To’-oto’

To’-oto’ Sebagai Tindakan Sosial-ekonomi, tujuan dilakukannya kegiatan arisan dalam strata sosial apapun di Indonesia ini memiliki dua tujuan mendasar, yakni mengakrabkan sesama anggotanya dan adanya motif ekonomi. Hanya saja motif mana dari kedua motif tersebut yang lebih dominan pada tiap-tiap kelompok arisan akan berbeda. Demikian pula dengan to’oto’ sebagai kelompok arisan orang Madura di Surabaya. Sesuai dengan keberadaan mereka sebaqai kaum pendatang dengan tingkat sosial-ekonomi yanq rata-rata termasuk golongan menengah ke bawah, motivasi didirikannya suatu kelompok to’-oto’ pasti pada mulanya didasari oleh unsur kekerabatan/kesukuan pada saat ini lebih didominasi motif-motif ekonomi.
Pada awal perkembangannya to’-oto’ (yang secara harafiah artinya: kacang, yakni makanan ringan yanq selalu disuguhkan setiap kali diadakan pertemuan kelompok orang-orang Madura) adalah perkumpulan kedaerahan orang-orang dari Sampang dan Banqkalan yang berada di perantauan yang bertujuan untuk menguatkan ikatan kekerabatan dan ikatan persaudaraan antar sesama daerah asal. Perkumpulan kedaerahan ini adalah fenomena yang umum didapati pada kaum perantauan dari dan di daerah manapun untuk saling bertukar pengalaman dan berbagai alasan primordial lainnya seperti untuk mempererat kekerabatan dan keakraban sesama perantau dari daerah asal yang sama. Demikianpun dengan to’-oto’ pada saat mulai berdirinya, seperti yanq dikemukakan oleh salah seorang informan (yang kebetulan adalah seoranq ketua kelompok to’- oto’) bahwa ketika pertama kali mendirikan to’-oto’ niatnya adalah mengumpulkan saudara dan sanak famili yang masih satu daerah yang tersebar di wi1ayah Surabaya agar ikatan kekerabatan mereka tidak hilang serta untuk membatasi budaya lain masuk.
Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut selain dilakukannya saling tukar pikiran mengenai berbagai hal, saling berbagi perasaan sebagai sesama kaum pendatang di kota serta saling bersilaturahmi, kemudian muncul usulan dari yang hadir untuk saling membantu antar sesama yang hadir dalam masalah ekonomi. Usulan disetujui oleh yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk selanjutnva dikoordinasikan oleh penyelenggara pertemuan. Semula sumbangan dari masing-masing yang hadir bersifat sukarela sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk kemudian disimpan oleh koordinator perkumpulan atau orang yang ditunjuk sebagai pemegang uang untuk mencatatnya dalam sebuah buku untuk kemudian diberikan dan atau dipinjamkan kepada angaota kelompok yang paling membutuhkan. Sesudah berjalan cukup lama akhirnya muncul ide agar kegiatan saling membantu ini dilembagakan dalam suatu kegiatan semacam arisan; yakni dengan menentukan batas minimum uang yang disumbangkan sedangkan akumulasi uang sumbangan yang terkumpul diberikan kepada setiap anggota kelompok secara bergiliran berdasarkan prioritas kebutuhan, yakni apabila ada warga yang membutuhkan uang atau untuk kepentingan yang mendesak maka ia dapat giliran memperoleh uang terlebih dahulu.

Waktu pertemuannya pun kemudian disepakati secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Demikianlah dari suatu kegiatan sosial yang bersifat informal kemudian berkembang sebagai kegiatan ‘formal’ dalam arti memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama.Dalam perkembangan selanjutnya ketika manfaat ekonomis dari arisan to’-oto’ ini semakin dirasakan para anggota dan semakin populer di kalangan para pendatang, mulailah bermunculan kelompok-kelompok to’-oto’ baru yanq sengaja didirikan oleh orang-perorang maupun oleh kelompok kekerabatan tertentu. Dalam konteks ini sifat keangqotaannyapun mengalami perubahan, dari yang semula orang-orang yang masih sekerabat dekat atau sekelompok setane’an menjadi tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut Masing-masing orang bisa menentukan sendiri ke kelompok mana ia akan bergabung. Pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi kecenderungan seseorang, memasuki kelompok to’-oto’ tertentu biasanya adalah figur ketua kelompok to’-oto’ tersebut serta ‘kredibilitas’ kelancaran kelompok tersebut. Seorang informal mengatakan:
“… kalau mau ikut to’-oto’ lihat ketuanya dulu. Kalau ketuanya berwibawa, jujur dan bisa mengatur anggotanya maka to’-oto’nya akan maju. Kalau ketuanya sembarangan saja to’oto’nya cepat bubar…”.
Jadi dalam menentukan kelompok mana yang akan dimasuki seorang calon anggota diandaikan telah memiliki rasionalitas tertentu, baik oleh rasionalitas nilai maupun rasionalitas formal-instrumental.

Sebagai suatu bentuk Wolompok arisan, berbeda dengan arisan pada umumnva, to’-oto’ mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut.:
(1) Kalau pada umumnya arisan-arisan di pulau jawa lebih banyak dikerjakan oleh wanita yang memegang keuangan keluarga, namun pada kelompok to’oto’ beranggotakan para pria yang notabene adalah kepala keluarga.
(2) Kalau pada arisan umumnya diperlukan waktu hanya beberapa jam dari Jam pelaksanaannya, maka pada to’-oto’ dibutuhkan waktu hingga dua hari.
(3) Dalam hal hidangan makanan dan hiburan, biasanya pada arisan dihidangkan sewaiarnva, tetapi pada kegiatan to’-oto’ dihidangkan dalam berbagai macam makanan dan diundangnya grup-grup kesenian tertentu seperti sandur. Hal ini tergantung dari jenis to’-oto’ yang dilaksanakan. Dalam hal ini dibedakan ada 3 (tiga) jenis to’- oto’ yakni: to’-oto’ lit-dulit yang paling sederhana karena tanpa hiburan dan dengan hidangan yang secukupnya sehingaa membutuhkan biaya yang lebih sedikit. Selanjutnva to’-oto’ piringan yang menggunakan hiburan seperti tape recorder, orkes maupun karaoke dan dengan bermacam suguhan yang diletakkan di atas piring dengan demikian membutuhkan biaya yang relatif lebih banyak. Sedangkan biaya yang lebih banyak lagi akan dikeluarkan apabila jenis to’-oto’ yang diselenggarakan adalah to’-oto’ sandur karena mengundang grup kesenian khas Madura sandur (seni tayub atau tandhak yang khas Madura. Selain itu dalam to’-oto’ jenis ini juga menghidangkan makanan yang lebih beragam dan dengan prosesi kegiatan yanq lebih rumit dan formal yang ditandai dengan dikenakannya pakaian adat Madura oleh ketua, para pengurusnya dan pengurus kelompok lain yang diundang.
(4) Dalam arisan umumnya jumlah iuran anqqota sudah ditentukan nilai nominalnva dan dibayarkan secara rutin sebesar nilai nominal tersebut, sedangkan dalam to’-oto’ meskipun besarnya uang nominal iuran sudah ditentukan tetapi kenyataan yanq ada lebih mirip buwuhan, yakni seorang anggota memberikan uanq di atas nominal uanq vanq diberikan oleh penyolenggara to’-oto’ (tuan rumah) dibanding ketika yang bersangkutan datang ke rumahnya saat dirinya menjadi ‘tuan-rumah’ to’-oto’ pada peri ode yang telah lalu. Kelebihan uang dari jumlah simpanan pokok disebut tumpangan yang bisa dipahami sebagai semacam pinjaman lunak antar anggota yang wajib di kembalikan pada waktunya nanti.
(5) Anggota kelompok tertentu bisa berpartisipasi pada kegiatan to’-oto’ yanq diadakan anggota kelompok yang lain, atas selain ketua kelompok dimana ia tergabung secara resmi. Hal ini sering disebut dengan istilah tumpangan antar kelompok. Sehingga ketika ia sendiri menyelenggarakan to’-oto’, orang yang memperoleh tumpangan tadi pada saatnya nanti akan bertandang ke rumahnya untuk membalas tumpangannya tadi, sehingga dengan demikian ia berharap akan momperoleh ‘hasil’ yang lebih banyak lagi yang tidak semata-mata dari kelompoknya.

Besarnya uang yang diterima oleh seorang penvelenggara to’-oto’ berbeda-beda tergantung dari besarnya uang angsuran dan jumlah anggota kelompok serta sering-tidaknya ia mengikuti to’-oto’ kelompok lain. Besarnya iuran pada masing-masing kelompok berbeda berdasarkan kemampuan ekonomi rata-rata anggota kelompok tersebut yang sebelumnya disepakati bersama oleh ketua dan anggotanya. Dalam satu periode putaran (yakni sesuai dengan jumlah anggota) jumlah iuran tetap sedangkan besarnya tumpangan bebas dengan nilai minimal sebesar pokok angsuran. Dalam putaran periode berikutnya besarnya iuran pokok bisa ditingkatkan jumlahnya setelah melalui musyawarah anggota. Jumlah anggota kelompok juga bervariasi tergantung sudah lama atau belum kelompok tersebut berdiri serta sejauh mana kredibilitas ketua dan kelompok tersebut di kalangan orang-orang Madura di Surabaya. Jumlah anqgota masing-masing kelompok to’-oto’ berkisar antara 20 orang sampai 70 orang. Kelompok yanq anggotanya sedikit (kurang dari 20 orang) biasanva adalali kelompok yanq relatif belum lama berdirinva sedangkan kelompok yang beranggotakan lebih dari 50 anggota biasanya adalah kelompok yang sudah lama bertahan, beberapa di antaranya ada yang sudah berusia 30 tahun.

Semakin banyak jumlah anggota dalam suatu kelompok serta anggota kelompok lain yang ikut ‘nimbrung’ dalam kelompok tersebut semakin banyak jumlah uang yanq diperoleh anggota yang mengadakan atau mendapat giliran melaksanakan kegiatan to’-oto’. Berdasarkan informasi seorang pedagang mebel antik Madura diketahui bahwa besarnya perolehan uang bervariasi mulai dari yang jumlahnya hanya ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah, informasi terakhir dari informan tersebut. disebutkan bahwa kerabatnya pernah memperoleh uang sekitar 60 juta rupiah dalam satu kali pelaksanaan to’-oto’. Uang yang diperoleh tersebut, setelah dikurangi biaya administrasi untuk sekretaris dan bendahara (ketua tidak menerima upah) serta untuk biaya operasional seperti menyewa kursi, sound sistem dan lainnya, akan digunakan untuk berbagai keperluan yang dianggap penting seperti menambah modal usaha dalam berdagang, membangun atau memperbaiki rumah serta berbagai keperluan lain yang dianggap mendesak. Dalam beberapa kasus (meskipun jarang) perolehan uang tersebut juga digunakan sebagai ongkos naik haji. Hal yang terakhir ini bisa dipahami sebab memang bagi orang-orang Madura naik haji adalah obsesi umum orang Madura. Bergelar haji berarti memiliki gengsi sosial yang tinggi, yang sekaligus mencerminkan keberhasilan seseorang secara ekonomi, mengingat untuk bisa naik haji dibutuhkan uang yang tidak sedikit.
Berdasarkan informasi dari para anggota dan pengurus to’-oto’, jumlah kelompok yang terdapat di Surabaya saat ini diperkirakan sekitar 77 kelompok to’-oto’ yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terutama di wilayah Surabaya Utara yang merupakan kantong-kantong pemukiman kaum pendatang dari Madura. Meskipun demikian karena terdapat anggota kelompok-kelompok tersebut berdomisili serara tersebar di barbagai wilayah Surabaya, maka pelaksanaan kegiatan to’-oto’ juga tersebar di berbagai wilayah tersebut sesuai dengan alamat. anggota yang mendapat giliran.
Berdasarkan observasi diketahui bahwa pada saat ini kegiatan to’-oto’ ini sudah menyebar ke berbagai kota di Jawa Timur seperti Malang dan Madiun, juga didapati di Jogjakarta, di Jakarta bahkan di kota Banjarmasin atau kota-kota lain yang terdapat cukup banyak migran yang borasal dari Sampang dan Bangkalan. Bahkan di Sampang dan Bangkalan pun kegiatan to’-oto’ ini dicoba diintrodusir oleh sebagian warganya, tetapi berdasarkan kesaksian beberapa informan, kegiatan di tempat asal kaum migran ini justru tidak jalan atau tidak lancar sebagaimana halnya kegiatan to’oto’ di daerah rantau.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Edy Herry Pryhantor: Kegiatan To’-Oto’ Di Kalangan Etnik Madura Surabaya; Studi Tentang Mekanisme Survival Etnik Pendatang di Kota Berkebudayaan Majemuk, Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. hlm. 17 – 25

Kesenian Glipang, Kabupaten Probolinggo

Kesenian Glipang berkembang dan dikenal di wilayah Kabupaten Probolinggo serta juga didaerah sekitarnya, diantaranya Kabupaten Lumajang, Kabupa­ten Jember, serta Kotamadya Probolinggo oleh karena kesenian Glipang ini meru pakan kesenian tradisional yang sangat digemari oleh rakyat di daerah Kabupa­ten Probolinggo dan daerah sekitarnya seperti Jember, Lumajang dan Pasuruan, maka jenis kesenian ini sangat populer di daerah-daerah tersebut dikalangan rakyat khususnya dikalangan anak-anak rnuda.

Sebagaimana jenis kesenian tradisional lainnya yang terdapat di pro­pinsi Jawa Timur yang mnsing-masing memiliki ciri-ciri khusus sehingga antara yang satu dapat dibedakan dengan yang lainnya, maka jenis kesenian Glipang ini dalam penampilannya mempunyai ciri tersendiri yang akan diuraikan dalam penjelasan selanjutnya dan juga mempunyai unsur pesona khusus, sehingga ditengah-tengah derasnya arus pengaruh kebudayaan asing yang kado.ngkala memukau masyarakat kita, kesenian Glipang di Jawa Timur ini masih bertahan hidup dengan ketegaran yang lcokoh bahkan menunjukkan gejala semakin meluasnya perkembangan seni Glipang khususnya Tari dan Musik Glipang setelah memperoleh penanganan Kantor Wilayah Dopartemen Pendidikan dan Kebudayaan Fropinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah setempat.

Pengertian tentang Kesenian Glipang

Kesenian Glipang ialah suatu jenis kesenian pertunjukan, yang membawakan lakon-lakon tertentu (pertunjukan berlakon) yang biasanya dipergelarkan atau diselenggorakan semalam suntuk ; thema lakon atau ceritera berkisar atau bernafaskan ceritera-ceritera agama Islam antara lain tentang kejayaan Islam, ceritera tentang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Istilah Glipang belum dapat dipastikan tentang asal usulnya demikian juga tentang arti kata glipang yang tepat ; namun menurut penjelasan dari bebere.pa sumber yang banyak menangani kesenian glipang ini, istilah gli­pang berasal dari istilah atau kata bahasa Arab “goliban”, yang mengandung makna tentang suatu kebiasaan kegiatan yang selalu dilakukan oleh parasanteri dipondoknya dalam kehidupannya sehari-hari.

Manfaat kesanian glipang

Dalam kehidupan sehari-hari nasyarakat Probolinggo, kesenian glipang sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini tetap semarak sebagai suatu jenis kesenian yang digemari rakyat. Kesenian glipang sering ditampilkan pada acara-acara rescpsi bersih desa, panen raya, hajatan keluarga dan sebagainya. Jelaslah bahwa kesenian glipang dapat dinanfaatkan sebagai suatu sosio drama, untuk menyanpaikan pesan-pesan pembangunan yang nenjadi program pemerintah, untuk menciptakan suasana persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat dan secara khusus melestarikan warisan seni budaya yang memiliki nilai-nilai luhur*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm. 1-2 Dan 5

Petik Laut, Kota Pasuruan

Lebih Berwarna

Petik Laut0002Upacara tradisi Petik Laut tahun ini yang diselenggarakan masyarakat pesisir Kota Pasuruan, ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan Petik Laut kali ini selain melakukan konvoi perahu seperti biasanya ke tengah laut, juga didahului dengan pawai budaya.

Selain itu, juga dihadirkan berbagai atraksi seni dan budaya, seperti tari- tarian, pencak silat serta pertunjukan seni lainnya, hal ini menambah semaraknya kegiatan upacara tradisi tersebut. Respon yang ditunjukkan warga sekitar untuk menyaksikan rangkaian acara Petik Laut juga cukup tinggi.

Petik Laut0001Namun kegiatan ini masih terkesan dilaksanakan seadanya, ke depannya perlu dikemas agar lebih menarik dan dapat dijadikan sebagai salah satu paket wisata budaya. Sehingga lebih memikat para pengunjung wisata di Kota Pasuruan.Acara ini dihadiri langsung walikota, wakil walikota dan juga jajaran Muspida Kota Pasuruan. Tidak ketinggalan beberapa pejabat di lingkungan Pemkot Pasuruan juga turut menghadirinya.

Kegiatan Upacara tradisi Petik Laut merupakan salah satu atraksi budaya yang biasa diselenggarakan masyarakat pesisir. Dalam sejarahnya, diselenggarakannya Petik Laut ini adalah sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya hasil laut yang diperoleh para nelayan. *****

MAJALAH BANGKIT EDISI I, Tahun V, Januari- Maret, 2013

Lomba kerapan sapi di kota Pasuruan

Lomba kerapan sapi di kota Pasuruan, hibur ratusan warga 

Kerapan Sapi Pasuruan0001 - CopyLapangan bekas tambak di Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan Panggungrejo, Sabtu (9/3) terlihat lebih ramai dari biasanya. Sesek bambu dipasang mengelilingi hampir sebagian besar luas bekas tambak. Sementara itu, banyak orang baik tua muda, laki-laki dan perempuan yang datang menyemut dan kemudian berdiri di luar sesek bambu. 

Kerapan Sapi Pasuruan0002Kerapan Sapi Pasuruan0001Sesek bambu tersebut dijadikan batasan lintasan untuk perlombaan karapan sapi dalam rangka memeriahkan HUT Kota Pasuruan ke 327. Teriknya sinar matahari tidak menyurutkan langkah warga Kecamatan Panggungrejo dan sekitarnya untuk menyaksikan lomba karapan sapi yang baru tahun ini digelar sejak HUT Kota Pasuruan diperingati. 

Kerapan Sapi Pasuruan0003Siang itu, ada 24 pasang sapi yang akan mengikuti lomba memperebutkan Piala Walikota. Sapi-sapi seperti Ronggolawe, Kencono Wungu, Carlos, Arepas dan lainnya yang selama ini biasa mengikuti pacuan sudah siap berlari melintasi lintasan sepanjang kurang lebih 100 meter. 

Sebelum sapi-sapi tersebut berlomba oleh para pemiliknya diberi perlakuan, seperti dimandikan, diberikan jejamuan ataupun perlakuan lain yang merangsang sang sapi dapat berlari sekencang- kencangnya. 

Kerapan Sapi Pasuruan0004Walikota H. Hasani dalam sambutannya mengatakan, lomba karapan sapi ini digelar adalah sebagai bagian untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Karena itu, walikota mengharapkan agar para pengunjung dapat menjaga ketertiban dan keamanan selama lomba dilangsungkan. Walikota juga beijanji untuk menggelar acara serupa di kemudian hari. 

Kerapan Sapi Pasuruan0005Digelarnya lomba karapan sapi ini selain memberikan hiburan bagi masyarakat, juga memberikan keuntungan finansial untuk masyarakat sekitar. Warga memanfaatkan untuk menjual berbagai barang dagangan seperti makanan dan  minuman ringan. 

Perlombaan yang digelar selama dua hari, yakni 9 dan 10 Maret 2013 ini akhirnya dimenangkan sapi Kencono Wungu. Selain mendapatkan piala walikota, pemenang lomba karapan sapi ini membawa pulang sebuah sepeda motor. Selain itu, beberapa hadiah lainnya juga diperebutkan dalam lomba kali ini. **

MAJALAH BANGKIT EDISI I , Tahun V, Januari – Maret  2013, hlm 19-21

hari jadi Kota Pasuruan ke 327

Prosesi hari jadi Kota Pasuruan ke 327, diramaikan pawai budaya

prosesi pasuruan0001Prosesi harin jadi yang ditandai kirab pataka oleh para prajurit wironini Menjadi pertanda lahirnya kota Pasuruan. Rangkaian upacara prosesi hari jadi ini diawali dengan kirab pataka oleh para prajurit wironini yang diawali dari depan Kantor Walikota di Jalan Pahlawan menuju ke GOR Untung Suropati yang selama ini selalu dijadikan sebagai pusat kegiatan prosesi.

prosesi pasuruan0002Pataka yang diletakkan di dalam tabung kayu itu dibawa oleh salah seorang prajurit wironini, yang secara simbolik menggambarkan seorang prajurit mataraman yang membawa surat mandat dari Sultan Jawa kepada Untung Suropati. Prajurit yang membawa pataka ini duduk dengan gagah di atas kereta kudaprosesi pasuruan0006 dan diikuti beberapa pengawal yang membawa prototype senjata tombak dan tameng.

Kirab pataka ini juga melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti pelaku seni dan budaya, siswa sekolah, para pendekar silat yang menampilkan berbagai atraksi budaya, seperti tari terbang bandung, reog dan barongsai.

prosesi pasuruan0003Pawai budaya dan kirab pataka ini sayangnya masih belum terlalu antusias disambut oleh masyarakat. Padahal bila dilihat lebih dalam, kegiatan ini mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah paket wisata festival yang mampu menarik pengunjung untuk menikmatinya.

Untuk itu perlu dikembangkan menjadi lebih menarik dengan memasukkan unsur entertain di dalamnya. Mendekati GOR Untung Suropati, prajurit wironini pembawa pataka yang sebelumnya diiringi pawai budaya, digantikan oleh rombongan walikota, wakil walikota dan jajaran pejabat di lingkungan Pemkot Pasuruan yang mengenakan baju khas Pasuruan.

Sementara itu, pataka yang sebelumnya dibawa oleh seorang prajurit yang naik di atas kereta kuda diserahkan kepada seorang putri yang diiringi dengan dua orang dayangnya menuju ke tempat prosesi.Rangkaian kegiatan prosesi ini diakhiri dengan pembacaan pataka oleh Ketua DPRD Kota Pasuruan. ****

MAJALAH BANGKIT EDISI I Tahun V, Januari- maret 2013, hlm. 16-18

Upacara Ruwat, Kabupaten Bondowoso

PERKATAAN ruwat (Jawa) atau arokat (Madura) berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuno yaitu rwad yang kemudian berubah bentuk menjadi rod atau root (Inggris) yang berarti akar (urat, oyot, atau ora’ dalam bahasa Madura). Dari kata rwad itulah dalam bahasa Jawa baru menjadi ruwat (luwar). Diruwat berarti dibebaskan dari dosa karena termakan sumpah atau janji. Ngluwari ujar berarti melaksanakan janji, nazar, sumpah, atau melaksanakan wasiat si mayat, sehingga yang ngluwari ujar itu terlepas dari rasa berdosa.

Perkataan root yang berarti akar itu kemudian disingkat dengan huruf kapital R dan menjadi lambang panjang separuh dari garis tengah suatu lingkaran. Dengan demikian muncullah rumus luas lingkaran yaitu 2 PI x R2. Adapun PI adalah panjang busur lingkaran dibagi panjang garis tengah (=3,14159), seberapa pun besarnya lingkaran. Angka itu tetap saja menjadi keliling lingkaran yaitu PI x 2 R (R adalah jari-jari lingkaran).

Budaya ruwat atau arokat adalah upacara selamatan bagi anak-anak yang dilahirkan dalam susunan keluarga yaitu:

  1. Anak tunggal
  2. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan)
  3. Tiga orang (perempuan diapit lelaki atau lelaki diapit perempuan)
  4. Lima orang (laki-laki semuanya menyerupai Pandawa)

Di tanah Jawa masih banyak lagi yang harus diruwat, antara lain orang yang periuknya roboh saat menanak nasi, orang yang me- nanam waluh (labu) di muka rumah, anak yang selalu sakit-sakitan, anak yang sangat nakal, dan sebagainya.

Upacara ruwat diadakan supaya si anak terlepas dari bahaya. Menurut kepercayaan Jawa, bahaya itu berupa sergapan Batara Kala yang oleh para dewa sudah ditentukan mangsanya. Upacara itu di Jawa dilakukan dengan pertunjukan wayang purwa, sedangkan upacaranya lazim disebut “Hamurwakala”, artinya mengembalikan anak pada asal mulanya, bukan dibunuh melainkan diserahkan kepa­da Zat yang menciptakan kala (waktu). Bukankah menurut keper­cayaan Jawa, waktu dipandang sebagai kekuatan Maha Agung yang menentukan kemalangan, musibah, dan bahagia bagi manusia?

Sedangkan wayang purwa berarti wayang yang sangat awal. Ini adalah gambaran kepercayaan asli masyarakat Jawa zaman dahulu ketika masih memuja Waktu atau Kala.

Lakon cerita wayang pada upacara ruwat sebenarnya adalah lakon Batara Kala. Siapakah Kala itu? Kala adalah putra Batara Surya (Dewa Matahari). Bukankah matahari itu menjadi titik pangkal perhitungan hari atau waktu (kala)? Itulah sebabnya Dewa Kala (Batara Kala) atau Waktu dinamakan “Putra Batara Surya”. Artinya, “waktu” atau “kala” dihasilkan oleh lamanya planet-planet (bumi dan lain- lain) atau satelit (bulan) menjelajahi angkasa mengitari matahari seba­gai induknya. Itulah sebabnya Batara Kala disebut juga Surya Atmaja (Putra Batara Surya).

Masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal perhitungan “hari yang tujuh”, yaitu nama-nama hari: Dite, Soma, Nggara, Buda,

Respati, Sukra, dan Tumpak (Sabtu). Nama-nama itu diambil dari nama-nama planet yang berjumlah tujuh (pada waktu itu). Sekarang telah ditemukan dua planet lagi men)adi sembilan. Menilik hal itu, dahulu masyarakat Jawa menggunakan tahun syamsiah (lamanya bumi mengitari matahari dalam setahun). Kemudian dengan kedatangan Islam, maka diperkenalkanlah tahun qomariah (lamanya bulan mengi­tari bumi dalam setahun). Gabungan antara tahun Saka (lama) dan tahun Qomariah (Islam) itulah yang membentuk perhitungan bulan Jawa sekarang.

Upacara ruwat (arokat) dimaksudkan untuk menyerahkan kembali nasib anak yang diruwat kepada Zat Asal yang menciptakan kehidupan ini, supaya si anak terlepas dari bencana siksa-Nya. Ini sama dengan tobat nasuha dalam ajaran Islam, suatu tobat yang tak akan mengulangi kesalahan lama dan menutupi kesalahan-kesalahan serta dosa dengan kebaikan. Secara simbolis orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri, bagaimana anak itu kedka berada dalam kan- dungan sang ibu dan apa yang dilakukan orang tua selama anak berada dalam kandungan. Ruwat pada hakikatnya adalah belajar introspeksi dan retrospeksi

Upacara ruwat di Bondowoso diwujudkan dalam modifikasi budaya Jawa dengan wayang purwa. Bukan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebenarnya melainkan dengan fragmen “adegan wayang orang” (wayang topeng) dengan lakon Batara Kala. Ini dilaku­kan karena ontowacana dengan bahasa Jawa, apalagi Jawa Kawi tak mungkin dapat dilakukan.

Dalam pertunjukan wayang topeng itulah dalang berperan menghidupkan cerita. Dalang mampu mengalihkan jalan cerita ke bahasa Madura. Di sana-sini ada selingan humor supaya pertunjuk­an menjadi menarik. Dialog-dialog yang diucapkan dalang, diperan- kan oleh pelaku wayang, hampir-hampir menyerupai pantomim dengan mengikuti suara dalang.

Sebelum pertunjukan dimulai, dalang membacakan mantra atau doa memohon keselamatan. Mantra dibacakan di atas kepulan asap dupa (kemenyan) di tengah malam. Sedangkan anak yang di-rokat dimandikan dengan air bunga. Maksudnya agar segar, bersih, dan beraroma harum. Ini adalah simbol budaya membersihkan anak dari segala ancaman dan sergapan Batara Kala.

Pertunjukan itu dilakukan sampai larut malam seperti halnya wayang purwa. Tidak lupa sahibul hajat menyediakan “sesaji” makanan kenduri nasi serta lauk pauk berupa panggang ayam putih mulus yang dipersembahkan kepada leluhur yang telah wafat. Lalu dibacakanlah doa, nasi kenduri pun mulai dimakan. Setelah usai, dalang beserta para pelaku wayang menerima imbalan uang jasa dan transportasi (bagi dalang dan niyaga-nya). Ada kalanya mereka diberi seperangkat alat dapur.

Di Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, ada sebuah buku doa Pangrukat yang berasal dari Kiai Abdul Latief, saudara dari Kiai Syamsul Arifin (alm.). Doa itu dibacakan pada upacara selamatan pekarangan, tegalan, tanaman, kendaraan, perahu atau motor.

Di samping itu ada doa rokat dengan menyembelih kambing hitam. Gunanya untuk menolak serangan wabah penyakit. Kambing disembelih di tengah desa atau di tengah pekarangan. Yang menyem­belih harus menghadap ke kiblat, setelah kambing disembelih maka dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Kikil (kekot) dan tulang- tulangnya tidak dimakan namun ditanam di tempat penyembelihan kambing tersebut (Kitab ]aami’ud da’awaat).

Dari budaya ruwat ini tersimpan filosofi bahwa:

a. Masalah takdir harus diyakini adanya. Manusia tidak perlu lari pada hal-hal yang musyrik, menyembah waktu seperti pada zaman dahulu: matahari dan bulan disembah. Nabi Ibrahim telah menolak keyakinan bahwa Tuhan itu berupa matahari atau bulan (QS 16: 74-83).

  1. Letak susunan anak dalam keluarga memang secara psikologis ada pengaruhnya. Anak tunggal biasanya dimanjakan. Begitu pula anak bungsu atau anak tunggal yang diapit dua-tiga anak yang berlainan jenis kelaminnya. Anak-anak yang lelaki semua akan sulit dibina. Biasanya mereka saling berebut kekuasaan. Begitu juga jika semua anak adalah perempuan. Pada umumnya anak kedua suka meninggalkan rumah karena tekanan anak sulung. Kalau orang tua tidak adil dan pilih kasih dalam memberikan layanan pendidikan, maka bencana perkelahian, pertentangan, atau tekanan batin akan muncul. Hal itu akan menyulitkan orang tua untuk mengantarkan anak menuju masa kedewasaannya.

Dengan menghargai waktu untuk mengisi kehidupan maka kebahagiaan hidup akan tercapai. Islam sangat menghargai waktu. Disiplin salat mengarah pada disiplin pribadi dan berguna bagi pembentukan watak pribadi kelak. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah: Apabila telah usai salat Jumu’ah, bertebaranlah kau di muka bumi mencari rejeki karunia lllahi (QS 62: 10).

 

Upacara Khitanan, Kabupaten Bondowoso

Pelaksanaan Upacara Sunat di Bondowoso, seperti juga upacara molangare, upacara khitanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat Nabi (diba’ atau barjanji). Anak yang disunat dituntun untuk berjabatan tangan dengan para undangan (kedka hadirin berdiri). Ini dimaksudkan sebagai upacara menyambut kehadiran muslim baru yang mulai mualaf (dipandang sudah mampu dibebani syariat salat). Menilik hal itu nyatalah bahwa budaya khitanan dijadikan upaya “pengislaman” bagi anak yang telah Kebudayaan Islam di Bondowoso dikhitan.

Upacara khitanan itu berbeda-beda pelaksanaannya di beberapa tempat. Di Caruban, Madiun, masih ada upacara “arak sunatan”. Anak yang disunat itu mengendarai kuda, berpakaian “mempelai”, bertopi “pacul gowang (bagian belakang topi itu terbuka), diarak sepanjang jalan, serta dimeriahkan dengan hadrah dan burdah, serta dilagukan syair kasidah barzanji.

Di Bondowoso ada juga yang dimeriahkan dengan acara khataman Alquran pada malam sebelum anak dikhitan. Alquran dibaca bergandan seperti pada kegiatan khatmil Quran. Tetapi ada yang hanya membaca dga belas surat pendek pada jus amma (Surat 102- 114) oleh anak yang baru sembuh dari sunat. Artinya, upacara sunat­an itu dilakukan setelah beberapa hari seorang anak disunat. Hal ini dimaksudkan untuk mendidik anak menjadi muslim dengan kemampuan membaca Alquran dan salat.

Kini budaya sunat bukan lagi menjadi monopoli umat Islam, melainkan telah mendunia, dimiliki oleh siapa saja yang merindukan kesehatan dan kebahagiaan. Yang disunat bukan lagi hanya anak- anak muslim, namun juga kaum non-muslim. Bukan saja saat masih kanak-kanak, bahkan ada yang sudah setengah baya minta disunat (dengan pergi ke dokter). Ini merupakan sumbangan umat Islam kepada umat manusia. Semakin nyata bahwa agama Islam adalah agama Allah (QS 3: 19) yang diserukan kepada umat manusia [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm.

Upacara Tingkeban di Kabupaten Bondowoso

Upacara tingkeban adalah selamatan memperingati kehamilan pertama seorang istri ketika kandungannya genap berumur tujuh bulan. Di Kabupaten Bondowoso sama dengan daerah lain di tanah Jawa upacara itu disebut tingkeban dan di Madura disebut melet kandung. Maksud keduanya sama. Istilah “tingkeb” artinya “menutup”, sama artinya dengan kata melet (Madura). Maksudnya adalah peringatan untuk “menutup kandungan”. Ini merupakan isyarat bagi suami agar sebaiknya tidak lagi melakukan hubungan badan dengan istrinya karena berbahaya bagi kandungan­nya.

Menurut adat istiadat di pelosok desa di Jawa, tingkeban dilakukan dengan “mandi bunga” bagi kedua mempelai. Suami-istri itu dimandikan oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak, serta oleh para ibu sesepuh dari kedua keluarga itu. Upacara kemudian dilanjutkan dengan membelah nyiur gading sebanyak dua buah. Nyiur gading itu dilukisi gambar wayang. Yang satu dilukis gambar satria (Arjuna atau Raden Kamajaya, yaitu Dewa Linuwih yang bagus parasya), nyiru lainnya dilukisi putri cantik (Srikandi, istri Arjuna atau Dewi Ratih, seorang bidadari kayangan yang menjadi istri Raden Kamajaya).

Upacara itu diakhiri dengan penjualan rujak manis kepada ibu para tamu. Uang hasil penjualan rujak itu dimaksudkan sebagai sumbangan dari para undangan atau tamu kepada tuan rumah atau shahibul hajat. Di tanah Jawa ada kepercayaan bahwa jika sang suami membelah nyiur gading itu tidak tepat separuh, maka itu pertanda bahwa kelak bayi yang dilahirkan adalah laki-laki. Namun jika tepat separuh, maka anaknya yang bakal lahir adalah perempuan.

Lukisan wayang pada kulit nyiur melambangkan ide atau cita- cita suci dari kedua orang tua si bayi. Katakanlah sebagai “doa yang tak terucapkan” tetapi diungkapkan dengan lukisan. Kira-kira saja maksudnya, apabila anaknya lelaki semoga meniru Raden Kamajaya yang bagus parasnya atau seperti Arjuna yang tampan dan ksatria. Jika perempuan, semoga parasnya ayu serta patriotik seperti Srikandi, atau secantik seperti Dewi Ratih. Itulah bentuk bahasa yang berupa lambang benda-budaya.

Namun upacara tingkeban itu sebenarnya warisan dari keper­cayaan Hindu, yang tetap dilaksanakan meskipun pendukungnya telah memeluk agama Islam. Upacara ini dijadikan adat istiadat yang baku karena orang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami maksudnya. Itulah sistem budaya yang telah melembaga. Jika sistem ini diubah atau dihapuskan, dikhawatirkan akan me- munculkan keresahan dalam masyarakat.

Akhirnya perubahan itu terjadi juga karena pendukung budaya lama telah memperoleh pegangan hidup baru yaitu konsep agama Islam. Di daerah-daerah yang dahulunya bukan basis agama Hindu, misalnya di daerah Madura atau bekas Karesidenan Basuki, tempat tak diketemukannya patung-patung Hindu-Buddha, budaya tingkeban mengalami penggeseran dari corak Hindu ke corak Islam. Dalam hal ini terjadilah modifikasi budaya.

Ide pokoknya tetap dijalankan yaitu doa untuk anak yang dikandungnya. Dimohonkan kepada Allah SWT semoga anak yang lahir itu menjadi anak yang saleh atau salehah. Gambar wayang sebagai idola diganti dengan tokoh orang suci atau nama Nabi di dalam Alquran; abunya dibuang namun apinya dinyalakan. Upacara “mandi bunga” dan “penjualan rujak manis” di Bondowonso ditiadakan, kemudian diganti dengan pembacaan Alquran (surat Yusuf, Ibrahim, Luqman, atau Surat Maryam, dan sebagainya). Terjadilah transformasi nilai budaya baru berdasar syariat Islam. Upacara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh kiai, modin, atau tokoh agama, atau oleh sesepuh yang mengerti.

Di tanah Jawa kira-kira lima puluh tahun yang lalu, upacara tingkeban itu dilakukan meriah. Di dalam upacara selamatan itu dihidangkan “nasi uduk kabuli” sebanyak tujuh penai dan lauknya tujuh panggang ayam. Maksudnya agar terkabul doanya. Perkataan “uduk” dari perkataan Arab “ud’uu” (berdoalah), seperti pesan Al­quran (QS 40: 60).

Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan permintaanmu.

Sesungguhnya orang-orangyangsombongterhadapmenyembah Aku, nanti

mereka akan masuk ke dalam neraka serta hina

Sedang kata “kabuli” dari bahasa Arab “qabul” (Terimalah doaku).

Angka tujuh pada penai dan panggang ayam melambangkan bilangan absolut, tak terbatas. Jadi benda-benda tersebut sebenarnya merupakan doa yang tak terucapkan dengan kata-kata. Jika diucap- kan kira-kira sebagai berikut: Ya Tuhanku, aku memohon pertolongan kepada Engkau mengenai bayi dalam kandungan istriku.

Berilah

keselamatan dan jadikan anak yang saleh / salehah yang berbakti kepada Engkau, ya Tuhan, kabulkanlah doaku.

Pada malam itu diadakan jagong semalam suntuk (tidak tidur) Orang-orang sibuk membacakan kisah nabi-nabi dalam Buku Budaya Kitab Ambiya’ (nabi-nabi), suatu karya sastra Islam dalam bahasa Jawa bentuk tembang, tetapi dituliskan dengan huruf Arab- pegon. Kegiatan membaca buku-buku karya sastra Islam dalam ben­tuk tembang yang dilakukan itu disebut macapat (Jawa) atau dalam bahasa Madura disebut “mamaca”.[::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112-114

Upacara Boyongan, Kabupaten Blitar

Nama Upacara
Setelah bangunan selesai upacara terakhir dalam proses pembangunan rumah ba­ru adalah “upacara boyongan”. Upacara ini dimaksud untuk mengantarkan doa selamat kepada penghuni rumah-baru, yang dimulai dengan proses pindah serentak bersama keluarga (bhs. Jawa “boyongan”). Ada sementara pihak yang menyebut upacara ini sebagai “Upacara buka pintu”. Kiranya nama upacara tersebut terakhir ini diambil dari proses : “pintu dibuka untuk pertama kalinya secara resmi” (karena proses ini didahu­lui oleh upacara tersebut).

Tujuan Upacara

Upacara “boyongan” dimaksudkan oleh kultur Jawa (la­ma), untuk memberi suasana tenteram pada pemakaian rumah baru tersebut sebagai tempat tinggal dan ber- lindung bagi penghuninya.

Tempat dan Waktu

Upacara boyongan ini juga diselenggarakan dibangunan rumah baru. Waktu penyelenggaraan upacara ini adalah sore hari atau malam hari. Hari diadakannya upacara ini adalah pada hari pindahan keluarga penghuni (dalam satu hari; hari itu juga) atau sehari — dua hari setelah rumah-baru tersebut dihuni. Selamatan demikian dapat diulangi pada hari ke-5 (sepasaran) dan pada hari ke-35 (selapanan).

Penyelenggara

Upacara boyong diselenggarakan oleh siempunya hajat Sedapat-dapatnya, bila mungkin diselenggarakan oleh orang (kepala keluarga) yang akan menghuni rumah ba­ru termaksud. Kalau upacara-upacara yang dahulu dapat “dipikul bersama” oleh famili orang yang berkepentingan, maka upacara “boyongan” ini seharusnya diselengga­rakan sendiri oleh kepala keluarga yang bakal menghuni rumah baru tersebut. Terkecuali bila temyata orang yang bersangkutan, secara ekonomis tidak mampu benar benar.

Peserta Upacara

Upacara boyongan ini dihadiri oleh lebih banyak peserta dibanding dengan jumlah peserta pada upacara sebelum- nya. Sebagian besar para peserta terdiri dari para tetang- ga-dekat-di sekitar lokasi bangunan rumah baru. Sebagi- an tetangga dekat—lama, disekitar lokasi rumah si- empunya hajat, juga diundang sebagai peserta upacara. Begitupun semua tenaga tukang dan tenaga pembangun­an rumah baru tersebut, sang at diharap keikut sertaan- nya sebagai peserta upacara. Secara psikologis upacara “boyongan” yang sakral ini, seolah-olah berupa upacara kegembiraan, sebab sudah dapat mengakhiri proses pem­bangunan dengan sukses.

Sebuah bangunan rumah baru telah jadi terwujud de­ngan selamat. Hal tersebut dapat kita sejajarkan dengan upacara resepsi pada upacara perkawinan.

Pimpinan Upacara

Pimpinan upacara boyongan adalah seorang dukun atau- pun seorang kyai; seperti halnya pada upacara-upacara yang diadakan lebih dahulu.

Namun ada kemungkinan lain yaitu karena jauhnya jarak antara rumah lama (rumah si empunya hajat) de­ngan lokasi rumah baru, menyebabkan personil (oknum/dukun/kyai lain yang “menguasai”, daerah diseki­tar bangunan baru tersebut. Disini dipakai kata “me­nguasai” dalam arti memiliki pengaruh pribadi di wilayah sekitamya. Pada prinsipnya – prinsip status iapun seorang dukun atau kyai/ulama.

Perlengkapan  Upacara

perlengkapan upacara pada “slametan boyongan” ini terdiri khusus dari bahan hidangan makanan dan wadahnya. Alat-alat tersebut :

  • nyiru (bhs. Jawa : tambah, tempeh).
  • Takir (wadah, terbuat dari daun pisang).
  • Piring-piring Gelas-gelas.
  • Baki.
  • Cowek (sebuah atau semacam wadah ter­buat dari tembikar; biasanya untuk membuat sambel).

Perlengkapan  upacara yang berupa hidangan/makanan:

a)     nasi gurih (nasi putih yang rasanya dibuat gurih karena pada proses pengolahannya : beras direbus dengan santan).

b)     ingkung (masakan daging ay am dan “ayamnya” di­ buat utuh tubuhnya.

c)      kue-kue dan penganan tertentu.

d)     Pisang raja atau sejenisnya.

e)     air kopi atau air teh; dsb. 

Tata Pelaksanaan Upacara

Seluruh alat-alat upacara dipersiapkan diruang tengah atau ruang muka, dari bangunan rumah baru. Seperti lazimnya, alat-alat upacara (dim. hal ini hidangan dan makanan diatas wadahnya masing-masing) diletakkan di atas tikar yang sudah dibentangkan lebih dahulu. Tata pelaksanaan upacara diatur sedemikian rupa agar para peserta dapat duduk bersama mengelilingi alat-alat upacara tersebut. Pada umumnya para peserta duduk dikaki dinding ruang an upacara. Boleh jadi karena ba- nyaknya peserta yang diundang, maka sekaligus kedua nxang (ruang tengah dan ruang muka) dipakai sebagai arena upacara “slametan boyongan”. 

Jalannya Upacara

Sebagai upacara-upacara terdahulu upacara boyongan berpuncak pada “ujub”, yaitu pengucapan doa-mantera oleh dukun pada upacara slametan. Setelah pemimpin upacara selesai “ngujubake” (mengucapkan doa man- tera), berakhirlah upacara boyongan ini dengan pem- bagian hidangan (bhs. Jawa “berkat”) kepada para peserta. Pembagian “berkat” tersebut dilakukan oleh salah seorang peserta dengan prinsip bagi rata secara adil dan habis. Atau terkadang hidangan upacara ter­sebut telah disediakan tersendiri untuk masing-masing peserta; jadi sudah dalam keadaan “siap dibagikan” atau “siap diberikan” kepada masing-masing peserta.

Pada beberapa tempat; upacara boyongan ini ada kalanya disertai adegan tanya—jawab semu antara penghuni dengan pemimpin upacara. Bagian penting dari tanya jawab semu tersebut adalah sbb. :

Pemimpin Upacara                : “Kula nuwun”

Penghubi rum ah-baru         :  “Mangga”, sampeyan tiyang pundi?

Pemimpin Upacara                : “Kula tiyang dusun …. “

Penghuni rumah-baru          : “Sampeyan ajeng punapa ?

Pemimpin Upacara                :  “Kula bade pados ngenger- an Tiyang sugih waras pun­di ?

Penghuni rumah-baru          : “Oh inggih ngriki tiyang sugih waras”

Terjemahan kedalam bahasa Indonesia sbb. :

 Pemimpin Upacara               : “Permisi”

Penghuni rumah-baru          : “Silahkan. Anda orang mana”

Pemimpin Upacara                : “Saya orang dari dusun”

Penghuni rumah-baru          : “Anda ada perlu apa ?

Pemimpin Upacara                : “Saya mau mencari tempat menum- pang. Dim ana orang yang sehat — bahagia ?

Penghuni rumah-baru          : “Oh, ya disini orang yang sehat dan bahagia itu”.

Walaupun tanya-jawab-semu tersebut sudah “dilatihkan” oleh pemimpin upacara kepada si pemilik rumah, namun penampilannya seolah-olah “spontan”.

Upacara- boyongan ini sudah jarang dilakukan, namun de­mikian masyarakat desa Plasarejo : di Kabupaten Blitar, masih menjalankannya upacara ini.

Untuk melestarikan serta menggali/mencari sisa-sisa tradisi yang sedang dalam proses “ditinggalkan” (proses menyusut), namun belum punah.. Untuk mengingatkan kepada generasi berikut bahwa sejarah budaya kita sangat beragam.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm 1981 – 1996,

Upacara sebelum mendirikan rumah, Kabupaten Blitar

Menggali/mencari sisa-sisa tradisi yang sedang dalam proses “ditinggalkan” (proses menyusut), namun belum punah. Sengaja PUSAKA JAWATIMURAN sajikan untuk melestarikan serta mengingatkan kepada generasi berikut bahwa sejarah budaya kita sangat beragam.

Upacara semacam ini sekarang sudah jarang dilakukan, namun de­mikian masyarakat desa Plasarejo : di Kabupaten Blitar, masih menjalankannya upacara ini.

Nama Upacara : Untuk daerah kultur suku Jawa di Jawa Timur Upacara mendirikan bangunan rumah disebut, slametan; wilujengan, kenduren ataupun bancak’an. Pada tahap ini, pada lokasi-lokasi yang tersedia pohon jati maka dimulailah proses pemilikan kayu untuk balian bangunan. Proses ini disertai dengan upacara kecil (bhs. Jawa : “Sarengat”) yaitu “Selamatan “Jenang Sengkala”, teruntuk beberapa orang kerabat saja. Tahap ini diikuti nantinya dengan proses penebangan pohon (bhs. Jawa : “ngetok kayu”) yang juga disertai selamatan kecil untuk beberapa orang kerabat dan tukang tebang.

Tujuan Upacara

Tujuan dari kedua upacara kecil tersebut diatas adalah untuk menghindarkan mala petaka, baik pada saat-saat penebangan maupun dalam hal pemakaian kayu ter­sebut sebagai bah an bangunan rum ah, nantinya. Nama Upacara “Sengkolan” berasal dari nama hidangan utama upacara tersebut yaitu Jenang Sengkala. Kata Sengkala, secara keratabasa dapat diuraikan sebagai berikut :

Sengkala — sangkala = Sang Kala = Batara Kala : nama dewa Penguasa Bahaya : Batara Kala dipercayai dapat mendatangkan saat-saat sial (celaka); saat-saat jahat yang penuh balak (sial; celaka).

Itulah sebabnya ada sepotong doa/mantera dalam bahasa Jawa :

“Mugiya kalis Iir sambe kala”

yang sinonim dengan kalimat bahasa Indonesia :

“Mudah-mudahan terhindar dari segala mar a bahaya”

Tempat dan waktu

Semua upacara pada tahap “sebelum mendirikan rum ah’ diselenggarakan di rumah sipemilik hajat (pemilik ba- ngunan rum ah yang akan dibangun atau rum ah keluarga- nya). Upacara-upacara kecil tersebut diatas, biasanya diadakan pada waktu sore atau malam hari. Kiranya tradisi demikian timbul dari pertimbangan praktis, bah- wa penduduk masyarakat perdesaan pada pagi dan siang hari, dalam keadaan sibuk bekerja di saw ah; di ladang, di pasar, dsb.

Penyelenggara Upacara.

Oleh karena pendirian sebuah bangunan rumah merupakan kepentingan individual (familial) maka penyelengga­ra upacara-upacaranyapun menjadi tanggung jawab individu (famili) yang berkepentingan. Walaupun demikian halnya janganlah kita lupakan bahwa yang kita bicara- kan ini adalah masyarakat Paguyuban (gemeinschaaft), yaitu masyarakat yang lebih bersifat gotong royong dalam kehidupan praktisnya.

Peserta Upacara

Sesuai dengan keadaan sosiologi penduduk setempat, maka peserta upacara-upacara pada tahap “sebelum mendirikan rumah” adalah para tetangga dekat sipemilik hajat dan para tetangga dekat di sekitar lokasi bangunan rumah. Upacara-upacara ini, secara moral merupakan keharusan. Bersama dengan upacara tersebut secara moralpun para peserta merasa bahwa dirinya diharapkan ber- parsitipasi dalam kegiatan berikutnya. Setidak-tidaknya beberapa orang peserta diharapkan secara sukarela menyumbangkan tenaga sukarelanya dalam kegiatan mendirikan bangunan rumah tersebut. Tradisi kegotong royongan demikian disebut sebagai “Sambatan atau sambat-sinambatan” dikalangan masyarakat perdesaan kita.

Pimpinan Upacara

Pada masyarakat perdesaan kedudukan sosial para pini- sepuh desa, sangatlah kuat dan menonjol. Para pinisepuh pimpinan desa dapat terdiri dari pemimpin formal dan non formal. Pimpinan desa yang bersifat formal ialah orang yang dianggap oleh masyarakat di sekitarnya se­bagai “pemimpin” karena memiliki suatu “kelebihan atau keahlian” tertentu.

Mereka pada umumnya terdiri dari orang-orang yang sudah lanjut usia, baik sebagai seorang pejabat pimpinan desa atau sebagai seorang tokoh agama (kyai), ya bah- kan dapat berupa seorang dukun. Dukun ialah se- seorang yang dianggap oleh masyarakatnya sebagai se­orang yang ahli tentang ilmu gaib, yang dalam istilah ilmu antropologi disebut “pawang”; karena menguasai berbagai mantera-magis untuk menolak bahaya (2 : 141) Dengan demikian maka segala upacara yang diadakan, pada seluruh tahapan dalam mendirikan bangunan rumah baru, pastil ah dipimpin oleh salah seorang dari ketiga jenis tokoh pimpinan desa tersebut.

Alat – Alat Upacara

Termasuk kedalam kategori “alat-alat Upacara” ini, ada- lah bahan-bahan hidangan dalam suatu Upacara. Pada masyarakat peidesaan alat rumah tangga tradisio- nal yang terbuat dari anyam-anyaman bambu; daun ke- lapa (bhs. Jawa : blarak), dan any am an dari lidi (tangkai daim kelapa : bhs. Jawa : Sada) masih dapat & sering masih digunakan dalam berbagai upacara.

Alat-alat tersebut antara lain :

  1. Kranji –  anjaman dari bambu
  2. Tampah – anjaman dari bambu
  3. Kalo – anjaman dari bambu
  4. Kemarang – tembikar, terbuat dari tanah liat yang dibakar.
  5. Gendok –  tembikar, terbuat dari tanah liat yang dibakar.
  6. Takir – sebuah wad ah terbuat dari /aun pisang, dsb. 

Bahan makanan utama dalam upacara Slametan Jenang Sengkala, terdiri dari bubur nasi putih, diwadahi takir (atau piring). Ditengah bubur putih tersebut ditaruhkan pula bubur nasi manis; yaitu bubur nasi putih yang diolah dengan air gula-merah, sehingga agak merak keco- klatan warnanya. Itulah sebabnya dalam masyarakat kultur Jawa, upacara Slametan Jenang Sengkala sering diucapkan pula sebagai “Slametan Jenang Abang”. Perlu diutarakan disini bahwa pada umumnya alat peralatan tradisional mulai terdesak oleh alat-alat dari ba- han plastik, produk pabrik-pabrik plastik dikota-kota besar.

Tata Pelaksanaan Upacara

Setelah semua keperluan upacara dipersiapkan di ruang tengah atau ruang muka, maka diundanglah beberapa orang tetangga dekat untuk datang menghadiri upacara Slametan Jenang Sengkala tersebut. Para peserta duduk bersama, dalam posisi “lingkaran” mengelilingi alat- peralatan upacara. Setelah semua peserta hadir maka pemimpin upacara mengucapkan doa/mantera (bhs. Jawa : ngujubake).

Pada umumnya pemimpin upacara terdiri dari seorang dukun atau seorang kyai (utama). Sebelum mengucap­kan doa/mantera, pemimpin upacara mengumumkan/ memberitahukan kepada para peserta upacara, maksud si empunya hajat yaitu akan mendirikan bangunan rumah baru.

Jalannya Upacara

Upacara kecil Slametan Jenang Sengkala ini diselenggarakan secara sederhana dan “cepat” sekali, seolah-olah sekedar memberitahukan maksud si empunya hajat, kepada para tetangga bahwa ia bermaksud mendirikan rumah.

Bila hal tersebut ditinjau dari ilmu antropologi tradisi demikian muncul dari maksud maksud dan perbuatan magis. Hal tersebut jelas dari nama upacaranya yang mengandung kata “Sang Kala”. Isi doa (mantera) serta ucapan sang dukun -pemimpin upacara, masih menunjukkan sifat-sifat magis (gaib) yang sedemikian itu. Selesai dukun mengucapkan doa (mantera) nya, maka segera hidangan Jenang Sengkala tersebut dibagi untuk dimakan berbarengan dan sisanya boleh dibawa pulang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Timur,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm 168-171