Badhan, Kabupaten Trenggalek

Sambil Ber-‘Badhan’ Perut Pun Kenyang

“seje desa mawa cara” Lain desa lain tradisi. Pepatah Jawa itu berlaku untuk mengungkapkan tradisi unik masyarakat di Indonesia yang banyak memiliki keragaman dalam mem­peringati Hari Raya Idul Fitri. Salah satunya di Dusun Krajan, Desa Karang Tengah, Kabupaten Trenggalek. Di desa terpencil yang masuk wilayah Kecamatan Panggul itu ada tradisi Kenduri (selamatan) yang dilakukan pada malam hari setelah pagi harinya masyarakat melaksanakan Sholat Idul Fitri.

Tradisi kenduri di Desa Karang Tengah itu dilakukan di setiap ru­mah secara bergiliran. Praktis ma­syarakat dan ustadz yang diundang untuk mengikuti kenduri harus ikut berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain dalam satu malam ba’dha Sholat Isya’.

Menariknya, setiap orang yang ikut kenduri wajib memakan makanan yang disediakan di setiap rumah. Biasanya, menu makanan yang di­sediakan cukup sederhana, soto ayam, gulai, atau kare ayam.

Saat mengikuti tradisi kenduri itu, tidak sedikit pengikut kenduri yang mengaku perutnya sakit karena ke­kenyangan. Bayangkan saja, bila ikut kenduri di sepuluh rumah, praktis ha­rus makan sepuluh piring plus minum segelas teh dan kopi. Belum lagi kue lebarannya. “Tapi asyik, la wong ini tradisi. Ada keyakinan kebaikan di da­lamnya. Ada rasa tenteram bila sudah ber-badhan. Ini yang indah, di luar makanannya yang bikin kenyang,” kata Sucipto, remaja desa setempat.

Bahkan, banyak pula pengikut ken­duri yang memilih tidak melanjutkan mengikuti “slametan” yang digelar di setiap rumah dalam satu dusun. Ten­tunya, mereka tidak bisa lanjut lan­taran perutnya sudah penuh sesak.

Memang, di Dusun Krajan, ma­syarakat memiliki kebiasaan me­nyuguhkan kopi setiap ada tamu yang sonjo (bertamu) ke rumahnya.

Tradisi kenduri di setiap rumah pada malam Lebaran di Dusun Krajan ini biasanya dilakukan sekaligus un­tuk “ber-badhan”. Istilah “Badhan” sendiri artiya adalah bermaaf-maafan antar warga.

Menurut beberapa tokoh masyarakat setempat, istilah badhan berasal dari kata “bodho” atau dalam bahasa Indonesia berarti “setatah”, sehabis atau pasca.

Maksud dari istilah “badhan” ada­lah tradisi bermaaf-maafan setelah menjalankan Puasa Ramadhan selama sebulan penuh.

Cara ber-“badhan”, masyarakat di Trenggalek pun sangat unik. Berbeda degan masyarakat di daerah lain di Jawa Timur. Di Trenggalek, masya­rakat yang muda wajib malakukan sungkem badhan kepada orang yang lebih tua.

Cara meminta maaf pun dilakukan cukup lama, sebab yang muda terlebih dulu mengucapkan kalimat permin­taan maaf yang sangat penjang. Be­rikutnya, yang lebih tua menjawab permintaan maaf sekaligus meminta maaf kepada yang muda dengan ka­limat yang sangat panjang pula.

Dalam setiap sungkem badhan, bisa memakan waktu 3-4 menit. Oto­matis, bila kita ikut melakukan ba­dhan bersama-sama ke rumah kerabat yang lebih tua, harus rela antre cukup lama.

“Kalimat maaf yang panjang itu seperti sudah pakem. Tapi sekarang agak dikurangi durasinya. Apa sih di zaman ini yang tidak dikurangi hal-hal tradisi yang sejatinya baik itu,” kata Lasmi, teman Sucipto. (gus)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA
; Edisi 05 I 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 29

Mantan Temmo, Madura

Upacara adat Mantan Temmo “Temu Pengantin” merupakan bagian khas dari rangkaian upacara perkawinan adat Madura di wilayah Kabupaten Pamekasan.

Waktu upacara ditetapkan oleh kedua belah pihak, bertempat di rumah pengantin putri. Menjelang kedatangan pengantin laki-laki, pada sudut-sudut rumah calon pengantin perempuan dilakukan pembakaran kemenyan dengan harapan roh-roh jahat akan menyingkir, tidak mengganggu jalannya upacara.

Petugas penerima tamu membunyikan kronong “genta” sebagai tanda bahwa rombongan pengantin laki-laki telah datang. Bersamaan dengan bunyi kronong, mengalunlah irama giro keraton atau jidhoran untuk menyambut pengantin laki-laki. Pengantin laki-laki disambut oleh pihak pengantin perempuan di muka pintu, kemudian memasuki upacara mantan sabung “mengadu ketrampilan silat”.

Wakil pengantin laki-laki diwajibkan bermain silat, mengadu ketrampilan dengan penjaga pintu. Acara silat ini merupakan simbolisasi tugas lelaki sebagai pelindung keluarga, berani menghadapi tantangan hidup. Pihak pengantin perempuan menaburkan beras kuning, sebagai simbolisasi tolak bala atau pengusir roh jahat. Kegiatan berikutnya ialah megga’ blabar “memutuskan tali penghalang” yang melintang di depan pintu masuk.

Kegiatan dilakukan oleh kedua bujangga dengan dialog dalam bentuk tembang yang mengusung pesan tentang maksud kedatangan pengantin laki-laki. Pihak pengantin perempuan menjawab dalam tembang Sinom. Bujangga pengantin laki-laki diberi izin memasuki rumah setelah memutuskan rentangan tali dengan lampu khusus yang disebut damar kambang.

Setelah rentangan tali putus, acara dilanjutkan dengan memutar pengantin putri {mantan lekser) yang duduk di atas talam “baki” di balik tirai. Pengantin laki-laki harus memutar pengantin perempuan, dalam makna mengamati dan meneliti secara seksama kebenaran identitas perempuan yang dipilihnyaPuncak acara adalah pengantin duduk bersanding atau mantan jajar.

Seluruh kerabat memberi ucapan selamat dengan iringan gamelan Giro Kepatihan. Dalam acara ini para kerabat dan tamu undangan melakukan cocoran “penetesan air bunga” dan memberi doa kepada pasangan pengantin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Menggelar Mantra, Menolak Bencana; Ensiklopedi Upacara Adat Provinsi Jawa Timur: Pemerintah Provinsi Jawa timur, Dewan Kesenian Jawa Timur, Kompyawisda Jatim. Jember, 2011, hlm. 148-149

Upacara Suroan, Upacara adat Kabupaten Lumajang

Kecamatan Candipuro Upacara Suroan Lokasi Hutan Bambu Desa Sumbermujur Kec.Candipuro Fungsi Merupakan selamatan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan bambu dengan harapan sumber mata air tetap mengalir dengan baik karena sumber dihutan bambu tersebut WAKTU PELAKSANAAN 1 Suro.

Entas-entas, Upacara Adat Suku Tengger

Melongok entas-entas suku tengger di Desa Wonokitri 
Mengantar Roh Menghadap Hyang Widi

Hong wilaheng mangkudaya
jagad dewa bathara eyang
jagad pramudita ingkang
miwiti, ndugiaken kajate
saking bapak Sudarmiko kang
sedekah ngentas dateng siti
dermaipun ……… .

Itulah sepenggal bacaan mantra yang diucapkan sang dukun Suku Tengger, Supayadi, ketika acara hajatan entas-entas dari keluarga Sudarmiko alias Ikok, di Balai Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Ya, sang dukun antara lain bertugas sebagai pengantar upacara adat, termasuk entas-entas. Sebagai pengantar upacara adat, sang dukun tidak digaji, tetapi ia menerima dari masyarakat secara sukarela. Entas-entas adalah sebuah acara adat untuk mengentas leluhur yang sudah meninggal. Di acara tersebut rangkaiannya antara lain rakan tawang, mohon ijin kepada yang akan ditempati. Kedua, merniti (menghitung leluhur yang akan diswargakan atau yang akan dientas). Esok dilanjutkan ngelukat sebagai acara puncak atau pembersihan leluhur.

Di tengah-tengah membacakan mantranya, sang dukun dengan atribut dukunnya yakni baju beskar putih dengan selempang wama kuning keemasan serta blangkon, akan menyebut siapa saja yang dientas. Sedangkan urutan acara resepsi entas-entas, yang pertama mepek, artinya uba rampe yang akan dihaturkan, berarti sudah komplet. Setelah mepek, baru dihaturkan oleh yang namanya dukun. Yang dihaturkan sesaji yang berupa dandanan. Kalau ritual bagi umat Hindu, dipimpin yang namanya Pak Mangku. Tetapi di antara adat dan tradisi Hindu, tidak ada hal-hal yang bertentangan. Yang di brang wetan (sebelah timur Gunung Bromo, masuk wilayah Probolinggo) Pak Sudja’i (almarhum), untuk brang kulon (sebelah barat Gunung Bromo, masllk wilayah Pasuruan) namanya Supayadi. Warga Desa Wonokitri ada 670 KK, atau sekitar 3.000 lebihjiwa. Pendapatan mayoritas petani sayuran, kentang, kubis, jagung dan lainnya.

Usai mepek, didoakan bersama-sama, pihak keluarga menghaturkan sesaji untuk persembahyangan. Setelah itu baru acara ramah tamah atau makan bersarna. Esoknya, ngelukat, artinya melabuh sejaji. Tempat leluhur dilabuh nantinya, di sungai terdekat, Sungai Mandrim. Yang dilabuh pitrayadnyanya, seperti foto atau gambar-gambar orang yang sudah meninggal.

Guyub Rukun

Gotong royong, guyub rukun dan tanpa pamrih, mewarnai kehidupan  sehari-hari Suku Tengger pada umumnya, dan khususnya warga Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Apalagi ketika mereka punya hajat, seperti entas-entas. Warga Suku Tengger yang terletak di brang kulon (sisi barat) Gunung Bromo (Pasuruan) itu masih kuat memegang tradisi dan warisan nenek moyangnya. Tak heran saat ada yang memiliki gawe, maka tetangga sekitar bahkan warga sekampung urun tenaga, pikiran bahkan urun biaya. Saat wartawan Majalah Derap Desa hendak menemui kepala desa (kades) Wonokitri, Aidarmiwati, yang merupakan Kades pertama wanita Suku Tengger, untuk wawancara, kebetulan di desa tersebut sedang ada hajatan. Ada dua warga yang punya hajat. Yang satu hajatan pengantin, sedangkan yang satunya entas-entas (selamatan untuk orang yang sudah meninggal). Ya, upacara adat dan selamatan tampaknya tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Tengger.

Ada upacara Kasada (memperingati leluhur suku yakni Rara Anteng dan Jaka Seger), Karo (doa untuk leluhur Tengger), Barikan (tolak balak Desa Wonokitri), Pagenepan (doa untuk semua lembaga desa, menggenapkan apa kegiatan di desa), Pujan (memuja sang penguasa air/doa minta hujan). Bahkan perangkat gamelan yang akan digunakan untuk perhelatan, ada selamatan tersendiri. Selamatan entas-entas (pitrayadnya) berlangsung di Balai Desa Wonokitri, Seiasa, 21 Juni 2011 lalu. Yang punya hajat adalah keluarga Sudarmiko (36) alias Pak Ikok. Desa Wonokitri berjarak sekitar 3 km dari Kecamatan Tosari, ke arah timur. Upacara adat Tengger entas-entas itu selamatan untuk orang yang sudah meninggal dunia. “Kalau orang Jawa pada umumnya seperti nyewu-lah,” kata Sadiyono (48), Kaur Keuangan Desa Wonokitri. Entas-entas ini bukan budaya Hindu, tetapi tradisi turun temurun dari nenek moyang, meski ada kaitannya dengan Hindu. Seperti diketahui, mayoritas warga Desa Wonokitri, Kec Tosari beragama Hindu. Yang non-Hindu sangat sedikit. Muslimnya ada 3 KK (kepaia keiuarga), sedang umat kristianinya Cuma dua KK. “ Antar sesama umat beragama di sini nggak ada masalah, mereka yang non-Hindu juga diundang acara entas-entas,” ujarnya.

Kewenangan
Puluhan ibu-ibu tampak guyub dan bergotong-royong masak-memasak di bagian belakang Balai Desa Wonokitri. Mereka sedang menyiapkan jamuan untuk upacara entas-entas. Hampir semua para wanita yang memasak, berselempang kain sewek atau jarit di bahunya. Itu menjadi ciri khas wanita Suku Tengger, memakai kaweng dari sewek (kain panjang, Red) sedangkan laki-laki ber-kaweng-kan kain sarung. “Ciri khas orang Tengger seperti itu, walaupun memakai jaket yang harganya Rp 200 ribu, kalau tidak memakai sarung atau sewek rasanya tidak marem (puas). Padahal harga sarungnya cuma Rp 15 ribu,” kata Sadiyono.

Remaja putri dan ibu-ibu yang membantu memasak, membuat kue atau mempersiapkan keperluan perhelatan, sambil berbincang-bincang. Dialek Suku Tengger mirip dengan dialek orang Tegal atau Banyumas. Meski sama dengan bahasa Jawa, banyak kata yang menggunakan akhiran ‘a’ bukan ‘0’. Kalau orang Jawa bilang kono, iyo, sego, orang Tengger bilang kana, iya, sega, dan lain-lain. Untuk mempersiapkan uba rampe upacara entas-entas, melibatkan tidak kurang dari 95 orang sanak famili dan para tetangga. Ibu-ibu yang membantu memasak istilahnya bethek, sedang laki-laki yang membantu persiapan perhelatan namanya sinoman.

Kebetulan yang punya hajat entas-entas perorangan. Kalau hajatan di rumah agak sempit, mencari yang agak luas, seperti di balai desa. Tetapi biasanya di rumah yang bersangkutan jika rumahnya besar dan luas. Kebetulan rumah Pak Ikok agak sempit meski dia terbilang kaya. Kaur Keuangan Desa Wonokitri, Sadiyono, yang kebetulan masih ada hubungan famili dengan Pak Ikok, menyatakan, entas-entas kalau dikaitkan dengan upacara adat Hindu, termasuk manusia yadnya. “Kalau di sini (suku Tengger, Red) tidak ada target harus sekian tahun setelah orang meninggal harus ada entas-entas,” katanya. Acara tersebut sebatas kemampuan dan pangestu dari anak-anaknya. Misalnya, orang tuanya baru meninggal, kalau 100 harinya sudah mampu mengentas tak masalah. Artinya tidak ada ketentuan harus sekian bulan, atau tahun.

Hajatan entas-entas Pak Ikok puncaknya pada esok harinya. Jika acara malam hari sekadar resepsi atau pesta dan pembacaan doa-doa dengan mengundang sanak famili dan tetangga dekat. “Yang menghaturkan sesuatu di sini istilahnya Pak Dukun. Sekarang masih persiapan,  ya begini suasananya. Kalau seperti ini ya habis Rp 20 juta ke atas,” kata dia. Dananya? Selain dari dana pribadi hasil dari mengumpulkan, juga dari tetangga. Sumbangan tetangga sifatnya suka rela. Bisa berupa tenaga dan tidak ada penekanan. Sebaliknya yang punya hajat juga tidak ada penolakan. Katakan diberi uang semampunya, tidak bisa ditolak, harus diterima apa adanya. “Sehingga tradisi seperti ini sudah berlangsung turun-temurun,” kata Ikok

Buwuhan
Pada acara resepsi juga ada buwuhan (kado). Para undangan makan bersama. Kalau untuk hajatan mantu biasanya pulang dikasih oleh-oleh (angsul-angsul). Kalau acara entas-entas, tidak ada angsul-angsul. Entas-entas merupakan acara terakhir, setelah itu tidak ada lagi selamatan untuk orang yang sudah meninggal. Sadiyono mengatakan, makna entas-entas adalah jika orangtua, misalnya, sudah meninggal, kembali kepada Hyang Widi (Tuhan Yang Maha Kuasa), orang tua itu sudah moksa, dalam istilahnya orang Hindu.

Mengenai kemungkinan wisatawan yang datang di acara entas-entas, Sadiyono mengatakan, pasti ada saja baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. “Sedangkan mereka yang datang ke Wonokitri untuk melancong, terutama hari libur atau Minggu, lumayan banyak,” kata dia. Bahkan dalam kondisi normal ketika erupsi Gunung Bromo belum terjadi, komunitas jip atau jeep Hartop yang biasa melayani pelancong naik ke Penanjakan, mampu memberikan kontribusi untuk dana kas desa sekitar Rp 3 juta/bulan dari 41 jip yang beroperasi. Dana itu tidak ada ketentuannya, namun secara sukarela untuk pembangunan desa.

Tapi akhir-akhir ini tidak ada lagi setoran mengingat wisatawan yang singgah di kawasan Wonokitri atau melanglang di kawasan Bromo menurun drastis. “Tapi mudah-mudahan pulih lagi seiring dengan normalnya kondisi Gunung Bromo,” kata Sadiyono. Selain penginapan termauk acaraacara khusus, melihat terbitnya matahari di puncak Penanjakan. Kedua, wisata Gunung Bromo, menginap di sini. Rata-rata sekitar 100 orang hingga 125 orang di rumah-rumah tinggal (home stay), ada lima KK yang menyediakan usaha rumah tinggal. Di sekitar pendapa agung terdapat banyak home stay, dan di utara dan selatannya juga ada. Satu malam kalau kelas ekonomi Rp 100 ribu hingga Rp 125 ribu, satu kamar. Kalau yang pakai air hangat, bisa sampai Rp 150 ribu atau lebih. (eru, edt, bdh, gem)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Derap Desa, Edisi 45, Juli 2011, hlm. 34