Upacara Ruwat, Kabupaten Bondowoso

PERKATAAN ruwat (Jawa) atau arokat (Madura) berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuno yaitu rwad yang kemudian berubah bentuk menjadi rod atau root (Inggris) yang berarti akar (urat, oyot, atau ora’ dalam bahasa Madura). Dari kata rwad itulah dalam bahasa Jawa baru menjadi ruwat (luwar). Diruwat berarti dibebaskan dari dosa karena termakan sumpah atau janji. Ngluwari ujar berarti melaksanakan janji, nazar, sumpah, atau melaksanakan wasiat si mayat, sehingga yang ngluwari ujar itu terlepas dari rasa berdosa.

Perkataan root yang berarti akar itu kemudian disingkat dengan huruf kapital R dan menjadi lambang panjang separuh dari garis tengah suatu lingkaran. Dengan demikian muncullah rumus luas lingkaran yaitu 2 PI x R2. Adapun PI adalah panjang busur lingkaran dibagi panjang garis tengah (=3,14159), seberapa pun besarnya lingkaran. Angka itu tetap saja menjadi keliling lingkaran yaitu PI x 2 R (R adalah jari-jari lingkaran).

Budaya ruwat atau arokat adalah upacara selamatan bagi anak-anak yang dilahirkan dalam susunan keluarga yaitu:

  1. Anak tunggal
  2. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan)
  3. Tiga orang (perempuan diapit lelaki atau lelaki diapit perempuan)
  4. Lima orang (laki-laki semuanya menyerupai Pandawa)

Di tanah Jawa masih banyak lagi yang harus diruwat, antara lain orang yang periuknya roboh saat menanak nasi, orang yang me- nanam waluh (labu) di muka rumah, anak yang selalu sakit-sakitan, anak yang sangat nakal, dan sebagainya.

Upacara ruwat diadakan supaya si anak terlepas dari bahaya. Menurut kepercayaan Jawa, bahaya itu berupa sergapan Batara Kala yang oleh para dewa sudah ditentukan mangsanya. Upacara itu di Jawa dilakukan dengan pertunjukan wayang purwa, sedangkan upacaranya lazim disebut “Hamurwakala”, artinya mengembalikan anak pada asal mulanya, bukan dibunuh melainkan diserahkan kepa­da Zat yang menciptakan kala (waktu). Bukankah menurut keper­cayaan Jawa, waktu dipandang sebagai kekuatan Maha Agung yang menentukan kemalangan, musibah, dan bahagia bagi manusia?

Sedangkan wayang purwa berarti wayang yang sangat awal. Ini adalah gambaran kepercayaan asli masyarakat Jawa zaman dahulu ketika masih memuja Waktu atau Kala.

Lakon cerita wayang pada upacara ruwat sebenarnya adalah lakon Batara Kala. Siapakah Kala itu? Kala adalah putra Batara Surya (Dewa Matahari). Bukankah matahari itu menjadi titik pangkal perhitungan hari atau waktu (kala)? Itulah sebabnya Dewa Kala (Batara Kala) atau Waktu dinamakan “Putra Batara Surya”. Artinya, “waktu” atau “kala” dihasilkan oleh lamanya planet-planet (bumi dan lain- lain) atau satelit (bulan) menjelajahi angkasa mengitari matahari seba­gai induknya. Itulah sebabnya Batara Kala disebut juga Surya Atmaja (Putra Batara Surya).

Masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal perhitungan “hari yang tujuh”, yaitu nama-nama hari: Dite, Soma, Nggara, Buda,

Respati, Sukra, dan Tumpak (Sabtu). Nama-nama itu diambil dari nama-nama planet yang berjumlah tujuh (pada waktu itu). Sekarang telah ditemukan dua planet lagi men)adi sembilan. Menilik hal itu, dahulu masyarakat Jawa menggunakan tahun syamsiah (lamanya bumi mengitari matahari dalam setahun). Kemudian dengan kedatangan Islam, maka diperkenalkanlah tahun qomariah (lamanya bulan mengi­tari bumi dalam setahun). Gabungan antara tahun Saka (lama) dan tahun Qomariah (Islam) itulah yang membentuk perhitungan bulan Jawa sekarang.

Upacara ruwat (arokat) dimaksudkan untuk menyerahkan kembali nasib anak yang diruwat kepada Zat Asal yang menciptakan kehidupan ini, supaya si anak terlepas dari bencana siksa-Nya. Ini sama dengan tobat nasuha dalam ajaran Islam, suatu tobat yang tak akan mengulangi kesalahan lama dan menutupi kesalahan-kesalahan serta dosa dengan kebaikan. Secara simbolis orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri, bagaimana anak itu kedka berada dalam kan- dungan sang ibu dan apa yang dilakukan orang tua selama anak berada dalam kandungan. Ruwat pada hakikatnya adalah belajar introspeksi dan retrospeksi

Upacara ruwat di Bondowoso diwujudkan dalam modifikasi budaya Jawa dengan wayang purwa. Bukan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebenarnya melainkan dengan fragmen “adegan wayang orang” (wayang topeng) dengan lakon Batara Kala. Ini dilaku­kan karena ontowacana dengan bahasa Jawa, apalagi Jawa Kawi tak mungkin dapat dilakukan.

Dalam pertunjukan wayang topeng itulah dalang berperan menghidupkan cerita. Dalang mampu mengalihkan jalan cerita ke bahasa Madura. Di sana-sini ada selingan humor supaya pertunjuk­an menjadi menarik. Dialog-dialog yang diucapkan dalang, diperan- kan oleh pelaku wayang, hampir-hampir menyerupai pantomim dengan mengikuti suara dalang.

Sebelum pertunjukan dimulai, dalang membacakan mantra atau doa memohon keselamatan. Mantra dibacakan di atas kepulan asap dupa (kemenyan) di tengah malam. Sedangkan anak yang di-rokat dimandikan dengan air bunga. Maksudnya agar segar, bersih, dan beraroma harum. Ini adalah simbol budaya membersihkan anak dari segala ancaman dan sergapan Batara Kala.

Pertunjukan itu dilakukan sampai larut malam seperti halnya wayang purwa. Tidak lupa sahibul hajat menyediakan “sesaji” makanan kenduri nasi serta lauk pauk berupa panggang ayam putih mulus yang dipersembahkan kepada leluhur yang telah wafat. Lalu dibacakanlah doa, nasi kenduri pun mulai dimakan. Setelah usai, dalang beserta para pelaku wayang menerima imbalan uang jasa dan transportasi (bagi dalang dan niyaga-nya). Ada kalanya mereka diberi seperangkat alat dapur.

Di Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, ada sebuah buku doa Pangrukat yang berasal dari Kiai Abdul Latief, saudara dari Kiai Syamsul Arifin (alm.). Doa itu dibacakan pada upacara selamatan pekarangan, tegalan, tanaman, kendaraan, perahu atau motor.

Di samping itu ada doa rokat dengan menyembelih kambing hitam. Gunanya untuk menolak serangan wabah penyakit. Kambing disembelih di tengah desa atau di tengah pekarangan. Yang menyem­belih harus menghadap ke kiblat, setelah kambing disembelih maka dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Kikil (kekot) dan tulang- tulangnya tidak dimakan namun ditanam di tempat penyembelihan kambing tersebut (Kitab ]aami’ud da’awaat).

Dari budaya ruwat ini tersimpan filosofi bahwa:

a. Masalah takdir harus diyakini adanya. Manusia tidak perlu lari pada hal-hal yang musyrik, menyembah waktu seperti pada zaman dahulu: matahari dan bulan disembah. Nabi Ibrahim telah menolak keyakinan bahwa Tuhan itu berupa matahari atau bulan (QS 16: 74-83).

  1. Letak susunan anak dalam keluarga memang secara psikologis ada pengaruhnya. Anak tunggal biasanya dimanjakan. Begitu pula anak bungsu atau anak tunggal yang diapit dua-tiga anak yang berlainan jenis kelaminnya. Anak-anak yang lelaki semua akan sulit dibina. Biasanya mereka saling berebut kekuasaan. Begitu juga jika semua anak adalah perempuan. Pada umumnya anak kedua suka meninggalkan rumah karena tekanan anak sulung. Kalau orang tua tidak adil dan pilih kasih dalam memberikan layanan pendidikan, maka bencana perkelahian, pertentangan, atau tekanan batin akan muncul. Hal itu akan menyulitkan orang tua untuk mengantarkan anak menuju masa kedewasaannya.

Dengan menghargai waktu untuk mengisi kehidupan maka kebahagiaan hidup akan tercapai. Islam sangat menghargai waktu. Disiplin salat mengarah pada disiplin pribadi dan berguna bagi pembentukan watak pribadi kelak. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah: Apabila telah usai salat Jumu’ah, bertebaranlah kau di muka bumi mencari rejeki karunia lllahi (QS 62: 10).

 

Upacara Khitanan, Kabupaten Bondowoso

Pelaksanaan Upacara Sunat di Bondowoso, seperti juga upacara molangare, upacara khitanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat Nabi (diba’ atau barjanji). Anak yang disunat dituntun untuk berjabatan tangan dengan para undangan (kedka hadirin berdiri). Ini dimaksudkan sebagai upacara menyambut kehadiran muslim baru yang mulai mualaf (dipandang sudah mampu dibebani syariat salat). Menilik hal itu nyatalah bahwa budaya khitanan dijadikan upaya “pengislaman” bagi anak yang telah Kebudayaan Islam di Bondowoso dikhitan.

Upacara khitanan itu berbeda-beda pelaksanaannya di beberapa tempat. Di Caruban, Madiun, masih ada upacara “arak sunatan”. Anak yang disunat itu mengendarai kuda, berpakaian “mempelai”, bertopi “pacul gowang (bagian belakang topi itu terbuka), diarak sepanjang jalan, serta dimeriahkan dengan hadrah dan burdah, serta dilagukan syair kasidah barzanji.

Di Bondowoso ada juga yang dimeriahkan dengan acara khataman Alquran pada malam sebelum anak dikhitan. Alquran dibaca bergandan seperti pada kegiatan khatmil Quran. Tetapi ada yang hanya membaca dga belas surat pendek pada jus amma (Surat 102- 114) oleh anak yang baru sembuh dari sunat. Artinya, upacara sunat­an itu dilakukan setelah beberapa hari seorang anak disunat. Hal ini dimaksudkan untuk mendidik anak menjadi muslim dengan kemampuan membaca Alquran dan salat.

Kini budaya sunat bukan lagi menjadi monopoli umat Islam, melainkan telah mendunia, dimiliki oleh siapa saja yang merindukan kesehatan dan kebahagiaan. Yang disunat bukan lagi hanya anak- anak muslim, namun juga kaum non-muslim. Bukan saja saat masih kanak-kanak, bahkan ada yang sudah setengah baya minta disunat (dengan pergi ke dokter). Ini merupakan sumbangan umat Islam kepada umat manusia. Semakin nyata bahwa agama Islam adalah agama Allah (QS 3: 19) yang diserukan kepada umat manusia [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm.

Upacara Selapan, Kabupaten Bondowoso

ISTILAH “selapan” (Jawa) berasal dari gabungan bentuk “sa+alap+an”, satu alapan, yaitu satu kali daur ulang dari kelahiran tiga puluh lima hari. Pada upacara selapan itu bertemulah nama hari dan “pasaran” ketika bayi dilahirkan. Di Madura upacara ini dikenal dengan istilah molang are (mengulang hari kelahiran). Hanya saja di daerah Madura, termasuk di Bondowoso, tidak dikenal hari pasaran (legi, pahing, pon, wage, kliwon) sebagaimana dalam budaya Jawa.

Sepekan di Madura sama dengan sepekan di Melayu yaitu tujuh hari. Hal ini dapat dibuktikan dengan hari daur ramainya pasar di Bondowoso, seperd Pasar Senin, Pasar Selasa, dan sebagainya, sama dengan di Jakarta (Pasar Minggu, Pasar Senen, dan sebagainya). Akhir-akhir ini perhitungan limaan {manes, paeng, pon, bagi, kalebun) itu mulai terpakai juga dalam menghitung hari di daerah Bondowoso. Jadi “selapan” bayi lamanya sama dengan sekali daur dari hari ke­lahiran, yaitu lima minggu atau tujuh kali lima pasaran yaitu tiga puluh lima hari.

Di Bondowoso ada kepercayaan hari selamatan molang are dga puluh lima hari jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan. Maksudnya supaya kelak lekas mendapatkan jodoh. Namun jika anaknya lelaki, maka selamatan molang are itu dijatuhkan pada hari keempat puluh. Ini merupakan isyarat bahwa anak lelaki kelak harus bekerja keras untuk memberi nafkah istrinya. Jadi dibutuhkan masa muda yang lebih panjang untuk belajar dan bekerja.

Dalam budaya Jawa, ada juga upacara selapan bayi namun bukan upacara menyambut kelahiran bayi yang pertama karena upacara kelahiran bayi sebenarnya jatuh pada hari kelima yang lazim disebut “sepasaran bayi”. Biasanya jatuh pada saat si bayi “lepas dari pusarnya” (pupak pusar).

Pada malam sepasaran bayi diadakan acara macapat, yaitu membaca sastra Jawa yang mengandung pelajaran atau filsafat dari para pujangga seperd dari buku Wulang Keh, Wedatama,Serat Piwulang, Serai Kidungan, dan sebagainya. Kemudian setelah zaman Islam, buku-buku bercorak Islam ditulis dengan huruf Arabpegon, dikarang dalam bentuk tembang bahasa Jawa, seperti Lajang Ambiya (Surat Nabi-Nabi).

l^i Bondowoso, upacara molang are atau selapanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat nabi (pembacaan diba’ atau barzanji). Ketika hadirin berdiri membacakan selawat nabi, sang bayi di- gendong oleh salah seorang keluarganya (lelaki) untuk diperkenalkan kepada seluruh majelis agar dimintakan restu dengan “mengusapkan air bunga” di kepala bayi, selain itu juga diminta menggunting dua atau tiga helai rambut sang bayi.

Upacara selapanan di Bondowoso ini mengingatkan kita pada upacara akikah (mencukur rambut) bayi. Adapun mengusap air bunga di kepala sang bayi dan membacakan selawat nabi harus di- pandang sebagai upacara menyambut kelahiran sang bayi muslim atau muslimah, yang kelak akan menjadi penganut agama Islam, umat Nabi Muhammad SAW.

Upacara molang are itu kemudian ditutup dengan pembacaan doa. Pesta kenduri pun dimulai, pulangnya tamu diberi berkat, tanda bahwa hajatnya semoga mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa, berkat atau lebih dikenal dengan “nasi brokoharT (dari istilah barokahan), dibagikan pada waktu upacara sepasaran (lima harinya) [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112

Upacara Mantenan Tebu, Upacara Tradisi Kabupaten Lumajang

Lumajang adalah salah satu Kabupaten yang terletak di pesisir selatan bagian timur Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk sebanyak 1.075.355 jiwa serta memiliki luas areal 1.790,90 Km2, terbagi atas 21 Kecamatan yang terdiri dari 198 Desa dan 7 Kelurahan.

Batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang meliputi : sebelah barat Kabupaten Malang, sebelah timur Kabupaten Jember, sebelah utara Kabupaten Probolinggo dan sebelah selatan Samudra Hindia.

Kabupaten Lumajang terdiri dari daratan yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi, yaitu Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Lamogan, sehingga sangat berpotensi sebagai daerah agraris , tidak terkecuali tanaman tebu (gula). Adalah tanaman yang menyebar di Jawa Timur ini, juga terdapat di Kabupaten Lumjang.

Kabupaten Lumajang mempunyai potensi yang sangat luar biasa terhadap kekuatan kultur budayanya yang menyatu  dalam kehidupan masyarakatnya, perpaduan etnis Jawa, Madura dan Tengger menjadikan Kabupaten Lumajang kaya akan budaya serta kesenian daerahnya.

Upaca yang berkaitan dengan tubu ini Penyelenggaraannya terdapat di Kecamatan Jatiroto, disebut upacara  Mantenan Tebu. upacara ini Fungsi dari Upacara ini bertujuan sebagai ucapan syukur dan permohonan keselamatan Waktu pelaksanaan Pada saat buka giling tebu. Siwhoto

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Goresan Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sumber; Data & Foto Kantor Pariwisata Kabupaten Lumajang, Surabaya, 2012

Upacara Unan-Unan, Upacara Tradisi Kabupaten Lumajang

Keragaman potensi tradisi budaya masyarakat yang dimiliki Kabupaten Lumajang merupakan modal yang harus di pertahankan serta dikembangkan, mengingat kebudayan mempunyai peran yang cukup strategis dalam meningkatkan industri pariwisata.

Perpaduan etnis Jawa, Madura dan Tengger menjadikan Kabupaten Lumajang kaya akan budaya serta kesenian daerah, Beragam cara untuk memamerkan seluruh potensi seni maupun kultur budaya diantaranya menjadikan PUSAKA JAWATIMURAN sebagai sarana penyebarluasan informasi selanjutnya sebagai sarana pengembangan Kabupaten Lumajang.

Di Kecamatan Senduro, Lokasi Kandangan, Argosari, Ranupane setiap 8 tahun sekali masyarakat  menyelenggarakan Upacara Unan-Unan, adapun Fungsi dai upacara tersebut demi Selamatan Bumi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Ditulis oleh Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sumber Data & Foto Kantor Pariwisata Kabupaten Lumajang, Surabaya, 2012

Upacara Melasti, Upacara Tradisi Kabupaten Lumajang

Melalui tulisan di PUSAKA JAWATIMURAN ini ingin sekali kami memberikan gambaran kepada pembaca bahwa Kabupaten Lumajang mempunyai potensi yang sangat luar biasa terhadap kekuatan kultur budaya, tradisi budaya masyarakat  yang sangat kuat melekat dalam kehidupan.

Perpaduan etnis Jawa, Madura dan Tengger menjadikan Kabupaten Lumajang kaya akan budaya serta kesenian daerahnya. Inilah yang hendak kami ungkapkan melalui tulisan ini, dengan harapan pembaca bisa semakin memahami tentang kebudayaan yang ada di Kabupaten Lumajang sehingga akan semakin membuka cakrawala pemikiran kita untuk kemajuan daerah Jawa Timur pada umumnya,  dalam rangka mewujudkan masyarakat yang bermartabat, Amiiiiin.

Dari banyak upacara tradisi yang ada di Kabupaten Lumajang Salah satunya adalah,Upacara Melasti, upacara ini diselenggarakan oleh masyarakat Kecamatan Pasirian.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Ditulis oleh Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sumber Data & Foto Kantor Pariwisata Kabupaten Lumajang, Surabaya, 2012

Petik Laut, Upacara Tradisi Kabupaten Lumajang

Upacara Petik Laut di Kecamatan  Yosowilangun

Lumajang adalah salah satu Kabupaten yang terletak di pesisir selatan bagian timur Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk sebanyak 1.075.355 jiwa serta memiliki luas areal 1.790,90 Km2, terbagi atas 21 Kecamatan yang terdiri dari 198 Desa dan 7 Kelurahan.

Batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang meliputi : sebelah barat Kabupaten Malang, sebelah timur Kabupaten Jember, sebelah utara Kabupaten Probolinggo dan sebelah selatan Samudra Hindia

Perpaduan masyarakat etnis Jawa, Madura dan Tengger menjadikan Kabupaten Lumajang kaya akan budaya serta kesenian daerah. Salah satu dari keragaman tradisi tersebut adalah upacara tradisi “Petik Laut” di Kecamatan Yosowilangun.

Masyarakat nelayan, Kecamatan  Yosowilangun memiliki tradisi turun-temurun yakni upacara tradisional “Petik Laut”. Tradisi ini digelar setiap tahun sekali pada bulan Suro penanggalan Jawa.

Sebelum acara  berlangsung, masyarakat peserta berkumpul di pendopo kecamatan. Upacara diawali dengan Selamatan (kenduri). Setelah  selesai selamatan dilanjutkan dengan melarung sesajen ke tengah laut. Terlihat seluruh peserta yang terdiri atas kalangan anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua tumplek blek dan sangat antusias.

Pada saat prosesi ini berlangsung, seluruh peserta nampak bersemangat. Tak ayal, teriakan peserta mengiringi selama pelarungan sesajen.

Upacara tradisi Petik Laut tersebut tepatnya dilaksanakan di Pantai Meleman, maksud dan tujuan upacara tersebut, selain sebagai ungkapan rasa syukur atas rizki yang telah didapat, juga berharap untuk mendapatkan keselamatan saat melaut.=Siwhoto=

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Ditulis oleh Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sumber Data & Foto Kantor Pariwisata Kabupaten Lumajang, Surabaya, 2012

Neloni, Upacara Tradisi Jawa Timur

Neloni yang berarti telu dalambahasa jawa atau tiga, maka dari itu upacara neloni diadakan pada waktu kandungan berumur tiga bulan, dan saat upacara ini disediakan sajian berupa nasi tumpeng, yaitu nasi putih yang dibentuk  seperti mengerucut.

Lauk-pauk tumpeng tersebut adalah gundangan, yang terdiri dari beberapa macam sayuran yang telah dimasak dan dicam­pur dengan sambal kelapa. Selain itu disajikan pula jenang abang putih. Di samping sajian tersebut pada upacara ini ada pula yang menyajikan nasi punar, yaitu nasi yang rasanya gurih dan berwarna kuning diberi air kunyit. Cara menyajikan nasi punar ini diletakkan di takir plonthang.

Setelah semua sajian tersebut tersedia, maka orang yang punya hajat mengundang tetangganya untuk kenduri. Kenduri ini biasanya dipimpin oleh modin atau orang yang sudah ber­pengalaman dalam memimpin upacara.

Sesudah upacara Neloni, pada bulan ke-empat, ke-lima dan ke­enam juga diadakan selamatan, dan masing-masing selamatan itu berbeda dalam hal sajian yang dihidangkan saja. Pada wak­tu kandungan berusia tujuh bulan, diadakan upacara pitonan atau tingkeban.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984

Pujan Karo, Upacara Tradisi Masayarakat Tengger

Upacara Karo, Rekaman Kesetiaan Dua Abdi Setya dan Setuhu

Pada setiap tanggal 16 bulan purnama bulan Karo, masyarakat Tengger merayakannya dengan permainan Sodoran dan mengeluarkan Jimat Klontong untuk dibersihkan. Pada saat itu seluruh masyarakat merayakannya dengan sukacita, saling berkunjung untuk mempererat tali persaudaraan. Berbagai makanan baik yang berupa Tumpeng, kue- kue dan sesanding untuk dibawa ke Sanggar Punden, dan untuk dima­kan bersama-sama.

Upacara Karo di awali dengan kunjungan ke Sanggar Pundon, tem­pat makam cikal bakal desa. Kemudian dilanjutkan mengadakan upacara pujan di Sanggar, dengan maksud mengucapkan terimakasih kepada Hong Pokulun, atas hasil panen yang baik. Tidak lupa pula setelah selesai dari Sanggar Pamujan dan dilanjutkan berziarah ke makam leluhur, per­arakan ke Punden cikal bakal itu menjadi ramai karena hunyi gamelan yang mengiringinya. Di tempat suci tersebut, Dukun mulai mengujub- kan dengan membaca mantra-mantra, sementara alunan gamelan dengan gending Rancagan meningkahi ucapan Dukun yang mengucap mantra. Seusai Dukun membacakan mantranya, yang hadir disitu kemudian mem­beri sesajen yang berupa juadah, pipis, tumpeng panggang ayam, gedang ayu. Sesajen itu dimaksudkan sebagai sandingan arwah leluhur.

Selesai dengan upacara di Punden, kemudian mereka pulang ke- rumahnya masing-masing. Tumpeng dan lauknya yang telah dimantrai dibawa pulang untuk dimakan bersama dengan seluruh keluarga.

Di dalam pujan Karo, dilangsungkan beberapa kegiatan yaitu So­doran, Selamatan Tumpeng Gede di tempat petinggi, menyediakan se­sanding di rumah masing-masing, diakhiri dengan Ngeraon.

Dalam rangkaian upacara Karo itu, Sodoran merupakan pertunjuk­an yang menarik seluruh masyarakat. Lazimnya penyelenggaraannya di tempat petinggi atau Balai Desa, yang diatur sebara bergiliran penyeleng­garaannya Sodoran menurut dongengannya berhubungan dengan penghor­matan turunnya Jimat Klontong dari tempat penyimpanan. Tempat pe­nyimpanan Jimat Klontong, bergiliran antara desa yang satu dengan yang lain. Bagi masyarakat Tengger Jimat Klontong dikramatkan, mereka percaya bahwa Jimat Klontong itu merupakan jimat tiban, artinya datang sendiri tidak diketahui asal usulnya. Orang pertama yang menjumpainya ialah pendeta yang bernama Kyai Dadap Putih. Kepercayaan itu terutama dikalangan masyarakat desa Ngadisari dan sekitarnya.

Tetapi menurut kepercayaan masyarakat Tengger yang tinggal di daerah Tosari dan Wonokitri, yang termasuk Kabupaten Pasuruan, Jimat Klontong itu diketemukan oleh dua orang pertapa yang bernama Kyai Tunggak dan Kyai Tompo, setelah kedua orang itu bertapa selama 40 hari. Maksud diadakannya Sodoran, bagi masyarakat desa Tosari dan “Wonokitri, adalah untuk memperingati arwah leluhur orang Tengger yang bernama Ajisaka serta pengikutnya. Di kalangan masyarakat Ngadisari, sodoran diadakan untuk memperingati pertandingan dua abdi yang sa­ngat setia yang bernama Satya dan Satuhu. Diceritakan pula bahwa baju Ontokusumo itu oleh Kyai Dadap Putih disimpan di Tosari, sedangkan pengaronnya disimpan di Ngadisari.

Jimat Klontong itu berupa:

  1. Delapan batang Sodor yang tangkainya terbuat dari bambu apus se­besar tangkai sapu, sepanjang 3 m. Warnanya kehitam-hitaman seperti hangus, pada ujung sodor itu diikatkan sabut kelapa pada dua tempat
  2. Pengaron kanteng, yang lebih kecil dari pengaron keramat tempat baju klontong, pada sebelah luar dibubuhkan kapur melingkar. Sedangkan dibagian dalam tertera gambar gambar memakai kapur juga, meling­kari dalam jarak yang sama. Gambar itu berupa.
  3. Empat buah tanduk banteng, berwarna hitam.
  4. Kendi kecil berwarna hitam.
  5. Tabung dari bambu dengan tutup kayu. Garis tengahnya 20 Cm, ting­ginya 20 Cm. Di dalamnya terdapat Oeangg Republik Indonesia (ORI) lama, beberapa helai uang Jepang.
  6. Dua buah kapak batu monolitik.

Dalam pertunjukan Sodoran, benda-benda tersebut mempunyai tugas ma­sing-masing, kecuali tabungan (celengan) dan kendi.

Suasana Sodoran benar-benar merupakan pesta antara penduduk desa di Ngadisari, Jetak, Wonotoro, dan Ngadas. Mereka memang meng­anggap pertemuan Sodoran itu antara dua fihak yang akan besanan. Kedua kepala desa yang mengadakan sodoran seolah-olah besan antara dua belah fihak. Pada tahun 1955 Petinggi Ngadisari yang menjadi tuan rumahnya, sedang petinggi Wonotoro sebagai besannya (tamunya). Petinggi Jetak sebagai pengiring. Pada tahun 1978, Petinggi Jetak sebagai tuan rumah yang mempunyai hajat, sedang petinggi Ngadisari sebagai besannya, sedang petinggi Wonotoro sebagai pengiring.

Pada waktu yang telah ditentukan bersama, biasanya sekitar jam 10.00 pagi, datanglah rombongan petinggi dan pengiring yang akan men­jadi tamu. Petinggi berjalan paling depan diiringi dengan gamelan yang terdiri dari kendang, kenong, slompret dan kendang kecil yang bernama ketipung. Keseluruhan gamelan itu kemudian dikenal dengan nama Ke­tipung.

Sesampainya di tempat petinggi, yang menjadi tuan rumah, segera mempersilahkan tamunya masuk ke pendopo. Di tempat itu telah terse­dia bangku panjang, tempat para peserta sodoran. Peserta dibagi menjadi dua, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai tuan rumah dan tamunya. Di sanapun telah disediakan sajian berupa kue pasung, pipis juadah, je­nang, nasi, pisang ayu. Semua makanan sajian itu ditempatkan di takir kawung, yang di alas dengan ajang malang.

Sebelum sodoran mulai petinggi yang menjadi tuan rumah mem­beritahukan maksud sodoran dan meminta agar para pesertanya mema­tuhi aturan yang ditetapkan. Setelah itu, petinggi menyerahkan kuasa kepada orang yang telah ditunjuknya untuk memimpin sodoran. Pemim­pin itu membaca mekakat, yang merupakan pengantar dimulainya so­doran.

Sang pemimpin sodoran mengucapkan mantra yang maksudnya mengundang para roh halus dengan berbagai perwujudannya untuk meng­hadiri sodoran itu. Sesudah itu mulailah ia meresmikan kedudukannya dengan sebutan yang dijabatnya. Oleh karena pekerjaannya ialah menjadi pemimpin yang memberi aba-aba dalam sodoran, ia disebut Prentah. Pembantu-pembantunya juga disebut menurut jabatannya yaitu: Kerti- jaya, Tunggur, Senapati, Lurah Kebolengan dan Kepetengan. Peserta harus menyebutnya dengan nama jabatan itu, dan dilarang keras menye­but namanya yang sebenarnya.

Setelah persiapan untuk Sodoran selesai, Prentah menyilakan Le­gen dari desa tuan rumah mengawali tarian sebagai pembukaan. Sikap tarian itu ialah, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan diangkat ke atas, hingga jari-jari setinggi telinga kanan, jari telunjuk diluruskan.

Selama tarian itu berlangsung, gending Rancangan mengiringi si penari. Si penari memutar mutarkan jari telunjuknya sambil sebentar- sebentar merendahkan badannya sedikit, dengan menekukkan lututnya sedikit dan lurus kembali. Kemudian kaki diayunkan kedepan sampai tiga langkah. Setiap langkah bertepatan dengan irama gong, berhenti sejenak, menunggu gong berikutnya menapak lagi dan menapak lagi. Apa­bila sudah tiga langkah maju, maka ia kembali menuju ke tempat semula. Langkah waktu kembali itupun harus tiga langkah. Waktu memutar un­tuk berbalik harus ke arah kiri, bukan sebaliknya. Gerakan gerakan itu diulangi ke sana ke mari sampai tiga kali. Pada babak berikutnya, bunyi gamelan Rancagan makin menggebu, kendang semula dipukul dengan tangan, diganti dengan pukulan kayu.

Si penari itu kemudian mengajak seorang Legen tamu untuk menari bersama, keduanya berdiri berhadap-hadapan dalam jarak 6 meter. Ke­tika dua fihak penari mulai menari, irama gamelan berbunyi seperti irama permulaan, gerakannya pun mengulang seperti yang pertama. Ketika irama gamelan mulai menggebu lagi, keduanya mengambil sodor yang sudah di sediakan.

Cara memegang sodor ialah tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan mengepit sodor, dengan bagian ujung yang ada serabutnya di muka. Kalau irama gamelan cepat penarinya melangkah ke depan sampai tiga langkah dan kembali ke tempat semula, tiga langkah juga.

Apabila kedua Legen itu selesai dengan tariannya, maka Prentah berseru: Sarak, kedua Legen itu mengambil tanduk banteng masing-masing seorang. Tanduk itu berisi air, dan tanduk ini setelah penarinya selesai menari, diberikan kepada peserta Sodoran untuk berganti menari Antara So­doran babak pertama dengan babak berikutnya, selalu diselingi dengan semacam teka-teki, antara Prentah dengan Kertijaya, serta Tunggur.

Percakapan itu antara lain berbunyi:

Prentah            :”Kertijaya, dos pundi ajengane Brang ler?”(Bagaimana kehendak kelompok utara, Kertijaya?)

Kertijaya         : “ngGih, sampun sedeng kantos.” (Ya, sudah sedang menunggu.)

Prentah            :”Sabrang kidul?” (Bagaimanakah kelompok selatan.)

Tunggur           : “nggih, sampun sedeng kantos.” (Ya, sudah sedang menanti.)

Prentah            :”reh denten sampun kantos, maesa berik, kang di pundut.” (oleh karena sudah dinanti, yang diminta untuk dijawab “Maesa berik”) Maesa berik artinya kerbau yang berlaga, maka Prentahpun menyerukan “Wayon”, agar gending dipukul dengan Rancagan lagi.

Wayon artinya perintah untuk memukul gamelan lagi. Sesudah adanya aba-aba Prentah itu sodoran mulai lagi. Setiap kali Sodoran itu diakhiri dengan aba-aba Sarak, artinya menyerahkan tanduk, sampai se­luruh peserta Sodoran selesai dengan tanda Sodorannya.

Pasangan tarian biasanya dua orang yang saling berlawanan, ini melambangkan dua utus­an Setya dan Setuhu. Kemudian juga terjadi antara dua pasang, yang jumlahnya 4 orang. Sebagai tari pembukaan, bukan hanya Legen saja, kadang-kadang 5 orang yaitu, Petinggi dengan 4 orang pengiringnya.

Prentah selalu mengucapkan aba-aba: Gayung, setiap babak teka- teki selesai untuk diteruskan dengan teka-teki yang lain. Jawaban teka- teki itu sudah dihafal benar, sehingga jawabannya pasti tepat. Berikut ini beberapa contoh tentang teka-teki serta arti jawabannya:

  1. Maesa berik                          = bentelan, tetel
  2. Raga ebah                            = awak mosik, ikan osik

seperti api yang padam karena air pencuri menjauh tidak berani perbuatan tenungpun sirna.

Kemudian terdengarlah gending Jaten meningkah di udara. Dengan gending’ itu dimaksud sebagai suatu pemberitahuan bahwa para istri yang melakukan sodoran telah datang menjemput dengan membawa ma­kanan. Setelah terdengar gending giro, memberi tahukan bahwa istri-istri itu sudah boleh menemui suaminya. Segeralah timbul suasana akrab, dan makan bersama terjadilah. Setelah istirahat, sodoran dilanjutkan lagi sampai sekitar jam 15.00. Sodoran ini ditutup dengan bacaan mantra oleh Dukun dan mempersilakan para roh-roh halus yang diundang pulang ke asalnya. Sajian-sajian yang ada di atas meja dibagikan kepada yang hadir, dan Petinggi yang menjadi tuan rumah menjamu tamunya dengan makan minum. Jimat Klontongan dimasukkan kembali ketempatnya, siap untuk dipindahkan penyimpanannya ke desa yang akan menjadi tuan rumah. Pengiringnya laki-laki dan perempuan. Apabila jimat Klon tong itu sudah berada di tempat yang baru, disimpan di sanggar penyim­panan dan akan dikeluarkan lagi. pada upacara Karo tahun berikutnya.

Selesai upacara Sodoran di tempat Petinggi diadakan selamatan Tumpeng Gede. Sajian itu terdiri dari:

  1. Sajian Sanggar Ageng
  2. Sajian Tumpeng Ageng
  3. Sajian Sesanding.

Sajian Sanggar Ageng disebut juga dandosan resik, yang disediakan pe­tinggi di rumahnya sendiri. Sajian ini ditujukan untuk arwah leluhur agar desa dan penduduknya tidak diganggu. Di samping itu juga disampaikan untuk Hong Pokulun serta Aji Saka.

Tumpeng Ageng, yaitu sajian yang dikumpulkan dari penduduk yang dikumpulkan di rumah Petinggi. Suatu sajian yang lengkap ini ter­diri dari: Nasi tumpeng berbentuk kerucut, ayam panggang, pisang setangkap (dua sisir) kuwe pipis (nagasari dari gandum), juadah, kuwe pasung, agem yaitu bunga senikir yang disisipkan pada daun pisang, kelapa jejangan, sirih (dahu sepikul), pinang. Tumpeng Ageng ini dibagi- bagikan kepada yang hadir dalam Sodoran.

Sajian Sesanding, dibuat oleh masing-masing penduduk, dimaksud­kan untuk keperluan seluruh keluarga. Sajian ini biasanya diatur di atas balai-balai bambu, dengan dialasi tikar dan daun pisang yang lebar. Sajian itu terdiri dari: tumpeng kecil yang berjumlah 11 atau 22, 33, 44 asal habis dibagi dengan 11. Cara menghidangkannya disejajarkan kesamping. Nasi dengan lauk pauk, bermacam-macam kue, pisang ayu, sirih.

Di belakang jajaran tumpeng itu di tempat yang tinggi ditempatkan sebuah Agem. Agem yaitu bunga senikir yang disisipkan pada sehelai daun pisang. Agem ini dipegang pada waktu mengadakan upacara me­nyembah leluhurnya. Agen ini dijepit di antara jari-jari, dan digerak- gerakkan tiga kali, seperti dalam sikap menyembah. Sesanding itu disiap­kan oleh masing-masing rumah tangga. Upacara Karo yang berlangsung hingga 7 hari itu diakhiri dengan Ngeraon sebagai tanda syukur kepada Hong Pokulun, serta penghormatan kepada roh leluhur di Sanggar Punden.

Upacara Karo bagi masyarakat Tengger kiranya dapat dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri bagi orang-orang Islam. Upacara Karo menu­rut keterangan Dukun Ngadisari untuk mengingatkan kisah dua orang abdi yang setia dari Aji Saka dan Nabi Muhammad.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 65-84

“Entas-entas”, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Upacara  setelah keseribu-harinya kematian. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya.

Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya.

Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 96-99