Reog

TARIAN SENSASIONAL DARI PONOROGO

Kepala berbentuk singa dengan sayap-sayap terbuat dari bulu merak terlihat melenggak-lenggok dan berputar-putar mengikuti irama gendang. Sementara di depannya tampak sekelompok orang mengenakan kostum hitam-hitam berusaha menggoda singa agar erus menari. Itulah figur sentral dari sebuah kesenian

Reog asal Ponorogo, Jawa Timur yang hingga kini masih tetap menarik untuk disaksikan. Reog adalah sebuah tarian spektakuler yang diperagakan oleh beberapa penari dengan kostum berwarna warn i dan diiringi oleh musik gamelan yang meriah . Tarian ini biasanya dilakukan di halaman terbuka seperti taman ataupun jalanan . Se lain tarian tradisional, Reog oleh sekelompok orang biasanya juga dipadukan dengan pertunjukkan magis yang diharapkan dapat menarik perhatian penonton .

Salah satu tokoh sentra l yang selalu menjadi perhatian para penonton adalah topeng kepala macan yang sebelah pinggirnya dihiasi bulu merak bersayap lebar. Bisanya orang mengenal topeng tersebut dengan sebutan Dhadhak Merak yang konon beratnya mencapai 40 hingga 100kg dan dibawa oleh satu orang yang berjalan maju mundur ataupun berputar-putar. Karena kepala macan ini melambangkan sosok pahlawan, maka sang penari, Warok yang mengenakannya bisanya juga memiliki ·kekuatan magis.

REOG ADALAH SEBUAH TARIAN SPEKTAKULER YANG DIPERAGAKAN OLEH BEBERAPA PENARI DENGAN KOSTUM BERWARNA WARNI DAN DIIRINGI OLEH MUSIK GAMELAN YANG MERIAH

Selain itu, ia juga harus memiliki susunan gigi serta leher yang kuat untuk bisa menggoyang-goyangkan topeng Dadak Merak dengan giginya. Bahkan terkadang juga harus menggendong seorang wanita yang dianggap mewakili Ratu Ragil Kuning. Atau kadang, ia harus mendemonstrasikan keahlian dan kekuatannya sambil menggendong penari bertopeng lain, tanpa mengurangi mutu gerakan tariannya yang terlihat fantastis dan penuh semangat.

Dhadhak Merak atau yang biasa dikenal dengan sebutan Singabarong, biasanya diperagakan sebagai tarian selamat datang kepada para tamu yang dihormati, atau sebagai atraksi yang lengkap dengan segala atributnya seperti yang memerankan sebagai Prabu Kelana Sewandono dan para penari pengikutnya yang disebut sebagai Bujangganong.

Bujangganong adalah seorang pahlawan dengan muka yang buruk rupa, mengenakan topeng berwarna merah, berhidung panjang, berambut awut-awutan dan bergigi taring. Para penari ini bisanya dilengkapi dengan kuda-kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang. Mereka melambangkan sosok prajurit pengawal raja Kelana Sewandono.

Orang -orang yang dikenal sebagai Warok dalam kesenian ini, diyakini memiliki talenta khusus, yang diperoleh melalui latihan bertahun-tahun. Salah satu keunikan dari pertunjukkan Reog adalah para penari yang terdiri dari pemuda-pemuda yang berdandan seperti perempuan. Mereka disebut sebagai Gemblak yaitu orang yang biasa menemani warok, yang selama jadwal pertunjukkan masih berlangsung mereka dilarang mendekati wanita.

 

Sejarah

Kesenian Reog Ponorogo sebenarnya tarian ini sudah dikenal sejak jaman kebudayaan Hindu di Jawa Timur. Ceritanya berhubungan dengan legenda Kerajaan Ponorogo (kira-kira 70km arah Tenggara Solo). Raja Ponorogo yang berkuasa ketika itu adalah, Kelono Soewandono, sangat terkenal dengan kemahirannya bertempur dan kekuatan magisnya.

Bersama Patihnya, Bujanganom, mereka diserbu oleh, Singabarong, Raja Singa dari hutan Kediri yang dibantu oleh bala tentaranya, pasukan Singa dan Merak. Sebenarnya mereka sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Kediri untuk menikahi Dewi Ragil Kuning, sang ratu kerajaan.

Kemudian terjadilah pertempuran dahsyat antara para prajurit perkasa dengan kekuatan-kekuatan magisnya. Pasukan merak berterbangan naik turun sambil mengepakkan sayapnya demi membantu para singa-singa Barong. Bujanganom dengan cemeti

ajaibnya yang dibantu oleh para Warok dengan kostum hitam tradisionalnya berusaha mengalahkan sang Raja Singa beserta para pengikutnya .

Singkat cerita, Raja Ponorogo tersebut dapat menaklukkan mereka dan melanjutkan perJalanannya menuju Kediri. Singa Barongpun lalu mengikuti arakarakkan mereka, sementara pasukan Merak berada dekat dengan Singa Barong seraya membentangkan ekor mereka sehingga terlihat seperti sebuah kipas yang indah.

Sementara ada versi lain yang menceritakan, bahwa sebenarnya kesenian tarian Reog ini merupakan petunjuk dari raja Majapahit yang menikahi seorang ratu berkebangsaan Cina. Kekuatan sang raja kemudian digambarkan takluk oleh kecantikan sang putri. Apapun versi cerita aslinya, tarian Reog hingga kini tetap menjadi sebuah atraksi dan kesenian yang sangat populer. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke mancanegara.()

CARAKAWALA,September 2004, hlm. 12

Warok dan Reog Ponorogo

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo
Ada yang Mermlih Profesi

 
KESENIAN reog yang lahir sejak 501 tahun lalu, dalam perkembangannya, terus men gal ami perubahan tanpa .menghilangkan eiri yang dikandungnya. Termasuk daya magis yang miliki para warok seakan-akan semakin luntur, terbawa arus modemisasi. Benarkan demikian?

Memang tidak bisa dihindari dan disalahkan, jika ada para dedengkot reog termasuk warok, naik dan bergulat di pentas politik dan pemerintahan. Mereka kemungkinan juga mempunyai pandangan masa depan tanpa meninggalkan darah seninya yang sudah melekat itu. Namun demikian masih ada yang tetap di jalur semula untuk memperdalam ilmu keguruan yang akan diseberluaskan ke beberapa anak cucunya.

“Menurut kami sangat wajar dan tak ada masalah jika para warok memilih untuk menjabat dalam perint!! h.an. Asalkan kepribadian dan darah dagingnya masih tetap sebagai warok,” jelas sallih seorang tokoh warga.

Namun, tambah tokoh tadi, jika sudah menduduki jabatan dan lupa dengan statusnya, itu sudah keterlaluan dan sangat disayangkan “Malah dan politiknya dapat dijadikan greget untuk memajukan kesenian yang telah kesohor ini,” papamya.

Seperti yang dialarni Mbah Mardi Kutu, warok dari Jetis sekaligus.cucu dari Ki Ageng Kutu atau Demang Suryongalan jni, contohnya tetap eksis dan kukuh. Bahkan dirinya rela untuk melepas jabatan sebagai Kades untuk “mendapatkan” diri sebagai. Warok dengan peguron saja.

Boleh dibilang, Mbah Mardi Kutu seorang warok sejati yang menginginkan  kehidupannya betul~betul sebagai warok. Bukan sebagai warokan. Sementara Mbah Wo Kucing sendiri juga lebih banyak ngopeni ilmu yang sudah didapatkan dalam pengembaraannya semasa masih muda.

Dengan memilih ilmu kapribaden, yakni mengenai ketuhanan untuk hubungan sesama manusia dirinya juga telah bergabung dengan ilmu kejawen, Purwo Ayu Mardi Utomo. Sehingga harapnya apa yang selamadidapatkan tidak akan sia-sia dan hilang begitu saja Sehingga anak cucunya kelak bisa meneruskan sebagai warisan leluhur.

“Saya sendiri juga punya harapan seni reog terutama waroknya bisa terus berkembang,” jelas Mbah Wo Kucing ketika ditemui disela-sela acara pun cak Grebeg Suro belum lama ini.

Sementara pihak Pemda sendiri juga terus berpacu untuk mengangkat kesenian reyog. Tak ketinggalan kehidupan para warok yang boleh.dikatakan agak tersisih, kurang perhatian.Lebih banyak tercurah dengan reog yang akan ditawarlam sebagai produk kesenian lokal ke tingkat internasional.

“Kalau dulu reog kita angkat Imtuk memperkenalkan ke event lnteruasional, sekarang ini rnempunyai tni lp n bagaimana kesenian yang ada tidak berkonotasi negatif dimata pernirsa,” jelas Bupati Drs Markum Singodimedjo saat dijurnpai Memorandum di pringgitan agung. Menurut Bupati yang mulai kesengsem seni tayub ini, reog sudah waktunya untuk aja.pg promosi.

Khusus penari jatilan yang kini mu, l&-i- diperankan oleh ‘Perempuan, me.tiurutnya hanya berpedoman pada pakem yang ada. Sehingga rianti talc ada- salah tafsir yang macarn-macam dengan status penari jatilan yang dulu dilakukan laki-Iaki. “Kalau diperankan perempuan kan lebih luwes”.

Untuk memperkaya dan melestari kan kesenian reog, saat iill di setiap desalkelurahan diwajibkan mempunyai grup reog. Berikut pe,nari yang terdiri dari dadak merak plus barongpnnya, perangkat baju Klono Sewandono, jatilan: pujangganong dan para warok pengiring serta penabuhnya.(budi s/habis)