Putri Cempo

Menanti Istri Setia di Makam Putri Cempo, Banyak orang berharap mendapat jodoh yang setia di Makam Putri Cempo. Karena berasal dari Campa, makamnya juga sangat dihormati oleh orang-orang Tionghoa. 

makam putri cempoBersama lima kawannya, Ahmad Muslih (25) terlihat khusyuk berdoa di serambi cungkup Makam Putri Cempo, Rabu (29/8) siang. Sudah dua hari, santri-santri Pondok Pesantren Darussalamah, Lampung Timur itu berada di makam yang terietak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang tersebut. Sebeiumnya mereka telah betziarah ke beberapa makam wali yang ada di Jawa Timur dan Jawa-Tengah.

Mereka menjadikan wali atau tokoh yang dimakamkan di tempat-tempat itu sebagai wasilah (perantara) untuk menggapai cita-cita. Karena sebagai manusia merasa punya banyak dosa, mereka membutuhkan wali yang lebih dekat dengan Allah sebagai perantaranya. Dalam menjalankan perannya sebagai wasilah itu, masing-masing wali atau tokoh memiliki kelebihannya sendiri-sendiri.

makam putri cempo0002Orang yang memohon wasilahnya, melihat kelebihan itu dari cerita, sejarah, bahkan legenda sang tokoh. Seperti Ahmad Muslih dan kawan-kawan yang ingin men­dapat wasilah dari Putri Cempo agar suatu saat memperoleh jodoh yang baik. “Istri yang ideal, baik dalam segala hal, cantik dan setia. Layaknya kesetiaan Puteri Cem­po tertiadap Sunan Bonang,” jelas Ahmad Muslih yang diamini Mudzakir dan kawan- kawannya yang lain.

Cerita tentang Puteri Cempo memang menyiratkan pesan kesetiaan itu. Menurut

H. Abdul Wahid, juru kunci makam, Puteri Cempo adalah nama salah satu murid wanita Sunan Bonang. Dia berasal dari sebuah kerajaan di kawasan Vietnam sekarang. Setelah beberapa lama menjadi murid, sang putri diangkat menjadi pengajar di pesantren salah satu anggota walisongo itu.

“Perjalanan waktu rupanya membuat sang putri jatuh cinta pada Kanjeng Sunan dan ingin menjadi istrinya,” papar Wahid . Mendengar keinginan tersebut, keluar sebuah jawaban mengambang dari mulut Sunan Bonang. “Entenono,” kata Wahid menirukan jawaban Sunan Bonang. “Tunggu saja”, sebuah jawaban yang mem- beri makna tidak mengiyakan atau menolak permintaan sang putri.

Sang putri pun setia menunggu keputusan Sunan Bonang untuk menjadikannya sebagai istri. “Walau pada kenyataannya, keinginan itu tidak pernah tercapai hingga Sunan Bonang meninggal dunia,” jelas Wa­hid. Sunan Bonang sendiri selama hidupnya tidak pernah menikah, hingga dikerral dengan nama Sunan Wadat Anyakrawati.

IBU RADEN PATAH

Lepas dari pesan kesetiaan di atas, beberapa catatan sejarah mengungkap versi lain tentang cerita Puteri Cempo. Dalam “Tionghoa dalam Pusaran Politik”, Benny G. Setiono menulis Puteri Cempo adalah Dewi Kiem yang didatangkan oleh Sunan Ampel dari Cemboja untuk dihadiahkan kepada Prabu Kertabumi. Tujuannya untuk membobol benteng pertahanan Majapahit yang men­jadi penghalang bagi perjuangan para wali.

Temyata Kertabumi langsung menjadikan Dewi Kiem sebagai istrinya. Ketika Dewi Kiem mengandung tiga bulan, ahli nujum kerajaan meramalkan bahwa bayi yang dikandung Dewi Kiem kelak akan menjadi ra­ja besar di Jawa. Namun karena keamanannya tidak terjamin (waktu itu Majapahit tengah berperang melawan Kediri), Dewi Kiem diserahkan

kepada putranya, Arya Damar, yang menja­di adipati di Palembang. Beberapa bulan kemudian lahirlah dari rahim Dewi Kiem seorang putra yang diberi nama Raden v Hasan atau Pangeran Jin Bun. Kelak, Jin Bun yang dikenal dengan nama Raden Patah menjadi Raja Demak dan berhasil mengalahkan Majapahit.

H J. de Graff dkk. dalam “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI – Antara Historisitas dan Mitos”, menyebutkan, Putri Cempa berjasa membawa keponakannya, Bong Swie Hoo alias Sunan Ampel, dari Campa ke Jawa untuk menyebarkan Islam. Dia meninggal dan dimakamkan di Trowulan pada 1448. Kemudian hari, kerangkanya dipindahkan oleh Sunan Bonang, putra Sunan Ampel, ke Karang Kemuning, Bonang. Ini dilakukan Sunan Bonang untuk menghormati nenek bibinya itu.

Satu hari menarik yang patut dicatat dari versi – versi cerita di atas; bahwa orang- orang keturunan Tionghoa juga berjasa da­lam menyebarkan Islam di Jawa. Disebut keturunan Tionghoa, karena dari sisi etnis, orang-orang Campa mempunyai kemiripan dengan penduduk asli Tiongkok. Dari sisi geografis, letak Kerajaan Campa juga berbatasan dengan Tiongkok. Pada masa Ialu, kawasan Vietnam, tempat Kerajaan Campa itu berdiri, yang terpecah antara daerah Tonkin di utara dan Annam di selatan, juga pernah menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Tiongkok.

Pada masa Kaisar Gia Long dari Dinasti Nguyen, negeri ini pernah meminta petunjuk Kekaisaran Tiongkok untuk memberi nama bam. Gia Long mengajukan nama gabungan An Nam dan Viet Thuong. Gabungan nama itu mengerucut menjadi Nam Viet, yang akhirnya menjadi Viet Nam sejak awal abad ke-19, hingga sekarang.

Marco Polo yang tiba di pantai Vietnam pada 1292, mencatat negeri itu bernama Caugigu. Nama ini berasal dari kata Giao Chi Quan yang diduga sebagai nama kaisar Tiongkok kuno dari Dinasti Han. Nama itu terus mengalami perubahan, sampai ahli geografi Denmark, Konrad Malte-Bume, pada awal 1800-an, menganggap kawasan di semenanjung itu terpengaruh dua kebudayaan, India dan Tiongkok (Cina). Sehingga semenanjung itu disebut Indocina. Nama ini sampai sekarang tetap dipakai untuk menyebut gabungan tanah Vietnam, Laos, dan Kamboja Dengan sejumlah fakta di atas, tak mengherankan bila Makam Puteri Cempo di Bonang maupun petilasannya yang ada di Trowulan juga sangat dihormati oleh orang- orang Tionghoa. Di waktu-waktu tertentu, akan terlihat asap hioswa berpadu dengan menyan dan kembang di dua tempat tersebut. “Beberapa tahun lalu, peziarah dari luar Jawa yang kebingungan mencari – mencari makam ini, justru bertanya di Klenteng Lasem,” ungkap Abdul Wahid. • hk

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 6-9

 

Payung Siti Hinggil

Payung Siti Hinggil Hilang, Empat Nyawa Melayang

Setelah 4 warga meninggal secara misterius, Paguyuban Olah Rasa Sejati mengganti payung- payung keramat yang hilang dari petilasan Raden Wijaya Siti Hinggil. Benarkah kematian mereka akibat kutukan leluhur Majapahit?

Aroma magis langsung terasa, begitu berada di Siti Hinggil, situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Wangi asap kemenyan dan kembang

sekaran seolah tidak pernah tidak ada dari tempat keramat itu. Di tempat inilah Minggu (16/4) pekan lalu Paguyuban Olah Roso Sejati menggelar ritual penggantian payung cungkup Raden Wijaya yang beberapa waktu lalu hilang dicuri orang.Bukan hanya payung

di cungkup Raden Wijaya saja yang diganti dalam upacara tersebut, tetapi juga payung Garwapadmi Gayatri. Sedang tiga pa­yung lain milik selir dan abdi dalem yang berada dalam satu kompleks Siti Hinggil yang sudah terlihat lusuh juga turut dicuci.

Setelah melakukan kontak batin sesaat dengan para le­luhur Majapahit di depan Sanggar Pamujan yang terletak di sudut Siti Hinggil, tim yang beranggotakan sekitar 25 orang ini langsung mensucikan ketiga payung itu de­ngan menggunakan air sumur yang Siti Hinggil yang berada di sekitar kompleks tersebut. Setelah disucikan, payung-payung itu ditempatkan dalam Sanggar Pamujan Siti Hinggil. “Karena bukan pa­yung sembarangan, sehingga diperlukan upacara khusus jika ingih menggantinya,” kata Sunar, juru bicara Paguyuban Olah Roso Sejati. Lebih jauh dikemukakan, dengan ditempatkannya payung-payung itu di Sanggar Pamujan, maka akan mengembalikan kekuatan gaib dari sejumlah payung tersebut.

Berkah

Payung-payung terse­but banyak dipercaya kalangan spiritual memili- ki kekuatan khsusus. Sa- lah satunya bisa menambah kewibawaan dan kharisma bagi siapapun yang bisa memilikinya. Tak heran, jika sebelum diganti oleh Paguyuban Olah Roso Sejati dua pa­yung di petilasan Raden Wijaya dan permaisuri- nya hilang dicuri. Pencurinya pun, banyak diper­caya warga setempat memiliki kesaktian luar biasa. Mungkin karena ini pula, hingga sekarang kasus pencurian payung bertuah itu belum terungkap.

Salah seorang warga setempat yang mengikuti jalannya upacara penggantian payung di Siti Hinggil mengaku amat senang dengan prosesi tersebut. “Saya senang kalau ada yang mau mengganti payung milik Gusti Prabu Raden Wijaya,” katanya. “Ya, karena sejak payung itu hilang ada saja kejadian aneh di desa ini,” lanjut lelaki itu tanpa bersedig menyebutkan namanya.

Kejadian aneh yang dimaksud, antara lain sakitnya seorang warga setempat yang secara tiba-tiba hingga terenggut jiwanya. “Sejak payung itu hilang sekitar bulan Suro lalu, sedikitnya ada empat warga sini yang meninggal dunia tanpa sebab yang jelas,” lanjutnya serius. “Makanya, kami hanya bisa berucap teri- ma kasih, kalau ada yang mau mengganti payung Gusti Ra­den Wijaya,” tandas laki itu.

Lalu benarkah kasus hilangnya payung-payung terse­but mengakibatkan kutukan bagi warga di sekitarnya? Berdasarkan olah spiritual dari leluhur Paguyuban. Olah Roso Sejati pada Gaib Raden Wija­ya, sebenarnya leluhur Majapahit ini tidak mempermasalahkan hilangnya payung-payung tersebut. “Tapi bisa jadi ada aparat gaib dari Kerajaan Majapahit yang tidak terima bila payung milik rajanya hilang begitu saja. Nah itu juga bisa berarti macam-macam kan,” ungkap Sunar mencoba menerjemahkan peristiwa aneh di balik hilangnya payung- payung bertuah tersebut menurut kacamata spiritual.

Menurut Sunar, meskipun Kerajaan Majapahit sudah hilang dari jagad raya ini, namun aura gaib kerajaan itu hingga kini masih ada di seputar Siti Hinggil dan kawasan .Bejijong. Bahkan secara gaib pula, wujud fisik kerajaan itu berikut para punggawanya masih bisa dilihat. Bebe- rapa warga sekitar Siti Hinggil bahkan mengaku, sesekali melihat “penampakan” sosok-sosok berpenampilan ala prajurit-prajurit kera­jaan. “Ya, kami mengira sosok-sosok misterius itu sebagai arwah tentara Ma­japahit yang kama- nungsan,” paparnya.

Kilatan Aura

Pagi hari sekitar pukul 9.00 wib, pro­ses pencucian dan penyucian payung selesai. Dua buah Payung Jagat milik Raden Wijaya dan Garwapadmi Gayatri serta tiga payung milik selir dan abdi dalem langsung di- buka serentak oleh para sesepuh pagu­yuban. Saat membuka kelima payung inilah, beberapa anggota paguyuban mendadak mengarahkan pandangannya pada pohon yang memayungi petilasan Raden Wijaya itu.

Ada apa? “Kalau tadi Anda melihat, waktu sesepuh paguyuban membuka payung, ada kilatan cahaya yang keluar di atas petilasan selama beberapa detik. Mirip lampu blitz kamera,” ungkap Sunar yang diamini beberapa anggota pagu­yuban. Rupanya kilatan cahaya ini sempat pula terekam oleh kamera salah satu anggota paguyuban.

Kilatan cahaya misterius ini terekam pada saat anggota paguyuban mencuci ketiga payung milik selir dan abdi dalem di sekitar lokasi sumur. Dalam dokumentasi foto itu, terlihat bayangan putih me­mayungi mereka yang sedang mencuci payung. Sesepuh paguyuban menyebutkan, baya­ngan putih tersebut sebenarnya aura dari payung-payung bertu­ah yang akan disucikan. “Hasil terawangan gaib kami mengatakan, itu adalah bukti bahwa para leluhur Majapahit merestui apa yang sudah kami lakukan. Ya, semoga saja payung-payung itu tetap bisa mengayomi rakyat seperti yang dilakukan oleh Majapahati waktu dulu,” begitu hasil rapat Paguyuban Olah Roso Sejati. ■ lay

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2267, 1-10 MEI 2008

Lembunandini, Kabupaten Mojokerto

Berharap Emas Lembunandini Disembelih,

Lembu Andini0002Patung Lembu Nandini yang pernah hilang itu ditemukan dalam kondisi leher putus. Konon, itu dilakukan pencuri untuk mengambil emas yang ada di tubuh patung tersebut. Saat itulah peristiwa gaib banyak penyertai hilangnya patung itu, di antaranya ada satu keluarga yang gila sampai akhirnya tewas gantung diri.

Dua pohon beringin yang tumbuh di tengah Desa Mojo- lebak, Kecamatan, Jetis, Mojokerto itu ukuran sangat besar. Tak banyak yang tahu berapa usia pohon itu. Penduduk hanya mengatakan jika pohon itu sudah ada sejak zaman kakek-neneknya. Nah, di bawah pohon itulah terdapat sebuah patung sapi atau yang biasa dise- but Lembu Nandini yang sedang nderu atau duduk. Patung lembu itu mungkin peninggalan zaman Hindu atau bahkan pada zaman sebelumnya.

Penduduk sekitar menyebut tempat itu dengan nama Punden Pendem.Tak hanya penduduk sek­itar yang menghormatinya, orang- orang dari jauh terkadang ada pula yang lelaku di tempat itu. Bahkan, setiap tahun selalu diadakan bersih desa dengan pementasan tontonan wayang kulit semalam suntuk.

Saat LIBERTY mengunjungi tempat ini, ada yang aneh dengan patung ini. Di lehernya ada bekas tambalan, yang diakibatkan patung itu pernah disembelih orang yang mencurinyaCeritanya, dulu patung ini per­nah hilang dari tempatnya.Tak seorang penduduk yang tahu siapa yang mengambilnya. Hilangnya benda ini tentu saja membuat penduduk resah, sebab hilangnya benda itu bisa pertanda sebagai datangnya bencana atau musibah yang bakal menimpa kampung itu. Sebelum terjadi hal- hal yang tidak diinginkan, aparat desa setempat membentuk tim untuk mencari keberadaan benda itu agar bisa kembali ke tempatnya. Namun, sampai seminggu lamanya, benda itu tak juga bisa ditempatkan.

Mendadak, kampung yang sebelumnya sudah resah itu menjadi heboh dengan adanya salah seorang penduduk yang bernama Ngatinah yang bertingkah seperti orang gila. Lokasi rumahnya dari Punden Pendem hanya sekitar beberapa meter. Karena itu masyarakat lantas menghubunghubungkan peristiwa itu dengan hilangnya patung Lembu Nandini.

Dalam trancenya, wanita ini menyebutnyebut jika patung itu harus segera ditemukan. Beberapa orang yang hadir di tempat itu paham betul bahwa Ngatinah telah kerasukan. Bahkan, mungkin suara yang keluar dari mulutnya bukan suaranya, tapi suara penguasa gaib Punden Pendem.


“Majapahit mungkin artinya Trowulan. Sebab, di situ dulunya adalah pusat Kerajaan Majapahit. Bahkan, di Trowulan sampai sekarang masih banyak pembuat patung,” ujar seorang perangkat desa pada waktu itu, mencoba mengartikan maksud ucapan yang keluar dari mulut Nga­tinah. Setelah dilakukan diskusi, pada waktu itu akhirnya ditugaskan bebe­rapa orang untuk menuju Desa
Mbah Rakso, salah seorang pen­duduk di kampung itu, yang paling dituakan mencoba mengajak Nga­tinah yang tengah kerasukan berkomunikasi. Dalam komunikasi dengan roh halus yang mengunakan media Ngatinah itulah akhirnya diperoleh petunjuk jika patung yang hilang itu berada di Majapahit. Setelah diresapi makna petunjuk itu, akhirnya pen­duduk berkesimpulan jika petunjuk Majapahit yang dimaksud adalah daerah Trowulan, yang merupakan bekas istana atau kraton Kerajaan Majapahit.

Trowulan yang jaraknya cukup jauh dari Desa Mojolebak. Kebetulan pada waktu itu ada penduduk Desa Mojolebak yang mempunyai kenalan orang di Trowulan Supaat, penduduk Mojolebak menemui seorang kenalannya yang kebetulan mengetahui beberapa orang antikan di daerah tersebut. Dari sini, mereka kemudian mendatangi satu persatu nama-nama orang antikan yang ada di Trowulan. Namun, tak satupun orang-orang yang sering mengeksport barang-barang kerajinan patung dari batu atau tembaga ke Bali dan luar negeri itu mengetahui keberadaan patung Lembu Nandini yang berasal dari Mojolebak.

Kalaupun mengetahui atau bahkan menyimpannya, mereka belum tentu mau menyerahkannya. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka sering bermain di bisnis barang antik peninggalan purbakala yang harganya terkadang mencapai jutaan rupiah.

Pada waktu itu, Supaat dan rekanya melakukan mencarian sam­pai jam dua belas malam, tapi tidak menemukan barang yang dicari. Mereka pulang dengan tangan hampa karena tak setitik pun keterangan yang mengetahui keberadaan patung Lembu Nandini. Sampai di kampungnya, Supaat mendapatkan laporan yang menghebohkan yakni perihal Ngatinah yang sebelumnya ber­tingkah aneh dikabarkan telah meninggal dunia dengan cara gantung diri.

Supaat semakin masgul demi mendengar kabar itu. Malam itu, meski dalam kondisi capek, usai berada di rumahnya, ia kembali men­datangi tempat mayat Ngatinah dise- mayamkan untuk melekan dan dikuburkan esok harinya.

Di rumah duka, menurut cerita para penduduk, orang-orang sudah banyak yang berkumpul. Di situ juga ada Bapak Kepala Desa dan Pak Rakso. Bapak Kepala dan Pak Rakso memberi kode agar Supaat duduk di dekatnya karena ada sesuatu yang hendak diomongkan.

“Majapahit tak hanya identik dengan Trowulan, Pak Supaat. Bisa juga Majapahit itu adalah Tarik, tem­pat cikal bakalnya Majapahit berdiri,” ucap Kepala Desa Mojolebak pada waktu itu.

“lya, perkiraan tersebut juga masuk akal. DesaTarik memang ada, tapi kalau Tarik secara ke- seluruhan adalah sebuah wilayah kecamatan yang cukup luas. Di mana saya mesti mencoba mem- ulai pencarian, Pak?” tanya Supaat yang dikenal sebagai tokoh muda yang pemberani dan cerdas dari teman-temannya.

Rupanya tanpa menunggu lama, Bapak Kepada Desa pada waktu itu sudah bergerak cepat dengan meminta bantuan polisi untuk di wilayah itu untuk mencari orang-orang yang berkecimpung di dalam barang-barang antik di wilayah Tarik. Untungnya, orang yang bekerja sebagai kolektor barang antik di wilayah Tarik jumlahnya hanya beberapa oi ang, tidak sebanyak di wilayah Trowulan.

Pagi harinya, usai pemakaman jenazah Ngatinah, kabar gembira itu akhirnya datang. Petugas ke- polisian berhasil membawa kembali patung Lembu Nandini ke tempatnya semula. Hanya saja leher kepala patung sapi itu tidak utuh lagi karena ada bekas pemotongan oleh gergaji. Konon, leher kepala patung sapi

itu dipotong karena pencurinya hendak mengambil emas yang ada di tubuh patung tersebut seperti yang selama ini menjadi dugaan banyak orang. Tapi, saat menge­tahui bahwa dugaan perihal emas itu hanya sekedar cerita akhirnya si pencuri menjualnya ke seorang kolektor barang antik yang ada di Tarik, Sidoarjo. Setelah mendapatkan nama dan alamat pencuri patung Lembu Nandini, polisi pun tak kesulitan menangkapnya. Ternyata salah seorang dari dua pencuri itu adalah penduduk Desa Mojolebak sendiri.

Lembu Andini0001

Untuk tolak bala sekaligus rasa syukur atas ditemukannya patung sapi itu kembali, masyarakat Mojolebak menanggap pangelaran wayang kulit semalam suntuk. Mereka berharap tidak akan ada lagi bencana yang menimpa kam­pung yang berada di pinggiran sungai Marmoyo, anak Sungai Brantas itu. RUD.

Liberty, 1-10 Pebruari 2013, hlm. 62-64

Ranggalawe

Masyarakat Tuban tidak bisa dipisahkan dari legenda Ronggolawe dan Brandal Lokajaya. Legenda itu begitu kental dan menyejarah sehingga sedikit banyak mewarnai pembentukan sistem nilai pribadi dan sosial. Elite politik sering kali memanfaatkan untuk kepentingan dan pencapaian target politiknya. Legenda Ronggolawe versi masyarakat Tuban berbeda dengan naskah sejarah seperti ditulis kitab Pararaton maupun Kidung Ranggolawe. Menurut Kidung Ranggolawe, tindakan ngraman (berontak) Ronggolawe dilancarkan setelah tuntutannya agar pengangkatan Empu Nambi sebagai Patih Amangkubumi Majapahit dianulir.
Rudapaksa politik yang menurut Pararaton terjadi pada tahun 1295 itu berakhir tragis. Raja Kertarajasa Jayawardhana menolak tuntutan Ronggolawe tersebut. Pasukan dikirim untuk menyerang Ranggolawe. Akhirnya Ronggolawe diperdayai untuk duel di Sungai Tambak Beras. Dia pun tewas secara mengenaskan oleh Mahisa Anabrang.  Bagi masyarakat Tuban, Ronggolawe bukanlah pemberontak, tetapi pahlawan keadilan. Sikapnya memprotes pengangkatan Nambi, karena figur Nambi kurang tepat memangku jabatan setinggi itu.
Nambi tidak begitu besar jasanya terhadap Majapahit. Masih banyak orang lain yang lebih tepat seperti Lembu Sora, Dyah Singlar, Arya Adikara, dan tentunya dirinya sendiri. Ronggolawe layak menganggap dirinya pantas memangku jabatan itu. Anak Bupati Sumenep Arya Wiraraja ini besar jasanya terhadap Majapahit. Ayahnya yang melindungi Kertarajasa Jayawardhana ketika melarikan diri dari kejaran Jayakatwang setelah Kerajaan Singsari jatuh (Kertarajasa adalah menantu Kertanegara, Raja Singasari terakhir). Ronggolawe ikut membuka Hutan Tarik yang kelak menjadi Kerajaan Majapahit.

Dia juga ikut mengusir pasukan Tartar maupun menumpas pasukan Jayakatwang.  Bagi masyarakat Tuban, Ronggolawe adalah korban konspirasi politik tingkat tinggi. Penyusun skenario sekaligus sutradara konspirasi politik itu adalah Mahapati, seorang pembesar yang berambisi menjadi patih amangkubumi. Melalui skenarionya, Lembu Sora, paman Ronggolawe yang membunuh Mahisa Anabrang akhirnya dibunuh oleh pasukan Nambi melalui tipu daya yang canggih. Empu Nambi sendiri mati dengan tragis. Dia diserang pasukan Majapahit pada saat pemerintahan Raja Jayanegara karena bisikan Mahapati bahwa Nambi ngraman (berontak). Kidung Sorandaka mencatat, Mahapati menggapai ambisinya dan dilantik menjadi patih amangkubumi tahun 1316.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram

Sumur Upas

Dari Pendopo Agung kita mengikuti jalan ke Sentonorejo ke arah selatan kira-kira 300 meter, sampailah pada sebuah gang membelok ke barat dan kira-kira jarak 100 meter akan kita jumpai suatu situs peninggalan purbakala yang disebut Sumur Upas. Yang dinamakan Sumur Upas adalah lubang gua kecil yang sekarang sudah ditutup batu dan dibuatkan cungkup. Di kompleks ini, selain sumuran tadi, kita dapati pula sebuah batu atau mungkin sebuah bagian kaki candi dari batu bata yang tingginya kira-kira 1,50 meter sedang ukuran panjangnya 12,50 meter dan lebarnya 7,50 meter.

Batu tersebut menghadap ke barat dan seberapa jauh di depan bangunan itu kita dapati sumur kuno berbentuk segi empat yang dibuat dengan susunan batu bata. Di atas batur itu sekarang didapati adanya makam. Namun kebenaran apakah itu betul-betul makam, masih sangat diragukan. Di sebelah selatan batur candi tadi kita dapati suatu bentuk semacam parit yang dindingnya dibuat dari batu bata yang sering menimbulkan tanda tanya bagi pengunjung.

Menurut pengamatan kami bentuk semacam parit itu sebenarnya adalah jarak antara dua pondasi atau kaki bangunan yang berdiri saling berdekatan satu di sebelah utara dan yang lain terletak di selatannya. Menurut catatan lama kompleks ini disebut dengan nama Candi Kedaton.

Kira-kira 100 meter di sebelah barat tempat ini kita jumpai dua deretan umpak batu besar-besar membu­jur arah barat ke timur beijumlah 13 buah. Berderet beijajar dua-dua masing-masing dengan jarak ± 4 me­ter. Bentuknya juga segi delapan dan ukurannya sama dengan umpak-umpak yang terdapat di komplek Pendopo Agung. Bedanya, di bagian atas umpak-umpak di sini ber­lubang, tempat menaruh pasak tiang di atasnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988

Pendapa Agung, Trowulan

Pada tahun 1966 Kodam VIII/Brawijaya mem­bangun sebuah pendopo besar di Trowulan. Letak­nya dekat dengan tempat yang oleh penduduk dise­but Kubur Panggung . Untuk mencapai tempat itu orang dapat mengikuti jalan di sebelah barat Kolam Segaran menuju ke selatan dan sesudah beijalan kira-kira 600 meter, sampailah di sebuah perempatan. Dari situ hendaknya terus mengikuti jalan yang ke selatan menuju desa Sentonorejo. Kira-kira 150 meter maka di kanan jalan akan nampak bangunan candi bentar yang cukup besar, sebagai pintu gerbang ma­suk ke sebuah pendopo besar yang oleh pihak Kodam VIII/Brawijaya dinamakan Pendopo Agung. Di tem­pat ini dahulunya terdapat deretan umpak (alas tiang) dari batu yang besar berjajar dua-dua. bentuknya segi delapan dan di permukaan atasnya tidak terdapat lobang tempat pasak dari tiang yang disangganya. Sebagian dari umpak itu dipergunakan untuk penyangga tiang-tiang pendopo baru tersebut dan sebagian lagi dikumpulkan di sebelah kanan pendopo bercampur dengan benda-benda arkeologi lainnya.

 

Di belakang pendopo, masih di dalam halaman, akan dapat dilihat dua buah tiang batu, yang satu masih terpancang di dalam tanah, yang oleh pendu­duk dinamakan cencangan gajah, yaitu tiang utnuk mengikat gajah. Batu semacam ini terdapat juga di pekarangan penduduk di sebelah barat Kolam Segar­an dan yang lain lagi ada di Bejijong. Di belakang tembok komplek Pendopo Agung terdapat sebuah komplek makam. Di situ ada sebuah makam tertutup

cungkup dan letaknya lebih tinggi dari makam-ma­kam lainnya. Makam ini oleh penduduk dikenal dengan nama, Kubur Panggung. Dalam tulisan A.S. Wibowo diterangkan bahwa di tempat itu pernah diadakan penggalian purbakala dan berhasil menemukan pondasi tembok membujur dari utara ke selatan dan barat ke timur, sehingga membentuk ruang-ruang yang disekat-sekat. Dan Kubur Panggung itu terletak di atas perselangan salah satu pondasi tembok itu.

Sebuah dongeng rakyat tentang tempat ini yang sem­pat dicatat oleh J. Knebel tahun 1907 mengkisahkan sebagai berikut:

Ketika Majapahit diperintah oleh Kencanawungu, di­buatlah sebuah pesanggrahan untuk para tamu de­ngan memakai panggung.

Pada suatu saat putera Sultan Pajang yang bernama Pangeran Benowo lolos dari Pajang dan melarikan diri ke Majapahit dan ia berdiam di pesanggrahan ini. Setelah beberapa waktu lamanya Pangeran Benowo kemudian pergi dan di tempat itu dibuat petilasan yang diberi nama Kubur Panggung.

Pada akhir tahun 1973 pihak Kodam VIII mem­perluas Pendopo Agung dan pada waktu menggali tanah di depan Pendopo yang direncanakan untuk tempat parkir ditemukan beberapa sumur kuno dan beberapa pondasi tembok yang membujur arah utara ke selatan dan barat ke timur, yang nampaknya se­perti membentuk kamar-kamar. Sementara itu dalam penggalian itu ditemukan juga sejumlah benda- benda arkeologi antara lain berupa umpak-umpak ba­tu ukuran kecil, benda-benda dari keramik, porselin dan terakota, alat-alat dapur dari batu seperti pi­pisan d 11.

Diantara benda-benda temuan itu ada sebuah batu pu­tih kecil yang memuat tulisan angka tahun 1325 Caka. Benda-benda temuan tersebut sekarang disimpan di dalam bangunan yang terletak dalam komplek Pendo­po Agung di sebelah selatan Pendopo.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988

Candi Minak jingga

Diatas tadi telah kami uraikan bebarapa pening­galan yang bersifat Islam sekaligus walaupun letak­nya saling beijauhan. Hal ini hanya untuk memudah­kan kaitan pembicaraan saja. Sekarang kita kembali pada peninggalan Hindu yang letaknya ± 300 meter, di sebelah timur Kolam Segaran. Untuk sampai ke tempat itu sebaiknya mengikuti jalan di sebelah utara Kolam Segaran menuju ke timur kemudian

ada pertigaan lalu belok ke kanan dan beberapa puluh meter lagi sampailah ke tempat yang dituju. Letaknya di sebelah kiri jalan. Apa yang nampak sekarang hanyalah gundukan sebidang tanah yang diberi pagar kawat berduri. Di atas permukaan tanah kita dapati sekelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menunjukkan bekas bagian bangunan candi.

Peninggalan ini disebut candi Minakjingga atau Sanggar Pemelengan. Dinamakan candi Minakjingga kerena di tempat ini dahulu didapati sebuah patung (arca) besar ber­wajah raksasa tingginya 1,48 meter yang oleh pendu­duk dianggap sebagai patungnya Minakjingga. Patung tersebut kelihatannya seperti raksasa bersayap, wa­jahnya sepenuhnya raksana, matanya melotot, ram­butnya mengombak ke belakang.

Pakaian dan perhi­asan yang dipakai merupakan perhiasan kebesaran, memakai naga upawita dan tangan kanannya meme­gang golok sedang tangan kiri memegang uncal. Di samping itu juga ada patung perempuan berbadan seekor burung Kenari, tingginya 1,01 meter. Kedua- patung ini sekarang disimpan di Museum Purbakala Mojokerto. Demikian juga beberapa relief yang ber­asal dari candi Minakjingga sekarang dapat dilihat di Museum Mojokerto. Di situsnya sendiri, sebagai te­lah disebutkan di atas, sekarang yang terlihat hanya­lah gundukan tanah saja.

Pada waktu diadakan peng­galian purbakala pada tahun 1976, di dalam gunduk­an tanah itu ditemukan pondasi bangunan dan sisa- sisa bata. Melihat kenyataan dengan banyaknya ba­tu-batu bagian candi dari batu andesit di situs ter­sebut, maka kemungkinan besar candi Minakjingga bagian dalamnya dibuat dari batu bata, kemudian bagian luar ditutup dengan batu andesit. Memperhatikan keadaan susunan tanah dan denah­nya kemungkinan candi Minakjingga dulunya di ke­lilingi parit seperti candi Jawi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988

Makam Putri Cempa

Di sebelah timur laut dari Kolam Segaran ada komplek makam yang dikelilingi tembok. Di dalam komplek itu ada kelompok makam khusus dipa­gari tembok tersendiri. Letaknya lebih tinggi dari yang lain pada teras yang berukuran ± 3,60 x 3,60 meter.

Makam ini oleh penduduk dikenal sebagai makam Putri Cempa. Lingkungan makam ini sudah sering mengalami perubahan. Pada makam itu terdapat sebuah batu bertulis yang memuat angka tahun 1370 C atau 1448 AD. jadi menunjukkan masa akhir Majapahit.

Bagaimana asalnya komplek makam ini disebut makam Putri Cempa tidaklah jelas. Mungkin di tem­pat itu memang dimakamkan seorang putri atau ang­gota keluarga raja yang berasal dari Campa. Dalam sejarah dapat diketahui bahwa hubungan antara Indonesia dengan Campa atau negara-negara di Asia Tenggara itu sudah berlangsung lama sejak sebelum zaman Majapahit. Dalam zaman pemerintahan Hayam Wuruk pengaruh Campa itu nampak gelas pada arsitektur Candi Puri, makam Putri Cempa ada makam Islam yang termasuk tua. Selain itu di Trowulan juga kita dapati lagi beberapa makam Islam yang periodenya lebih jelas karena ma- sing-masing makam memuat angka tahun. Makam ter­sebut terletak di kompleks makam Tralaya yang akan kami uraikan berikut ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988

Kompleks Makam Tralaya

Kompleks Makam Tralaya terletak di desa Sentonorejo, kira-kira 2 Km. dari Makam Putri Cem­pa ke arah selatan mengikuti jalan menuju desa Pakis. Traiaya merupakan kompleks makam yang luas di­kelilingi tembok dan di dalamnya terdapat beberapa kelompok makam yang oleh A.S. Wibowo diuraikan sebagai berikut: Makam Sunan Ngudung yang batu nisannya bertuliskan huruf-huruf Arab.Makam Ibnu. Maulana Maghribi yang batu nisannya juga bertuliskan huruf Arab.

Kemudian sebuah cungkup yang dalamnya terdapat tiga buah makam. Sebuah dari makamnya ini batu nisannya bartuliskan huruf-huruf Arab, sebuah lagi bertuliskan huruf Jawa Kuno dan yang lain lagi po­los. Makam ini masing-masing adalah makam: Said Maulana Abdulkadir Jaelani, Said Ibrahim Asmara dan Said Maulana Iskak.

Kemudian agak di tengah-tengah terdapat kelompok makam yang berisi 9 buah makam yang amat panjang. Manurut dongeng makam-makam itu hanyalah pe­tilasan para wali yang datang bersama-sama tentara Demak menyerbu Majapahit, dan di tempat itu meng­islamkan Raja Brawijaya.

Kemudian ada kelompok dua makam yang letaknya ditinggikan dan menurut dongeng makam ini adalah makam Ratu Kencanawungu dan Dewi Anjasmara. Sekarang makam ini berada dalam cungkup dan cung­kupnya itu sendiri sudah sering mengalami perubahan demikian pula nisan dan makamnya. Kemudian agak jauh ke Barat akan kita jumpai kom­pleks makam yang dipagari tembok keliling dan di dalamnya didapat 7 buah makam. Kompleks makam inilah yang boleh dikatakan ma­sih asli. Empat diantara makam ini batu nisannya me­makai pahatan lukisan surya dan di bawahnya ditulis­kan angka tahun Jawa Kuno. Sedang di sebaliknya bertuliskan huruf-huruf Arab. Keempat angka tahun itu adalah tahun 1340 Caka, tahun 1377 Caka, tahun 1379 Caka, dan tahun 1387 Caka. Kompleks makam ini adalah makam dari pada para keluarga raja atau pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam.

Dengan adanya makam-makam Islam sebagai tersebut di atas menunjukkan bahwa pada abad 15 agama Is­lam telah masuk di ibukota kerajaan Majapahit dan mendapat restu dari pemerintah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988