu adalah ayahanda tercinta. Memang berat, tapi semua harus terjadi..

Mendengar putusan Menak Sopal yang sangat bijaksana itu, se­nanglah seluruh Kerajaan Wengker. Peperangan besar bisa dihindarkan. Wengker bisa disatukan kembali dengan Majapahit tanpa menimbulkan peperangan besar yang membawa korban para kawula kecil. Setiap hati menjadi tenang dan terang.

Kemudian Menak Sopal kembali ke daerah timur. Daerah itu ke­mudian disebutnya Trang Galih. Karena hati setiap orang menjadi terang dan tenteram pada saat itu. Lama kelamaan dari Trang Galih (Terang Hati) ini berubah menjadi Trenggalek. Menak Sopal mengembangkan daerah yang baru itu, sehingga menjadi sebuah daerah yang tenang tenteram dan damai. Subur makmur, murah sandang dan pangan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Jawatimur, DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, hlm. 63-67

Munjungan, Trenggalek

Munjungan menyimpan delapan Pantai

Pariwisata Trenggalek selama ini tak lepas dari keindahan Pantai Prigi. Namun sesungguhnya Trenggalek masih menyimpan banyak pantai di wilayah Kecamatan Munjungan. Sayang sekitar delapan pantai itu belum tersentuh tangan untuk menjadi wisata pantai. Langit berhias warna hitam kemerahan. Matahari baru menampakkan ufuknya. Sekitar pukul 05.00 sebuah rombongan memulai perjalanan menuju Desa Masaran, Kecamatan Munjungan. Jaraknya tak jauh, hanya sekitar 52 km dari pusat kota Trenggalek. Namun jalanan beraspal yang terkelupas menjadi tantangan tersendiri selama perjalanan sekitar 90 menit.

Lukisan alam tergambar cantik membalut hamparan bukit yang dipenuhi ribuan pohon kelapa. Dengan medan yang cukup terjal dan jalur sempit, rombongan Potensi diberitahu banyak informasi mengenai Munjungan oleh Kepala Dinas Perhubungan Kominfo Trenggalek, Ulang Setyadi, SH, MSi.

Konon, kata Munjungan berasal dari istilah Jawa, yakni munjung-munjung ing pangan (kelebihan bahan makanan). Penduduk asli Munjungan merupakan pelarian dari pasukan Pangeran Diponegoro dari kejaran pasukan Belanda. Dengan lokasi yang cukup jauh dan sulit dijangkau, pasukan Diponegoro pun aman, karena Belanda tak mampu memasuki wilayah Munjungan.

Sedari awal, warga asli itu akhirnya dapat bertahan hidup dengan becocok tanam dan melaut. Ya, kebanyakan warga Munjungan menjadi petani dan nelayan. Seakan terisolasi di dalamnya, hingga akhirnya pada 1975 saat Trenggalek di bawah kepemimpinan Bupati Sutran, jalur dari kota menuju Munjungan pun mulai dibuka. Bukit-bukit besar pun dikepras untuk dijadikan jalan. Kendati masih sempit, saat itu jalur tersebut menjadi satu-satunya akses keluar masuk menuju Munjungan. Sekitar dua tahun lalu, di masa kepemimpinan Bupati Soeharto, jalur pun mulai dilebarkan. Banyak bukit pun kembali dikepras dan bawahnya mulai dibangunkan plengsengan setinggi satu meter. Kini jalurnya pun menjadi lebih besar, namun separuhnya masih berupa tanah dan batuan yang sulit dilalui kendaraan.

Di tengah-tengah perjalan menjelang masuk wilayah Munjungan, kami menyaksikan pantai yang tampak dari atas bukit. Tak sabar rasanya untuk segera menyaksikan pantai yang sangat eksotis tersebut. Tak lama kemudian, kami pun memasuki wilayah Munjungan. Kami disambut oleh hamparan tanaman padi yang luas dan berbagai komoditi, seperti kelapa, cengkeh, durian, dan pisang yang tersaji di Pasar Munjungan yang kami lintasi. Bahkan, komoditi ekspor berupa kayu sengon laut kini menjadi salah satu aset Munjungan yang mulai mendunia, juga tertanam di banyak lahan warga. Namun satu hal juga tak bakal terlupakan saat baru datang, senyum ramah warga.

Delapan Pantai
Dari Kades Masaran, Didik Budi Wibowo yang rumahnya terletak di pinggir Jalur Lintas Selatan (JLS) banyak diperoleh informasi tentang keindahan delapan pantai itu. Menurut Didik, delapan pantai itu memiliki keunikan masing-masing. Pantai Blado yang lokasinya paling mudah dijangkau bisa disaksikan deburan ombak setinggi satu meter menggulung dari tengah laut menuju bibir pantai. Di sore hari, ombak bisa lebih tinggi hingga mencapai lima meter.

Pantai Blado memang sangat indah dengan dibalut pohon kelapa yang tertanam sepanjang pantai. Di sana juga terdapat penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap jaring pantai yang masih tradisional. Perahuperahu nelayan juga banyak yang bersandar di Blado. Saat banyak tangkapan ikan, warga menyesaki tempat pelelangan ikan (TPI). Untuk pelengkap kegiatan warga, Blado juga menyajikan lahan untuk tempat berkemah bagi pelajar di area cukup luas yang banyak ditumbuhi pohon kelapa dan sangat rindang.

Pantai Ngampiran yang terletak di Desa Tawing menawarkan pantai cantik dengan ombak yang tenang. Untuk menuju Ngampiran, jalur terjal dengan aspal yang terkelupas mengawali tantangan menuju pantai yang banyak terdapat pohon pisang. Pantai serupa di Munjungan juga ada, yakni Pantai Pasir Putih. Selain itu, terdapat pula Pantai Gemawing di Desa Masaran, Pantai Ngadipuro yang juga memiliki TPI seperti Blado, Pantai Selah, dan Pantai Ngulung yang lokasinya berbatasan dengan Kecamatan Panggul.

Di berbagai pantai itu juga terdapat berbagai batu karang besar di tengah laut yang jika terkena air pasang menjadi sebuah pulau, seperti di Tanah Lot, Bali. Eksotisme lain yang tak kalah menariknya, yakni pesona Pantai Kidangan. Dengan pantai Iandai, Kidangan menawarkan keindahan bawah laut yang cantik. Dari bibir pantai hingga sepanjang 500 meter ke tengah laut hanya memiliki kedalaman air satu meter. Di dalamnya, terhampar batuan berukuran keci!, sedang, dan besar yang mengelompok secara alami. Pernah pula batuan berkelompok itu dipisahkan secara sengaja, namun secara alami akan kembali mengelompok dengan sendirinya sesuai ukurannya. Di dalam perairan dangkal itu juga tersaji ikan laut kecil beraneka warna.

Longkangan
Di samping memiliki potensi delapan pantai yang unik, Munjungan juga memiliki upacara adat yang rutin digelar. Adalah labuh Laut Longkangan, upacara adat yang biasa dilakukan masyarakat nelayan di pantai Kecamatan Munjungan setiap hari Jumat Kliwon di bulan Selo penanggalan Jawa. Longkangan dilaksanakan sebagai ungkapan syukur nelayan Munjungan atas melimpahnya tangkapan hasil melaut sekaligus peringatan kepada leluhur yang babat Munjungan utamanya kepada Roro Puthut yang konon oleh Ratu Pantai Selatan dipercaya mengawasi kawasan pantai di Munjungan.

Upacara biasa dimulai jelang sore dengan Kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Kecamatan Munjungan sampai di Pantai Blado yang dipimpin langsung oleh Camat Munjungan dan semua Kepala Desa seKecamatan Munjungan dan diiringi oleh dayang-dayang serta rombongan jaranan yang berpakaian adat Jawa.
Tiap Longkangan, masyarakat Munjungan dan sekitarnya selalu berduyung-duyung menyaksikan upacara adat ini di sepanjang jalan yang dilewati rombongan kirab. Upacara pun diakhiri dengan menghanyutkan Tumpeng Agung di tengah lautan Pantai Blado.

Dengan berbagai potensi alam dari delapan pantai eksotis di Munjungan dan ditunjang dengan sejarah unik, serta upacara adat yang rutin digelar tak menutup kemungkinan Munjungan dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas untuk menjadi lokasi pariwisata baru di Trenggalek. Munjungan yang juga dilalui JLS, yang direncanakan selesai pada beberapa tahun mendatang, sangat diharapkan warga bisa mendongkrak potensi wisata pantai.

Untuk bisa mengenalkan wisata pantai di Munjungan agar bisa terkenal seperti Prigi dan berbagai pantai di Bali, warga banyak berharap ada investor yang masuk untuk bisa membuat wisata alalternatif, agar pemerataan perekonomian masyarakat pesisir Trenggalek tak terpusat saja di Prigi. Tentunya, campur tangan Pemkab Trenggalek dan Pemprov Jatim juga telah ditunggu warga Munjungan. (afr)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Potensi, EDISI 07,  JULI  2011, hlm. 42-45

Kripik Tempe, Khas Trenggalek

Di Jawa Timur banyak yang memproduksi kripik tempe. Yakni Malang, Tulungagung, Ponorogo, Pacitan serta Trenggalek sendiri. Namun kripik tempe produksi Trenggalek memiliki cita rasa yang tersendiri, baik rasa maupun dalam bentuknya yang khas Trenggalek. Bentuk lempengannya relatif lebih lebar serta “berbalut” telur (egg coated).

Camilan khas Trenggalek inipun pernah melalang buana sampai ke Jerman. Kisahnya, ketika Dinas Pariwisata Jawa Timur mengikuti even Bursa Pariwisata Intemasional (Intemationale Tourismus Borche) di Berlin, Jerman, 1996, kripik tempe khas Trenggalek ini  menjadi snack welcome crackers soybean (camilan pembuka selamat datang) pada acara tersebut. Sehingga lidah-lidah masyarakat Eropa pun bergoyang.

Kripik tempe ini bukan satu-satunya camilan khas Trenggalek, karena Trenggalek memiliki beragam jenis makan tradisional. Kripik tempe hanyalah salah satunya, dan sudah dikenal masyarat Jawa Timur. Ragam camilan khas Trenggalek antara lain manco (camilan berbahan beras ketan dan gula), alen-alen (kue berbentuk cincin, berbahan pati ketela), nasi pindang (nasi berlauk daging sapi berikut tulangnya dalam ramuan bumbu khusus). Makanan khas tersebut sangat mudah didapat, khususnya di lima kelurahan, meliputi Sumber Gedong, Surondakan, Tamanan, Ngantru, dan Kelutan.

Catatan: Sujarwo (Pustakawan)

Turangga Yaksa: Menghentak Nggalek

-Oktober 2003-
Setiap daerah di Nusantara memiliki budaya khas daerah setempat. Aktivitas mengangkat seni budaya daerah pun terus digiatkan, hingga kini. Tiap propinsi dapat dipastikan memiliki lebih dari sepuluh budaya khas daerah setempat. Sekadar ilustrasi, di Jawa Timur misalnya, seni dan budaya Reog (Ponorogo), tari Topeng Malangan (Malang), tari Sentherewe (Tulungagung), tari Remo (Surabaya), dan tari Mowang Sangka, (Sumenep) sudah cukup dikenal. Itu baru sebagian kecil. Tentu, masih banyak lagi yang tersimpan.

Demikian juga di Kabupaten Trenggalek. Sebuah kabupaten yang memiliki Pantai Pelang yang sangat indah itu, juga memiliki budaya yang apik, dan tentu saja unik. Sekadar mengingatkan pembaca, Pantai Pelang tidak hanya memiliki lautan pasir yang putih, tapi juga air terjun dan gua dalam satu lokasi. Sangat eksotik.

Ternyata Kota Gaplek (nama makanan yang terbuat dari ubi kayu/singkong yang dikeringkan), tidak hanya memiliki potensi alam. Namun juga kesenian tradisonal yang cukup unik. Seni tari TuranggaYaksa, begitu masyarakat Nggalek (Trenggalek) menyebutnya. Tari ini  lazimnya dipertontonkan untuk menyambut tamu. Nama Turangga Yaksa memiliki arti jaran buto (baca: kuda raksasa). Konkretnya, turangga berarti kuda, dan yaksa berarti raksasa.

Tidak ada catatan sejarah yang pasti ihwal kapan seni tari itu diproklamasikan sebagai tarian khas Trenggalek. Namun, sampai saat ini, seni tari tersebut semakin mendarah daging di kalangan masyarakat setempat. Bagaimana tidak, Siswa SD kelas satu saja telah mahir melakukan gerakan tari Turangga Yaksa.

 Si Jahat Kalah
Dung, tak, dung, tak, dung bleer …
Sepasang kaki mungil menghentak-hentak bumi. Jantung setiap penonton yang ada di lokasi Gua Lowo pun berdetak seirama dentuman kendang pengiring penari. Siang itu, akhir bulan lalu, 20 penari mungil mengayun-ayunkan cemeti ke tanah. Sesaat debu mengepul ke udara, seiring semangat gerakan sang penari yang mengapit kuda kepang berkepala raksasa. Itulah Turangga Yaksa.

 Gerakan mereka meliuk-liuk, menunduk, dan kemudian bersujud seakan menghormat pada sang penguasa. Dalam diam bersujud, tiba-tiba muncul dua tokoh penari berbaju merah, menari di tengah penari kuda kepang. Mereka para kesatria kerajaan. Kegagahan penari kesatria seolah menyampaikan pesan penting sang raja.

Konon, mereka diutus sang raja untuk menumpas kejahatan yang sedang merajalela. Tokoh jahat di gambarkan dengan caplok’an (serupa barong). Tinggi, besar, dan menakutkan. Akhirnya mereka bertarung di medan pertempuran. Para penari Turangga Yaksa menjadi prajurit kerajaan yang ikut menumpas tokoh kejahatan (caplok ‘an) tersebut. Pertempuran pun terjadi sengit. Gemerecak tetabuhan mengiringi pertempuran para kesatria kerajaan.

Itulah yang khas dari seni tari Turangga Yaksa. Skenario seni tari itu seperti drama kolosal. Tidak terpisah-pisah. Tidak pula hanya seni tari. Mungkin hal itulah yang membedakan Turangga Yaksa dengan tari Jaran Buto (Banyuwangi) dan tari Jaran Kepang, atau tari Kuda Lumping dari daerah lain.

Dalam drama tari di Nggalek tersebut, para tokoh kejahatan kalah. Terkapar dimedan perang. Pertempuran pun usai. Para kesatria kerajaan bersukaria. Mereka menari berputar-putar sambil terus menghentakkan kaki ke bumi. Seolah mengatakan, kebenaran di muka bumi telah mengalahkan kejahatan dan menang!!

“Kami bangga memiliki seni tari ini,” begitu sekelumit kata sang pengasuh tari dengan senyum bangga saat menyaksikan sukses anak asuhnya. Tari Turangga Yaksa juga merupakan ikon pariwisata andalan Trenggalek. Tampak jelas bagaimana Disnas Pariwita dan pemerintah kabupaten setempat mengemasnya dengan rapi. Semoga begitu juga di daerah lain. Aida Ceha.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 20, 10-24  Oktober 2003, Tahun I.

Kerajinan Bambu Trenggalek, Khas Sukatno

-Maret 2004-
Laki-laki bertubuh subur itu, Sukatno, sudah 15 tahun menggeluti usaha kerajinan bambu. Kini, sebagai manajer bamboo and rotan handycraft di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, “mengomando” lebih dari 100 tenaga kerja. “Tetapi yang berada di sini (bekerja di rumahnya) hanya enam orang,” ujar suami Bibit Andayani itu.

Bermacam produk kerajinan dia hasilkan. Mulai dari tempat tissue, vas bunga, besek, tempat rokok, sketsel, keranjang, aneka mebel, sampai peralatan ijab Kabul temanten. Seabrek hasil kreatif tangan-tangan terampil dari Desa Wonoati itu. Jenis bahan baku pun pilihan. Bambu apus misalnya, harus yang berwarna kehitam-hitaman. Diolah seperti warna aslinya. Nilai artistiknya biar tetap ada.

Ketekunan Sukatno patut dicontoh. Modal awal hanya Rp 500 ribu. Bahan baku pun memanfaatkan bambu milik penduduk di sekitar desanya. Kini, dia mampu menembus pasar nasional, bahkan internasional. Selain Surabaya juga menyebar di pasar Jawa Tengah, Bali, dan Kalimantan. Pembeli dari luar negeri datang sendiri, antara lain dari Brunei Darussalam.

Order lumayan banyak. Jenis barang yang dipesan pun beragam. Seorang ibu dari Surabaya yang kebetulan datang ber-sama Jatim News, memesan tempat snack dari kulit bambu. “Bentuknya lucu dan menarik. Lebih nyentrik daripada ditempatkan dalam kardus,” komentar Ny. Ida yang akan punya hajat mantu.

Sukatno juga banyak menerima order pembuatan besek (tempat nasi dan sayur dari anyaman bambu). Lazim digunakan pada acara kenduri/syukuran. Order besek lazim dalam jumlah besar. Pengerjaan dilakukan di rumah-rumah pekerjanya. “Rumah saya tidak cukup,” ujar juragan perajin yang juga Carik (Sekdes) Wonoanti itu. Dia mengaku kerap kewalahan menerima order pada bulan Besar (Jawa), saat musim hajatan. Ada juga pemesan yang memberikan desain gambar produk. Kadang dia sulit memenuhi pesanan sesuai dengan desain/gambar. Bentuknya rumit, dan kurang pengalaman memahami desain.

Harga-harga produk kerajinan bambu dan rotan Sukatno amat variati. Tergantung motif, jenis, dan besar-kecilnya. Tempat snack misalnya, Rp1500,00/biji. Besek yang dihias cantik, Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Sketsel (penyekat ruangan) ukuran 2,5 x 0,6 meter tiga “daun”, Rp250 ribu. Kursi raja yang dipesan pembeli dari Brunei misalnya, harganya Rp1 ,5 juta. Bahan bakunya bambu pilihan dibalut rotan. Kecermatan tingkat pengerjaannya memang tinggi. Pengerjaan satu set kursi tamu butuh waktu 20 hari.

Bahan baku bambu pilihan per batang Rp5.000,00. Cukup murah dibandingkan dengan Surabaya yang Rp20 ribu/batang. Bahan baku pun mudah didapat, karena rata-rata pekarangan penduduk setempat secara alami ditumbuhi bambu.

Peralatan yang dipakai juga sangat sederhana. Seperti pisau dan parang aneka bentuk, palu, dan bar. Namun kecermatan menyayat dan merangkai bahan baku sangat menentukan kualitas produk. Kualifikasi perajin pada umumnya otodidak, meski Sukatno juga kerap turun membimbing. Dinas Perindustrian dan Perdagangan pernah memberikan diklat, namun itu tak cukup. Kalangan perajin masih harus banyak belajar sendiri, agar bisa memenuhi selera konsumen. Saat musim hujan seperti sekarang, mereka memerlukan oven (pemanas) untuk mengeringkan bahan baku.

Keikutsertaan di even nasional maupun internasional, sangat diperlukan sebagai salah satu promosi efektif. Biasanya instansi terkait mengajak perajin. Soal peran bank, versi Sukatno, tidak ada masalah. Bank BRI memberikan suntikan dana berapa pun yang dia minta. Tergantung omset tiap bulan. Lazimnya Rp10 juta dengan bunga lunak. Meski demikian dia tidak selalu mengandalkan kredit bank. Hanya pada situasi mendesak, misal saat order membludak.

Sentra kerajinan bambu dan rotan di Desa Wonoanti bisa dicapai dengan bus jurusan Surabaya-Trenggalek (196 km). Sebelum memasuki Kota Trenggalek, belok kiri ke jurusan Kecamatan Karangan, kira-kira 2 km kemudian ada pertigaan pertama, belok ke kiri lagi, sampailah di sentra kerajinan itu.  GM
BAMBU INDAH (Bp. Sukatno) Ds. Wonoanti, Kec. Gandusari Telp. (0355) 811050

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 3o, 12 -26 Maret 2004, Tahun II.