Upacara Temanten Kucing Ds. Pelem Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung  

 

200712021418513Desa Pelem adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Campurdarat, yaitu wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Adapun letak geografis desa Pelem adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara              : Desa Wates

Sebelah Selatan           : Desa Perhutanan

Sebelah Timur             : Desa Pojok

Sebelah Barat              : Desa Campurdarat

Luas areanya 525 hektar yang terbagi dalam lima dusun yaitu Dusun Sumberjo, Dusun Pelem, Dusun Tambak, Dusun Jambudan Dusun Bangak. Jumlah penduduk Desa Pelem seluruhnya 8.212 orang, dengan rincian laki-laki 4.114 orang dan perempuan 4.098 orang.

 Sejarah Upacara Temanten Kucing

Asal muasal ritual manten kucing itu mempunyai sejarah panjang, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Dahulu, di desa pelem hidup seorang demang yang dikenal dengan sebutan Eyang Sangkrah. Ia adalah sosok linuwih dalam ilmu kejawen. Eyang Sangkrah memiliki seekor kucing condromowo (bulunya tiga warna) jantan dengan sepasang mata istimewa. Upacara ritual “Temanten Kucing” dirintis ratusan tahun silam. Awalnya, daerah Pelem dilanda kemarau panjang yang membuat warga kebingungan mendapatkan air. Sebagai seorang pemimpin desa, Eyang Sangkrah merasa bertanggungjawab atas nasib penduduknya. Berbagai ritual untuk memohon hujan dilakukan, tapi air tidak kunjung turun.

Eyang Sangkrah merasa kehabisan cara. Eyang Sangkrah, tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika mandi di telaga Coban. Dia mengajak serta seekor kucing condro mowo piaraannya. Sepulang Eyang Sangkrah memandikan kucing di telaga, tak lama berselang, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Karuan saja, warga yang sudah lama menunggu-nunggu turunnya hujan tak bisa menyembunyikan rasa memandikan kucing condro mowo”. Ketika Desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada 1926, desa ini kembali dilanda kemarau panjang. Saat itulah, Eyang Sutomejo mendapat wangsit untuk memandikan kucing di telaga. Maka, dicarilah dua ekor kucing condro mowo. Lalu, dua ekor kucing itu dimandikan di telaga Coban. Dan, beberapa hari kemudian hujan mulai turun.

 

Pelaksanaan Upacara Temanten Kucing

Dalam upacara ini, sepasang kucing jantan dan kucing betina dipertemukan menjadi pasangan pengantin. Prosesi “Temanten Kucing” diawali dengan mengirab sepasang kucing jantan dan betina ,kucing warna putih yang dimasukkan dalam keranji.

Dua ekor kucing itu dibawa sepasang „pengantin‟ laki-laki dan wanita. Di belakangnya, berderet tokoh-tokoh desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Sebelum dipertemukan, pasangan “Temanten Kucing” dimandikan di telaga Coban. Secara bergantian, kucing jantan dan kucing betina dikeluarkan dari dalam keranji.

Lalu, satu per satu dimandikan dengan menggunakan air telaga yang sudah ditaburi kembang. Usai dimandikan, kedua kucing diarak menuju lokasi pelaminan. Di tempat yang sudah disiapkan aneka sesajian itu, pasangan kucing jantan dan betina itu „dinikahkan‟. Sepasang laki-laki dan perempuan yang membawa kucing, duduk bersanding di kursi pelaminan. Sementara dua temanten kucing berada di pangkuan kedua laki-laki dan wanita yang mengenakan pakian pengantin itu. Upacara pernikahan ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan sesepuh desa setempat.

Tak lebih dari 15 menit, upacara pernikahan pengantin kucing usai. Lalu, prosesi “Temanten Kucing” dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional Tiban dan pagelaran langen tayub.

 Maksud dan Tujuan Upacara Temanten Kucing

Berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Desa Pelem Kecamatan Campursarat Kabupaten Tulungagung, Upacara Temanten Kucing yang selama ini dilakukan mempunyai tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu Upacara Temanten Kucing yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Pelem digunakan sebagai sarana bagi masyarakat yang berharap agar Tuhan menurunkan hujan.

 Nilai – Nilai Yang Terkandung di Dalam Upacara Temanten Kucing

Nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam upacara Temanten Kucing adalah :

1) Nilai Religius. Nilai religius itu tampak dengan jelas, karena pada dasarnya Upacara Temanten Kucing bertujuan untuk mengharapkan agar Tuhan menurunkan hujan. Sedangkan Upacara Temanten Kucing sebagai medianya.

2) Nilai Gotong Royong. Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia gotong-royong merupakan suatu hal yang tidak asing lagi, terutama pada masyarakat pedesaan. Praktek gotong-royong mewarnai hampir semua kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana kodratnya bahwa t. Dalam kaitnnya dengan Upacara Temanten Kucing praktek gotong-royong tampak mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan upacara. Upacara Temanten Kucing yang bersifat fisik hampir semuanya dilakukan dengan cara gotong-royong.

3) Nilai Persatuan. Dalam Upacara Temanten Kucing rasa persatuan tampak sekali diperlihatkan oleh warga masyarakat Desa Pelem. Rasa persatuan ini tampak terjalin dengan baik antara sesama warga masyarakat. Tanpa adanya persatuan diantara warga masyarakat tidak mungkin Upacara Temanten Kucing dapat berjalan dengan baik. Bukti lain adanya nilai persatuan adalah pada waktu upacara selamatan. Dimana warga masyarakat berkumpul disuatu tempat untuk mengucapkan rasa syukur dan makan brekat/ambeng secara bersama-sama. Hal yang demikian menunjukkan keterikatan rasa solidaritas dan persatuan antara sesame warga masyarakat.

4) Nilai Seni dan Keindahan. Hal ini tampak jelas pada saat warga masyarakat mengarak Temanten Kucing. Warga masyarakat memakai pakaian adat Jawa. Yang laki-laki menggunakan beskap dan yang perempuan menggunakan kebaya. Di samping itu nilai seni dan keindahan itu juga tampak pada berbagai macam kesenian yang disajikan seperti kesenian Langen Tayub dan Tiban.

——————————————————————————————-Rita Hajati,  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Upacara Temanten Kucing Di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.  Universitas Nusantara PGRI Kediri. 2016.

 

Upacara Ruwat, Kabupaten Bondowoso

PERKATAAN ruwat (Jawa) atau arokat (Madura) berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuno yaitu rwad yang kemudian berubah bentuk menjadi rod atau root (Inggris) yang berarti akar (urat, oyot, atau ora’ dalam bahasa Madura). Dari kata rwad itulah dalam bahasa Jawa baru menjadi ruwat (luwar). Diruwat berarti dibebaskan dari dosa karena termakan sumpah atau janji. Ngluwari ujar berarti melaksanakan janji, nazar, sumpah, atau melaksanakan wasiat si mayat, sehingga yang ngluwari ujar itu terlepas dari rasa berdosa.

Perkataan root yang berarti akar itu kemudian disingkat dengan huruf kapital R dan menjadi lambang panjang separuh dari garis tengah suatu lingkaran. Dengan demikian muncullah rumus luas lingkaran yaitu 2 PI x R2. Adapun PI adalah panjang busur lingkaran dibagi panjang garis tengah (=3,14159), seberapa pun besarnya lingkaran. Angka itu tetap saja menjadi keliling lingkaran yaitu PI x 2 R (R adalah jari-jari lingkaran).

Budaya ruwat atau arokat adalah upacara selamatan bagi anak-anak yang dilahirkan dalam susunan keluarga yaitu:

  1. Anak tunggal
  2. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan)
  3. Tiga orang (perempuan diapit lelaki atau lelaki diapit perempuan)
  4. Lima orang (laki-laki semuanya menyerupai Pandawa)

Di tanah Jawa masih banyak lagi yang harus diruwat, antara lain orang yang periuknya roboh saat menanak nasi, orang yang me- nanam waluh (labu) di muka rumah, anak yang selalu sakit-sakitan, anak yang sangat nakal, dan sebagainya.

Upacara ruwat diadakan supaya si anak terlepas dari bahaya. Menurut kepercayaan Jawa, bahaya itu berupa sergapan Batara Kala yang oleh para dewa sudah ditentukan mangsanya. Upacara itu di Jawa dilakukan dengan pertunjukan wayang purwa, sedangkan upacaranya lazim disebut “Hamurwakala”, artinya mengembalikan anak pada asal mulanya, bukan dibunuh melainkan diserahkan kepa­da Zat yang menciptakan kala (waktu). Bukankah menurut keper­cayaan Jawa, waktu dipandang sebagai kekuatan Maha Agung yang menentukan kemalangan, musibah, dan bahagia bagi manusia?

Sedangkan wayang purwa berarti wayang yang sangat awal. Ini adalah gambaran kepercayaan asli masyarakat Jawa zaman dahulu ketika masih memuja Waktu atau Kala.

Lakon cerita wayang pada upacara ruwat sebenarnya adalah lakon Batara Kala. Siapakah Kala itu? Kala adalah putra Batara Surya (Dewa Matahari). Bukankah matahari itu menjadi titik pangkal perhitungan hari atau waktu (kala)? Itulah sebabnya Dewa Kala (Batara Kala) atau Waktu dinamakan “Putra Batara Surya”. Artinya, “waktu” atau “kala” dihasilkan oleh lamanya planet-planet (bumi dan lain- lain) atau satelit (bulan) menjelajahi angkasa mengitari matahari seba­gai induknya. Itulah sebabnya Batara Kala disebut juga Surya Atmaja (Putra Batara Surya).

Masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal perhitungan “hari yang tujuh”, yaitu nama-nama hari: Dite, Soma, Nggara, Buda,

Respati, Sukra, dan Tumpak (Sabtu). Nama-nama itu diambil dari nama-nama planet yang berjumlah tujuh (pada waktu itu). Sekarang telah ditemukan dua planet lagi men)adi sembilan. Menilik hal itu, dahulu masyarakat Jawa menggunakan tahun syamsiah (lamanya bumi mengitari matahari dalam setahun). Kemudian dengan kedatangan Islam, maka diperkenalkanlah tahun qomariah (lamanya bulan mengi­tari bumi dalam setahun). Gabungan antara tahun Saka (lama) dan tahun Qomariah (Islam) itulah yang membentuk perhitungan bulan Jawa sekarang.

Upacara ruwat (arokat) dimaksudkan untuk menyerahkan kembali nasib anak yang diruwat kepada Zat Asal yang menciptakan kehidupan ini, supaya si anak terlepas dari bencana siksa-Nya. Ini sama dengan tobat nasuha dalam ajaran Islam, suatu tobat yang tak akan mengulangi kesalahan lama dan menutupi kesalahan-kesalahan serta dosa dengan kebaikan. Secara simbolis orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri, bagaimana anak itu kedka berada dalam kan- dungan sang ibu dan apa yang dilakukan orang tua selama anak berada dalam kandungan. Ruwat pada hakikatnya adalah belajar introspeksi dan retrospeksi

Upacara ruwat di Bondowoso diwujudkan dalam modifikasi budaya Jawa dengan wayang purwa. Bukan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebenarnya melainkan dengan fragmen “adegan wayang orang” (wayang topeng) dengan lakon Batara Kala. Ini dilaku­kan karena ontowacana dengan bahasa Jawa, apalagi Jawa Kawi tak mungkin dapat dilakukan.

Dalam pertunjukan wayang topeng itulah dalang berperan menghidupkan cerita. Dalang mampu mengalihkan jalan cerita ke bahasa Madura. Di sana-sini ada selingan humor supaya pertunjuk­an menjadi menarik. Dialog-dialog yang diucapkan dalang, diperan- kan oleh pelaku wayang, hampir-hampir menyerupai pantomim dengan mengikuti suara dalang.

Sebelum pertunjukan dimulai, dalang membacakan mantra atau doa memohon keselamatan. Mantra dibacakan di atas kepulan asap dupa (kemenyan) di tengah malam. Sedangkan anak yang di-rokat dimandikan dengan air bunga. Maksudnya agar segar, bersih, dan beraroma harum. Ini adalah simbol budaya membersihkan anak dari segala ancaman dan sergapan Batara Kala.

Pertunjukan itu dilakukan sampai larut malam seperti halnya wayang purwa. Tidak lupa sahibul hajat menyediakan “sesaji” makanan kenduri nasi serta lauk pauk berupa panggang ayam putih mulus yang dipersembahkan kepada leluhur yang telah wafat. Lalu dibacakanlah doa, nasi kenduri pun mulai dimakan. Setelah usai, dalang beserta para pelaku wayang menerima imbalan uang jasa dan transportasi (bagi dalang dan niyaga-nya). Ada kalanya mereka diberi seperangkat alat dapur.

Di Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, ada sebuah buku doa Pangrukat yang berasal dari Kiai Abdul Latief, saudara dari Kiai Syamsul Arifin (alm.). Doa itu dibacakan pada upacara selamatan pekarangan, tegalan, tanaman, kendaraan, perahu atau motor.

Di samping itu ada doa rokat dengan menyembelih kambing hitam. Gunanya untuk menolak serangan wabah penyakit. Kambing disembelih di tengah desa atau di tengah pekarangan. Yang menyem­belih harus menghadap ke kiblat, setelah kambing disembelih maka dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Kikil (kekot) dan tulang- tulangnya tidak dimakan namun ditanam di tempat penyembelihan kambing tersebut (Kitab ]aami’ud da’awaat).

Dari budaya ruwat ini tersimpan filosofi bahwa:

a. Masalah takdir harus diyakini adanya. Manusia tidak perlu lari pada hal-hal yang musyrik, menyembah waktu seperti pada zaman dahulu: matahari dan bulan disembah. Nabi Ibrahim telah menolak keyakinan bahwa Tuhan itu berupa matahari atau bulan (QS 16: 74-83).

  1. Letak susunan anak dalam keluarga memang secara psikologis ada pengaruhnya. Anak tunggal biasanya dimanjakan. Begitu pula anak bungsu atau anak tunggal yang diapit dua-tiga anak yang berlainan jenis kelaminnya. Anak-anak yang lelaki semua akan sulit dibina. Biasanya mereka saling berebut kekuasaan. Begitu juga jika semua anak adalah perempuan. Pada umumnya anak kedua suka meninggalkan rumah karena tekanan anak sulung. Kalau orang tua tidak adil dan pilih kasih dalam memberikan layanan pendidikan, maka bencana perkelahian, pertentangan, atau tekanan batin akan muncul. Hal itu akan menyulitkan orang tua untuk mengantarkan anak menuju masa kedewasaannya.

Dengan menghargai waktu untuk mengisi kehidupan maka kebahagiaan hidup akan tercapai. Islam sangat menghargai waktu. Disiplin salat mengarah pada disiplin pribadi dan berguna bagi pembentukan watak pribadi kelak. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah: Apabila telah usai salat Jumu’ah, bertebaranlah kau di muka bumi mencari rejeki karunia lllahi (QS 62: 10).

 

Upacara Khitanan, Kabupaten Bondowoso

Pelaksanaan Upacara Sunat di Bondowoso, seperti juga upacara molangare, upacara khitanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat Nabi (diba’ atau barjanji). Anak yang disunat dituntun untuk berjabatan tangan dengan para undangan (kedka hadirin berdiri). Ini dimaksudkan sebagai upacara menyambut kehadiran muslim baru yang mulai mualaf (dipandang sudah mampu dibebani syariat salat). Menilik hal itu nyatalah bahwa budaya khitanan dijadikan upaya “pengislaman” bagi anak yang telah Kebudayaan Islam di Bondowoso dikhitan.

Upacara khitanan itu berbeda-beda pelaksanaannya di beberapa tempat. Di Caruban, Madiun, masih ada upacara “arak sunatan”. Anak yang disunat itu mengendarai kuda, berpakaian “mempelai”, bertopi “pacul gowang (bagian belakang topi itu terbuka), diarak sepanjang jalan, serta dimeriahkan dengan hadrah dan burdah, serta dilagukan syair kasidah barzanji.

Di Bondowoso ada juga yang dimeriahkan dengan acara khataman Alquran pada malam sebelum anak dikhitan. Alquran dibaca bergandan seperti pada kegiatan khatmil Quran. Tetapi ada yang hanya membaca dga belas surat pendek pada jus amma (Surat 102- 114) oleh anak yang baru sembuh dari sunat. Artinya, upacara sunat­an itu dilakukan setelah beberapa hari seorang anak disunat. Hal ini dimaksudkan untuk mendidik anak menjadi muslim dengan kemampuan membaca Alquran dan salat.

Kini budaya sunat bukan lagi menjadi monopoli umat Islam, melainkan telah mendunia, dimiliki oleh siapa saja yang merindukan kesehatan dan kebahagiaan. Yang disunat bukan lagi hanya anak- anak muslim, namun juga kaum non-muslim. Bukan saja saat masih kanak-kanak, bahkan ada yang sudah setengah baya minta disunat (dengan pergi ke dokter). Ini merupakan sumbangan umat Islam kepada umat manusia. Semakin nyata bahwa agama Islam adalah agama Allah (QS 3: 19) yang diserukan kepada umat manusia [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm.

Upacara Selapan, Kabupaten Bondowoso

ISTILAH “selapan” (Jawa) berasal dari gabungan bentuk “sa+alap+an”, satu alapan, yaitu satu kali daur ulang dari kelahiran tiga puluh lima hari. Pada upacara selapan itu bertemulah nama hari dan “pasaran” ketika bayi dilahirkan. Di Madura upacara ini dikenal dengan istilah molang are (mengulang hari kelahiran). Hanya saja di daerah Madura, termasuk di Bondowoso, tidak dikenal hari pasaran (legi, pahing, pon, wage, kliwon) sebagaimana dalam budaya Jawa.

Sepekan di Madura sama dengan sepekan di Melayu yaitu tujuh hari. Hal ini dapat dibuktikan dengan hari daur ramainya pasar di Bondowoso, seperd Pasar Senin, Pasar Selasa, dan sebagainya, sama dengan di Jakarta (Pasar Minggu, Pasar Senen, dan sebagainya). Akhir-akhir ini perhitungan limaan {manes, paeng, pon, bagi, kalebun) itu mulai terpakai juga dalam menghitung hari di daerah Bondowoso. Jadi “selapan” bayi lamanya sama dengan sekali daur dari hari ke­lahiran, yaitu lima minggu atau tujuh kali lima pasaran yaitu tiga puluh lima hari.

Di Bondowoso ada kepercayaan hari selamatan molang are dga puluh lima hari jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan. Maksudnya supaya kelak lekas mendapatkan jodoh. Namun jika anaknya lelaki, maka selamatan molang are itu dijatuhkan pada hari keempat puluh. Ini merupakan isyarat bahwa anak lelaki kelak harus bekerja keras untuk memberi nafkah istrinya. Jadi dibutuhkan masa muda yang lebih panjang untuk belajar dan bekerja.

Dalam budaya Jawa, ada juga upacara selapan bayi namun bukan upacara menyambut kelahiran bayi yang pertama karena upacara kelahiran bayi sebenarnya jatuh pada hari kelima yang lazim disebut “sepasaran bayi”. Biasanya jatuh pada saat si bayi “lepas dari pusarnya” (pupak pusar).

Pada malam sepasaran bayi diadakan acara macapat, yaitu membaca sastra Jawa yang mengandung pelajaran atau filsafat dari para pujangga seperd dari buku Wulang Keh, Wedatama,Serat Piwulang, Serai Kidungan, dan sebagainya. Kemudian setelah zaman Islam, buku-buku bercorak Islam ditulis dengan huruf Arabpegon, dikarang dalam bentuk tembang bahasa Jawa, seperti Lajang Ambiya (Surat Nabi-Nabi).

l^i Bondowoso, upacara molang are atau selapanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat nabi (pembacaan diba’ atau barzanji). Ketika hadirin berdiri membacakan selawat nabi, sang bayi di- gendong oleh salah seorang keluarganya (lelaki) untuk diperkenalkan kepada seluruh majelis agar dimintakan restu dengan “mengusapkan air bunga” di kepala bayi, selain itu juga diminta menggunting dua atau tiga helai rambut sang bayi.

Upacara selapanan di Bondowoso ini mengingatkan kita pada upacara akikah (mencukur rambut) bayi. Adapun mengusap air bunga di kepala sang bayi dan membacakan selawat nabi harus di- pandang sebagai upacara menyambut kelahiran sang bayi muslim atau muslimah, yang kelak akan menjadi penganut agama Islam, umat Nabi Muhammad SAW.

Upacara molang are itu kemudian ditutup dengan pembacaan doa. Pesta kenduri pun dimulai, pulangnya tamu diberi berkat, tanda bahwa hajatnya semoga mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa, berkat atau lebih dikenal dengan “nasi brokoharT (dari istilah barokahan), dibagikan pada waktu upacara sepasaran (lima harinya) [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112

Upacara Tingkeban di Kabupaten Bondowoso

Upacara tingkeban adalah selamatan memperingati kehamilan pertama seorang istri ketika kandungannya genap berumur tujuh bulan. Di Kabupaten Bondowoso sama dengan daerah lain di tanah Jawa upacara itu disebut tingkeban dan di Madura disebut melet kandung. Maksud keduanya sama. Istilah “tingkeb” artinya “menutup”, sama artinya dengan kata melet (Madura). Maksudnya adalah peringatan untuk “menutup kandungan”. Ini merupakan isyarat bagi suami agar sebaiknya tidak lagi melakukan hubungan badan dengan istrinya karena berbahaya bagi kandungan­nya.

Menurut adat istiadat di pelosok desa di Jawa, tingkeban dilakukan dengan “mandi bunga” bagi kedua mempelai. Suami-istri itu dimandikan oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak, serta oleh para ibu sesepuh dari kedua keluarga itu. Upacara kemudian dilanjutkan dengan membelah nyiur gading sebanyak dua buah. Nyiur gading itu dilukisi gambar wayang. Yang satu dilukis gambar satria (Arjuna atau Raden Kamajaya, yaitu Dewa Linuwih yang bagus parasya), nyiru lainnya dilukisi putri cantik (Srikandi, istri Arjuna atau Dewi Ratih, seorang bidadari kayangan yang menjadi istri Raden Kamajaya).

Upacara itu diakhiri dengan penjualan rujak manis kepada ibu para tamu. Uang hasil penjualan rujak itu dimaksudkan sebagai sumbangan dari para undangan atau tamu kepada tuan rumah atau shahibul hajat. Di tanah Jawa ada kepercayaan bahwa jika sang suami membelah nyiur gading itu tidak tepat separuh, maka itu pertanda bahwa kelak bayi yang dilahirkan adalah laki-laki. Namun jika tepat separuh, maka anaknya yang bakal lahir adalah perempuan.

Lukisan wayang pada kulit nyiur melambangkan ide atau cita- cita suci dari kedua orang tua si bayi. Katakanlah sebagai “doa yang tak terucapkan” tetapi diungkapkan dengan lukisan. Kira-kira saja maksudnya, apabila anaknya lelaki semoga meniru Raden Kamajaya yang bagus parasnya atau seperti Arjuna yang tampan dan ksatria. Jika perempuan, semoga parasnya ayu serta patriotik seperti Srikandi, atau secantik seperti Dewi Ratih. Itulah bentuk bahasa yang berupa lambang benda-budaya.

Namun upacara tingkeban itu sebenarnya warisan dari keper­cayaan Hindu, yang tetap dilaksanakan meskipun pendukungnya telah memeluk agama Islam. Upacara ini dijadikan adat istiadat yang baku karena orang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami maksudnya. Itulah sistem budaya yang telah melembaga. Jika sistem ini diubah atau dihapuskan, dikhawatirkan akan me- munculkan keresahan dalam masyarakat.

Akhirnya perubahan itu terjadi juga karena pendukung budaya lama telah memperoleh pegangan hidup baru yaitu konsep agama Islam. Di daerah-daerah yang dahulunya bukan basis agama Hindu, misalnya di daerah Madura atau bekas Karesidenan Basuki, tempat tak diketemukannya patung-patung Hindu-Buddha, budaya tingkeban mengalami penggeseran dari corak Hindu ke corak Islam. Dalam hal ini terjadilah modifikasi budaya.

Ide pokoknya tetap dijalankan yaitu doa untuk anak yang dikandungnya. Dimohonkan kepada Allah SWT semoga anak yang lahir itu menjadi anak yang saleh atau salehah. Gambar wayang sebagai idola diganti dengan tokoh orang suci atau nama Nabi di dalam Alquran; abunya dibuang namun apinya dinyalakan. Upacara “mandi bunga” dan “penjualan rujak manis” di Bondowonso ditiadakan, kemudian diganti dengan pembacaan Alquran (surat Yusuf, Ibrahim, Luqman, atau Surat Maryam, dan sebagainya). Terjadilah transformasi nilai budaya baru berdasar syariat Islam. Upacara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh kiai, modin, atau tokoh agama, atau oleh sesepuh yang mengerti.

Di tanah Jawa kira-kira lima puluh tahun yang lalu, upacara tingkeban itu dilakukan meriah. Di dalam upacara selamatan itu dihidangkan “nasi uduk kabuli” sebanyak tujuh penai dan lauknya tujuh panggang ayam. Maksudnya agar terkabul doanya. Perkataan “uduk” dari perkataan Arab “ud’uu” (berdoalah), seperti pesan Al­quran (QS 40: 60).

Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan permintaanmu.

Sesungguhnya orang-orangyangsombongterhadapmenyembah Aku, nanti

mereka akan masuk ke dalam neraka serta hina

Sedang kata “kabuli” dari bahasa Arab “qabul” (Terimalah doaku).

Angka tujuh pada penai dan panggang ayam melambangkan bilangan absolut, tak terbatas. Jadi benda-benda tersebut sebenarnya merupakan doa yang tak terucapkan dengan kata-kata. Jika diucap- kan kira-kira sebagai berikut: Ya Tuhanku, aku memohon pertolongan kepada Engkau mengenai bayi dalam kandungan istriku.

Berilah

keselamatan dan jadikan anak yang saleh / salehah yang berbakti kepada Engkau, ya Tuhan, kabulkanlah doaku.

Pada malam itu diadakan jagong semalam suntuk (tidak tidur) Orang-orang sibuk membacakan kisah nabi-nabi dalam Buku Budaya Kitab Ambiya’ (nabi-nabi), suatu karya sastra Islam dalam bahasa Jawa bentuk tembang, tetapi dituliskan dengan huruf Arab- pegon. Kegiatan membaca buku-buku karya sastra Islam dalam ben­tuk tembang yang dilakukan itu disebut macapat (Jawa) atau dalam bahasa Madura disebut “mamaca”.[::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112-114

Pakaian Upacara Khitanan Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Upacara Adat Rakyat Biasa, Madura Kabupaten Bangkalan, upacara adat masa Dewasa anak laki-laki, sommadan (khitan), nama pakaian, yang dipakai anak laki-laki, pada bagian badan atas ialah baju hem/baju taqwa, sedangkan di bagian bawah,” sarone plekat. 

Untuk pelengkap pakaian, di kepala dipakai songkok atau ko- piah. Bahan kopiah ialah sejenis beludru, tidak bermotif, atau berwarna hitam. Ukurannya disesuaikan dengan kepala si pemakai, sistim tinggi songkok ± 5 cm, dengan bentuk seperti umumnya peci atau kopiah.

 Bagian atas:

Baju hem/baju taqwa, bahannya terbuat dari katun, warna­nya bebas, tidak bermotif. Bentuknya seperti umumnya ba­ju laki-laki, dengan kraag tegak dan mempunyai saku 1 buah di kiri atas, berlengan pendek.

Bagian bawah :

  • Sarong plekat : Sarung palekat, bahannya terbuat dari katun, dengan motif berkotak-kotak besar atau kecil, dengan warna dasar putih dengan kotak-kotak, hijau atau berwarna biru.
  • Pacol Sabut kelapa bahan pacol ialah sabut kelapa berbentuk bulan sabit.
  • Sabbuk Pacol, terbuat dari katun, dengan bentuk sabuk biasa.
  • Bes Gibes bahan benang besar (benang wol), sedang- kan gagangnya terbuat dari rotan. Adapun warnanya berwarna-warni, dengan ukuran gagangnya kira-kira 3 cm, dan, bentuknya seperti terlihat di gam bar.
  • Alas kaki Bacca’ (dahulu) atau kelompen (sekarang). Alas kaki ini bahannya kayu, berwarna putih kekuning-kuningan de­ngan tali hitam. Bentuknya seperti sandal dengan hak agak yang agak tinggi ± 2 cm, dan tali selebar tiga jari.

Cara memakai pakaian

Mula-mula pacol dikaitkan/dicantelkan pada sabbuk pacol. Ke­mudian sabbuk tersebut di lilitkan di pinggang dan pacol diletak- kan di bagian depan badan mensungkit ke depan. Setelah itu ba- ru dikenakan sarung seperti lazimnya. Karena ada pacol di dalam sarong, maka bagian depan sarong agak naik ke atas. Kemudian memakai hem, lalu kopiah serta mengenakan bacca atau kelom­pen. Paling akhir memegang bes-gibes.

Fungsi :

  • Fungsi baju dan sarong baru yang dikenakan oleh anak yang akan dikhitankan berfungsi untuk memberikan suatu rasa kegembiraan dan kebanggaan sehingga sianak tidak akan takut merasakan sakitnya dikhitan.
  • Fungsi songkok selain berfungsi untuk kerapian dalam berpa- kaian, bagi orang Madura merupakan suatu kesopanan. Aoama Islam yang dianut oleh orang Madura mempu nyai pengaruh yang kuat dalam hal kebersihan dan kerapihan. Mereka selalu ingat akan hadist Nabi Muham­mad s.a.w. yang mengatakan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman.
  • Fungsi bes-gibes untuk penghalau lalat.
  • Fungsi Pacol Untuk menghindari geseran alat kelamin dengan sarong. 

Arti simbolis :

Pakaian dan sarong baru untuk melatih anak mempersiapkan diri menghadapi tingkat kehidupan menjelang dewasa sebagai suatu tingkat kehidupan baru bagi anak itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 114 – 116

 

Upacara sebelum mendirikan rumah, Kabupaten Blitar

Menggali/mencari sisa-sisa tradisi yang sedang dalam proses “ditinggalkan” (proses menyusut), namun belum punah. Sengaja PUSAKA JAWATIMURAN sajikan untuk melestarikan serta mengingatkan kepada generasi berikut bahwa sejarah budaya kita sangat beragam.

Upacara semacam ini sekarang sudah jarang dilakukan, namun de­mikian masyarakat desa Plasarejo : di Kabupaten Blitar, masih menjalankannya upacara ini.

Nama Upacara : Untuk daerah kultur suku Jawa di Jawa Timur Upacara mendirikan bangunan rumah disebut, slametan; wilujengan, kenduren ataupun bancak’an. Pada tahap ini, pada lokasi-lokasi yang tersedia pohon jati maka dimulailah proses pemilikan kayu untuk balian bangunan. Proses ini disertai dengan upacara kecil (bhs. Jawa : “Sarengat”) yaitu “Selamatan “Jenang Sengkala”, teruntuk beberapa orang kerabat saja. Tahap ini diikuti nantinya dengan proses penebangan pohon (bhs. Jawa : “ngetok kayu”) yang juga disertai selamatan kecil untuk beberapa orang kerabat dan tukang tebang.

Tujuan Upacara

Tujuan dari kedua upacara kecil tersebut diatas adalah untuk menghindarkan mala petaka, baik pada saat-saat penebangan maupun dalam hal pemakaian kayu ter­sebut sebagai bah an bangunan rum ah, nantinya. Nama Upacara “Sengkolan” berasal dari nama hidangan utama upacara tersebut yaitu Jenang Sengkala. Kata Sengkala, secara keratabasa dapat diuraikan sebagai berikut :

Sengkala — sangkala = Sang Kala = Batara Kala : nama dewa Penguasa Bahaya : Batara Kala dipercayai dapat mendatangkan saat-saat sial (celaka); saat-saat jahat yang penuh balak (sial; celaka).

Itulah sebabnya ada sepotong doa/mantera dalam bahasa Jawa :

“Mugiya kalis Iir sambe kala”

yang sinonim dengan kalimat bahasa Indonesia :

“Mudah-mudahan terhindar dari segala mar a bahaya”

Tempat dan waktu

Semua upacara pada tahap “sebelum mendirikan rum ah’ diselenggarakan di rumah sipemilik hajat (pemilik ba- ngunan rum ah yang akan dibangun atau rum ah keluarga- nya). Upacara-upacara kecil tersebut diatas, biasanya diadakan pada waktu sore atau malam hari. Kiranya tradisi demikian timbul dari pertimbangan praktis, bah- wa penduduk masyarakat perdesaan pada pagi dan siang hari, dalam keadaan sibuk bekerja di saw ah; di ladang, di pasar, dsb.

Penyelenggara Upacara.

Oleh karena pendirian sebuah bangunan rumah merupakan kepentingan individual (familial) maka penyelengga­ra upacara-upacaranyapun menjadi tanggung jawab individu (famili) yang berkepentingan. Walaupun demikian halnya janganlah kita lupakan bahwa yang kita bicara- kan ini adalah masyarakat Paguyuban (gemeinschaaft), yaitu masyarakat yang lebih bersifat gotong royong dalam kehidupan praktisnya.

Peserta Upacara

Sesuai dengan keadaan sosiologi penduduk setempat, maka peserta upacara-upacara pada tahap “sebelum mendirikan rumah” adalah para tetangga dekat sipemilik hajat dan para tetangga dekat di sekitar lokasi bangunan rumah. Upacara-upacara ini, secara moral merupakan keharusan. Bersama dengan upacara tersebut secara moralpun para peserta merasa bahwa dirinya diharapkan ber- parsitipasi dalam kegiatan berikutnya. Setidak-tidaknya beberapa orang peserta diharapkan secara sukarela menyumbangkan tenaga sukarelanya dalam kegiatan mendirikan bangunan rumah tersebut. Tradisi kegotong royongan demikian disebut sebagai “Sambatan atau sambat-sinambatan” dikalangan masyarakat perdesaan kita.

Pimpinan Upacara

Pada masyarakat perdesaan kedudukan sosial para pini- sepuh desa, sangatlah kuat dan menonjol. Para pinisepuh pimpinan desa dapat terdiri dari pemimpin formal dan non formal. Pimpinan desa yang bersifat formal ialah orang yang dianggap oleh masyarakat di sekitarnya se­bagai “pemimpin” karena memiliki suatu “kelebihan atau keahlian” tertentu.

Mereka pada umumnya terdiri dari orang-orang yang sudah lanjut usia, baik sebagai seorang pejabat pimpinan desa atau sebagai seorang tokoh agama (kyai), ya bah- kan dapat berupa seorang dukun. Dukun ialah se- seorang yang dianggap oleh masyarakatnya sebagai se­orang yang ahli tentang ilmu gaib, yang dalam istilah ilmu antropologi disebut “pawang”; karena menguasai berbagai mantera-magis untuk menolak bahaya (2 : 141) Dengan demikian maka segala upacara yang diadakan, pada seluruh tahapan dalam mendirikan bangunan rumah baru, pastil ah dipimpin oleh salah seorang dari ketiga jenis tokoh pimpinan desa tersebut.

Alat – Alat Upacara

Termasuk kedalam kategori “alat-alat Upacara” ini, ada- lah bahan-bahan hidangan dalam suatu Upacara. Pada masyarakat peidesaan alat rumah tangga tradisio- nal yang terbuat dari anyam-anyaman bambu; daun ke- lapa (bhs. Jawa : blarak), dan any am an dari lidi (tangkai daim kelapa : bhs. Jawa : Sada) masih dapat & sering masih digunakan dalam berbagai upacara.

Alat-alat tersebut antara lain :

  1. Kranji –  anjaman dari bambu
  2. Tampah – anjaman dari bambu
  3. Kalo – anjaman dari bambu
  4. Kemarang – tembikar, terbuat dari tanah liat yang dibakar.
  5. Gendok –  tembikar, terbuat dari tanah liat yang dibakar.
  6. Takir – sebuah wad ah terbuat dari /aun pisang, dsb. 

Bahan makanan utama dalam upacara Slametan Jenang Sengkala, terdiri dari bubur nasi putih, diwadahi takir (atau piring). Ditengah bubur putih tersebut ditaruhkan pula bubur nasi manis; yaitu bubur nasi putih yang diolah dengan air gula-merah, sehingga agak merak keco- klatan warnanya. Itulah sebabnya dalam masyarakat kultur Jawa, upacara Slametan Jenang Sengkala sering diucapkan pula sebagai “Slametan Jenang Abang”. Perlu diutarakan disini bahwa pada umumnya alat peralatan tradisional mulai terdesak oleh alat-alat dari ba- han plastik, produk pabrik-pabrik plastik dikota-kota besar.

Tata Pelaksanaan Upacara

Setelah semua keperluan upacara dipersiapkan di ruang tengah atau ruang muka, maka diundanglah beberapa orang tetangga dekat untuk datang menghadiri upacara Slametan Jenang Sengkala tersebut. Para peserta duduk bersama, dalam posisi “lingkaran” mengelilingi alat- peralatan upacara. Setelah semua peserta hadir maka pemimpin upacara mengucapkan doa/mantera (bhs. Jawa : ngujubake).

Pada umumnya pemimpin upacara terdiri dari seorang dukun atau seorang kyai (utama). Sebelum mengucap­kan doa/mantera, pemimpin upacara mengumumkan/ memberitahukan kepada para peserta upacara, maksud si empunya hajat yaitu akan mendirikan bangunan rumah baru.

Jalannya Upacara

Upacara kecil Slametan Jenang Sengkala ini diselenggarakan secara sederhana dan “cepat” sekali, seolah-olah sekedar memberitahukan maksud si empunya hajat, kepada para tetangga bahwa ia bermaksud mendirikan rumah.

Bila hal tersebut ditinjau dari ilmu antropologi tradisi demikian muncul dari maksud maksud dan perbuatan magis. Hal tersebut jelas dari nama upacaranya yang mengandung kata “Sang Kala”. Isi doa (mantera) serta ucapan sang dukun -pemimpin upacara, masih menunjukkan sifat-sifat magis (gaib) yang sedemikian itu. Selesai dukun mengucapkan doa (mantera) nya, maka segera hidangan Jenang Sengkala tersebut dibagi untuk dimakan berbarengan dan sisanya boleh dibawa pulang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Timur,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm 168-171

Upacara Menanam Tembuni

Sebelum upacara menanam tembuni berlangsung, dilaku­kan persiapan untuk menanamnya. Menanam ari-ari ini, harus dilakukan oleh ayahnya sendiri, sebab itu Buser kemudian membuat galian (lobang) di muka rumah, karena bayinya laki- laki.

Seandainya bayinya perempuan, lobang untuk menimbun ari-ari itu, ditempatkan di belakang rumah. Ketika Buser meng­gali tersebut, semuanya dikerjakan dengan tangan kanan. Diu­sahakan agar lobang itu tidak terlalu dalam, kira-kira se-cang- kol, sebab menurut kepercayaan masyarakat Madura, kalau lobang itu terlalu dalam, maka gigi anak akan lama tumbuhnya

Mentoa bine-nya meramu untuk keperluan penimbunan itu. Tembuni itu dicuci bersih, dan waktu itu juga dapat di­hitung berapa La’as, yaitu butiran yang terlihat pada ari-ari. Jumlah La’as itu akan menunjukkan jumlah anak yang akan lahir. Tembuni yang sudah bersih itu, dimasukkan ke dalam Polo’ dan langka’, kuali dan tutupnya, setelah lebih dahulu dibungkus dengan kain putih.

Diatasnya ditaruh rempah-rempah, atau bumbu dapur, antara lain Jarango, yaitu deringu, yang dapat menghalau setan, kor- bina konye’ empu kunyit* Dengan benda berupa bumbu dapur yang lengkap itu, diharapkan agar bayi itu kelak selalu berke­cukupan hidupnya.

Di samping itu dimasukkan juga benang, jarum, serta kertas yang bertuliskan Arab atau Latin. Setelah persiapan untuk penimbunan ari-ari ini selesai, maka Buser membawa Polo itu ke muka rumah. Ketika Polo itu akan ditanam, dibawa dari dalam rumah ke luar rumah, di payungi. Dengan khidmat, Polo itu diletakkan pada lobang dan kemudian ditimbuni tanah, dan disiram dengan air bunga. Di atas timbunan tersebut, ditaruh pandan duri.

Di pintu ha­laman dilingtangkan batang pisang, atau digantungkan janur yang di-acu bujur telur di muka rumah. Benda-benda tersebut memberitahukan bahwa ari-ari yang ditimbun itu, berasal dari bayi laki-laki. Apabila bayinya perempuan maka diberi tanda janur yang melingkar. Di atas timbunan tembuni itu diletakkan pula Damar kambang, yaitu pelita minyak kelapa, dengan sumbu kapas.

Menurut kepercayaan masyarakat, tembuni adalah sauda­ra si bayi, oleh sebab itu, harus dipelihara dirawat dengan se­baik-baiknya. Itulah sebabnya ari-ari itu harus ditanam dengan diberi sajian. Selama sebelas hari, tempat timbunan tembuni itu, tetap diterangi dengan.

Damar kembang waktu malam. Maksudnya agar bayinya kelak mempunyai hati yang terang, pikirannya, akalnya agar menjadi terang. Ketika tembuni akan ditanam, harus dipayungi, maksud­nya agar terhindar dari roh jahat.

Upacara Tradisional daerah Jawa timur: Departeme Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1983-1984, Surabaya, Th. 1984, hlm. 41-42

Upacara Cuplak Pusar Masyarakat Tengger

Biasanya setelah bayi berumur lima atau 7 hari pusarnya mengering dan terlepas. Kejadian ini diperingati dengan suatu upacara. Upacara ini dilakukan dengan “kekerik”, yang bertujuan untuk melepaskan segala kotoran dari leluhurnya, dan supaya mendapatkan keselamatan. Mantera yang dibacakan diantaranya sebagai berikut:

“getih abang, getih putih diselameti dina iki dadi kabeh nylameti getihe.” Sajian yang disediakan ada lima macam, yaitu jenang merah, putih, kuning, hitam dan hijau. Dukun menerima sajian-sajian dan uang sekedar­nya. Tali-tali ari-arinya ditanam di dalam rumah dan selama lima hari di­beri penerangan pelita.

Pada upacara kekerik ini diadakan suatu sajian yang lebih lengkap. Pada waktu upacara itu ayah, ibu dan bayinya me­makai benang lawe yang telah dimanterai oleh Dukun. Dengan demikian keselamatan akan diperolehnya dan pertalian diantara ayah, ibu dan anak akan menjadi abadi. Tali benang lawe harus dipakai sampai rusak dengan sendirinya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 28

Upacara Among among Masyarakat Tengger

Setelah bayi berumur 35 atau 44 hari diadakan upacara “among- among”
yaitu upacara untuk menyelamati “sing bahu Rekso”. Pem­berian mantera
ialah agar bayi dijauhkan dari segala gangguan. Kemudian di-“lindungi” diberi
mantera dari orang-orang tua, pada waktu nengkurep. Pada waktu merangkak
diberi lagi mantera, demikian juga pada waktu berdiri, pada waktu jalan
dan waktu sudah bisa lari. Selama 44 hari itu ibu tidak boleh bekeija berat
dan pantang makanan seperti ikan laut, makanan pedas dan mentimun,
akan tetapi diharuskan makan yang serba pahit seperti ranti, sawijo,
pupus daun singkong, daun tetirem. Setelah 44 hari atau 36 hari semua
pantangan itu sudah tidak berlaku lagi dan sejak itu sang ibu sudah boleh bergaul dengan suaminya seperti biasa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 28-29