Upacara Temanten Kucing Ds. Pelem Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung  

 

200712021418513Desa Pelem adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Campurdarat, yaitu wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Adapun letak geografis desa Pelem adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara              : Desa Wates

Sebelah Selatan           : Desa Perhutanan

Sebelah Timur             : Desa Pojok

Sebelah Barat              : Desa Campurdarat

Luas areanya 525 hektar yang terbagi dalam lima dusun yaitu Dusun Sumberjo, Dusun Pelem, Dusun Tambak, Dusun Jambudan Dusun Bangak. Jumlah penduduk Desa Pelem seluruhnya 8.212 orang, dengan rincian laki-laki 4.114 orang dan perempuan 4.098 orang.

 Sejarah Upacara Temanten Kucing

Asal muasal ritual manten kucing itu mempunyai sejarah panjang, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Dahulu, di desa pelem hidup seorang demang yang dikenal dengan sebutan Eyang Sangkrah. Ia adalah sosok linuwih dalam ilmu kejawen. Eyang Sangkrah memiliki seekor kucing condromowo (bulunya tiga warna) jantan dengan sepasang mata istimewa. Upacara ritual “Temanten Kucing” dirintis ratusan tahun silam. Awalnya, daerah Pelem dilanda kemarau panjang yang membuat warga kebingungan mendapatkan air. Sebagai seorang pemimpin desa, Eyang Sangkrah merasa bertanggungjawab atas nasib penduduknya. Berbagai ritual untuk memohon hujan dilakukan, tapi air tidak kunjung turun.

Eyang Sangkrah merasa kehabisan cara. Eyang Sangkrah, tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika mandi di telaga Coban. Dia mengajak serta seekor kucing condro mowo piaraannya. Sepulang Eyang Sangkrah memandikan kucing di telaga, tak lama berselang, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Karuan saja, warga yang sudah lama menunggu-nunggu turunnya hujan tak bisa menyembunyikan rasa memandikan kucing condro mowo”. Ketika Desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada 1926, desa ini kembali dilanda kemarau panjang. Saat itulah, Eyang Sutomejo mendapat wangsit untuk memandikan kucing di telaga. Maka, dicarilah dua ekor kucing condro mowo. Lalu, dua ekor kucing itu dimandikan di telaga Coban. Dan, beberapa hari kemudian hujan mulai turun.

 

Pelaksanaan Upacara Temanten Kucing

Dalam upacara ini, sepasang kucing jantan dan kucing betina dipertemukan menjadi pasangan pengantin. Prosesi “Temanten Kucing” diawali dengan mengirab sepasang kucing jantan dan betina ,kucing warna putih yang dimasukkan dalam keranji.

Dua ekor kucing itu dibawa sepasang „pengantin‟ laki-laki dan wanita. Di belakangnya, berderet tokoh-tokoh desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Sebelum dipertemukan, pasangan “Temanten Kucing” dimandikan di telaga Coban. Secara bergantian, kucing jantan dan kucing betina dikeluarkan dari dalam keranji.

Lalu, satu per satu dimandikan dengan menggunakan air telaga yang sudah ditaburi kembang. Usai dimandikan, kedua kucing diarak menuju lokasi pelaminan. Di tempat yang sudah disiapkan aneka sesajian itu, pasangan kucing jantan dan betina itu „dinikahkan‟. Sepasang laki-laki dan perempuan yang membawa kucing, duduk bersanding di kursi pelaminan. Sementara dua temanten kucing berada di pangkuan kedua laki-laki dan wanita yang mengenakan pakian pengantin itu. Upacara pernikahan ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan sesepuh desa setempat.

Tak lebih dari 15 menit, upacara pernikahan pengantin kucing usai. Lalu, prosesi “Temanten Kucing” dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional Tiban dan pagelaran langen tayub.

 Maksud dan Tujuan Upacara Temanten Kucing

Berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Desa Pelem Kecamatan Campursarat Kabupaten Tulungagung, Upacara Temanten Kucing yang selama ini dilakukan mempunyai tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu Upacara Temanten Kucing yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Pelem digunakan sebagai sarana bagi masyarakat yang berharap agar Tuhan menurunkan hujan.

 Nilai – Nilai Yang Terkandung di Dalam Upacara Temanten Kucing

Nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam upacara Temanten Kucing adalah :

1) Nilai Religius. Nilai religius itu tampak dengan jelas, karena pada dasarnya Upacara Temanten Kucing bertujuan untuk mengharapkan agar Tuhan menurunkan hujan. Sedangkan Upacara Temanten Kucing sebagai medianya.

2) Nilai Gotong Royong. Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia gotong-royong merupakan suatu hal yang tidak asing lagi, terutama pada masyarakat pedesaan. Praktek gotong-royong mewarnai hampir semua kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana kodratnya bahwa t. Dalam kaitnnya dengan Upacara Temanten Kucing praktek gotong-royong tampak mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan upacara. Upacara Temanten Kucing yang bersifat fisik hampir semuanya dilakukan dengan cara gotong-royong.

3) Nilai Persatuan. Dalam Upacara Temanten Kucing rasa persatuan tampak sekali diperlihatkan oleh warga masyarakat Desa Pelem. Rasa persatuan ini tampak terjalin dengan baik antara sesama warga masyarakat. Tanpa adanya persatuan diantara warga masyarakat tidak mungkin Upacara Temanten Kucing dapat berjalan dengan baik. Bukti lain adanya nilai persatuan adalah pada waktu upacara selamatan. Dimana warga masyarakat berkumpul disuatu tempat untuk mengucapkan rasa syukur dan makan brekat/ambeng secara bersama-sama. Hal yang demikian menunjukkan keterikatan rasa solidaritas dan persatuan antara sesame warga masyarakat.

4) Nilai Seni dan Keindahan. Hal ini tampak jelas pada saat warga masyarakat mengarak Temanten Kucing. Warga masyarakat memakai pakaian adat Jawa. Yang laki-laki menggunakan beskap dan yang perempuan menggunakan kebaya. Di samping itu nilai seni dan keindahan itu juga tampak pada berbagai macam kesenian yang disajikan seperti kesenian Langen Tayub dan Tiban.

——————————————————————————————-Rita Hajati,  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Upacara Temanten Kucing Di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.  Universitas Nusantara PGRI Kediri. 2016.

 

Soemiran Karsodiwirjo

Soemiran karsodiwirjoSoemiran Karsodiwirjo lahir di Tulungagung, 9 September 1921, beragama Islam. Pendidikan SR angka I (1933), SR angka II (1935). Saat ini menjabat sebagai Komisaris Pabrik Rokok Reco Pentung. la juga Komisaris dalam pengembangan pariwisata panlai Popoh yang dirintisnya mulai tahun 1972 serta Komisaris PT Soetera Bina Samodra.
Dalam organisasi, ia menjabat sebagai Ketua Gabungan Perusahaan Rokon Indonesia Gapero. Sebelumnya pernah men­jabat sebagai Ketua PPRI (Persatuan Perusahaan Republik In­donesia) Wilayah Kediri tahun 1952.
Menikah dengan Soepadmi, dikaruniai 5 putra dan 4 putri. Masing- masing Istiyah, Ismah, Ismanu, Mulyadi Dodit, Soedjito, Lilik Isyuwarni, Yen Isyuwarno, Wawang Sudjarwo dan Neneng Isnayunaeni. Bersama keluarga tinggal di Jalan Supriadi No. 80 Tulungagung (0335)21904.
Sehari-hari ia bisa ditemui dikantar PR Reco Pentung, Jalan Mayor Suryadi No. 21 Tulungagung Telepon (0335) 23880-2 – 23883.
Kerja keras tanpa mengenal putus asa dalam mencapaicita-cita, merupakan modal utamanya dalam menggapai hasil yang dicita-citakannya. Kata-kata ini sangat cocok untuk pribadi Soemiran.
Soemiran merupakan putera sulung dari sembilan bersaudara, pasangan Karsogoeno dan ibu Toekinem. la dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga serba pas- pasan. Ayahnya sebagai buruh lapangan yang kerjanya memborong penggalian tanah, memasang tiang-tiang listrik dan sebagainya. “Sebagai anak tertua, saya sangat kasihan melihat Bapak saya. Ketika baru berusia enam tahun, saya sudah biasa membantu melakukan pekerjaan bapak. Itu semua saya lakukan karena sebagai sau- dara tertua, yang harus bisa memberi contoh bagi adik-adik, sekaligus sebagai perwujudan bakti pada orang-tua,” ungkapnya.
Pekerjaan seperti itu dilakukannya setelah pulang sekolah. Meski ia sendiri mengaku mengalami beban mental. Di mana anak seusia dia, sebenarnya masih senang-senangnya bermain, tapi ia justru ikut asyik bekerja mencari uang untuk biaya sekolah. “Mungkin sudah merupakan suratan takdir, saya harus menjalani seperti itu,” tambah- nya.
Wiraswasta, mula-mula dengan menjajakan makanan kecil, seperti pisang goreng, kacang dan serabi sambil ke luar masuk kampung. Dan hasilnya pun lumayan. “Dari itu saya mendapatkan keuntungan 20 %. Sebab jajanannya ngambil dari orang lain. Selain uangnya saya gunakan untuk biaya sekolah dan biaya hidup, sisanya sa­ya kirim untuk membantu meringankan be­ban orang-tua. Apapun pekerjaan asal halal pasti saya kerjakan,” ceritanya.

Semasa kecil, Soemiran juga pernah menjadi pembantu pada seseorang. Karena masih kecil, ia pernah tercebur sumur ketika menimba air untuk mengisi bak mandi. Itu semua menjadi pengalaman berharga sekaligus tak pernah terlupakan. Kemudian menjelang tahun 1941, memikirkan berumah-tangga dan berdagang kecil-kecilan di rumah untuk menunjang ke- butuhan sehari-hari.
“Saya mulai berwiraswasta lagi mulai 2 Mei 1946 dengan membuat rokok kretek klobot kecil-kecilan. Semula dikerjakan sen- diri yang akhirnya dari produksi rokok tersebut saya beri nama Cap Ikan Dorang. Dan itu hanya sampai satu tahun,” lanjutnya.
Tahun 1948 Belanda masuk lagi ke kota Tulungagung. Dan patung Reco Pentung yang berada di perbatasan kota banyak yang dirobohkan oleh Belanda. Awal 1949, keadaan kota Tulungagung mulai aman lagi. la mulai meneruskan usaha membuat rokok dengan merk baru, yakni ‘Reco Pen­tung’. “Sebelumnya saya menggunakan merk ‘Sri Sedjati’. Pada awalnya cuma mempekerjakan 5 sampai 20 puluh karyawan. Ternyata rokok yang saya produksi banyak diminati masyarakat. Sehingga per- mintaan pun semakin meningkat dan usaha kami dengan sendirinya berkembang pesat. Maka kami mencari tambahan karyawan baru mencapai 1000 orang,” katanya.

Setelah berjalan sepuluh tahun lebih mengalami kelancaran, tahun 1960-an usaha rokok tersebut mengalami kelesuan lagi. Terutama dengan adanya peristiwa G. 30 SIPKI. Usaha mengalami penurunan sangat drastis diadakan perampingan kar- yawan hingga tinggal 25 orang. Tapi peris­tiwa itu bukan menjadi penghalang bagi Soemiran. Dengan begitu ia biasa mera- sakan, bagaimana rasanya orang jatuh bangun dalam berusaha.

“Sejak kecil saya sudah merasakan pahit-getirnya dalam menjalankan kehidupan. Dan itu merupakan tempaan bagi saya,” katanya. Setelah produksi rokok klobotnya turun drastis, ia mulai memproduksi sigaret kretek putih dengan merk ‘Gaya Baru’. Dan mulai tahun 1970-an industri rokok kretek mulai membaik lagi. Tapi menjelang tahun ’80-an saya juga jatuh lagi. Hingga karyawan saya tinggal 15 orang.

Akhirnya pada tahun 1982 saya mem­buat rokok kretek dengan kualitas lebih baik dari produk-produk sebelumnya. Dan kami beri nama merk ‘Reco Pentung’ yang sebe­lumnya kami gunakan untuk merk rokok klobot. Dan akhirnya berkembang begitu pesat. Hingga mampu menyedot banyak lagi karyawan, dan sampai tahun 1991 men­capai 4500 orang. “Selain itu produksi rokok kretek, kami juga membuat rokok filter yang kami beri merk Minna, Retjo Pentung Wasiat dan Retjo Pentung Jaya. Perusahaan pun berangsur menjadi tingkat menengah,” jelasnya.
Setelah sekarang usianya menginjak kepalatujuh, untuk menjaga kesehatannya ia selalu bangun pagi-pagi. Kemudian melakukan olahraga hidup baru (Orhiba). Setelah itu mandi dengan mengguyur air di kepala sampai 100 gayung. Dan sorenya sampai 75 gayung. Resep agar tetap sehat itu dilakukannya setiap hari. (AS-20)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 57-58 (CB-D13/1996-…)

Ismanu Soemiran

ismanu SoemiranIsmanu Soemiran lahir di Tulungagung, 3 Mei 1949. Pendidikan formal yang ditenpuh, SR Jepun (1961), SMPN I Tulungagung (1963) dan SMAN I Tulungagung (1966). Setamat SMA tidak lantas meneruskankuliah, lapimencobamendalamibahasa asing.yang diharpakn bisa menjadi bekal belajar ke luar negeri. Tapi niatnya itu tidak kesampaian.

Saal ini menjabat sebagai Direktur Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, yang didirkan ayahnya, Soemiran. Di samping itu ia juga menjadi Direktur Utama Soetera Bina Samudera, yang mengelola wisata pantai Popoh, Tulungagung.

Menikah dengan Sherly Suherlan dikaruniaitiga puteri dan satu putra. Masing masing bernama Setiyanti Ismaningsih, Ismarlina Dwi Amelia, Ismandriani Tri Irmawidyawati dan Mochamad Anugrah Satriyo Kuncoro.

Bersama keluarga tinggal di Jl. Supriyadi 80 Tulungagung telepon (0355) 21904. Sedang sehari-harinya berkantor di Jl. Mayor Suyadi No. 21 Tulungagung telepon (0355) 23880-2.

 

Lahir sebagai anak laki-laki tertua dari keluargan Soemiran Kaartodiwiryo, pendiri Pabrik Rokok Retjo Pentung. Selanjutnya ia dipercaya bapaknya untuk melanjutkan mekanisme kelangsungan perusahaan tersebut.

Semula bercita-cita sekolah ke luar negeri. Untuk mempersiapkan diri, setamat SMA mengikuti kursus berbagai macam bahasa, misalnya Inggris, Mandarin, Jepang, dan bahasa Belanda. Namun setelah mengikuti kursus, kenyataannya menjadi lain, karena orang tuanya ingin agar ia segera meneruskan perusahaan tersebut. Maka urunglah cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Ia mengakui, secara psikologis bisa menerima alasan ayahnya. Sebagai anak laki-laki tertua, tentunya memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan contoh bagi adik-adiknya.

Dalam soal rokok, ia pertama kali terjun sebagai sales yang biasa menawarkan dari toko ke toko. Waktu satu tahun, dirasa belum cukup pengalaman, kemudian ditam- bah lagi sampai dua tahun. Dengan menjadi sales, ia mengaku memiliki pengalaman pemasaran suatu produk, tidak terkecuali produk rokok. la mengetahui persis keberadaan produk yang dihasilkannya, bisa di- terima masyarakat atau tidak.

“Jangan harap kita bisa bekerja duduk dengan enak,. kalau tidak memiliki penga­laman lapangan. Bagaimana bisa menerapkan manajmen yang pas, kalau pangsa pasar saja tidak mengetahui,” katanya. Un­tuk itulah, agar seseorang ingin suksek berbisnis, menurutnya’ perlu pengalaman la­pangan yang cukup. Dan itu pun memerlukan proses panjang.

Sebagai wiraswastawan, ia mengaku tanpa henti belajar bagaimana mengembangkan perusahaan. Antara pengusaha satu dengan yang lainnya, tentu memiliki perbedaan, meski produknya sama. Tapi setidaknya untuk menjadi usahawan tangguh,  baginya minimal memiliki dasar filsafat 6 S. Kalau dijabarkan, menurutnya resep ini bisa menjadi pemacu keberhasilan.

Enam S yang tidak lain adalah Senyum, Salam, Sapa, Sambung Rasa, Simpatik dan Sovenir ini, sangat efektif sekali. Apalagi sebagai seorang lapangan. Secara gamblang ia menjelaskan, “terhadap seorang calon pembeli, pertama kita harus menunjukkan sifat ramah dengan memperlihatkan senyum. Selanjutnya memberikan salam kepada relasi tersebut. Lalu kita sapa yang akhirnya terjadilah sambung rasa. Setelah itu berkembang dan dari sana akan limbul rasa simpatik sehingga menghasilkan so­venir, alias dagangan laku”.

Setelah menduduki pimpinan di Retjo Pentung, ia segera dihadapkan masalah baru lagi. Tidak hanya soal tawar menawar ketika menjadi sales. Ujian yang kelihatan mencolok adalah tatkala dekade 80 an. Di mana di Indonesia lahir BPPC yang mengurusitata niaga cengkih. Merasaterhambat, karena sulit mendapatkan bahan baku yang berakibat perusahaan kalang kabut. Status dari perusahaan besar, turun menjadi per­usahaan kecil. Dan tak urung 2.000 karyawan terpaksa harus meninggalkan profesinya.

“Sebetulnya saya kasihan terhadap mereka. Tapi bagaimana lagi, itu suatu tindakan sementara yang harus saya lakukan demi kelangsungan perusahaan” kilahnya. Setelah meningkatkan manajemen secara profesional, kehidupan perusahaannya bi­sa kembali seperti semula, dan karyawan yang tadinya ke luar, bisa masuk lagi.

Terhadap tenaga kerja, ia tak mau sembarang mengatur. Obsesinya, karyawan di lingkungannya tak sekedar bisa menikmati standar UMR, tapi bisa meningkat menjadi kebutuhan fisik minimum (KFM). Karena itulah, ia tak pernah membedakan diri de­ngan para karyawan. “Kalau perlu, saya juga belajar dari mereka. Kan tidak ada salahnya. Belajar itu jangan memandang siapa guru kita, tapi apa yang dapat kita terima,” tandasnya.

Sebagaimana ajaran ayahnya dulu, sikap itu terus dipelihara hingga sekarang. Kritik, dianggapnya sebagai nasihat. Dan menurutnya, itu perlu diambil hikmahnya. Barang kali ada benarnya. “Tapi juga tidak sedikit orang mengkritik hanya karena iri Iho,” guraunya.

Yang penting, menurutnya orang hidup ini harus pandai-pandai bersyukur. Rejeki jangan diukur besar dan kecilnya. Tapi sejauh mana bisa membawa kemasla- hatan. (AS-20′)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 54-55 (CB-D13/1996-…)

Makam Mbah Sunan Kuning, Tulungagung

Ritual Pesugihan di Makam Mbah Sunan Kuning Tulungagung, Jatim Kabulkan Permintaan Orang yang Kecingkrangan

Keberadaan sejarah makam tidak diketahui, namun masyarakat mempercayai yang sumare di dalam pusara itu adalah tokoh sakti yang sanggup mengabulkan  semua permintaan. Karena itulah banyak pelaku ngalap berkah hingga pemburu pesugihan melakukan ritualdi pusara ini.

DALAM penelusuran tempat- tempat mistik di kawasan Tulungagung, posmo mendapati sebuah makam misterius yang dijadikan sarana ngalap berkah para peziarah termasuk orang-orang yang gandrung memburu pesugihan gaib. Konon, setiap hari Kamis malam mereka menggelar atur sesaji dan ubarampe di pelata ran makam dengan sejuta hara-pan muncul agar setelah hajatan apa yang menjadi kehendak hati bisa terkabul. Itu adalah gambaran sekilas yang tampak di Makam Mbah  Sunan Kuning yang berada di Dusun Gajah, Desa Macanbang,    Kec. Ngondang, Tulungagung, Masyarakat setempat tidak begitu paham sejak kapan makam itu ada di desanya. Menurut penduduk setempat makam itu dulunya ada juru kuncinya, namanya Mbah Kandar. Setelah beliau  meninggal diganti oleh Mbah Mohammad Syaidin. Ketika beliau meninggal yang menjadi juru kunci sudah tidak ada lagi.

Setiap orang yang datang ke makam mempunyai maksud dan tujuan bermacam-macam. Bisa jadi, mereka ingin menjadi kaya atau agar masalah yang se­dang dihadapi selekasnya men­emukan jalan keluarnya. “Ban­yak tujuan orang yang datang ke makam. Biasanya mereka langsung nyekar lalu berdoa di makam,” jelasnya. Bahkan tak jarang peziarah menggelar selamatan di pela­taran makam. Dipercaya mer­eka yang datang dan menggelar selamatan merupakan orang-orang yang telah terkabul permohonannya, termasuk nazar dimu­rahkan rezekinya yang banyak diartikan sebagai ritual pesugi­han. Peziarah setelah melaku­kan ritual nyekar acap kali kem­bali datang untuk selanjutnya menggelar selamatan.

Tokoh Mataram
Siapa sejatinya Mbah Sunan Kuning? Sejarah tutur setempat menyebut, beliau hidup sekitar tahun 1500-an. Asalnya diya­kini dari tlatah Mataram. Aji ke­saktian yang dimiliki membuat beliau dikenal sebagai sosok yang pemurah. Suka membantu antarsesama sekaligus berjiwa dermawan.

Selanjutnya tak ada data resmi, apa sebab beliau sampai keplayu (melarikan diri) ke Tulungagung. Tetapi penduduk setempat meyakini, beliaulah yang mbabat alas ka­wasan Desa Lemahbang hingga pada akhirnya makamnya dite­mukan di desa tersebut.

Hajatan untuk mengenang jasa-jasa almarhum dilak­sanakan warga setiap malam Kamis, dengan mengambil tem­pat di pelataran makam. Cukup banyak yang datang. Saat bersa­maan, lazim terjadi masyarakat bertafakur di makam, memohon kemurahannya terkait dengan masalah yang dihadapi. Terma­suk meminta kelancaran rezeki bahkan ada yang menyebut ber­buru pesugihan.

Namun, menurut warga, semua itu berpulang pada hati masing-masing yang datang un­tuk berziarah. “Ya, kita sama-sama tidak mengerti, apa yang diminta oleh mereka,” menurut beberapa warga. Sebab, makam Mbah Kuning memang tidak ada juru kuncinya. Jadi setiap orang bebas datang kapan pun, demikian juga dengan per­mintaan yang disampaikan.■EDY WIENARTO

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Posmo, edisi 606,  29 Desember 2010

Manten Kucing, Tulungagung

“Manten Kucing” Ndudhuk, Ndhudhah, Lan Nggugah Warisan Tradisi Budaya Lokal

Oleb Agus Ali Imron Al Akhyar*

Hasanah budaya daerah merupakan cerminan bagi kebudayaan Nasional. Hal itu merupakan landasan utama untuk menunjukan jati diri Bangsa Indonesia. Berbagai macam tradisi budaya yang dimiliki Nusantara ini sangat beragam bentuknya, mulai dari budaya tradisi Ngaben di Bali , Sekaten di Yogyakarta , upacara Kasada di Bromo, dan budaya Manten Kucing di Tulungagung.

Prof. S. Budhisantoso mengungkapkan, bahwasanya setiap kali orang dapat berkata dengan bangganya, bahwa masyarakat Bangsa Indonesia yang majemuk ini sangat kaya dengan kebudayaan . Bahkan kebudayaan yang beraneka ragam itu dianggap sebagai modal utama yang dapat dipasarkan lewat pariwisata untuk meningkatkan penghasilan devisa. Namun demikian tidaklah banyak  orang yang mampu menjelaskan dengan baik di mana ke-bhineka-an (keragaman) serta ke-unggul-an masyarakat dan kebudayaan di Indonesia yang tersebar di Nusantara, dari Sa bang sampai Merauke (Zulyani Hidayah, 1999:ix).

Tradisi budaya lokal, potensinya sangat bagus apabila dikembangkan dengan serius. Sehingga dengan budaya lokal-Iah kita mampu mewujudkan budaya tingkat Nasional. Realitanya, banyak generasi muda di daerah tidak memperdulikan bahkan mereka tidak mengetahui tradisi budaya yang ada didaerahnya. Hal itu membuat keprihatinan tersendiri, sebab trend mode globalisasi lambat laun memusnahkan pola pikir anak terhadap tradisi budaya yang ada. Generasi muda lebih suka play station, game online dari pada melihat festival manten kucing.

Masyarakat yang dibantu oleh pemerintah , harus mampu menggali (Ndudhuk) potensi asset budaya daerah. Selain sebagai pendapatan daerah, tentunya budaya daerah tersebut dapat dijadikan sebagai simbol kedaerahan, atau cirri khas daerah. Ketika sudah menemukan (Ndudhah) tradisi yang ada maka untuk disegerakan pen gembangan dan memberdayakannya (Nggugah).

Kita tidak harus mengadili yang namanya trend globalisasi, sebab kalau kita berpikir secara aktif, dengan adanya perkembangan zaman tersebut kita mampu memanfaatkannya untuk mengembangkan budaya tradisi (Nggugah). Seperti halnya mempublikasikan melalui internet, media elektronik, dan facebook. Sehingga belum tentu perkembangan zaman ini akan memusnahkan keberadaan budaya tradisi daerah, melainkan kita harus mampu memanfaatkan perkembangan zaman ini untuk menumbuhkembangkan budaya tradisi kedaerahan.

Demikian pula seperti membangkitkan gairah pengembangan dan pemberdayaan tradisi lokal yang identik sebagai simbolisasi dalam memperkuat budaya Nasional. Manten Kucing, adalah tradisi budaya yang berada di Desa Pelem, Kecam atau Campurdarat, Kabupaten Tulungagung.

Tradisi budaya Manten Kucing ini merupakan tradisi masyarakat untuk meminta diturunkannya hujan, ketika musim kemarau panjang. Se hingga simbolisasi Manten Kucing ini ialah ritual untuk meminta hujan. Tradisi yang terkemas dalam wujud budaya, tentunya bisa dijadikan sebagai media pembelajaran. Orang Jawa, dalam tradisi budayanya memiliki unsur nilai-nilai tinggi, dan juga penyampaian pesan moral yang biasanya terwujud dalam bentuk upacara tradisi, seperti halnya; Manten Kucing, tradisi budaya yang terdapat di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat , Kabupaten Tulungagung ini dilaksanakan upacaranya setiap tahun oleh masyarakat sekitar, dan juga pemerintah peran serta didalam pelaksanaannya.

Selain dijadikan media pembelajaran, tentunya upacara tradisi budaya yang ada di daerahdaerah dapat dijadikan sebagai focus objek wisata loka!. Menggali (Ndudhuk) potensi upacara tradisi tersebut sangatlah diperlukan, kalau perlu kita mempelajari nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Seperti apa yang diungkapkan oleh Prof. Ayu Sutarta (2004:176), untuk membangun ketahanan budaya, kita harus menggali dan kemudian memilah-milah produk-produk budaya yang kita warisi dari para leluhur kita. Tidak semua produk budaya yang kita miliki konstruktif dan produktif. Ada beberapa produk budaya yang harus kita tinggalkan, karena tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman dan tidak lagi mampu menjawab kebutuhan zaman.

Semakin majunya teknologi komunikasi di zaman sekarang, penulis merasa takut apabila warisan budaya tradisi leluhur hanya tersimpan dalam bentuk audio-vidio. Sedangkan wujud budaya aslinya sudah musnah ditelan perkembangan zaman. Sehingga melihat kondisi semacam itu, generasi muda juga harus menjadi objek didalam pembelajaran tradisi budaya. Pengembangan dan pemberdayaan tradisi budaya yang ada di daerah selayaknya mulai dini dikenalkan kepada generasi muda (pelajar), salah satunya dengan memuat kurikulum muatan lokal, sanggar budaya, cafe budaya dan festival budaya.
Festival Manten Kucing
Manten Kucing merupakan tradisi budaya dari daerah Tulungagung. Pada tahun 2010, keberadaan tradisi budaya Manten Kucing difestivalkan dalam rangka memperingati Hari Jadi Tulungagung ke-805. Festival Manten Kucing  tersebut di-ikuti 19 (Sembilan belas) kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung. Acara tersebut dilaksanakan pada hari kamis, 25 November 2010, kegiatan festival Manten Kucing tersebut berpusat di kawasan Kota Tulungagung.

Festival tersebut baru pertama kalinya diadakan di Kabupaten Tulungagung, hal itu untuk memperkenalkan kepada generasi muda, bahwasanya Manten Kucing adalah tradisi budaya khas Tulungagung. Tradisi Manten Kucing biasanya diadakan di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat tersebut merupakan upacara tradisi untuk meminta diturunkan hujan.

Uniknya di festival tersebut terdapat kolaborasi antara Manten Kucing dengan kesenian lain, antara Manten Kucing dengan Reog Gendang, Jaranan Jawa dan Hadrah (sholawatan). Sehingga kolaborasi tersebut mendapat sambuatan hangat dari masyarakat, begitu pula para pelajar saat festival itu juga ikut serta menonton. Secara tidak langsung akan menumbuhkan pengetahuan, pemahaman serta mengenali asset budaya tradisi Manten Kucing.

Dalam satu sisi, diadakannya festival Manten Kucing ini memang baik untuk memperkenalkan asset wisata budaya daerah. Namun disisi lain, kesakralan upacara Manten Kucing didalam festiva l tersebut sudah tidak terasa kesakralannya lagi. Sebab budaya sudah menjadi tontonan, bukan lagi tuntunan. Penulis merasakan kesakralan upacara Manten Kucing saat mengikuti prosesi upacara di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Sehingga simpulan sederhana adalah kita harus mampu untuk memilah-milah didalam mengembangkan dan memberdayakan asset wisata daerah, agar nilai-nilai dan pesan moralnya tidak hilang, bukan hanya sekedar hiburan.

Pergeseran nilai yang sangat mengkhawatirkan tersebut dapat kita lihat jelas, karena menggejala secara mencolok di sekitar kita, yang antara lain adalah; (1). Nilai moral lebih murah daripada nilai materi; (2). Tuhan terasa jauh dan uang terasa dekat; (3). Produk-produk budaya asing lebih digandrungi daripada produk-produk budaya sendiri; (4). Kepentingan agama, politik, dan ekonomi dicampur adukan, sehingga batas-batasannya menjadi jelas; (5). Kekerasan sering digunakan untuk menyelesaikan perbagai persoalan dalam masyarakat (Ayu Sutarta, 2004:173).

Sehingga untuk Ndudhuk, Ndhudhah dan Nggugah asset budaya daerah harus memiliki konsep yang matang. Mengembangkan dan memberdayakan asset budaya daerah tidak harus mengorbankan unsur nilai-nilai positif yang sudah ada. Dari dulu hingga sekarang, budaya adalah pembelajaran yang . konkrit dan fleksibel.
Selayang Pandang Manten Kucing
Mengenai sejarah keberadaan Manten Kucing , penulis merangkainya dari beberapa sumber yang penulis anggap masih berkompeten. Tradisi budaya Manten Kucing ini berada di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Menurut warga sekitar Desa Pelem, bahwasanya tradisi budaya Manten Kucing ini selalu diselenggarakan setiap tahun, dan juga penuh dengan kesakralan.

Uniknya didalam upacara tradisi Manten Kucing ini adalah sepasang kucing jantan dan betina. Awalnya daerah Desa Pelem dan sekitarnya dahulu kala dilanda kemarau panjang, hingga warga kesulitan untuk mendapatkan air. Eyang Sangkrah adalah tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika Eyang Sangkrah mandi di sebuah telaga, yaitu Telaga Coban.

Ketika Eyang Sangkrah mandi di Telaga Coban, Beliau membawa serta seekor kucing di telaga tersebut. Kucing Condro Mowo, sebutan kucing yang dibawa oleh Eyang Sangkrah, setelah di Telaga Coban kucing tersebut dimandikan. Anehnya, sepulang dari mandi di Telaga Coban, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Warga yang lama menunggu turunnya hujan, tidak bisa menyembunyikan perasaan syukur dan bahagia. Saat itulah, warga menyakini turunnya hujan tersebut ada kaitannya dengan peristiwa Eyang Sangkrah yang memandikan Kucing Condro Mowo. Sehingga tradisi tersebut menjadi tradisi, yang setiap tahun diselenggarakan oleh warga Desa Pelem , dengan sebutan tradisi budaya “Manten Kucing”.

Ketika Desa Pelem dijabat oleh Demang Sutomejo, tahun 1926, Desa Pelem , Kecamatan Campurdarat kembali dilanda kemarau panjang. Saat itu Demang Sutomejo mendapatkan wangsit (petunjuk) untuk mengadakan upacara memandikan kucing di Telaga Coban. Maka, dicarilah dua ekor kucing Condro Mowo. Kemudian, dua ekor kucing itu dimandikan di Telaga Coban . Akhirnya beberapa hari kemudian turunlah hujan mulai mengguyur di Desa Pelem dan sekitarnya.

Prosesi Manten Kucing ini, awalnya warga Desa Pelem mempersiapkan uburampe atau persiapan untuk mengadakan upacara Manten Kucing. Setelah persia pan selesai, maka prosesi kemudian adalah mengkirap kucing Condro Mowo yang diwadahi didalam keranji. Adapun kucing yang dimaksud didalam prosesi tersebut adalah berwarna putih dan hitam, yang terdiri dari kucing lanang (jantan) dan kucing wadon (perempuan). Saat pengkirapan tersebut, kucing lanang lan wadon berada di barisan paling depan sendiri, setelah itu di-ikuti oleh para sesepuh dan tokoh desa. Para sesepuh dan tokoh desa tersebut juga memakai pakaian khas adat Jawa.

Setelah sampai di Telaga Coban, kucing Condro Mowo dimandikan secara bergantian, sebelum ditemukan layaknya manten manusia. Kucing Condro Mowo tersebut dimandikan dengan air telaga yang dicampur dengan kembang setaman yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu.

Usai dimandikan, kedua kucing itu diarak menuju lokasi pelaminan. Di pelaminan tersebut sudah disiapkan aneka uburampe, pasangan kucing jantan dan betina itu dipertemukan. Laki-Iaki dan perempuan yang membawa kucing Condro Mowo, duduk bersandingan di kursi pelaminan. Sedangkan kucingnya, berada di pangkuan laki-Iaki dan perempuan yang juga memakai pakaian pengantin. Upacara pernikahan “Manten Kucing” tersebut ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan oleh sesepuh desa setempat. Kurang lebih 15 (lima belas) menit upacara tradisi budaya Manten Kucing sudah selesai.

Uniknya pad a tahun 2007, atau tiga tahun yang lalu ketika upacara tradisi Manten Kucing digelar, terdapat kearifal lokal yang dimunculkan. Ketika dipertemukan antara kucing jantan dan kucing betina, orang yang sudah tua (sesepuh) duduk dipelaminan sambil menyanyikan lagu-Iagu tradisional, seperti;
Uyek-Uyek Ranti
Ono Bebek Pinggir Kali
Nuthuli Pari Sak Uli
Tithit Thuiiit .. . Kembang Opo?
Kembang-Kembang Menur
Ditandur Neng Pinggir Sumur
Yen Awan Manjing Sak Dhulur
Yen Bengi Dadi Sak Kasur

 
Setelah selesai prosesi Manten Kucing tersebut, maka acara selanjutnya adalah pagelaran seni budaya. Pagelaran seni tersebut adalah Tiban dan Langen Tayup. Kesenian Tiban disini adalah kesenian yang menggunakan cambuk yang terbuat dari lidi pohon aren yang dipilin sebagai alatnya. Ketika salah satu pemain Tiban tersebut mengeluarkan darah segar, maka menandakan prasyarat bahwa hujan akan turun.

Sehingga mulai dari prosesi Manten Kucing, Tiban, dan Langen Tayub, merupakan kesatuan ritual untuk memohon diturunkannya hujan. Tradisi budaya semacam itu merupakan simbolisasi nilai-nilai kearifan lokal orang Jawa. Saat ini tradisi budaya Manten Kucing bukan semata-mata meminta hujan,melainkan sudah menjadi upacara tradisi yang diadakan setiap tahun. Kalau tidak diselenggarakan, maka warga takut kalau terjadi kemarau panjang, maupun bala bencana melanda.

Konsep Tradisi Budaya
Tradisi budaya, merupakan dua suku kata, yaitu tradisi dan budaya. Sehingga dua suku kata tersebut merupakan gabungan kata yang menunjukan suatu keselarasan, yaitu; tradisi budaya. Menurut Kamus Lengkap Bahasa ‘Indonesia (Hoetomo, 2005:550), Trebekula adalah adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa caracara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar, mentradisi: menjadi tradisi. Tradisional adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pad a norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun; menurut tradisi (adat). Adapun tradisionalisme adalah paham (ajaran dan sebagainya) yang berdasarkan pada tradisi.

Masyarakat adalah salah satu pencipta budaya, setiap masyarakat memiliki budaya yang berbeda. Sehingga dengan budaya, dapat membedakan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Disetiap masyarakat yang berbudaya akan menampakkan ciri khas yang berbeda, seperti; Manten Kucing dari Tulungagung , didalam upacaranya . menggunakan kucing sebagai media upacara. Kebudayaan mencakup suatu pemahaman komprehensif yang sekaligus bisa diurai dan dilihat beragam variab le dan cara pemahamannya. Kebudayaan dalam arti suatu pandangan yang menyeluruh menyangkut pandangan hid up, sikap, dan nilai. Atau menurut deskripsi Raymond Williams, “General state or habit of the mind general state of intellectua’l development in a society or a whole”. Disebutnya pula, “The general body of arts. A whole way of life, material, intellectual, spiritual”. (Jakob Oetam~, 2009:9, dalam bunga rampai judul buku Kumpulan Tulisan Koentjaraningrat Memorial Lectures I-V/2004-2008, Perspektif Budaya). Budaya orang Jawa, selalu menitikberatkan akan pentingnya pembentukan moral yang baik. Moral merupakan kunci utama untuk membentuk kepriadian manusia yang berbudi luhur. Sehingga Nampak sudah budaya orang Jawa itu selalu menunjukkan nilai-nilai dan pesan moral positif. Dari berbudaya yang baik, maka akan menghasilkan nilai positif bagi masyarakat. Kebudayaan orang Jawa selalu menampakkan nilai norma-norma positif yang dipegang teguh dalam kehidupan keseharian .

Kata budaya berasal dari kata Sankseke rta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa asing lainnya terdapat kata-kata seperti culture (Inggris), cultuur (Belanda), atau kultur (Jerman). Kata-kata itu sebenarnya berasal dari bahasa Latin colere yang berarti pemeliharaan, pengolahan , dan penggarapan tanah menjadi tanah pertanian. Dalam arti kiasan, katakata itu juga diberi arti “pembentukan dan pemurnian “, misalnya pembentukan dan pemurnian jiwa. Menurut kaidah bahasa, culture atau cultuur diartikan menjadi “budaya”, sedangkan cultural atau culturele menjadi “kebudayaan “. Budaya merupakan kata benda, sedangkan “kebudayaan” adalah kata sifat (Mochamoed Effendhie, 2000: 1).


Simpulan
“Manten Kucing” merupakan tradisi budaya yang terdapat di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Upacara prosesi Manten Kucing tersebut, terdapat nilai-nilai yang terkandung didalamnya, selain itu mempunyai pesan moral, seperti halnya; kita juga harus bersahabat dengan alam dan sekitarnya, guyub rukun dan saling tolong menolong.

Tradisi Manten Kucing sendiri pad a tahun 2010 yang bertepatan dengan Hari Jadi Tulungagung ke-805, dijadikan festival budaya. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan tradisi budaya Manten Kucing kepada khalayak umum, khususnya pelajar bahwasanya di Tulungagung terdapat tradisi · budaya Manten Kucing.

Adapun nilai-nilai yang dapat penulis tangkap dari prosesi Manten Kucing , diantaranya; Pertama, manusia memang diberi kelebihan oleh Sang Pencipta yang mempunyai, akal pikiran, budi pekerti, nalar, rasa dan karsa. Sehingga mewujudkan diri untuk memilik budaya positif. Sehingga dengan berbudaya yang baik, akan memberikan norma-norma positif di masyarakat.

Kedua, dengan adanya tradisi budaya Manten Kucing tersebut, warga saling dapat tolong menolong, hormat menghormati diantaranya. Sehingga kerukunan dan keselarasan hidup menjadi damai, tenang, dan sejahtera. Didalam prosesi Manten Kucing sendiri masyarakat diajak untuk Guyup Rukun.

Sebenarnya selain menjadi media pembelajaran, keberadaan Manten Kucing bisa dijadikan sebagai objek wisata loka!. Keberadaan asset wisata daerah itulah, maka akan menyokong keberadaan budaya Nasional. Dengan berbudaya yang baik, maka kita akan menjadi sosok manusia, masyarakat atau bahkan Negara yang berbudi luhur, saling menghormatu, tolong menolong, jujur dan sopan. Masyarakat Indonesia, khususnya di daerah-daerah dahulu terkenal dengan keramahtamahannya. Akankah dengan berbudaya baik, kita mampu mewujudkan sifat ramah dan tamah?

Sehingga istilah Ndudhuk, Ndhudhah dan Nggugah, merupakan rangkaian dalam menggali, menemukan dan mengembangan serta memberdayakan potensi budaya yang ada di daerah. Perkembangan zaman seperti sekarang ini, membuat tantangan tersendiri bagi kita untuk mampu mengolah perkembangan zaman itu untuk menumbuhkan asset budaya loka!. Berkat akal, pengalaman, dan kesadaran nurani, maka kita harus bergerak untuk mengolah potensi daerah menjadi asset yang berharga dan mempunyai nilai pendidikan.

Secara teoritis, kebudayaan akan mengajarkan nilai-nilai yang baik dan juga mencerminkan normanorma positif bagi generasi muda. Tinggal generasi muda (pelajar) mampu atau tidak untuk menangkap nilai yang terkandung didalam kebudayaan. Sebab kebudayaan sekarang ini sekedartontonan, bukan lagi sebagai tuntunan, realita yang ada.

*Stat Peneliti Kajian Sejarah,
Sosial dan Budaya
{KS2B}Kabupaten Tulungagung
 

BENDE, Media Informasi Seni dan Budaya, Edisi 87,  Januari 2011,

Kacang Goreng, Tulungagung

Kacang Goreng Mukayat Kuasai Selatan

Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa kacang goreng, jajanan yang berasal dari bahan dasar kacang tanah ini banyak penggemarnya. Ya, di Tulungagung ternyata ada yang memproduksinya dan hingga sekarang kacang goreng yang diolah beberapa warga ‘kota marmer’ ini sudah mampu menguasai pasar Jatim bagian selatan.

Salah satunya adalah Mukayat (69 th) warga Dusun Kleben, Desa Tiudan, Kecamatan Gondang. Ia adalah salah seorang pengusaha camilan kacang goreng semenjak tahun 1978 silam. Berkat ketelatenannya menggeluti usaha ini hingga sekarang pangsa pasar untuk produksi makanan ringannya hampir mencapai seluruh wilayah selatan Jawa Timur, seperti Tulungagung, Blitar, Kediri, Trenggalek dan sebagian Ponorogo, serta Nganjuk.

Mukayat hanya dibantu beberapa pekerja. Membuat kacang goreng ini tidak begitu sulit, tapi hanya membutuhkan ketelatenan saja pada waktu mulai memisahkan kacang tanah dengan tanah yang masih menempel pada kacang serta menjemurnya. Untuk pemasaran juga tidak terlalu sulit, karena para pedagang sudah banyak yang mengenal produksinya dan mereka setiap minggu memesan produknya dengan jumlah besar.

“Kacang goreng yang saya buat ini biasa dipesan oleh para pedagang luar kota. Bahkan ada yang berasal dari daerah Lamongan memesan dalam jumlah besar,” ujar bapak dua orang putra ini. Dengan proses pembuatan kurang lebih selama 3 hingga 5 hari, suami dari Suratun ini mampu memproduksi kacang goreng siap saji per minggu sekitar 5 kuintal dengan harga per kilogram rata-rata Rp 10.000,00 untuk jenis kacang biasa dan Rp 11.000,00 untuk jenis kacang hibrida.

Meski terus berproduksi, berbagai kendala juga dialaminya. Selain kendala cuaca yang tidak menentu yang menyebabkan produksi tidak stabil, juga faktor bahan dasar yang berasal dari kacang tanah yang terkadang sulit didapat. “Kami mencari solusi dengan mencari bahan dasar hingga dari daerah Nganjuk,” katanya. (ins, jat)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi 44, Juni 2011, hlm. 33

Lodo Ayam Panggang, Tulungagung

Lodo Ayam Panggang. Daging ayam, diolah jadi apapun, setiap orang pernah merasakan nikmatnya. Namun terasa lebih nikmat dan membuat lidah bergoyang tatkala disajikan secara spesial khas Tulungagung, lazim disebut lodo ayam panggang.

Cara membuatnya hampir sama dengan membuat kare ayam. Bedanya, ayam tidak dicampur dengan kuahnya, tapi disajikan secara terpisah, baru dilumuri kuah santan berbumbu yang ditaburi cabe rawit matang. Cara memasaknya juga beda.

Daging ayam lebih dulu di-silep (dimasak dengan bumbu), kemudian dipanggang di atas arang. Penyajiannya dilengkapi dengan urap-urap (kelapa parut berbumbu) diaduk dengan rebusan daun pepaya dan daun singkong. Terasa nikmatnya lebih lengkap dengan sajian sega gurih (nasi yang dimasak dengan santan kelapa).

Makanan khas ini bisa dijumpai disetiap sudut kota Tulungagung. Jadi, kurang pas jika berkunjung ke Tulungagung tanpa menikmati lodo ayam panggang. Aida Ceha

Desa Bandung, Asal-usul Nama Desa Daerah Tulungagung

Agus Imron Akhyar

Dahulu desa Bandung merupakan sebuah wilayah yang berkecukupan dan memiliki kekayaan alam melimpah ruah. Di tempat tersebut terdapat sebuah sumber air yang lumayan besar dan setiap petani sering memakainya sebagai pengairan sawah (irigasi). Tetapi hal tersebut berubah ketika Adipati di daerah tersebut diganti dengan seorang yang tamak, rakus, dan kikir, sebut saja dengan Adipati Hadijaya. Seluruh sumber air yang ada di daerah tersebut dikuasai olehnya, sehingga penduduk mengalami kesulitan untuk mengairi sawahnya, sehingga petani mengalami kerugian besar.

Nasib penduduk sungguh menyedihkan, kelaparan terjadi di manamana. Hingga akhirnya berita tersebut didengar putri Adipati Hadijaya yang bernama Putri Roro Jonggrang. Roro Jonggrang memiliki sifat seperti ibunya, lemah lembut namun tegas dalam bertindak. Dia meminta pada ayahandanya untuk memberikan pengairan terhadap sawah-sawah penduduk, tapi sang ayah menolak. Sang putri besikeras mempertahankan pendirinya untuk menolong penduduk, agar pengairan dapat diberikan kepada warga, biar para petani dapat bertani dengan baik. Selama tujuh hari sang putri bersimpuh pada ayahandanya, akhirnya pada malam ke tujuh hati sang ayah luluh. Adipati Hadijaya mengabulkan permintaan putrinya tersebut, asalkan sang Putri mau menikah dengan seorang raja dari kerajaan tetangga, Bandung Bondowoso.

Mau tidak mau dan juga berat hati akhirnya Roro Jonggrang menuruti permintaan ayahandanya. Ketika Bandung Bondowoso tiba, Roro Jonggrang mengajak pergi ke sebuah sumber air. Ketika sudah sampai, Roro Jonggrang langsung melemparkan kalung yang sangat disayanginya. Kalung tersebut adalah pemberian ibunya, sehingga Roro Jonggrang langsung meminta pada Bandung agar mau mengambilkan kalung tersebut. Jika mampu mengambilnya, maka Bandung akan menjadi suaminya. Ketika Bandung masuk ke sumber air, dengan cekatan sang putri segera menendang batu untuk menutupi sumber air tersebut, sehingga Bandung tertutup di dalam sumber air tersebut.

Tiba-tiba batu tersebut terlempar, Bandung akhirnya mampu keluar dan meminta penjelasan dari sang putri apa maksud dari ini semua. Dengan menangis sang putri menjelaskan, bahwa dirinya diminta ayahnya agar membunuh Bandung. Supaya Adipati Hadijaya dapat menguasai wilayah kerajaan Bandung. Saat itu Bandung merasa sangat marah sekali, bercampur dengan kesal hawa nafsunya, pada saat itu amarahnya tidak bisa dibendung lagi.

Bandung lekas menghampiri Adipati Hadijaya dan menusuknya dengan senjata handalannya, akhirnya Adipati Hadijaya mati. Akhirnya Bandung menggantikan kekuasaan Adipati Hadijaya dan menikah dengan Roro Jonggrang. Mereka berdua menikah dan juga hidup bahagia serta masyarakat menyukai mereka berdua sebagai pemimpin daerah tersebut. (Informan: Ibu Syamsiah, 68 Tahun)
*Staf Peneliti Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (KS2B) Kabupaten Tulungagung.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Bende; Wahana Pendidikan Pengembangan Kesenian. No. 94, Agustus 2011

 

Batik Srianna: Bermodal Kain Mori Tembus Luar Negeri

Batik, kain batik atau baju batik, ternyata memiliki nilai tinggi. Simak saja pengakuan Srianna, pemilik Batik Satrio Manah, Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.

BERMODAL sepotong kain mori dalam mengawali usaha batiknya, kini batik Srianna tembus hingga ke luar negeri. Tentu saja keberhasilan itu tak mulus begitu saja, namun harus dilalui dengan jerih payah, kemauan dan kerja keras. Srianna merintis usaha batiknya sejak ia masih kuliah dan kini kerap kebanjiran order. Bahkan tidak jarang, ia merasa kuwalahan lantaran banyaknya pesanan. Karenanya, terkadang, ia pun harus menolak, demi menjaga kualitas produk agar tak rusak.

Selain pasar-pasar lokal Jatim, Kaltim, Jakarta dan Riau, pemasaran produk Batik Satrio Manah juga tembus ke Malaysia, Singapura, Hongkong dan Jepang. Namun di luar negeri, pemesannya tidak intensif sebagaimana pasar lokal. “Mungkin orang luar itu lebih menganggap batik sebagai suvenir cantik yang sangat berharga. Karena itu, kainnya disimpan, jarang dipakai. Kalau di sini kan memang untuk dipakai”,ujar wanita yang pernah mengikuti pemeran dagang ke Singapura ini.

Srianna mengakui, geliat ekonomi saat ini juga membuat usaha batiknya turut berkembang. Dalam sebulan terakhir, omsetnya bahkan bisa mencapai Rp400 juta.  Angka itu, menurutnya, cukup fantastis mengingat modal yang ia gunakan saat merintis usahanya dulu hanyalah sepotong kain mori saja. “Dulu harga kain mori itu hanya Rp4,5 ribu, setelah diolah dijual laku Rp12,5 ribu. Itulah awal rintisan usaha saya. Jadi modalnya satu potong kain mori dan kemauan”, tutur wanita cantik ini berkisah.

Bagaimana dengan fasilitas pemerintah? Srianna mengaku suka dengan perhatian pemerintah saat ini. Saat membutuhkan modal, ia tak lagi kebingungan lantaran adanya program bantuan pinjaman modal UMKM dari Pemprov Jatim dengan jumlah hingga Rp200 juta. Selain pengajuannya tidak berbelit, bunganya juga tidak mencekik. “Beberapa waktu lalu, saya sudah pinjam modal Rp200 juta. Sekarang pengembaliannya tinggal Rp83 juta”, kata dia.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Galeria, media Dekranasda Jawa Timur, Edisi 03, Nopember-Desember 2011, hlm. 15.


Cagar Budaya Kabupaten Tulungagung

-(2004)-
Leluhur Bangsa Indonesia, mewarisi kepada generasi penerus berupa warisan budaya bangsa termasuk di dalamnya sejarah dan purbakala (Benda Cagar Budaya). Berbagai ragam benda bersejarah dan purbakala banyak tersisa di wilayah Kabupaten Tulungagung karena Kabupaten Tulungagung merupakan Daerah yang banyak rnemiliki peninggalan bersejarah dan purbakala.

Banyaknya peninggalan ini disebabkan lokasi Tulungagung, sangat strategis dan merupakan daerah yang berkembang pada masa kerajaan Kadiri hingga masa Kerajaan Majapahit.

Benda-benda tersebut, merupakan, bukti otentik yang menghubungkan jaman modern dengan masa lalunya. Dengan demikian diperlukan pelestarian yang seksama agar benda-benda tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Pelestarian benda-benda serta tempat bersejarah dan purbakala diatur dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda cagar Budaya.

Oleh karena itu merupakan tanggung jawab kita untuk memelihara dan mengamankan benda-benda bersejarah dan purbakala dan situs guna pelestariannya.

Diharapkan masyarakat lebih mengenali benda cagar budaya di Kabupaten Tulungagung dapat menumbuhkan kesadaran terhadap arti pentingnya Benda Cagar Budaya dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelestariannya.

CANDI MIRIGAMBAR
Candi Mirigambar berlokasi Desa Mirigambar Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung terbuat dari  Bahan dari Batu Bata, tampak pada Batur baru persegi, beserta sebuah undakan yang dipenuhi ornamen. Diperkirakan dibangun pada akhir Abad ke XIII hingga akhir Abad XIV pada jaman kerajaan Majapahit.

CANDI GAYATRI
Lokasi  Candi Mirigambar ini bertempat di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung Candi yang berbahan batu bata, berdenah segi empat, berukuran 11,40 x 11,40 m, terdapat tokoh utama berupa arca wanita teletak pada candi Induk. Dibangun pada jaman kerajaan Majapahit masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

CANDI AMPEL
Candi Ampel berlokasi di Desa Joho Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung, Candi tunggal dengan didukung banyak peninggalan-peninggalan yang lainnya disekitar Candi antara lain Yoni dan dua buah Arca Dwarapala, sebuah Yoni dan beberapa balok batu Adesit.

GUA PASIR
Gua Pasir berlokasi Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung Berada pada lereng Bukit sampai pada dataran yang ada di bawahnya, bagian dalam gua dindingnya dihiasi relief dengan cerita Arjuna Wiwaha sedangkan pada dinding yang lain terdapat hiasan relief penggodaan Arjuna oleh Bidadari (memiliki arti penggodaan Budha oleh anak-anak perempuan Mara).

CANDI PENAMPIHAN
Candi Ampel berlokasi di desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung, Situs ini merupakan sebuah candi berundak, teras yang membujur dari timur ke barat berada di lereng Tenggara Gunung Wilis. di bagian atas Altar terdapat sebuah prasasti yang berangka tahun 820 C. Selain itu terdapat banyak peninggalan-peninggalan yang lainnya antara lain dua buah Arca laki–laki dan sebuah Arca Ganesha  serta dua arca tokoh wanita dan sebuah bola batu.

GUA SELOMANGLENG
Lokasi Gua tersebut di Desa Sanggrahan Kecamatan Boyolangu Kabupaten  Tulungagung, Keberadaan Gua tersebut pada sebuah bongkah batu besar (Monolith) dengan bentuk mulut gua persegi empat sebanyak dua buah. Gua pertama dihiasi dengan relief dengan ukuran  panjang 360 cm, ukuran lebar 175 cm, dan ceruk (kedalaman) 380 cm.

CANDI SANGGRAHAN
Berlokasi Desa Sanggrahan Kecamatan Boyolangu Kabupaten  Tulungagung, bangunan Candi tersebut terdiri dari sebuah bangunan induk dan dua buah sisa bangunan kecil lainnya. Bangunan induk berukuran panjang 12,60 m, ukuran lebar 9,05 m dan ukuran tingginya  5,86 m. Serta terdapat Arca Budha sebanyak 5 buah yang masing-masing mempunyai posisi Mudra yang berbeda.

MASJID DAN MAKAM SUNAN KUNING
Berlokasi Desa Macanbang Kecamatan gondang Kabupaten Tulungagung, komplek Masjid secara horizontal terbagi dua bagian antara lain areal Masjid dan areal Makam, menurut informasi Sunan Kuning adalah cikal bakal desa yang sekaligus penyebar agama Islam dimuali dari Desa Sanggrahan selanjutnya seluruh Kabupaten  Tulungagung. Diduga Masjid ini telah ada pada pertengahan Abad XVIII

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mengenal Benda Cagar Budaya di Kabupaten Tulungagung. Tulungagung: Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung, (2004).