Upacara Tingkeban di Kabupaten Bondowoso

Upacara tingkeban adalah selamatan memperingati kehamilan pertama seorang istri ketika kandungannya genap berumur tujuh bulan. Di Kabupaten Bondowoso sama dengan daerah lain di tanah Jawa upacara itu disebut tingkeban dan di Madura disebut melet kandung. Maksud keduanya sama. Istilah “tingkeb” artinya “menutup”, sama artinya dengan kata melet (Madura). Maksudnya adalah peringatan untuk “menutup kandungan”. Ini merupakan isyarat bagi suami agar sebaiknya tidak lagi melakukan hubungan badan dengan istrinya karena berbahaya bagi kandungan­nya.

Menurut adat istiadat di pelosok desa di Jawa, tingkeban dilakukan dengan “mandi bunga” bagi kedua mempelai. Suami-istri itu dimandikan oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak, serta oleh para ibu sesepuh dari kedua keluarga itu. Upacara kemudian dilanjutkan dengan membelah nyiur gading sebanyak dua buah. Nyiur gading itu dilukisi gambar wayang. Yang satu dilukis gambar satria (Arjuna atau Raden Kamajaya, yaitu Dewa Linuwih yang bagus parasya), nyiru lainnya dilukisi putri cantik (Srikandi, istri Arjuna atau Dewi Ratih, seorang bidadari kayangan yang menjadi istri Raden Kamajaya).

Upacara itu diakhiri dengan penjualan rujak manis kepada ibu para tamu. Uang hasil penjualan rujak itu dimaksudkan sebagai sumbangan dari para undangan atau tamu kepada tuan rumah atau shahibul hajat. Di tanah Jawa ada kepercayaan bahwa jika sang suami membelah nyiur gading itu tidak tepat separuh, maka itu pertanda bahwa kelak bayi yang dilahirkan adalah laki-laki. Namun jika tepat separuh, maka anaknya yang bakal lahir adalah perempuan.

Lukisan wayang pada kulit nyiur melambangkan ide atau cita- cita suci dari kedua orang tua si bayi. Katakanlah sebagai “doa yang tak terucapkan” tetapi diungkapkan dengan lukisan. Kira-kira saja maksudnya, apabila anaknya lelaki semoga meniru Raden Kamajaya yang bagus parasnya atau seperti Arjuna yang tampan dan ksatria. Jika perempuan, semoga parasnya ayu serta patriotik seperti Srikandi, atau secantik seperti Dewi Ratih. Itulah bentuk bahasa yang berupa lambang benda-budaya.

Namun upacara tingkeban itu sebenarnya warisan dari keper­cayaan Hindu, yang tetap dilaksanakan meskipun pendukungnya telah memeluk agama Islam. Upacara ini dijadikan adat istiadat yang baku karena orang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami maksudnya. Itulah sistem budaya yang telah melembaga. Jika sistem ini diubah atau dihapuskan, dikhawatirkan akan me- munculkan keresahan dalam masyarakat.

Akhirnya perubahan itu terjadi juga karena pendukung budaya lama telah memperoleh pegangan hidup baru yaitu konsep agama Islam. Di daerah-daerah yang dahulunya bukan basis agama Hindu, misalnya di daerah Madura atau bekas Karesidenan Basuki, tempat tak diketemukannya patung-patung Hindu-Buddha, budaya tingkeban mengalami penggeseran dari corak Hindu ke corak Islam. Dalam hal ini terjadilah modifikasi budaya.

Ide pokoknya tetap dijalankan yaitu doa untuk anak yang dikandungnya. Dimohonkan kepada Allah SWT semoga anak yang lahir itu menjadi anak yang saleh atau salehah. Gambar wayang sebagai idola diganti dengan tokoh orang suci atau nama Nabi di dalam Alquran; abunya dibuang namun apinya dinyalakan. Upacara “mandi bunga” dan “penjualan rujak manis” di Bondowonso ditiadakan, kemudian diganti dengan pembacaan Alquran (surat Yusuf, Ibrahim, Luqman, atau Surat Maryam, dan sebagainya). Terjadilah transformasi nilai budaya baru berdasar syariat Islam. Upacara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh kiai, modin, atau tokoh agama, atau oleh sesepuh yang mengerti.

Di tanah Jawa kira-kira lima puluh tahun yang lalu, upacara tingkeban itu dilakukan meriah. Di dalam upacara selamatan itu dihidangkan “nasi uduk kabuli” sebanyak tujuh penai dan lauknya tujuh panggang ayam. Maksudnya agar terkabul doanya. Perkataan “uduk” dari perkataan Arab “ud’uu” (berdoalah), seperti pesan Al­quran (QS 40: 60).

Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan permintaanmu.

Sesungguhnya orang-orangyangsombongterhadapmenyembah Aku, nanti

mereka akan masuk ke dalam neraka serta hina

Sedang kata “kabuli” dari bahasa Arab “qabul” (Terimalah doaku).

Angka tujuh pada penai dan panggang ayam melambangkan bilangan absolut, tak terbatas. Jadi benda-benda tersebut sebenarnya merupakan doa yang tak terucapkan dengan kata-kata. Jika diucap- kan kira-kira sebagai berikut: Ya Tuhanku, aku memohon pertolongan kepada Engkau mengenai bayi dalam kandungan istriku.

Berilah

keselamatan dan jadikan anak yang saleh / salehah yang berbakti kepada Engkau, ya Tuhan, kabulkanlah doaku.

Pada malam itu diadakan jagong semalam suntuk (tidak tidur) Orang-orang sibuk membacakan kisah nabi-nabi dalam Buku Budaya Kitab Ambiya’ (nabi-nabi), suatu karya sastra Islam dalam bahasa Jawa bentuk tembang, tetapi dituliskan dengan huruf Arab- pegon. Kegiatan membaca buku-buku karya sastra Islam dalam ben­tuk tembang yang dilakukan itu disebut macapat (Jawa) atau dalam bahasa Madura disebut “mamaca”.[::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112-114

Upacara Tingkeban, Kabupaten Blitar

Masyarakat Kecamatan Nglegok apabila ibu hamil atau mengandung, dan kandungannya telah berumur tujuh bulan maka diadakan upacara tingkeban, tetapi ada pula yang menyebutnya piton-piton (pitonan). Upacara Tingkeban hanya dilaksanakan oleh wanita yang baru hamil pertama kali, sehingga kehamilan yang kedua, ketiga dan seterusnya tidak diadakan upacara tersebut. Upacara Tingkeban terdiri dari beberapa tahapan kegiatan, dimulai dengan kenduri, siraman, membelah cengkir (kelapa muda), menjatuhkan teropong, berganti pakaian, menjual rujak dan diakhiri dengan jenang procot.

Adapun pelaksanaan upacara Tingkeban adalah sebagai berikut : setelah kandungan berumur tujuh bulan, maka ditentukan waktu yang baik untuk melaksanakan upacara Tingkeban. Mengenai waktu untuk melaksanakannya ada beberapa ketentuan sebagai pedoman. Ada yang mengambil pedoman hari kelahiran (neton atau weton) orang yang mengandung. Ada pula yang melaksanakan pada tanggal (hari) sebelum bulan purnama, misalnya : 1,2,5,7,9,11,13,dan 15. Pelaksanaan upacara ini ada yang melaksanakannya pada siang hari, tetapi ada pula yang me­lakukannya pada malam hari.

Upacara Tingkeban merupakan upacara terpenting diantara upacara- upacara lainnya pada waktu seseorang sedang hamil. Oleh karenanya, sajian yang disediakan banyak ragamnya. Perlengkapan upacara tersebut meliputi:

1.  Nasi tumpeng sebanyak tujuh buah dengan lauk pauknya gudhangan, yang dilengkapi dengan telur tujuh buah dan panggang ayam jantan seekor.

  1. Nasi wuduk (nasi yang memasaknya diberi santan sehingga gurih rasanya), maka dari itu nasi wuduk juga disebut nasih gurih. Nasi wuduk ini biasanya dilengkapi ingkung ayam (ingkung adalah ayam yang cara memasaknya tidak dipotong-potong, dan ayam tersebut direbus diberi bumbu opor).
  2. Nasi golong, yaitu nasi putih yang dibentuk bulat-bulat sebesar bola tenis yang bergaris tengah kurang lebih 6 (enam) sentimeter, berjumlah tujuh buah.
  3. Nasi punar sebanyak tujuh takir. Takir untuk tempat nasi tersebut dinamakan takir plonthang, yaitu takir yang tepinya diplisir dengan janur kuning dan dikancing pakai jarum bundel (dom bundel : bahasa jawa).
  4. Nasi (sego) rogoh, yaitu nasi putih biasa dan telur rebus dimasukkan kedalam kendil.
  5. Ketupat luar sebanyak 7 (tujuh) buah.
  6. Jenang procot, jenang sumsum (bubur dari tepung beras) yang diberi pisang untuk yang telah dikuliti.
  7. Jenang abang (bubur dari beras yang diberi gula merah) dan jenang putih (bubur beras putih); jenang sengkala, yaitu bubur merah yang diatasnya diberi bubur putih.
  8. Sampora, yaitu makanan yang terbuat dari tepung beras diberi santan kemudian dicetak seperti tempurung tertelungkup lalu dikukus.
  9. Apem  kocor, yaitu apem yang rasanya tawar, cara makannya dengan juruh (gula merah yang dicairkan).
  10. Ketan manca warna, yaitu nasi ketan (beras pulut) yang dibentuk bulatan bulatan sebanyak 5 (lima) buah, berwarna hitam, putih, merah, kuning, dan biru.
  11. Polo pendhemyang terdiri dari bermacam-macam ubi-ubian, antara lain: ubi jalar, ubi kayu, ketela rambat, talas, kentang hitam, gembili, dan lain sebagainya.
  12. Jajan pasar yang terdiri dari beberapa macam makanan kecil yang biasa dijual di pasar, antara lain : thiwul, canthel, kacang tanah, krupuk, dhondhong, pisang raja, dan lain sebagainya.
  13. Uler-uleran, yaitu makanan dari tepung beras yang diberi macam-macam warna.
  14. Pipis kenthel, yaitu makanan yang bahanya dari tepung beras dicampur dengan santan dan gula merah, adonan ini dibungkus daun pisang kemudian dikukus.
  15. Dhawet   adalah semacam minuman yang bahanya dari santan, juruh (gula merah yang dicairkan) diberi isi cendhol.
  16. Rujak legi bahannya terdiri dari bermacam-macam buah-buahan, ke­mudian dipasah dan diberi bumbu rujak..
  17. Pisang ayu, yaitu pisang raja dua sisir (yang biasanya dilengkapi dengan sebungkus sirih dan bunga).
  18. Bunga setaman, yaitu tujuh macam bunga yang diletakkan dalam suatu tempat, biasanya bokor yang telah diisi air.

Diusahakan kalau dapat bunga setaman tersebut beijumlah 7 (tujuh) macam, namun kalau tidak dapat paling sedikit harus ada 3 (tiga) macam.

Upacara tingkeban dilaksanakan, apabila saat yang telah ditentukan tiba, dan segala sesajian telah tersedia. Upacara Tingkeban biasanya didahului dengan kenduri, yang dipimpin oleh orang yang sudah banyak pengalaman dalam hal upacara adat, atau disebut pula dengan modin. Setelah orang- orang yang diundang datang, maka tuan rumah segera mengutarakan maksud dari hajatnya tersebut kepada pemimpin upacara (modin). Kemudian pemimpin upacara segera mengutarakan maksud hajat tersebut kepada para undangan, dan diteruskan membacakan doa yaitu doa selamat. Selanjutnya makanan (sajian) yang tersedia dibagi-bagikan kepada orang yang ikut kenduri. Setelah semua peserta mendapatkan makanan biasanya terus pulang. Sewaktu pulang mereka dilarang untuk berpamitan dengan empunya keija.

Menjelang berakhirnya kenduri, upacara siraman dimulai yang diikuti oleh para tamu wanita. Upacara siraman pelaksanaannya dipimpin oleh seorang dukun bayi kyang akan menolong besuk sewaktu melahirkan. Tempat untuk menjalankan upacara siraman di kamar mandi atau di halaman. Dikamar mandi telah disediakan bak besar (jambangan) yang telah diisi air dan didalamnya dimasukkan mayang (bunga jambe), daun andong, bunga kenanga, bunga kantil daun beringin, dan uang logam, serta bunga setaman mereka sebarkan dilingkungan tempat memandikan. Sedang alat untuk menyiramkan air pada waktu memandikan adalah siwur yang terbuat dari tempurung kelapa yang masih ada dagingnya dan diberi tangki.

Setelah perlengkapan untuk upacara siraman telah lengkap, maka dhukun membawa orang yang hamil dan suaminya ketempat pemandian. Selanjutnya dhukun menyebar kembang setaman disekitar tempat untuk

memandikan. Dhukun segera membaca doa, kemudian menyiramkan air ke kepala wanita yang hamil dan suaminya sebanyak tiga kali, yang dilanjutkan sanak keluarganya yang menghadiri upacara tersebut secara bergantian, urut dari yang tua sebanyak tujuh orang. Setiap orang menyiramkan air sebanyak tiga siwur. Pada waktu dimandikan, wanita yang hamil dan suaminya memakai pakaian basahan (kain yang dipakai pada waktu mandi) dan duduk diatas kursi atau dhingklik. Sehabis dimandikan suaminya membelah cengkir gading yang bergambar Aijuna dan Sembodro atau Kamajaya dan Dewi Ratih. Pada waktu cengkir dibelah sang dhukun mengucapkan kata-kata yang disesuaikan dengan gambar pada cengkir gadhing tersebut. Bila pada cengkir gadhing tersebut terlukis gambar Aijuna dan Sembodro, maka ucapan dhukun adalah demikian : “Yen lanang kaya Arjuna yen wadon kaya Sembadra”, yang maksudnya bila bayi lahir laki- laki diharapkan agar parasnya elok dan berbudi luhur seperti Aijuna. Tetapi bila lahir perempuan diharapkan berparas cantik dan berbudu luhur serta setia seperti Sembadra. Apabila cengkir gadhing bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih, maka dhukun berkata : “Yen lanang kaya Kamajaya wadon kaya Dewi Ratih “, yang maksudnya agar bila perempuan seperti Dewi Ratih kalau laki-laki seperti Kamajaya.

Sesudah dimandikan kedua orang tersebut disuruh ganti pakaian yang kering dan bersih. Kain yang dipakai oleh wanita sedang hamil tersebut dikendorkan, kemudian antara perut dan payudara diikat dengan benang (lawe : bahasa jawa 3 (tiga) warna , yaitu warna merah, putih, dan hitam. Cara mengikat benang tersebut dikendorkan pula, sehingga ada antara (longgar) kain yang dipakai dengan perut. Melalui antara yang longgar ini dhukun atau mertuanya dapat meluncurkan teropong (alat untuk mengikat benang yang akan ditenun). Teropong yang diluncurkan atau dijatuhkan tadi ditangkap oleh ibunya sendiri atau dhukunnya sambil berkata : lanang arep, wadon arep janji slamet, yang maksudnya kelak bila bayi lahir laki-laki maupun perempuan mau, asal selamat. Upacara meluncurkan teropong ini dilakukan dimuka senthong tengah.

Dengan selesainya upacara meluncurkan teropong dan membelah cengkir gadhing, dilanjutkan dengan ganti pakaian tujuh kali. Pakaian ini berupa kain panjang dan kemben (penutup buah dada) yang beijumlah 7 (tujuh) macam, kain tersebut dipakai secara bergantian satu demi satu. Pada waktu memakai kain yang pertama, para tamu yang datang berkata : “durung patut”, yang artinya kain yang dipakai tadi belum pantas. Kemudian ganti pakaian yang lain juga diolok-olok lagi, demikian seterusnya samapi tujuh kali. Setelah memakai kain yang ketujuh, ibu-ibu yang mengikuti upacara mengucapkan kata : ” Wispantes, wis pantes “, yang artinya sudah pantas. Kain yang dianggap pantas, yaitu kain truntum atau toh watu diingin dengan kemben dringin. Setelah upacara tingkeban, ibu yang mengandung tidak boleh memakai perhiasan, misalnya : cincin, kalung, subang. Upacara selanjutnya adalah menjual rujak. Wanita yang mengandung dan suaminya disuruh menjual rujak, yang membeli adalah ibu-ibu yang mengikuti upacara ini. Wanita yang sedang mengandung (yang diselamati) menjajakan rujak sedang suamainaaya menerima uangnya. Menurut kepercayaan, kalau rujak yang dijual rasanya hambar, maka bayi akan lahir laki-laki. Tetapi apabila rujak rasanya sedap, bayi yang dikandung lahir perempuan. Dengan selesainya upacara menjual rujak, maka berakhir pulalah prosesi upacara Tingkeban.

Masa kehamilan untuk pertama kali bagi suatu keluarga baru merupakan peristiwa penting. Kehamilan merupakan harapan bagi kelang­sungan keturunan. Seorang ibu muda hamil merupakan lambang kesuburan, dan kepadanya diperlukan sikap yang menyenangkan.

Peristiwa kehamilan menimbulkan harapan sekaligus kecemasan, maka anak yang dikandungnya haruslah dijaga dengan baik-baik. Sang ibu yang mengandung dijauahkan dari suasana duka, sebaliknya diberikan suasana yang menggembirakan dan kesukaan. Adapun mereka melakukan hal yang demikian (upacara Tingkeban), karena upacara tersebut mempunyai fungsi mendoakan agar yang dikandung dapat lahir dengan selamat dan lancar, juga mencita-citakan agar anaknya berperilaku nantinya sesuai yang diharapkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 46-50

Upacara Tingkeban, Tradisi Jawatimur

Upacara tingkeban dilaksanakan pada waktu kandungan berumur tujuh bulan, oleh karena itu upacara ini juga ada yang menyebut piton-piton (pitonan). Upacara tingkeban ini hanya dilaksanakan oleh wanita yang baru pertama kali hamil. Pada kehamilan kedua, ketiga, keempat, tidak diadakan lagi upacara tingkeban tersebut. Upacara tingkeban,terdiri dari bebera¬pa tahapan kegiatan, dimulai dengan kenduri, siraman, membelah cangkir, menjatuhkan teropong, berganti pakaian, dan diakhiri dengan menjual rujak.

Adapun pelaksanaan upacara tingkeban adalah sebagai berikut:
Setelah kandungan berumur tujuh bulan, maka ditentukan waktu yang baik untuk melaksanakan upacara tingkeban. Mengenai waktu untuk melaksanakannya ada beberapa ketentuan sebagai pedoman. Ada yang mengambil pedoman hari kelahiran (weton) orang yang mengandung. Ada pula yang melaksanakan pada tanggal (hari) sebelum bulan purnama, misalnya antara tanggal 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13 dan 15. Ada yang melaksanakan pada siang hari dan ada pula yang melaksanakan pada malam hari.
Telah disebutkan bahwa upacara tingkeban merupakan upacara terpenting diantara upacara-upacara yang lain, yang diadakan pada waktu seseorang sedang hamil. Oleh sebab itu sajian untuk menyertai upacara ini banyak macamnya. Perlengkapan upacara itu seperti berikut :

1. Nasi tumpeng sebanyak tujuh buah dengan lauk-pauknya gudhangan, yang dilengkapi dengan telur tujuh buah dan panggang ayam jantan seekor.
2. Nasi wuduk (nasi yang memasaknya diberi santan sehingga gurih rasanya), maka dari itu nasi wuduk juga disebut nasi gurih. Nasi wuduk ini biasanya dilengkapi ingkung ayam (ingkung adalah ayam yang cara memasaknya tidak dipotong-potong, ayam tersebut direbus, diberi bumbu opor).
3. Nasi golong, yaitu nasi putih yang dibentuk bulat -bulat sebesar bola tennis, yang bergaris tengah ± 6 cm, berjumlah tujuh buah.
4. Nasi punar sebanyak tujuh takir. Takir untuk tempat nasi tersebut dinamakan takir plonthang, yaitu takir yang tepinya diplisir dengan janur kuning dan dikancing pakai jarum bundel (Jawa : dom bundel).
5. Kupat luar (ketupat) sebanyak 7 buah.
6. Jenang abang (bubur dari beras yang diberi gula merah) jenang putih (bubur beras putih), jenang sengkolo yaitu bubur merah yang diatasnya diberi bubur putih
7. Apem kocor yaitu apem yang rasanya tawar, cara makannya dengan juruh yaitu gula jawa yang dicairkan.
8. Sampora yaitu makanan yang terbuat dari tepung beras yang diberi santan, kemudian dicetak seperti tempu¬rung tertelungkup, lalu dikukus.
9. Ketan manca warna yaitu nasi ketan (beras pulut) yang dibentuk bulatan-bulatan sebanyak 5 buah yang ber¬warna hitam, putih, merah, kuning biru.
10. Polo pendhem yang terdiri dari bermacam-macam ubi- ubian antara lain : ubi jalar, ubi kayu, ketela rambat, talas, kentang hitam, gembili dan lain sebagainya.
11. Jajan pasar yang terdiri dari beberapa macam makanan kecil yang biasa dijual di pasar, antara lain : thiwul, canthel, kacang tanah, krupuk, dhondhong, pisang raja dan lain sebagainya.
12. Uler-uleran yaitu makanan dari tepung beras yang diberi bermacam-macam warna.
13. pipis kenthel yaitu makanan yang bahannya dari tepung beras dicampur dengan santan dan gula merah, adonan ini di bungkus daun pisang kemudian dikukus.
14. Dhawet adalah semacam minuman yang bahannya dari santan, juruh (gula merah yang dicairkan) diberi isi cendhol.
15. Rujak legi bahannya terdiri dari bermacam-macam buah-buahan kemudian dipasah dan diberi bumbu rujak.
16. Pisang ayu yaitu pisang raja dua sisir (Jawa : setang- kep) yang biasanya dilengkapi dengan sebungkus sirih dan bunga.
17. Bunga setaman yaitu tujuh macam bunga yang diletak¬kan dalam suatu tempat, biasanya bokor yang telah diisi air/ Ketujuh macam bunga itu kalau bisa diusahakan 7 warna, kalau tidak bisa paling sedikit harus ada 3 warna yaitu merah, putih, kuning.

Jalannya Upacara
Setelah saat yang ditentukan telah tiba dan segala macam sajian telah tersedia, maka upacara tingkeban segera dimulai. Upacara ini didahului dengan kenduri yang dipimpin oleh orang yang sudah banyak pengalamannya dalam hal upacara adat. Orang yang memimpin upacara ini ada yang menyebut Prejonggo, ada yang menyebut Mathoklek, juga ada yang menyebut Dhongke atau Modin. Setelah orang-orang yang diundang kenduri datang, maka tuan rumah segera mengutarakan maksud dari hajatnya kepada pemimpin upacara. Kemudian pemimpin upacara segera mengikrarkan maksud dari pada hajat tersebut kepada para undangan, lalu membaca doa, biasanya doa selamat. Selanjutnya makanan (sajian) yang tersedia dibagi-bagikan kepada orang yang ikut kenduri. Setelah para mereka mendapat bagian makanan biasanya terus pulang. Namun demikian ada kalanya makanan itu sebagian dimakan di tempat kenduri sisanya dibawa pulang. Pada waktu mereka pulang tidak boleh berpamitan.
Menjelang berakhirnya kenduri, upacara siraman (mandi) dimulai yang diikuti oleh para tamu wanita saja. Upacara siraman ini biasanya dipimpin oleh seorang dhukun bayi yang akan menolong besuk pada waktu melahirkan. Tempat untuk menjalankan upacara tersebut biasanya di kamar mandi atau di halaman. Di kamar mandi tersebut telah disediakan bak besar (jambangan) yang telah diisi air yang didalamnya dimasukkan mayang (bunga jambe), daun andong, bunga kenanga, bunga mawar, bunga kanthil, daun beringin dan uang logam. Sedang alat untuk menyiramkan air pada waktu memandikan adalah siwur yang dibuat dari tempurung kelapa yang masih ada dagingnya dan diberi tangkai.
Setelah perlengkapan untuk upacara siraman telah leng¬kap, maka dhukun membawa orang yang hamil dan suaminya ke tempat pemandian. Dhukun segera membaca doa, kemudian menyiramkan air ke kepala wanita yang hamil dan suaminya sebanyak 3 x (tiga kali), yang dilanjutkan oleh sanak keluarganya yang menghadiri upacara itu secara bergantian urut dari yang tua sebanyak tujuh orang. Tiap orang menyiramkan air sebanyak 3 siwur. Pada waktu dimandikan itu, wanita yang hamil dan suaminya memakai basahan (kain yang dipakai pada waktu mandi) dan duduk di atas kursi atau dhingklik. Sehabis dimandikan suami orang yang hamil itu membelah cengkir gadhing yang bergambar Arjuna dan Sembadra atau Kamajaya dan Dewi Rati. Pada waktu cengkir itu di belah sang dhukun mengucapkan kata-kata yang disesuaikan dengan gambar yang tertera pada cengkir gadhing itu. Bila pada cengkir gadhing itu terlukis gambar Arjuna dan Sembadra, maka ucapan dhukun adalah demikian : “Yen lanang kaya Arjuna, yen wadon kaya Sembadra”.
Yang maksudnya, bila bayi lahir laki-laki diharapkan agar parasnya elok dan berbudi luhur seperti Arjuna. Tetapi bila lahir perempuan diharapkan berparas cantik dan berbudi luhur serta setia seperti Sembadra. Apabila cengkir gadhing bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih maka dhukun berkata : “Yen lanang kaya Kamajaya, yen wadon kaya Dewi Ratih” Yang maksudnya agar bila perempuan seperti Dewi Ratih.
Sesudah dimandikan kedua orang itu disuruh ganti pakaian yang kering dan bersih. Kain yang dipakai oleh wanita yang hamil tersebut dikendorkan, kemudian antara perut dan payudara diikat dengan benang (Jawa : lawe) 3 warna yaitu merah, putih dan hitam.
Cara mengikatkan benang tersebut dikendorkan pula, sehingga ada antara (longgar) yaitu antara kain yang dipakai dengan perut. Melalui antara yang longgar ini dhukun atau mertuanya dapat meluncurkan teropong (alat untuk mengikal benang yang akan ditenun). Teropong yang dijatuhkan tadi ditangkap oleh ibunya sendiri atau dhukunnya sambil berkata : “Lanang arep wadon arep janji slamet”, yang maksudnya kelak apabila bayi itu lahir baik laki-laki maupun perempuan mau, asal selamat. Upacara meluncurkan teropong ini dilakukan di muka senthong tengah.
Setelah upacara meluncurkan teropong dan membelah cengkir gadhing, dilanjutkan dengan ganti pakaian tujuh kali. Pakaian ini berupa kain panjang dan kemben (penutup buah dada) yang berjumlah 7 macam. Kain tersebut dipakai secara bergantian satu demi satu. Pada waktu memakai kain yang pertama, para tamu yang datang berkata : “durung patut durung patut”. Yang artinya kain yang dipakai tadi belum pan¬tas. Kemudian ganti pakaian yang lain juga diolok-olok lagi, demi¬kian seterusnya sampai tujuh kali. Setelah memakai kain yang ke tujuh, ibu-ibu yang mengikuti upacara itu mengucapkan kata : “wis pantes”, “wis pantes” yang artinya sudah pantas. Kain yang dianggap pantas itu yaitu kain truntum atau toh watu dringin dengan kemben dringin.’Setelah upacara tingkeban , ibu yang mengandung tidak boleh memakai perhiasan misalnya cincin, kalung, subang.
Upacara selanjutnya yaitu menjual rujak. Wanita yang mengandung dan suaminya disuruh menjual rujak, yang membeli adalah ibu-ibu yang mengikuti upacara ini. Wanita yang sedang mengandung (yang diselamati) yang menjajakan rujak, sedang yang laki-laki yang menerima uangnya. Menurut kepercayaan, kalau rujak yang dijual itu rasanya hambar, maka bayi yang akan lahir laki-laki. Tetapi apabila rujak itu rasanya sedap, bayi yang dikandung lahir perempuan. Setelah upacara menjual rujak berakhirlah upacara tingkeban.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984,