Masjid Cheng Hoo, Surabaya (3)

Apa Dan Bagaimana Masjid Cheng Hoo

Atas gagasan dari HMY Bambang Sujanto dan teman-teman PITI, Pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dimulai dari tanggal 15 Oktober 2001, diawali dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri oleh sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya dan tokoh masyarakat Jawa Timur.

Rancangan awal Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini dilhami dari bentuk Masjid Niujie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Kemudian pengembangan Desain arsitekturnya dilakukan oleh Ir. Aziz Johan ( Anggota PITI dari Bojonegoro) dan didukung oleh Tim teknis : HS. Willy Pangestu, Dony Assalim, S.H., Ir Toni Hartono Subagyojr. Rachmat Kurnia dari jajaran pengurus PITI Jatim dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Untuk pertama pembangunan ini diperlukan dana sebesar Rp. 500.000.000,- yang diperoleh jerih payah teman-teman dengan menerbitkan buku “Saudara Baru / Juz Amma” dalam tiga bahasa. Dan sisanya adalah gotong royong dari sumbangan-sumbangan masyarakat hingga terselesainya pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Tahap pertama diselesaikan tanggal 13 Oktober 2002 dengan selesainya tahap pertama ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sudah dapat digunakan untuk beribadah dan selanjutnya tinggal melakukan beberapa penyempurnaan bangunan Masjid. Oleh seluruh anggota Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan PITI disepakati tanggal tersebut sebagai hari ulang tahun yayasan dan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Pada tanggal 28 Mei 2003, bertepatan dengan hari ulang tahun Pembina Imam Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ke 42, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia i diresmikan oleh Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. Said Agil Husain Al I Munawar, MA. Selain itu acara peresmian ini dihadiri juga oleh Atase i Kebudayaan Kedutaan Besar RRC di Indonesia yaitu Mao Ji Cong, i VICE konsultan kedutaan besar USA di Indonesia yaitu Craig L. Hall, i GubernurJatim-H. Imam Utomo, S.,Anggota Muspida Jawa Timur, Ketua

NU Jawa Timur – Dr. H. Alimaschan Moesa.Msi., Ketua Muhammadiyah Jawa Timur kala itu Prof. Dr. H. Fasichul Lisan, Apt. Juga oleh mantan Gubernur Jawa Timur yaitu H. R.T. Moch. Noer dan H.M. Basofi Sudirman yang bertindak sebagai penasehat dan pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Acara ini dimeriahkan pula oleh semua Toko-tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat di Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11×9 meter pada sisi kiri dan kanan bangunan utama tersebut terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Setiap bagian bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini memiliki arti tersendiri, Misalnya ukuran bangunan utama. Panjang 11 meter pada bangunan utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini menandakan bahwa Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter sedangkan lebar 9 meter pada banguna utama ini diambil dari keberadaan Wali Songo dalam melaksanakan syiar Islam di tanah Jawa. Arsitekturnya yang menyerupai model Klenteng itu adalah gagasan untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim Tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia dan untuk mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama budha. Selain itu pada bagian atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (Pat Kwa), angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut fat yang berarti jaya dan keberuntungan.

Dalam risalah, pada saat Rasulullah Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau dikejar-kejar oleh kaum kafir quraish dan bersembunyi di dalam gua Tsur. Pada saat hendak memasuki gua tersebut. Terdapat rumah laba-laba yang bentuknya segi 8, Rasulullah yang dalam keadaan teraniaya tidak mau merusak tumah laba-laba tersebut. Beliau memohon kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari kejaran kaum kafir quraish.

Dengan bantuan Allah SWT, Rasulullah dapat memasuki gua Tsur tanpa harus merusak tumah laba-laba tersebut. Saat situasi aman, beliau keluar dari gua Tsur dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah untuk berhijrah guna menyampaikan wahyu yang diberikan Allah SWT kepada umat muslim di Madinah. Saat berada di gua Tsur pada waktu perjalanan hijrah tersebut, Allah memberikan perlindungan (keberuntungan) untuk dapat melalui rumah laba-laba itu dengan damai tanpa harus merusak dan mengganggu makhluk lainnya.

Pada bagian depan bangunan utama terdapat ruangan yang dipergunakan oleh Imam untuk memimpin sholat dan khotbah yang sengaja dibentuk seperti pintu gereja, ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Juga menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.

Pada sisi kanan Masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia pada khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam.

Orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa karena pada 600 tahun yang lalu, terdapat seorang Laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo dan beliau telah turut mensyi’arkan agama Islam ditanah Indonesia pada jaman itu. Beliau adalah utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai utusan atau Duta Perdamaian. Guna mempererat hubungan dengan kerajaan Majapahit diberikanlah Putri Campa untuk di persunting oleh Raja Majapahit. Keturunan putri Campa pertama adalah Raden Patah, kenudian Sunan Ampel dan Sunan Giri (termasuk 9 Sunan atau Wali Songo) yang kemudian melakukan syi’ar agama Islam di Tengah Jawa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri dikenal sebagai Masjid pertama di Indonesia yang mempergunakan nama muslim Tionghoa, dengan bangunan yang bernuansa etnik dan antik ini cukup menonjol dibanding bentuk Masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning menambah khazanah kebudayaan di Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya fasilitas yang memadai yang dapatdipergunakan oleh jamaah Masjid  Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan masyarakat pada umumnya seperti:
– TK (Taman Kanak-kanak)
-Lapangan olah raga
– Kantor
-Kelas kursus bahasa Mandarin -Kantin

Diharapkan segala fasilitas yang disediakan demi kenyamanan beribadah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini benar- benar bermanfaat mempererat tali silaturahmi sesama umat dan meningkatkan hubungan baik umat dengan Allah SWT. Sekarang ini Masjid Muhammad Cheng Hoo, juga merupakan objek Wisata di Surabaya hampir tiap hari ada wisatawan yang berkunjung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil: Wahyu DP Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Komunitas, Edisi Khusus, No. 40-April 2008.

Gethuk Gedang, Kediri

Kediri merupakan salah satu nama daerah yang terletak di Jawa Timur, kota kediri memang sudah sangat terkenal dengan berbagai macam jenis masakan khasnya. Salah satu masakan khas dari kota Kediri adalah Gethuk Gedang (gethuk pisang). Gethuk gedang memang berasal dari kota Kediri, namun makanan yang satu ini sudah tersebar luas dimana – mana hampir diseluruh wilayah di pulau jawa.

Olahan pisang dibungkus dengan daun pisang mirip lontong ini adalah salah satu aset kuliner Kediri yang sudah ada dari dahulu kala, meskipun belum diketahui mengenai asal-usul si manis dari Kediri ini, namun tradisi pembuatan dan pengolahan gethuk gedang diyakini sudah berlangsung secara turun-temurun dan diwariskan lintas generasi.

Gethuk gedang berasa manis legit dan sedikit asam, rasa ini semua merupakan rasa alami khas buah pisang, tanpa tambahan zat apapun termasuk gula dan bahan pengawet. Sehingga gethuk pisang hanya bisa bertahan selama dua hari pada suhu kamar atau sekitar empat sampai lima hari jika disimpan di dalam lemari pendingin.  Sedikit mengingatkan bagi yang ingin membeli getuk pisang dan rumah anda terlalu jauh, pertimbangkan masa bertahannya gethuk gedang yang hanya dua hari.

Makanan ringan yang satu ini selain memiliki rasa alami dari buah pisang yang merupakan bahan dasarnya, karena tanpa tambahan zat apapun, sehingga kandungan gizinyapun sesuai dengan kandungan pisang merupakan jenis bahan makanan rendah kolesterol, juga kaya akan kandungan sarat,  karbohidrat dan protein nabati.

Meskipun gethuk gedang ini sudah terkenal, namun masih banyak yang belum mengetahui proses dan cara pembuatannya. Berikut penjelasan tentang resep getuk pisang khas Kediri sederhana spesial asli enak. Membuat Getuk gedang yang merupakan makanan tradisional khas dan asli dari Kediri ini,  tidak sulit namun dalam memilih bahan harus tepat. Gehtuk gedang merupakan cemilan yang paling mudah dibuat, olahan ini dibuat dari bahan dasar pisang kepok yang manis dan kenyal. Gedang/Pisang yang dipilih adalah jenis pisang kepok yang berkualitas sangat baik dan juga masih segar. Mungkin berikut ini salah satu proses untuk membuat getuk pisang yang sangat enak.

Bahan :

  • buah pisang kepok segar dan matang yang berkualitas baik 2 kg,
  • garam dapur yang halus dan beryodium sebanyak 1 sendok teh,
  • vanili bubuk 1 sendok the,
  • 1 kg gula pasir .

Untuk pembungkus:

  • daun pisang secukupnya,
  • lidi  secukupnya ( dipotong lancip )

Cara membuat :

  1. Kukus pisang kepok sampai benar-benar matang dan empuk
  2. Kupas kulit pisang lalu dahaluskan
  3. Campurkan pisang yang sudah dihaluskan dengan gula pasir dan garam
  4. Tumbuk halus lagi hingga semua bahan tercampur rata
  5. Padatkan adonan selagi masih panas dan diamkan hingga menjadi dingin
  6. Ambil tiap satu lembar daun pisang lalu masukkan adonan getuk pisang secukupnya
  7. Gulung memanjang seperti lontong sambil dipadatkan kembali
  8. Semat dengan sapu lidi pada kedua ujungnya
  9. Kukus dalam kukusan panas selama 25-30 menit atau sampai matang dan kenyal
  10. Buka daun pisang yang membungkusnya lalu dipotong dan sajikan.

Kini Getuk pisang telah siap untuk disajikan,  akan kelihatan lebih menarik jika dihidanngkan dipiring pada waktu sore maupun pagi hari sambil ditemani teh dan kopi hangat, nikmati gedang ini selagi hangat, namun juga sedap saat disantap ketika sudah dingin.

 ——————————————————————————————-134N70 nulis DW
Nara sumber: Mak Katipah, Brenggolo, Plosoklaten, Kediri

Makam Tebuireng, Makam Wali ke-10

Makam tebuireng.0001Suatu ketika ada seorang kakek tua yang tidak dikenal nama dan asalnya, datang ke dusun Tebuireng. Ia beristirahat melepas lelah di bawah pohon, di tepi lorong kecil dekat sebuah sungai. Ternyata kakek tua itu jatuh sakit hingga berhari-hari lamanya. Ia hanya pasrah kepada Allah SWT dengan penuh khidmah dan kesabaran.
Di kala penyakitnya semakin parah, datanglah seorang penduduk dusun setempat untuk mengurus dan merawat kakek tua itu. “Nak, kalau daun hayatku telah gugur dan ajalku telah sampai\ sudilah kiranya engkau menanamku (menguburkanku) di semak belukar sebelah timur dari tempatku ini. Sebab, kelak entah berapa belas tahun atau puluban tahun kemudian akan berdiri sebuab tempat pengajian besar yang harum sampai he segala penjuru.” Tak lama setelah kakek tua itu mengucapkan pesan singkatnya, beliau pun berpulang ke rahmatullah. Inna liLlabi wa inna ilayhi rajiun. Konon, kakek tua itulah orang pertama yang dimakamkan di wilayah pemakaman Tebuireng.
Makam tebuireng.0002Kini, ramalan kakek tua misterius itu telah menjadi kenyataan. Tempat pengajian besar yang namanya harum ke segala penjuru itu, sekarang bernama Pesantren Tebuireng. Di dalamnya terdapat makam para kekasih Allah Swt. (Makam Tebuireng), yang setiap hari diziarahi oleh 2 ribuan manusia dari berbagai penjuru Nusantara.
Makam Tebuireng merupakan tem¬pat dimakamkannya keluarga besar hadra- tus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari. Lokasi- nya berada tepat di tengah-tengah Pondok Pesantren Tebuireng. Para pengasuh Tebu¬ireng dan anggota keluarga serta tokoh- tokoh Tebuireng lainnya yang telah wafat, dikebumikan di sana. Tepat di sisi barat kompleks pemakaman, berdiri gedung Wisma Hadji Kalla berlantai tiga, lalu di sebelah utaranya berdiri Wisma Suryokusumo berlantai dua dan di sebelah selatan Gedung KH. M. Ilyas berlantai 3.
Para tokoh yang dimakamkan di Makam Tebuireng antara lain; hadratus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan Ny. Hj.Nafiqoh (istri), KH.A. Wahid Hasyim dan Ny.Hj. Solechah (istri), KH. Abdul Kholik Hasyim, KH. Ma’shum Ali (pengarang kitab shorof Amtsilatus Tasbrifiyyab) dan Ny.Hj. Khoiriyah Hasyim (istri), dan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Makam tebuireng.0003Sejak dahulu, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk para peneliti,
akademisi, dan pemerhati pesantren baik dari dalam maupun dari luar negeri. Kiprah perjuangan hadratus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahid Hasyim rupanya sangat menarik perhatian mereka untuk
mengunjungi makam Tebuireng.
Setelah wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009, makam Tebuireng semakin ramai dikunjungi peziarah. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari abang becak, pedagang, santri, kiai, pendeta, pastur, biksu, pengusaha, aktivis, artis, seniman, pejabat daerah dan pusat, termasuk para diplomat asing. Pada hari pemakaman Gus Dur tanggal 31 Desember 2009, ratusan ribu pelayat tumplek blek memenuhi area
pesantren Tebuireng dan sekitarnya. Bahkan banyak yang rela berjalan kaki puluhan kilo meter dari kota Jombang menuju Tebuireng. Jalur bis terpaksa dialihkan karena jalan raya di depan Pesantren Tebuireng sepanjang kurang lebih 7 (tujuh) kilometer penuh sesak oleh peziarah.
Makam tebuireng.0004Pemandangan yang sama juga terjadi pada peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1 tahun wafatnya presiden ke 4 Republik Indonesia itu. Areal Pondok Pesantren Tebuireng penuh sesak dengan peziarah. Jalan raya macet total meskipun pada malam harinya hujan turun cukup deras. Apalagi sebelum peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur, di Tebuireng diadakan acara khataman al-Qur’an seribu majelis yang dikuti oleh 3.500an hafidz dan hafidzah dari seluruh Indonesia. Khataman al-Qur’an yang memecahkan rekor MURI itu diselenggarakan oleh pengurus Jam’iyyatul Qurra’ wal Khuffadz bekerjasama dengan PP. Madrasatul Qur’an Tebuireng. Praktis, seluruh areal Pondok Pesantren Tebuireng menjadi lautan manusia.
Pada hari-hari biasa, makam Tebuireng juga tidak pernah sepi pengunjung. Para peziarah datang silih berganti, ada yang datang berombongan dengan mengendarai bis, mobil besar, bahkan truk dan pick-up. Ada pula yang datang dengan mobil pribadi. Kepadatan semakin meningkat pada akhir pekan seperti hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu, termasuk pada hari-hari libur nasional.
Kondisi ini membawa berkah tersendiri bagi para pedagang. Mereka membuka kios-kios semi permanen di sepanjang jalan menuju makam. Gang-gang di sekitar pondok disulap menjadi pasar dadakan. Beraneka barang dagangan ditawarkan, mulai dari dodol, krupuk, buah-buahan, buku, kaos, hingga aksesoris-aksesoris bergambar Gus Dur.
Makam tebuireng.0006Tempat parkir bis dibangun di sebelah barat Masjid Ulul Albab, tepat di depan Pondok Putri Tebuireng. Jembatan tua yang terletak di gerbang masuk areal parkir yang sempat retak gara-gara terlalu sering dilewati bis, kini dibangun dengan cor beton yang kokoh. Bangunan MCK juga disediakan di ujung barat tempat parkir. Praktis, Pondok Pesantren Tebuireng kini telah menjadi salah satu tujuan wisata religi bersama Wali Songo. Sehingga, makam masyayikh Tebuireng (khususnya Gus Dur) oleh para peziarah disebut sebagai Wali Kesepuluh.()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 203-208

Pantai Gua Cina, Kabupaten Malang

Malang memang terkenal dengan pariwisatanya yang lengkap, mulai dari gunung, tebing, air terjun, hingga berbagai jenis pantai jika dikuiijungi satu-satu tidak akan habis dalam sehari. Salah satu pantai di selatan Malangyang masili sedikit diketaliui wisatawan adalah Pantai Gua Cilia.

Pantai Gua Cina0001BANYAK sebutari imtuk Pantai Gua Cina ini. Ada yang memberi julukan perawan yang sedang mekar di Ma- lang, atau eksotisme Malang Selatan, dan entah sebutan apa lagi. Namun yang jelas Pantai Gua Cina yang terle tak di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sum- bermanjing Wetan, Kabupaten Malang Selatan, ini masih belum begitu ramai karena jarang orang mengetahuinya.
Pantai Gua Cina0005Kesan pertama kali yang muncul adalah Pantai Gua Cina ini sungguh alami dengan warna laut yang jernih dan bersih, dibalut pasir putih yang lembut. Pantai ini memang menawarkan keaslian, pasirnya yang lembut dan putih sehingga membuat pantai ini indah dan asri. Ditambah lagi pemandangan sekeliling yang memesona, berpadu dengan air pantai yang bening dan dingin. Deburan ombaknya yang mengalun terdengar begitu merdu.
Pantai Gua Cina0002Konon, nama pantai ini diawali seki- tar tahun 1930, ketika seorang pengembara Tionghoa dari Surabaya bernama Hing Hook, terdampar di sebuah pan¬tai tersembunyi di Malang Selatan itu, Hati sang pengembara bersedih karena kemiskinan yang terns menderanya. Ia kemudian menyendiri di sebuah gua yang berada di salah satu pulau kecil yang ad a di sana. Dia sendirian, tak ada yang menemani akhirnya maut menjemputnya. Ia meninggal dalam kesepian di gua itu. Jasadnya ditemu- kan beberapa hari kemudian dan dimakamkan penduduk di tempat lain. Sejak saat itu, pantai terkenal dengan nama Pantai Gua Cina.
Bila ingin menuju Pantai Gua Cina dari Malang, arahkan kendaraan menuju Gadang, Turen. Jangan khawatir, karena banyak papan petunjuk sepanjang perjalanan. Sekitar 1,5 km sebelum pantai Sendang Biru, akan bertemu pertigaan. Selanjutnya belok kanan mengarah ke Pantai Bajul Mati. Setelah 5 km, di sebelah kiri jalan ada papan penunjuk Pantai Gua Cina. Lalu belok kiri dan melalui jalan makadam kira-kira 800 meter sampai akhirnya ada loket tiket masuk Pantai Gua Cina.
Pantai Gua Cina0006Selama perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang menawan, Hamparan sawah serta pe~ gunungan kapur yang hijau seolah memanjakan mata. Kini, Pantai Gua Cina yang dikelola Perhutani ini mulai banyak dikenal para pelancong. Setiap akhir pekan pantai ini mulai dipenuhi pengunjung. Mereka berasal dari Sura¬baya, Sidoarjo, Malang, bahkan tidak sedikit turis mancanegara.
Tak salah bila muncul tren baru, Pantai Gua Cina kini sebagai jujugan utama pengunjung. Pantai Gua Cina0004Tren ini muncul mungkin karena orang sudah jenuh dengan pantai-pantai di sekitarnya yang sudah dikenal lebih dulu sehing¬ga butuh suasana baru. Maka, Pantai Gua Cina menjadi pilihartnya.Byan

Pantai Gua Cina0003Bila ingin menuju Panta Gua Cina dari Malang, arahkan kendaraan menuju Gadang, Turen. Jangan khawatir, karena banyak papan petunjuk sepanjang perjalanan. Sekitar 1,5 km sebelum pantai Sendang Biru, akan bertemu pertigaan. Selanjutnya belok kanan mengarah kle Pantai Bajul Mati. Setelah 5 km, di sebelah kiri jalan ada papan penunjuk Pantai Gua Cina. Lalu belok kiri dan melalui jalan macadam kira-kira 800 meter sampai akhirnya ada loket masuk Pantai Gua Cina.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 42-43

Makam Temenggung Kopek, Kabupaten Nganjuk

pakuncen.0001DESA Pakuncen, Kecamatan Patianrowo terletak sekitar 6 Km arah utara Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Penduduknya 43 KK, jelasnya 201 jiwa dengan luas wilayah 11,170 Ha, berupa sawah bonorowo 2,5 Ha. Pekuncen mungkin tak dikenal orang andai saja tak menyimpan makam Temenggung Kopek. Makam ini bersebelahan dengan Masjid Makam yang merupakan masjid kuno. Juru kunci makam, A Akbar Sunandir berkisah, desanya ramai dikunjungi orang waktu musim pemilu legislatif silam. Ada apa? “Banyak caleg sungkeman di makam. Menurut sesepuh desa, Makam Temenggung Kopek adalah kedrajatan,” katanya.
pakuncen.0002Entah kebetulan, saat reporter foto Potensi, Marhenry mengambil gambar makam, pada jepretan pertama berhasil. Namun saat mengambil gambar kedua dengan fokus yang sama saat reporter Joko berdoa di dalam makam, sampai lima kali jepretan hanya ada gambar hitam.
Masjid Kuno dibangun oleh Ki Nur Jalipah pada pertengahan abad ke 17. Masjid kuno ini semula tiang dan atapnya dari kayu. Atas prakarsa Menteri Penerangan Harmoko direnovasi. Atapnya diganti genting ditambah serambi. Masjid kuno ini sekarang lebih dikenal dengan Baitur Rohman.
Di belakang masjid terdapat kompleks makam. Di sebelah utara terdapat bangunan bercungkup yang tertutup rapat yang di dalamnya terdapat 22 makam. Di antaranya terdapat 4 makam yang ditutup kelambu putih. Menurut data yang tertulis di situ terdapat makam RA. Tumenggung Purwodiningrat, isteri Tumenggung Posono I, RA. Tumenggung Sosrodiningrat, isteri Tumenggung Posono II, R. Soerjati (Kusumaningrat), dan RA. Kusiyah (Karto- diningrat).
Di luar cungkup terdapat makam para bangsawan tinggi lainnya, antara lain RT. Koesoemaningrat, mantan Bupati Ngawi, R. Mangunredjo, Patih Kuto Lawas dan Notosari Patih Magetan. Di sebelah barat cungkup utama terdapat makam Ki Nur Jalipah. Sedangkan di luar kompleks cungkup terdapat ratusan makam penduduk desa Pakuncen dan sekitarnya.

Asal Mula Pakuncen
Tahun 1651, Ki Nur Jalipah bersama 2 orang saudaranya membuka lahan untuk pemukiman seluas 10 Ha. Nur Jalipah adalah seorang petani yang ulet dan mempunyai ilmu agama Islam dan ilmu kekebalan yang tinggi. Layaknya pemeluk agama Islam yang taat dan mampu, didirikanlah masjid di tempat yang baru dibuka itu.
Masjid ini kemudian dipergunakan untuk kegiatan agama Islam. Murid-muridnya banyak dari daerah lain, sehingga desa baru ini semakin ramai. Selanjutnya desa baru itu berubah menjadi pusat Pondok Pesantren. Se menjak itu desa ini mendapat julukan Desa Kauman.
Tahun 1700 M, datanglah orang utusan dari Mataram (Ngayogyokarto) dipimpin RT Purwodiningrat yang ditugasi oleh Paku Buwana untuk mendirikan kota kepatihan yang letaknya di tepi Sungai Brantas. R.T. Purwodiningrat kemudian mengadakan pendekatan serta berunding dengan Nur Jalipah. Dicapai kata sepakat dan r dukungan dari para santri. Berdirilah Kota kepatihan baru yang diberi nama Kadipaten Posono dan patih pertamanya RT. Purwodiningrat.
Atas jasa-jasanya mendukung berdirinya Kadipaten Posono serta melihat kebijaksanaan dan kepandaiannya, Nur Jalipah diangkat menjadi Talang Pati (Senopati) merangkap Demang. Saat permaisuri patih RT Purwo-diningrat wafat, timbul masalah di mana jenazahnya di- makamkan sebab permaisuri kerabat dekat keraton Ma- taram (Ngayogyokarto). Akhirnya Paku Buwana I setuju dikebumikan di Bumi Nur Jalipah.
Tak ada catatan berapa lama RT Purwodiningrat menjabat Tumenggung di Posono. Namun setelah isterinya wafat dia dipanggil ke Mataram (Ngayogyokarto), dan kemudian menjadi Tumenggung di Magetan.
Karena Tanah Nur Jalipah digunakan untuk makam keluarga Paku Buwana I, atas petunjuk Paku Buwana I diadakan perjanjian antara Ngayogyokarto dengan Nur Jalipah. Isinya; Tanah Nur Jalipah seluas ± 10 Ha dibebaskan dari pembayaran pajak (Desa Perdikan). Nur Jalipah diangkat menjadi Juru Kunci makam keluarga 1 RT Purwodiningrat secara turun temurun. Nama Dusun Kauman pun diganti dengan Pakuncen.
Satu Orang
Nur Jalipah mengambil kebijaksanaan, Pakuncen hanya boleh dihuni keluarga. Bahkan keluarga pun bila tidak mematuhi peraturan, diusir dari bumi Pakuncen. Peraturan ini dibudayakan dan menjadi adat sampai saat ini.
Pesarehan dibagi menjadi dua pintu gerbang: Makam keluarga Nur Jalipah dan makam keluarga RT Purwo-diningrat. Warga desa lain seperti masyarakat Rowomarto boleh dikebumikan di Pakuncen. Sudah ada perjanjian antara Nur Jalipah dengan rakyat Rowomarto dengan ditukar bumi.
Kedudukan Tumenggung Posono kemudian digantikan RM Sosrodiningrat yang juga keturunan darah Mataram. Isterinya juga dimakamkan di Pakuncen. Sejak itu Kadipaten Posono perkembangannya tidak jelas, kemudian Ibukota Kadipaten dipindah ke selatan (Kertosono sekarang). Tumenggungnya R. Wiryonegoro, merupakan pejabat Tumenggung yang terakhir di Kertosono, dan ketika beliau wafat dimakamkan di Besuk, Patianrowo, dekat Pabrik Gula Lestari.
Tiga (3) hal isi perjanjian Nur Jalipah dengan Kesultanan Mataram (Ngayogyokarto), oleh keturunan Nur Jalipah tetap dilaksanakan hingga sekarang, sehingga jabatan juru kunci yang merangkap sebagai Kepala Desa selalu dijabat oleh Keturunan langsung Nur Jalipah.
Desa Pekuncen yang unik ini sampai saat ini tidak memiliki Sekretaris desa dan perangkat desa lain. Semua tugas perangkat desa dari Kepala Desa sampai modin dijabat satu orang. Keadaan seperti ini tentu aneh. Namun Pemerintah Daerah membiarkan keunikan desa Pekun¬cen. Sampai sekarang tidak dituntut harus melengkapi pejabat perangkat desanya. (jok) A

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 46-47

Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep

Pulau Gili Iyang0001

KEINDAHAN alam Jawa Timur sudah cukup terkenal ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Gunung Bromo, Kawah Gunung Ijen, pasir pantai-pantainya yang putih, hingga berbagai air terjun yang tersebar di berbagai dae- rah. Obyek wisata yang belum terlalu kondang, namun layak diperhitungkan adalah Pulau Gili Iyang.
Pulau ini terletak di sebelah timur Kabupaten Sumenep, Madura. Pulau ini memiliki udara dengan kadar oksigen cukup tinggi, mencapai 21%. Angka ini tertinggi setelah sebuah danau di Yordania yang dikenal sebagai Laut Mati. Selain itu Pulau Gili Iyang juga memiliki pantai dengan pasir putih dengan kelembutan menawan.
Keberadaan Pulau Gili Iyang sebenarnya sudah diketa- hui masyarakat Sumenep. Yang belum banyak diketahui adalah keistimewaannya. Bahkan warga dua desa, Desa Banra’as dan Desa Bancamara yang tinggal di pulau itu juga baru belakangan tahu jika pulau yang mereka tinggali memiliki keistimewaan luar biasa.
Pulau Gili Iyang0002Untuk mengunjungi pulau ini, memang butuh “perjuangan” Gambarannya begini: dari Surabaya menuju Sumenep ditempuh perjalanan darat dengan waktu antara 3,5 – 4 jam. Namun bagi mereka yang berduit, bisa “terbang” dengan pesawat kecil menuju Bandara Trunojoyo Sumenep. Sekadar diketahui, sejak Juli 2014, bandara ini sudah resmi dioperasikan untuk penerbangan komer- sil. iVlaskapai yang melayani PT Trigana Air.
Selanjutnya untuk menuju Pulau Gili Iyang harus menyeberang menggunakan perahu yang biasa digunakan para nelayan dari pelabuhan kecil bernama Pelabuhan Dungkek. Untuk sekali penyeberangan yang memakan waktu sekitar 40 menit, biayanya Rp 10.000 per orang. Se- tiap perahu hanya berlayar satu kali perjalanan. Artinya, dari Sumenep jadwal menyeberang sekitar pukul 07.00 dan untuk kembali lagi ke Sumenep penumpang harus sudah siap di dermaga perahu-perahu nelayan berlabuh sekitar pukul 14.00 dengan perahu berbeda. Namun jika berombongan, bisa menyewa satu perahu seharga Rp 500.000 untuk pulang pergi.
Pulau Gili Iyang0003Sejak dalam perjalanan laut menuju pulau seluas ham- pir 9 kilometer persegi itu, pengunjung sudah bisa melihat jelas keindahan pulau. Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan para nelayan yang tengah menebar jala dan menjaring ikan sebagai mata pencarian sebagian besar penduduk Gili Iyang yang berjumlah sekitar 394 jiwa. Semakin mendekat ke pulau, kian jelas deretan perahu khas Madura yang bersandar di bibir pantai.
Begitu perahu penumpang sandar di dermaga kecil Desa Banra’as, terasa sekali menghirup udara begitu ri- ngan. Ditambah hempasan angin sepoi yang membelai
halus rambut dan kulit. Suasana ini sangat berbeda dibanding ketika bernapas di wilayah perkotaan yang terasa cukup berat. Bahkan udara perkotaan seperti Surabaya terkadang membuat sesak napas, Kadar oksigen dalam udara perkotaan rata-rata berkisar antara 16-17 % saja, sementara di Gili Iyang bisa mencapai 21%.
Ketika tim liputan Majalah Potensi berjalan menyusuri jalan setapak pedesaan, terasa langkah kaki begitu ringan. Berjalan sepanjang 2-3 km pun seakan tanpa beban, kondisi udara yang cukup bagus itu tak membuat napas tersengal-sengal, meski berjalan jauh.
Pantauan Satelit
Pulau Gili Iyang0004Carik Desa Banraas, Mutawajih, menuturkan, keistimewaan udara di pulau ini diketahui tahun 2006 lalu. Saat itu, peneliti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendapati dari pantauan satelit bahwa kandungan oksigen di pulau tersebut cukup tinggi. Akhirnya LAPAN melakukan penelitian selama tiga bulan di tempat itu dengan menebar delapan alat pengukur kandungan oksigen di udara.
Selama tiga bulan, penelitian dilakukan terus menerus, sampai akhirnya LAPAN benar-benar mendapati bahwa kandungan udara di Gili Iyang cukup tinggi. Bahkan sekali waktu, ketinggian kandungan oksigen di tempat itu mengalahkan Laut Mati di Yordania.
Penelitian itu diperkuat lagi dengan temuan Balai Besar Tekhnik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jawa Timur.
Temuan tim juga mengejutkan, mengingat peneliti mengambil sampel glukosa secara acak di dua desa, yakni Desa Ban. Hasilnya, berdasarkan sunvey sementara, kadar oksigen di pulau itu mencapai 21,5 persen. Hal itu tak jauh berbeda dengan hasil survey Badan Lingkungan Hidup (BLH) jatim 2011 silam.
Munculnya kandungan oksigen yang cukup tinggi itu karena pengaruh perputaran udara dari laut sekitar pulau itu. “Kawasan Pulau Gili Iyang itu masih belum banyak pencemaran udara, kawasannya masih alami dan bersih,” katanya.
Masih menurut Mutawajih, kualitas udara di desanya itu sudah terbukti dan dirasakan masyarakat setempat. Salah satu bukti adalah kualitas kesehatan masyarakatnya yang jarang terserang penyakit. Usia warga juga relatif lebih panjang.
Di Gili Iyang, kebanyakan yang lebih dulu meninggal laki-laki. Sebab mayoritas mereka itu perokok, sedangkan yang perempuan tidak. “Di sini perempuan usianya bahkan bisa sampai 100 tahun lebih,” katanya.
Ya, berdasar pengamatan, di pulau ini memang terlihat banyak perempuan yang usianya sudah sangat lanjut. Namun yang mengherankan, kondisi mereka cukup sehat untuk beraktivitas, seperti bercocok ta nam hingga mencari rumput untuk ternak. Sedangkan kaum laki-laki, terutama yang masih muda dan kuat, lebih memilih bekerja sebagai nelayan.
Satu hal menyenangkan mengunjungi pulau ini adalah masyarakatnya yang ramah menyambut ke- datangan tamu. Warga dengan suka rela bukan saja menyambut, namun juga baramai-ramai mengantar menuju lokasi-lokasi yang menjadi pendukung wisata di Pulau Gili Iyang, seperti Gua Mahakarya yang baru saja ditemukan warga dan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Sumenep.
Rumah Tinggal
Pulau Gili Iyang0005Diceritakan oleh Akhya, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Gili Iyang, konon Gili Iyang merupakan pulau tempat diasingkannya salah seorang selir raja Sumenep. Sebab itulah dalam sejarah raja-raja Sumenep cerita tentang selir dan pulau ini tidak pernah ada, karena selir dianggap sesuatu yang tidak baik bagi lingkungan kerajaan. Waktu itu pulau ini dikenal dengan sebutan Pulau Aulia. Konon kemudian ada seorang raden yang mengetahui dan tergila-gila pada selir yang tinggal di pulau ini. Akhirnya mereka pun hidup bersama dan menetap.
Menurut Akhya, karena begitu tergila-gilanya sang raden dengan putri dari pulau Aulia itulah sehingga pulau ini disebut dengan pulau Gili Iyang. Kini jalanan di pulau itu dinamakan Jalan Potre.
Akhya bertutur, saat ini warga Gili Iyang sudah mulai menyadari akan potensi wisata di kawasannya. Warga pun sudah mulai membuat buah karya atau kerajinan yang bisa dijadikan oleh-oleh. Antara lain, berbagai ikan yang diasinkan, mainan khas warga, hingga souvenir gelang, kalung dan kaos bertulis Pu¬lau Gili Iyang.
Setiap bulan, dipastikan selalu ada wisatawan yang berkunjung, antara 5-10 orang, Bahkan, kata Akhya, wisatawan beretnis china dari Jakarta berkunjung dengan tujuan agar kondisi kesehatannya semakin membaik. Pemkab Sumenep kini berminat mengembangkan. Rencana lokasi ini akan dijadikan wisata kesehatan dengan dibangun beberapa rumah tinggal agar ada swadaya dari warga setempat. (sti) •*•
majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 42-45

PROVIL OMAH MUNIR

MUNIR 1OMAH MUNIR adalah sebuah agenda kerja yang menjadikan sosok paling beharga dalam sejarah perjuangan penegakkan HAM di Indonesia, yaitu Munir Sid Thalib (1965-2004), menjadi medium pendidikan HAM di Indonesia melalui bentuk Omah. Dalam kaitan ini, ia menjadi Omah pertama di Indonesia yang dalam hal koleksi dan tema mengangkat masalah-masalah Hak Asasi Manusia.
Diresmikan tanggal 8 Desember 2013, berdiri di rumah pribadi Suciwati yang berlokasi di Kota Batu, Jawa Timur, dalam lintasan strategis menuju wilayah wisata kota Batu, Omah ini menyimpan ragam koleksi pribadi almarhum Munir, kisah-ki sah perjuangannya sejak mengawali kari sebagai pengacara di kantor LBH Malanc & Surabaya, sampai dengan masa akhi hidupnya di Jakarta dalam beragam aktivitas kerja yang dilakukannya.
Di luar koleksi pribadi Munir, dan informasi sekitar diri pribadinya, Omah ini juga menyampaikan beragam informasi terkait dengan sejarah perjuangan HAM di Indonesia selama tiga dekade kekuasaan otoriter rezim Orde Baru dan satu setengah dekade periode reformasi, la akan menghimpun isu-isu penting seperti kekerasan negara terhadap individu, persoalan impunitas yang masih berlaku dalam budaya politik Indonesia, dan ter masuk juga kisah-kisah perjuangan para aktivis HAM seperti pernah dicanangkan tokoh-tokoh terdahulu seperti Yap Thian Hiem, HJ.C. Princen dan lainnya.
Selain berbantuk museum, omah munir juga dilengkapi ruang perpustakaan, mini convention, ruang eksibisi, kantin, dan toko souvenir.

VISI MISIMUNIR 2
Visi berfokus pada penciptaan medium populer yang memberikan kepada para audiensnya, tua dan muda, terdidik dan tak terdidik, sebuah gagasan ideal tentang keadilan yang patut menjadi cita- cita perjuangan warga negara yang sadar. Sedangkan Misinya berpijak pada upaya memberikan kelengkapan medium yang menjadi instrumen strategis pendidikan nilai-nilai universal hak asasi manusia kepada para siswa dan pengajar sekolah menengah, mahasiswa perguruan tinggi, dan masyarakat umum. Melalui Omah ini, para pengunjung akan belajar sejarah yang lengkap beragam dimensi persoalan HAM yang ada dalam sejarah Indonesia, dan sekaligus mendapatkan bahan-bahan keleng¬kapan lebih lanjut untuk kegiatan penelitian HAM di Indonesia melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga perguruan tinggi, khususnya dalam bidang hukum dan hakasasi manusia.

MUNIR 3TUJUAN

1. Masyarakat luas dapat mempelajari nilai-nilai HAM universal dalam bahasa yang mudah dipahami melalui sosok Munir sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan nilat-nilai kemanusiaan di Indonesia sesuai dengan norma universal HAM;
2. Membangun karakter pribadi yang memiliki sikap anti-kekerasan, toleran terhadap perbedaan, dan menghargai martabat individual yang menjadi ciri vidual yang menjadi ciri dari keteladanan sosok Munir yang ditampilkan dalam Omah.
3. Mengingatkan orang bahwa perjuangan HAM bukan sebuah perjuangan yang final di era multi-partai dalam politik demokratis Indonesia pasca-reformasi. Masih ada sisi gelap di dalam kehidupan masyarakat yang masih membiarkan para pelaku kejahatan HAM hidup bebas tanpa hukuman, atau dengan kata lain impunitas tetap menjadi bagian dari budaya politikdi Indonesia sekarang ini.

Sumber Brosur Omah munir