Kawin Ngeleboni

        Pada tradisi perkawinan masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi terdapat adat yang di sebut “Kawin Ngeleboni”. Bentuk perkawinan ini terjadi karena pihak keluarga laki – laki tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.

Karena takut tidak bisa mempersunting gadis pilihannya itu, maka lelaki bersangkutan datang sendiri dan meminta kepada orang tua perempuan idamannya agar dapat diterima sebagai menantu.

Sementara perkawinannya belum disetujui dan diresmikan oleh orang tua masing-masing, laki-laki bersangkutan meminta agar diperkenankan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan lelaki tersebut disetujui oleh orang tua dan kerabat pihak si gadis, maka pelaksanaan pernikahannya sama seperti upacara pernikahan jenis colongan. Upacara perkawinan ngeleboni berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah colok dari pihak perempuan mengutarakan masalah kepada fihak lelaki.

 Selama perkawinan belum diresmikan, kedua calon suami-isteri tidak diperkenankan hidup bersama. Upacara perkawinan selalu disertai acara makan bersama. Hidangan utama yang disediakan dalam upacara adalah tumpeng serakat dan pecel ayam.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (Melayokaken) atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 115-116

Kawin Colongan

Kawin Colongan, merupakan salah satu tradisi perkawinan masyarakat Using/Banyuwangi

Masyarakat Using/Banyuwangi memiliki beragam tradisi perkawinan salah satunya adalah “Kawin Colongan. Perkawinan jenis ini berdasarkan rasa saling mencintai, namun orang tua sang gadis tidak menyetujui. Karena tak direstui Sang jejaka dan Sang gadis sepakat bahwa pada hari tertentu Sang jejaka akan membawa lari Sang gadis.

Ketika melaksanakan colongan “mencuri gadis”, Sang jejaka biasanya ditemani oleh salah seorang kerabatnya yang mengawasi dari jauh. Dalam waktu ddak lebih dari 24 jam Sang jejaka harus mengirim seorang colok yaitu orang yang memberitahu keluarga Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang dijadikan colok tentu saja sosok yang mempunyai kelebihan dan kepandaian serta dihormati.

Utusan (colok) akan memberitahu orang tua Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah orang tua Sang jejaka melalui ungkapan “sapi wadon rika wis ana umabe sapi lanang, arane si X”. Yang dimaksudkan sapi wadon adalah Sang gadis dan sapi lanang adalah Sang jejaka.

Ketika mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua Sang gadis yang semula kurang setuju biasanya tidak akan menolak karena beranggapan anak gadisnya tidak suci lagi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan mereka.

Colongan dalam masyarakat Using/Banyuwangi bukan dianggap sebagai perbuatan salah. Bahkan colongan dianggap sebagai bukti keberanian dan sekaligus simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (melayokaken), atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngeleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

 

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 114-115

Kesenian Damarulan, Kabupaten Banyuwangi

Janger atau legong adalah kesenian tradisional yang berasal dari daerah Bali, dan yang dapat tumbuh dan berkembang serta digemari masyarakat Banyuwangi. Di Banyuwangi, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Jawa Tengah cerita yang dipentaskan biasanya babad-babad Majapahit, Blambangan, dan sebagainya, sedangkan gamelan dan tata rias serta busananya tidak menin- galkan aslinya.

Sekitar tahun 1950, Banyuwangi mengalami per­tumbuhan kesenian ini sehingga hampir setiap desa memilikinya Lakon yang hampir selalu ditampilkannya, dan sangat digemari masyarakat, ialah cerita Damarulan Ngarit ‘Damar Wulan menya­bit rumput’ sehingga akhirnya kesenian itu lebih dikenal dengan nama damarulan. Damar Wulan adalah nama tokoh kerajaan Majapahit semasa pemerintahan ratu Kencana Wungu.

Dalam perkembangan akhir-akhir ini, damarulan banyak dan sering menampilkan cerita lain, seperti Sri Tanjung, Jaka Umbaran, Bantrang Surati, Agung Wilis, dan babad-babad tentang berdiri­nya mesjid Demak, bahkan kadang-kadang diambil dari cerita film. Kesenian tradisional damarulan makin banyak digemari, mungkin karena pertumbuhan serta peningkatan cipta seninya memenuhi selera daerah setempat.

Dalam pada itu, jenis kesenian yang dianggap sebagai sumbernya, yaitu legong atau janger, masih terdapat di beberapa tempat di Banyuwangi, walaupun pengge­marnya tidak banyak Kesenian tradisional damarulan termasuk drama. Walaupun cakapan dilakukan dalam bahasa Jawa Tengah, tetapi motif Bali masih dominan, terutama dalam hal tata rias, ta­ta busana, bentuk gerak tari, dan perangkat gamelan dengan laras­nya yang khas Bali.

Kita telah banyak mengenal gending irama Bali dengan rit­me yang lincah dari kombinasi nada yang merdu dan serasi itu, dan pada kesenian damarulan pun terdapat gending yang sama.

Pada kesenian legong atau janger, sarana peralatannya cukup besar, terutama perangkat gamelannya. Kesenian damarulan pun demikian pula. Perangkat gamelannya terdiri dari 12 macam gamelan, sedangkan tenaga penabuhnya ada 19 orang. Satu pe­rangkat gamelan damarulan terdiri dari :

a) Sebuah gamelan yang disebut pantus, yaitu gamelan sema­cam selenthem pada angklung banyuwangi, dan pemukulnya seorang, disebut pantus juga. Pantus sebagai pembawa gen­ding pada perangkat gamelan ini, mempunyai peranan pen­ting dalam penampilan cerita sehingga ia harus banyak penga­laman dalam hal pagelaran kesenian damarulan.

b) Gamelan yang disebut tempalan i,sebanyak tiga buah ter­diri dari dua tengahan dan satu peking, dan berfungsi mem­berikan pukulan yang berlawanan dengan tempalan 2.

c) Tiga gamelan tempalan 2, terdiri dari dua tengahan dan satu peking. Cara memukul tempalan 1 dan tempalan 2 ber­lawanan, mengikuti irama pantus, dan para penabuhnya duduk berhadapan

d) Dua buah calung, yaitu jenis gamelan semacam selenthem be­sar, bedanya masing-masing mempunyai wilahan yang hanya terdiri dari enam wilah. Cara memukulnya bersamaan me­ngikuti irama pantus yang memiliki 12 wilah.

e) Sebuah jubag, yaitu semacam selenthem besar, tetapi terdiri dari enam wilah dan tiap wilah terdiri dari wilahan yang rangkap. Dengan demikian alat pemukulnya pun rangkap dua. Cara memukulnya irama lambat atau satu-satu, meng- kuti irama pantus. Namun mengikuti pukulan yang tera­khir tiap birama seakan-akan mengikuti lagunya pada bagian belakang.

Kecek, yaitu alat ritmis terbuat dari lempengan semacam seng tebal, dua pasang, masing-masing disusun rangkap ber- bentuk lingkaran. Alat pemukulnya juga terbuat dari bahan yang sama, berbentuk sama pula, hanya tidak rangkap. Cara memukulnya dengan menggunakan tangan kanan dan kiri bergantian mengikuti irama, gendingnya berfungsi seba­gai sisipan pada iramanya, dan terutama untuk memperte­gas persamaan gerak tari pelaku yang sedang menari.«

g) Kethuk, yaitu alat yang hanya terdiri dari satu saja. Cara memukulnya dengan irama yang tidak tetap. Walaupun se­derhana, alat ini tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang.

h) Sebuah gong yang fungsinya sama dengan pada gamelan lain.

i) Dua buah gendang dengan dua orang pemukul juga, ber­fungsi membawa irama.

j) Reong, yaitu gamelan khas Bali, berupa deretan kempul yang memanjang sebanyak 12 buah dengan empat orang pemukul. Gamelan ini mengiringi irama gending dengan suara yang khas Bali.

Penampilan atau permainan damariilan di daerah Banyuwangi sama dengan cara penampilan janger atau legong di Bali. Pentas berupa panggung dengan latar belakang skerm dengan berbagai macam gambaran atau lukisan yang digunakan menurut kebu­tuhan cerita atau lakon.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,

 

Kesenian patrol, Kabupaten Banyuwangi

Kesenian patrol merupakan salah satu jenis musik khas Banyuwangi yang tetap hidup dan berkembang sampai sekarang. Kesenian patrol adalah jenis musik rakyat yang lebih bersifat ritmis, tanpa peralatan diatonik.

Dalam perkembangannya, di beberapa tempat ditambahkan satu atau dua peralatan diatonik, biasanya berupa angklung atau seruling dari bambu sebagai peng­ganti vokal. Kesenian patrol yang aslinya juga tetap berkembang, merupakan seni memukul peralatan ritmis dari ruas-ruas bambu yang diraut dan diatur demikian rupa sehingga enak didengar dan sedap dipandang, dengan teknik pukulan khas Banyuwangi.

Kesenian patrol juga terdapat di daerah lain dengan ciri khas masing-masing, antara lain di Madura dan Jawa Tengah.Pada patrol Banyuwangi ada semacam alat patrol ritmis yang dalam dialek Using disebut gendhong. Alat itu berfungsi seperti gendang pada kesenian angklung Banyuwangi atau selo pada musik keron­cong.

Jadi alat itu berfungsi penting sebagai pengatur irama dan ritmanya. Pemukul gendhong harus benar-benar tahu irama dan banyak memahami teknik permainan patrol. Musik rakyat patrol Banyuwangi berfungsi sebagai salah satu sarana dalam rangka penjagaan keamanan desa dari segala macam bahaya, dan kata patrol yang berasal dari kata patroli berarti ‘beijaga berkeliling’ atau ‘meronda’ sambil membunyikan peralat­an ritmis terbuat dari mas bambu besar kecil, yang apabila dipukul mengeluarkan bunyi berbeda dan enak didengar.

Dalam hubungan itu, mungkin peralatan patrol dibuat di samping sebagai salah satu sarana kegiatan patroli atau meronda dari penduduk kampung yang berfungsi untuk tanda membangunkan penduduk desa yang sedang tidur, juga sengaja untuk sekedar menyusun bunyi-bunyian indah berirama sebagai pencegah para peronda mengantuk.

Dewasa ini kesenian patrol Banyuwangi terbina dan berkembang dengan baik, serta terkordinir secara teratur dengan kaidah-kaidah permainan tertentu sebagai salah satu jenis kesenian daerah Blam- bangan Banyuwangi.

Kesenian patrol banyuwangi memiliki ciri khas. Secara tra­disional, di daerah Banyuwangi, selama bulan Ramadhan ada kebiasaan setiap malam sesudah sembahyang tarawih diadakan permainan patrol berkeliling dari kampung ke kampung oleh para remaja dan bahkan ada yang sudah dewasa. Kebiasaan itu tidak lagi berfungsi sebagai penjaga kampung atau ronda malam, tetapi secara suka rela tanpa rasa pamrih membangunkan penduduk desa yang masih tidur lelap segera bangun untuk makan sahur.

Dalam penampilannya, patrol selalu diiringi vokal membawa­kan lagu atau gending banyuwangen dengan cengkok serta logat yang khas Banyuwangi, diselingi ucapan suara lantang dan keras, “sahur! sahur!” Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian pa­trol yang terorganisasi dengan rapi serta mempunyai program pem­binaannya, dapat dijumpai setiap saat, dan tidak hanya menampil­kan bunyi-bunyian peralatan patrol itu saja, tetapi dilengkapi dengan lagu perjuangan daerah Blambangan ciptaan baru. Musik rakyat patrol ini membawakan lagu daerah Banyuwangi yang biasa dibawakan oleh penari gandrung.

Dalam usaha pembinaannya, setiap bulan Ramadhan diada­kan festival “Parade Patrol”, diikuti oleh semua organisasi patrol di seluruh wilayah kabupaten Banyuwangi. Dengan usaha itu, daerah Banyuwangi sempat membina kesenian ini. Untuk menen­tukan juara parade itu, biasanya ditetapkan kriteria penilaian yang meliputi hal-hal berikut.

  1. Kecakapan atau teknik pukulan, yaitu kemahiran cara memu­kul peralatan patrol sehingga terdengar suara dan irama yang indah. Ketrampilan pukul akan melahirkan keserasian suara yang indah serta pengaturan irama atau ritma pukulan yang enak didengar. Keserempakan mulai memukul dan berhen­ti pada saat yang tepat, adalah salah satu dari ketentuan kriteria ini.
  2. Aransemen, yaitu pukulan atau irama sisipan pada pukulan para pemainnya, biasanya banyak tergantung kepada kete­kunan mereka berlatih di samping kecakapan pimpinan atau  pelatihnya. Setiap grup mempunyai aransemen yang ber­lainan, tergantung kepada selera pelatihnya, namun tidak meninggalkan irama dan ritma khas Banyuwangi.
  3. Keindahan bunyi peralatan patrol yang tidak terlepas dari aransemen, warna bunyi atau suara peralatan patrol itu sen­diri sangat menunjang keindahannya. Patrol yang pecah atau tidak nyaring, sudah tentu tidak akan melahirkan suara yang merdu atau indah. Dalam lomba itu, biasanya juga ditentukan keaslian peralat­annya, yang terutama terbuat dari bambu atau kayu.
  4. Tata tertib dan kesopanan, biasanya telah ditentukan lebih dulu oleh panitia jauh sebelum parade dilaksanakan, me­nyangkut ketentuan yang bersifat ideal sebagai orang Timur. Tata busana, yang tidak terlalu mewah, tetapi sopan dan pantas. Kriteria penilaian busana ini tidak amat menentu­kan.

Peralatan kesenian patrol khas Banyuwangi umumnya terbuat dari ruas bambu besar kecil yang diraut dan dilubangi demikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara nyaring apabila dipukul. Dari warna bunyi yang indah itu, sekelompok anak muda berusaha mengungkapkan rasa musikalnya melalui kesenian ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 33-35

Tari Padangulan, Kabupaten Banyuwangi

Tari padangulan adalah satu jenis tari daerah Blambangan Banyuwangi yang termasuk jenis tari kelompok berpasangan, dan sudah dikenal di seluruh daerah Jawa Timur. Namanya dise­suaikan dengan suasananya, yaitu ketika kelompok muda-mudi berpasangan bersukaria bersama di bawah sinar bulan purnama di tepi pantai Banyuwangi. Memang sudah menjadi kebiasaan, pada waktu bulan purna­ma, pantai Banyuwangi banyak dikunjungi para pemuda, terutama para remaja, apalagi jika kebetulan tepat pada malam Minggu. Pada saat itu mereka berkesempatan saling berpasangan menikmati hawa sejuk tepi pantai, memadu janji di bawah kilauan air laut. Tari padangulan adalah satu tarian tradisional yang bersifat hiburan semata-mata sehingga dapat dianggap sebagai tari per­gaulan muda-mudi. Tari ini termasuk tari rakyat, yaitu tarian yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat Using, Banyuwangi Tarian ini diiringi angklung Banyuwangi dengan gending banyu- wangen, Padangulan, yang syair lengkapnya dalam dialek Using adalah sebagai berikut: Padangulan nong pesisir Banyuwangi, padangulan nong pesisir Banyuwangi, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, soren-soren lanang wadon padha teka. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, berkilauan lautannya bagai cermin, berkilauan lautannya bagai cermin, sore hari, pria wanita berdatangan. Gending itu akan terasa lebih indah apabila diiringi angklung Banyuwangi yang erotik melankolik dan lincah, menarik siapa pun yang menikmatinya, apalagi dengan santapan visual kelompok penari cantik menarik. Seperti pada tarian tradisional Banyuwangi lainnya, tari ini juga dengan motif khas Banyuwangi, seperti gerak tari pada penari gandrung. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 31-32

Hadrah Kuntul, Kabupaten Banyuwangi

Hadrah kuntul, atau lebih dikenal dengan nama hadrah kun- tulan atau kuntulan saja, adalah salah satu di antara kesenian khas daerah Banyuwangi yang masih tetap hidup dengan subur dan berkembang dengan baik di beberapa daerah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Hadrah adalah nama jenis kesenian atau organisasi kesenian yang banyak terdapat di seluruh Jawa Timur, dengan jenis peralatan yang khas berupa alat musik bersifat ritmis, yang disebut terbang.

Karena alatnya itu, kesenian ini juga biasa disebut terbangan, yaitu jenis kesenian yang bernafaskan ajaran agama Islam dalam bentuk nyanyian atau pujian salawat bagi Nabi Besar Muhammad SAW. dalam rangka syi’ar Islam di daerah. Kuntulan, berasal dari kata kuntul, yaitu nama sejenis burung yang berbulu putih. De­ngan demikian, hadrah kuntulan adalah kesenian yang telah me­ngalami perkembangan dan perubahan karena kemajuan atau pengaruh situasi kelilingnya; antara lain dalam penampilannya para pemain mengenakan pakaian atau seragam yang menyerupai bentuk atau warna burung kuntul, yaitu celana, hem lengan pan­jang, dan berkaos tangan yang semuanya berwarna putih. Di sam­ping itu pemain masih mengenakan semacam peci warna kuning atau biru dengan motif burung kuntul. Lagu dan nyanyian yang ditampilkan, dalam perkembangan, di samping yang bernafaskan agama, juga lagu perjuangan, lagu Melayu, lagu daerah Blambang- an, dan lain-lain. Untuk lebih menarik dan sesuai, biasanya peralat­an atau instrumennya lebih dilengkapi dengan semacam gende­rang besar yang disebut jedor, seruling, tenor, dan sebagainya. Ada juga yang dilengkapi dengan akordion, gitar, dan masih ba­nyak yang lain.

Ditilik dari segi penampilan peralatannya, kesenian ini sulit dikatakan asli dari daerah Banyuwangi, walaupun hanya terdapat di daerah itu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kesenian ini termasuk kesenian yang berbau keagamaan, berasal dari bentuk

samanan, yaitu kesenian dengan memakai peralatan terbang dan bertujuan untuk syi’ar agama Islam.

Hadrah kuntulan termasuk jenis kesenian hiburan, mengan­dung nilai keagamaan, walaupun bukan berarti penampilannya khusus untuk kegiatan upacara agama. Sebagai kesenian hiburan, sekarang lebih banyak menjurus kepada hiburan masyarakat sehingga sering dipentaskan untuk keluarga yang mempunyai hajat perkawinan atau khitanan. Ciri khas penampilannya banyak dipengaruhi pencak silat, namun lepas dari sifat bela diri.

Organisasi hadrah kuntulan yang lebih maju dan lebih kaya, biasanya mempunyai peralatan lebih banyak, dilengkapi peralat­an musik modern untuk orkes Melayu, berupa akordion, bas- gitar, dan lain-lain. Bahkan ada pula organisasi kesenian hadrah kuntulan yang sengaja memenuhi selera masyarakatnya, terutama para penggemarnya, dengan menampilkan para vokalis lagu melayu. Walaupun demikian, sifat tradisionalnya yang dominan tetap tidak ditinggalkan, dan biasanya penampilan lagu melayu itu hanya mereka tampilkan pada saat acara selingan.

Pada acara hiburannnya, hadrah kuntulan menampilkan tarian dan nyanyian yang unik sekali dan khas Banyuwangi, yaitu mengarah kepada bentuk silat. Salah satu gerakannya, mi­salnya, kedua belah tangan terbuka dan bergetar kiri dan kanan berganti-ganti ke atas dan ke bawah dengan sikap menengadah dan melihat ke bawah berganti-ganti pula mengikuti irama je- dor dan terbang bervariasi. Seluruh pemain, berjumlah tidak lebih dari 20 orang laki-laki, 12 orang di antaranya sebagai pemukul instrumen, dan 8 orang berfungsi sebagai rodat ‘penari’. Dalam penampilannya, seorang rodat yang disebut pantus berfungsi se­bagai dalang atau pembawa acara. Pantus pada kesenian ini hampir sama dengan satu pada angklung Banyuwangi, karena itu harus lebih mahir. Rodat yang lain selalu menurut perintah pantus, dan biasa timbul gerakan ber­beda apabila ada rodat yang kurang memperhatikan kehendak pantus. Kuntulan yang baik, gerakannya akan seragam, sesuai dengan perintah pantus. Kadang-kadang seorang rodat menari dan menyanyi dengan bentuk tari yang sesuai dengan lagu yang dibawakannya, sedangkan rodat yang lain menari dengan gerak­an seragam bersama-sama sambil mengimbangi rodat yang satu itu (tari rodat kombinasi), diiringi bunyi gamelan,. Setelah se­lesai, diganti rodat lain yang melakukan cara yang sama, dengan tarian yang berbeda selama satu atau dua lagu, terus-menerus bergantian.

Kesenian ini terus-menerus menghibur penonton sepanjang malam. Apabila perlu istirahat karena lelah, dengan kata-kata manis sang pantus menyampaikan maksudnya kepada anggota rodat maupun kepada penonton, dan sebagai acara selingan segera tampil para vokalis yang juga termasuk anggota kelompoknya dengan iringan peralatan orkes Melayu.

Pemukul instrumen terdiri dari 12 orang, 9 orang sebagai pemukul terbang dengan fungsi sebagai pengiring lagu, 2 orang sebagai pemukul jedor kecil dengan fungsi sebagai pemberi aba- aba irama dan ritmenya, dan seorang sebagai pemukul jedor be­sar yang berfungsi sebagai gong. Iramanya disesuaikan dengan

irama lagu dan gerak tari. Kadang-kadang cepat seperti irama pencak silat, kadang-kadang berubah lembut jika mengiringi lagu yang syahdu. Dalam peralihan itu, pantus memegang paranan yang menentukan, sedangkan keindahan warna pukulan pada instrumen tergantung kepada kecakapan dan kemahiran anggota pemukulnya memainkan instrumen yang khas itu.

Kesenian hadrah kuntulan memerlukan pentas atau pang­gung berukuran kira-kira 7 x 7 m, dalam bentuk arena terbuka atau di bawah tarob, yaitu sejenis bangunan sementara dari tenda atau welit sebagai atap tanpa latar belakang. Pagelarannya biasanya dilakukan pada waktu malam, dan lamanya tergantung kepada pengundang atau penyewanya, sesuai dengan hajat pengun­dang itu sendiri, untuk perkawinan, khitanan, atau sekedar ulang tahun.

Penampilannya lebih meriah lagi jika dengan sengaja pengun­dangnya mendatangkan dua kelompok kesenian kuntulan sehing­ga terjadi hadrah kuntulan caruk ‘hadrah kuntulan berlomba’. Kedua kelompok kuntulan yang akan bermain bergantian mengadu kecakapan dan saling menunjukkan kekayaan variasi pukulan atau aransemen mereka masing-masing, siap di pang­gung.

Pertunjukan semacam itu tidak ada panitiannya, dan tidak per­lu pula dibentuk tim penilai atau dewan juri. Penonton sekaligus bertindak sebagai juri: siapa yang mendapat banyak sambutan penonton dengan positif, tepukan meriah, atau pendapat simpati dan sanjungan penonton, itulah yang dinyatakan menang.

Teknis penampilan hadrah kuntulan adalah sebagai beri­kut.

Pertama-tama muncul satu persatu ke atas pentas 12 penabuh instrumen, membawa peralatannya masing-masing; mula-mula 9 orang pemukul terbang yang membawa terbang ditangan- nya, diikuti dua orang pemukul jedor kecil, dan akhirnya pemukul jedor besar. Mereka membentuk formasi dengan melihat situasi dan kondisi pentas; biasanya penabuh ter­bang berderet lurus dari arah depan ke belakang atau se­rong sebelah kiri atau kanan pentas. Di kedua ujung, ber- tempat jedor besar dan jedor kecil. Biasanya mereka ber­pakaian seragam kesenian daerah Blambangan.

b)         Setelah regu pemukul menempati formasi, mereka mulai membunyikan instrumennya sebagai tanda perkenalan kepa­da para penonton sambil menunjukkan kemahiran cara me­mukul, sebelum rodat muncul. Ini hanya satu teknik saja, ada teknik lain yang menampilkan pemukul instrumen dan rodat bersama-sama sejak awal.

c)         .   Setelah berdemonstrasi dengan pukulannya, tiba-tiba mereka mengurangi suara pukulannya dengan irama pelan, dan pada saat itu muncul para rodat dengan pakaiannya yang khas dan membentuk formasi, biasanya bersebelahan dengan penabuh instrumen dan menghadap penonton atau para undangan.

d)         Dengan aba-aba pantus, rodat maulai menarikan tari ucap­an selamat datang kepada para penonton, dimulai dengan ragam pembukaan. Ada yang disebut ragam duduk, menari dengan sikap duduk, ragam berdiri, menari dengan sikap ber­diri, ragam baris, ragam hormat, dan sebagainya.

e)         Pantus mulai memegang peranan pada permainan inti. Kadang-kadang seorang rodat menari dengan lincah di ha­dapan rodat lainnya yang bertindak sebagai latar, diselingi gerak ragamnya. Rodat itu bergantian maju menari sampai jauh malam, dan bahkan sampai terbit fajar.

Biasanya setiap organisasi kesenian kuntulan mempunyai jenis lagu atau nyanyian untuk lagu penutupnya, di samping itu ada pula bentuk tari yang disebut ragam penutup.

Untuk mengisi waktu istirahat setelah beberapa jam tam­pil di atas pentas, mereka mempersiapkan acara khusus, biasanya dalam bentuk lagu oleh para vokalisnya dengan iringan semacam orkes melayu. Kesenian ini tidak begitu menonjolkan tata rias para pemainnya, mereka mengatur dan merias dirinya sendiri, dan tidak menyulitkan karena semuanya laki-laki. Pakaian rodat terdiri dari:

a)          Tutup kepala berwarna putih, berbentuk peci. Sepanjang tepi bagian atas arah memanjang, ada tambahan hiasan garis dan umbai-umbai warna kuning atau hiasan yang lain menurut selera, mengingatkan kita kepada bentuk kepala seekor bu­rung.

b)          Kemeja putih lengan panjang, berbentuk setengah jas dengan hiasan garis warna kuning, berumbai sepanjang lengan kiri dan kanan, bagian dadanya dihias umbai warna kuning, merupakan dua garis bertemu membentuk sudut menghadap ke atas. Kemeja itu dipakai di luar celana.

c)          Celana putih dengan garis warna kuning kiri dan kanan, seperti yang terdapat pada pakaian latihan olah raga. Ba­hannya tergantung kemampuan, biasanya kain sejenis tek- teks atau sebangsanya.

d)          Sepasang kaus kaki warna putih, tanpa sepatu atau yang lain.

e)          Kaos tangan putih.

Tata busana itu tidak merupakan keharusan, baik bentuk maupun warnanya, tergantung selera dan kemampuan organi­sasi masing masing yang penting bentuk ukuk adalah motif bu­rung semacam kuntul

Busana pemukul instrumen, pada umumnya tidak ditentukan, me­nurut kemampuan yang ada saja, hanya harus seragam, biasanya dengan kain batik melilit pada perut, dan bersongkok hitam. Para pemukul instrumen umunya lebih tua daripada rodat, se­kitar 40-50 tahun, sedangkan rodat umumnya tergolong pemuda atau bahkan remaja. Sampai sekarang belum ada anggota wani­ta.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 36-41

Tari Seblang Olehsari, Kabupaten Banywangi

Tari seblang hidup dan berkembang di desa Olehsari dan Mojopanggung (kecamatan Glagah) yang terletak di kaki gunung Ijen. Tarian ini merupakan kesenian adat, dan sampai sekarang masih tetap hidup di kalangan masyarakat Using, walaupun jarang dipentaskan. Tarian yang oleh masyarakatnya dianggap keramat ini hanya dipentaskan pada upacara adat tertentu saja, terutama pada upacara adat bersih desa ‘membersihkan desa. Menurut keterangan, tarian ini menjadi sumber lahirnya tari gandrung Banyuwangi yang sekarang sudah mulai dikenal secara meluas.

Walaupun tari seblang dikenal di dua desa. ternyata di antara keduanya terdapat sejumlah perbedaan. Perbedaan itu ialah antara lain yang berhubungan dengan:hal-hal berikut.

  1. Waktu pementasan. Tari seblang Olehsari dipentaskan pada bu­lan Syawal atau hari raya Idulfitri, selama satu minggu, sedangkan tari seblang Mojo­panggung dipentaskan pada bu­lan Zulhijah pada hari raya ldulkurban, selama satu hari saja.
  2. Penari seblang Oleh­sari terdiri dari para gadis muda, dan setiap tahun ber­ganti, sedangkan penari seb­lang Mojopanggung adalah wa­nita yang sudah berumur, dan tidak mengalami pergantian.
  3. Tata busana dan tata rias. Tata busana dan tata rias seblang Olehsari lebih asli dibandingkan dengan seblang Mojopanggung. Mahkota yang dikenakan penari seblang Olehsari terbuat dari daun-daunan dan bunga-bungaan setempat, sedangkan mahkota penari sebiang Mojopanggung bentuknya hampir sama dengan mahkota tari gandrung Banyuwangi.
  4. Bawaan. Tangan penari sebiang Olehsari hanya membawa sehelai selendang pelangi, sedangkan penari seblang Mojo-panggung membawa sebilah keris terhunus.
  5. Gamelan pengiring seblang Olehsari hanya terdiri dari dua buah saron, sebuah gong, dan kendang,, sedangkan gamelan pengiring tari seblang Mojopanggung merupakan perangkat gamelan yang lengkap.

Karena dianggap keramat, sudah wajar jika untuk mementaskan tari sebiang ini diperlukan persiapan cukup seksama. Pementa-san itu dipimpin oleh seorang laki-laki setengah baya yang berfungsi sebagai dukun atau pawang yang mendatangkan roh dengan mengucapkan mantra dan membakar dupa. Roh itu akan masuk ke dalam raga penari.

Sebagai pemimpin pementasan, dukun harus sudah mempersiapkan segala sesuatu lama sebelumnya. Menurut keterangan, persiapan itu dikeijakan berdasarkan impian sang dukun yang diterima dari roh yang diharapkan hadir Dalam impian itu roh yang bersangkutan biasanya yang dianggap cakal bekal desa menetapkan susunan panitia, penari, penabuh gamelan, pemaju,  pesinden gending banyuwangen, dan tempat pementasan. Semuanya itu tidak boleh diubah oleh siapa pun, dan sang dukun hanya menyampaikannya kepada masyarakat serta melaporkan kepada lurah.

Penari seblang yang ditunjuk dan ditugaskan, bisanya wanita muda yang belum bersuami atau janda yang masih turunan penari gandrung pertama. Jika hal ini tidak dilakukan, akibatnya akan sangat buruk, berupa pageblug, misalnya saja panen gagal atau sawah dan ladang diserang hama.

Penari seblang, setelah kemasukan roh, tanpa sadar menari-nari melengak-lenggok ke kiri dan ke kanan dengan gelengan kepala ke samping kiri dan kanan sambil mengelilingi gelanggang yang penuh sesak. Matanya terpejam, mulutnya terkatup, sedangkan gerakannya santai dan lemah gemulai mengikuti irama gending banyuwangen yang dibawakan para pesinden Using dengan iringan gamelan khas banyuwangen dengan larasnya yang khusus. Walaupun menari tanpa sadar dan mata terpejam, tetapi penari itu seakan-akan dapat melihat, dengan mudah ia menari di antara orang banyak. Dalam menari itu, ia diikuti/disertai oleh seorang pemaju.

Pementasan tari seblang tahun 1978 dilaksanakan dari hari ketiga sampai hari ketujuh Idulfitri, bertempat di salah satu dukuh (dusun) desa Olehsari. Setiap 14.00-17.00 WIB, atau kadang-kadang sampai menjelang magrib, sedangkan persiapannya dimulai kira-kira pukul 13.00 WIB. Menurut keterangan orang tua-tua, pementasan itu ditentukan oleh suara gaib melalui salah seorang penduduk yang tiba-tiba kemasukan roh dan memerintahkan agar segera diselenggarakan pementasan tari seblang, dan jika tidak diindahkan, segenap penduduk desa akan mengalami musibah besar yang mengerikan.

Pada tahun 1978 itu, Surati, seorang janda Olehsari yang baru berusia 25 tahun dan berdarah gandrung di desanya, me­nurut keterangan pak Enan (60 tahun) yang bertindak sebagai dukun, ditunjuk dan ditetapkan sebagai penari seblang berdasar­kan petunjuk Buyut Trasiun, cakal bakal desa. Petugas lain yang ditunjuk pada waktu itu ialah antara lain seorang laki-laki yang rata-rata berusia 40 tahun, sebagai penabuh gamelan pengiring. Sebagai juru rias ditunjuk seorang wanita bernama Suni, dan ditunjuk pula tujuh orang wanita sebagai pesinden gending banyuwangen tradisional seblang, semuanya berusia sekitar 40 tahun.

Gending-gending yang dibawakan oleh penari seblang tahun itu, seluruhnya tidak kurang dari 26 macam, dan sebagian besar juga dikenal pada kesenian gandrung, seperti gending Podho Nonton, Layar Kamendung, Kembang Menur, Kembang Waru, Sekar Jenang, Candra Dewi, Celeng Mogok, dan Erang-erang. Menurut keterangan, mula-mula tari sebiang biasanya dibawakan oleh seorang laki-laki yang tampan di desanya, dan penari seblang wanita yang pertama bernama Semi, penduduk desa Cungking, kecamatan Giri, yang berbatasan dengan kecamatan Glagah. Embah Semi akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai penari seblang wanita, dan dalam perkembangan selanjutnya berfungsi sebagai gandrung Banyuwangi. Dengan demikian disimpulkan bahwa semua penari gandrung Banyuwangi yang sekarang masih mempunyai hubungan darah dengan embah Semi.

Persiapan sajen, pembuatan mahkota dari daun dan bunga, pengaturan gamelan, dan lain-lain, dimulai sekitar pukul 13.00 WIB di tempat yang telah ditetapkan. Tidak begitu jauh dari tempat itu, juru rias Suni melaksanakan tugasnya merias Surati sebagai penari seblang. Kira-kira pukul 13.45 WIB, penari seblang yang masih dalam keadaan sadar diikuti juru rias, pemaju, dan para pesinden dengan segala perlengkapannya masing-masing, menuju tempat pementasan, yaitu lapangan terbuka berukuran kira-kira 20 x 20 meter. Tepat di tengah lapangan, dipancangkan sebatang tonggak kayu atau bambu setinggi 4 meter, dari puncak­ nya direntangkan tali-temali ke segenap penjuru sehingga mirip sebuah payung besar. Menurut dukun, penari sebiang digambar­kan menari dan bergembira di bawah keteduhan payung agung.

Di tempat itu telah tersedia seperangkat kecil gamelan tradisional dan para pemukulnya. Di sisi barat tempat itu, di­siapkan semacam pondok kecil berukuran kira-kira 2×3 meter, menghadap ke timur, dilengkapi tikar pandan untuk para pesin­den duduk bersimpuh, dan sebuah kursi biasa sebagai singgasana penari sebiang, di bagian atas pondok kecil itu, di bawah atap, bergantungan berbagai hasil desa, berupa seuntai padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, berbagai buah-buahan, sayur-sayur, dan se- bagainya, menggambarkan hasil bumi daerahnya dengan mak­sud agar panen tahun itu melebihi harapan. Kedatangan rombongan penari seblang yang masih sadar itu di­sambut oleh para penonton yang sudah lama berjejal-jejal, ber­kerumun, dan berdesak-desakan menanti. Kerabat desa, dibantu hansip setempat, sibuk mengatur dan menjaga ketertiban dan keamanan acara.

Sementara sudah nampak siap dan tertib, pak Enan dengan tenang mulai membakar kemenyan. Ia dibantu seorang wanita setengah baya yang menutup rapat kedua mata dan telinga penari sebiang dari belakang dengan kedua tangannya sambil berdiri. Dukun duduk berjongkok berhadapan dengan penari sebiang, membakar kemenyan dan membaca mantra. Kedua belah tangan penari sebiang memegang sebuah niru kecil dengan sikap seakan- akan meletakkan punggung niru ke arah datangnya asap dari perapian dukun.

Jika tanpa sengaja niru terjatuh dari tangan penari sebiang, itu menandakan bahwa roh telah masuk ke dalam tubuhnya, dan pada saat itu tanpa sadar ia mulai menari berkeliling, seorang diri di antara orang banyak sambil mengikuti irama gamelan yang dikumandangkan dengan gending banyuwangen dan suara para pesinden dari arah pondok kecil, diikuti pemaju Sondok. Tarian itu merupakan tari pembukaan.

Setiap kali sebuah gending se-lesai ditarikan bersama pe-maju, dan apabila merasa puas, segera penari sebiang menuju ke pondok dan beristirahat, duduk di kursi. Beberapa saat kemudian, bergema gending la-in, dan apabila penari sebiang menyetujui, dia segera bangkit dari kursinya dan menari lagi mengikuti irama gending itu sepuas hati. Apabila gending itu kurang berkenan di hati, dia tetap duduk tenang. Se-tiap gending yang berbeda, menyebabkan tarian penari sebiang itu berbeda pula jenisnya. Demikian acara itu berlangsung terus-menerus sampai seluruh 26 gending berakhir; menari tanpa bersuara, mata tertutup, tetapi tidak sampai terantuk benda atau penonton yang memenuhi gelanggang.

Puncak acara yang cukup mengesankan adalah pada acara hari terakhir sebagai acara penutup. Penari sebiang tidak hanya menari di dalam gelanggang itu saja, tetapi mengelilingi desa Olehsari, melalui jalan sempit berkelok-kelok, menyusuri lorong kecil di antara rumah penduduk. Pada kesempatan itu, penabuh dengan gamelannya, para pesinden, dan dukun (pak Enan) diikuti semua penonton turut berkeliling mengikuti langkah dan tarian penari sebiang, seakan-akan pawai mengelilingi desa.

Menurut keterangan, mengelilingi desa itu dimaksudkan untuk menghilangkan segala macam bentuk yang mungkin merusak desa, dan mempunyai hikmah saling mengenal antar penduduk. Acara itu ditafsirkan membawa tanda penyebaran doa selamat sejahtera kepada segenap penduduk desa, termasuk keamanan kampung, peningkatan hasil sawah ladang, peningkatan hasil ternak, dan sebagainya, serta memberikan tanda tolak bala, agar dijauhkan dari segala macam bentuk malapetaka. Setelah kembali ke gelanggang, dukun mulai berperan lagi untuk yang terakhir kalinya, dan dengan kekuatan mantranya, menyadarkan penari sebiang kembali sebagai Surati.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 

Puji-Pujian Banyuwangen

Selayang Pandang: Puji-Pujian Banyuwangen

Tamba ati iku lima warenane
Maca Qur’an angen-angen ring maknane
Kaping pindo shalat wengi lakonana
Kaping telu dhikir ati ………………………………

Sesungguhnya puji-pujian adalah suatu tradisi yang tidak ditradisikan oleh Nabi Muhammad SAW maupun khulafa’rossyidien. Mengingat memang tidak ada contoh maupun perintah Rasulullah itu, maka wajarlah kalau ada sebagian insan, puji-pujian tersebut sebagai muspro saja. bahkan ada yang menyatakan, puji-pujian tersebut sebagai bid’ah dlolaalah. Artinya, sesuatu yang diada-adakan, yang tidak dilakukan oleh rasuluIlah, dan itu salah.

Namun ada kesan dan pendapat lain yang berpendirian, puji-pujian itu mempunyai tujuan yang baik, caranya pun baik, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai keimanan, dakwah, dan syiar Islam. Maka dianggaplah puji-pujian itu sebagai bid’ah hasanah. Maksudnya, sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah, namun mempunyai nilai atau arti yang baik dan bermanfaaf (aslahah), bahkan mendekati sebagai sangat dianjurkan.

HA Mughni Said, sarjana pendidikan agama Islam menyatakan, masalah puji-pujian itu sebagai suatu kenyataan yang hidup mentradisi di kalangan masyarakat. Baik yang dialunkan dalam bahasa campuran, bahasa Arab, bahasa Using yang disesuaikan dengan lingkungan, dan dengan irama lagu yang bervariasi.

Tentang puji-pujian berbahasa Using yang lebih dikenal dengan sebutan Puji-pujian Banyuwangen, Ketua FKP DPRD setempat ini secara pribadi berpendapat, di samping mempunyai nilai pendidikan dan dakwah, juga mempunyai sentuhan seni yang masih islami.

Bahkan dalam perkembangan akhir-akhir ini, menurut laki-laki kelahiran Lamongan 1949 lalu itu syair puji-pujian Banyuwangen dipakai untuk menyemarakkan tampilnya kesenian Kundaran (Kuntulan Dadaran) yang mempunyai corak khas Banyuwangi, seperti Tamba Ati. Sebagaimana tradisi-tradisi islami yang lain, puji-pujian di samping bisa diterima sebagai kontribusi yang bernilai pendidikan dan dakwah, juga terasa sentuhan-sentuhan nilai seninya, ada beberapa hal sebagai masalah yang perlu dikaji lebih profesional lagi.

Masalah tersebut antara lain masih sering puji-pujian itu dikumandangkan dengan alunan yang kurang menarik, dan waktunya kadang-kadang menjemukan, bahkan terkesan hanya dilakukan asal-asalan saja.

Termasuk adanya situasi yang kurang mendukung akibat kemajuan dan tuntutan masyarakat yang semakin terasa memerlukan waktu yang cepat, dan ingin serba praktis, sehingga terkesan bahwa waktu yang dipakai puji-pujian kurang bernilai ekonomis.

Di samping itu, semakin berkurangnya minat masyarakat terhadap puji-pujian. Apa alasannya? Dalam hal ini, Mughni yang pernah menjabat Kasubsi Penyuluhan pada Seksi Penerangan Agama Islam Kandepag Banyuwangi, mengakui belum melakukan pengamatan secara khusus.

Budayawan Banyuwangi, Hasan Ali mengatakan, memang tidak ada aturan yang mengharuskan semua kegiatan agama atau upacara keagamaan dilakukan dengan lagu. Namun ada beberapa kegiatan agama atau upacara keagamaan yang akan terasa janggal untuk tidak dilagukan, setidak-tidaknya lagu kalimat, lagu baca, atau lagu ujaran.

Dapat dibayangkan, semisal puji-pujian Banyuwangean yang cukup dikenal, yakni Tamba Ati, direkam dalam bentuk ngomong kemudian diputar kembali setiap usai maghrib: Dulur-dulur, tamba ati niku nggih, enten lima, kang sepisan .. . dan seterusnya.

Barangkali untuk sekali dua kali orang masih akan mendengarkannya, namun untuk selanjutnya orang akan menjadi bosan, dan tak akan mendengarkannya lagi. Lain halnya jika pujipujian itu dilagukan dengan baik oleh orang-orang yang suaranya baik, apalagi dengan cengkok dan improvisasi yang variabel, yang tidak monoton. Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) itu menegaskan, karena itulah sejak dulu sampai sekarang, dan barangkali sampai kapan saja, pujipujian Banyuwangen tetap dilagukan, walau diketahui lagu pun jika dinyatakan terus menerus juga akan membosankan. Diyakini pula, secara sadar atau tidak, para pelagu puji-pujian Banyuwangen cukup tanggap. Untuk menghindarkan kebosanan itu mereka biasanya selain selalu mengganti-ganti nyanyian puji-pujiannya, kadang-kadang untuk bentuk syair yang sarna.

Dicontohkan puji-pujian Tamba Ati. Sekali tempo mereka menyanyikan dengan nada petatonik anhemitonis atau slendro menggantikan yang diatonik mayur.

Menurut ayah kandung penyanyi Emilia Contessa ini, ada yang agak luar biasa pada para pelagu puji-pujian Banyuwangen, yakni tanpa melalui belajar tentallg teori musik secara alami mereka dapat melagukannya untuk syair puji-pujian. Dan umumnya, mereka menyanyikannya degan pas.

Puji-pujian Banyuwangen disebarkan dan diturunkan ke generasi berikutnya dari mulut ke mulut. Karena cara itulah mengakibatkan sering berubahnya lafal kata secara tidak didasari. Hal ini juga terjadi pada lagu-lagu klasik daerah Banyuwangi.

DKB bersama Yayasan Kebudayaan Banyuwangi (YKB) beberapa waktu lalu melakukan penelusuran ragam puji-pujian Banyuwangen ke berbagai desa. Hasilnya, tak mendapatkan lagi puji-pujian dengan nada pelog.

Jika tak segera diangkat kembali, hal yang sungguh memprihatinkan ini akan bermuara terancamnya kepunahan puji-pujian dengan nada pelog tersebut, dan yang tinggal hanya catatan sejarahnya saja.

Di sisi lain, tahun-tahun belakangan ini para pelagu puji-pujian banyak mengambil begitu saja lagu-lagu minor kasidahan, melayu, dangdut, dan barangkali,juga lagu-lagi India, lalu mengisinya dengan syair-syair karangannya sendiri.

Hal ini sangat disayangkan oleh kakek rapper nasional Denada karena masalah pengambilan tersebut apapun kepentingannya akan dapat menimbulkan kesan, citra. dan dampak yang kurang menyenangkan. Kebiasaan ini melahirkan kesan, para pelagu puji-pujian Banyuwangen tidak kreatif dalam penciptaan lagu.

Pengambilan dengan cara asal ambil, tidak menjamin mutu puji-pujian itu sendiri secara keseluruhan, karena biasa terjadi syair yang ditempelkan tidak sejiwa dengan lagu asalnya. Misalnya, dari lagu romantis, atau lagu porno yang terselubung ke lagu pujian kepada Tuhan . Jelas, selain itu hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak cipta, dan dapat menyinggung perasaan pengarang lagu asalnya.

Lalu bagaimana jalan ke luarnya? DKB dan YKB akan melakukan pertemuan dengan para takmir masjid dan mushola, serta para guru ngaji di langgar membahas perkembangan budaya pujipujian Banyuwangen. Dan menyelenggarakan festival atau lomba puji-pujian Banyuwangen.Kapan? Hasan Ali berujar: ini baru gagasan. (Pamo Martadi dan Yuliadi)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Prasetya no.5, Mei 2009.