Masjid Qawiyudin, Wonokromo-Surabaya

Masjid Wonokromo0001Menelusuri Jejak Kerabat Sunan Gunung Jati di Wonokromo, Surabaya. Ramadan, Sepekan, dua Kali Kaji Fathul Qorib. Ada satu masjid tua di kawasan Wonokromo yang kerap luput dari liputan religi. Masjid Qawiyudin namanya. Terletak di tengah perkampungan Jagir Wonokromo, masjid tersebut masih kukuh berdiri.

Nilai kesejarahan tertera jelas di serambi masjid. Tertempel di pintu utama, sebuah plakat logam yang dikeluarkan Kementerian Agama menandakan berdirinya masjid, yakni 1786. Arsitekturnya cukup berbeda dengan masjid kebanyakan yang umumnya beratap kubah. Kon- struksi atap Masjid Qawiyudin bertumpuk-tumpuk, mirip sekali dengan pura.

Memasuki lingkungan masjid, terasa sekali atmosfer yang ber­beda. Rasanya tidak seperti berada di kompleks Wonokromo yang identik dengan macet plus perkam­pungan yang berjejal-jejal itu. Nuansa religi amat kental di kom­pleks masjid tersebut. Lalu lalang jamaah berkopiah yang keluar masuk masjid kerap terlihat.

Masjid Wonokromo0002Masjid Qawiyudin didirikan Mbah Qawiyudin. Dia adalah cucu Su- nan Gunung Jati dari Cirebon. Qawiyudin terpaksa melarikan diri ke wilayah Wonokromo ka- rena saat zaman penjajahan Be- landa, mereka yang termasuk Bani Basyaiban ditangkapi. Nah, Qawiyudin merupakan salah seorang anggota bani tersebut. Konon kabarnya, masjid tersebut didirikan dengan kayu-kayu yang dibawa langsung dari Cirebon. Kayu-kayu itu dikirim lewat laut, lantas dialirkan menyusuri Kalimas. Hingga kini, kayu-kayu tersebut masih tegak berdiri me- nyangga masjid.

Semula Masjid Qawiyudin ber­diri tepat di pintu air Jagir. Namun, karena Belanda membangun sudetan atau kali baru hingga ke laut, masjid tersebut dipindahkan ke kompleks yang sekarang. Di sekeliling masjid, ada banyak rumah. Namun, mereka masih berkerabat dengan Mbah Qawiyudin.

“Meskipun kuno dan bersejarah, masjid yang didirikan pada 1786  ini terlewat dari sorotan liputan. Padahal, bisa saya bilang, masjid ini tertua di Surabaya Selatan,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Qowiyudin Amir Hamzah” (Sabtu-20/7/13).

Dengan hidangan khas jamaah masjid, yakni kopi tubruk dalam cangkir kecil, malam itu sejumlah pengurus takmir bercerita soal keistimewaan masjid tersebut. Terutama saat Ramadan. Amir menceritakan, saat Rama­dan, frekuensi pengajian di masjid tersebut bertambah. Menjelang buka puasa, masjid mengadakan pengajian Fathul Qorib. Itu merupakan pengajian yang khusus membedah masalah fikih. Jamaah-nya adalah warga sekitar yang ingin memperdalam ilmu agama.

Kiai yang memberikan penga­jian itu khusus. Mereka didatangkan langsung dari kompleks Pesantren Sidoresmo. Pada Rama­dan kali ini, yang kebagian jatah adalah KH Ahmad Mashuri Toha dan KH Mas Sulaiman. “Ini tradisi yang kami jaga sejak bertahun-tahun lalu. Saat saya masih kecil, sudah ada pengajian semacam ini. Apalagi, masih ada hubungan kekerabatan dengan Sidoresmo,” ungkapnya. Sejumlah pengurus yang lain juga mengangguk soal pernyataan Amir malam itu.

Keutamaan lain, Masjid Qawiyudin di Jagir Wonokromo tersebut amat menjaga nilai-nilaiyang su­dah ditanamkan para leluhurnya. Persis di depan masjid, ada sebuah kubus semen setinggi setengah meter yang dikelilingi pagar besi. Persis di atasnya, tertancap besi setinggi 15 cm. Mungkin saking lamanya, besi tersebut cukup berkarat sehingga warnanya terlihat cokelat tua.

Warga kompleks masjid menyebutnya pandem. Itu adalah penunjuk waktu salat yang masih dipertahankan hingga kini. Kendati sudah ada teknologi untuk menentukan waktu, misalnya menentukan wak­tu zuhur, pengurus terkadang ma­sih memanfaatkannya. Yang me­reka inginkan adalah adanya kesamaan antara jam modern dan tanda-tanda alam tersebut.

Menurut penuturan Abdul Kholiq, imam rawatib di masjid itu, wak­tu salat di masjid itu kerap berbeda dengan Masjid Rahmat. “Ada selisih sedikit saja, kami tidak berani memulai salat. Sebab, hitungannya haram,” ungkap pria murah senyum tersebut.

Banyak nilai lain lagi yang dipegang teguh hingga kini. Salah satunya, masjid sama sekali menolak bantuan pemerintah. “Al- hamdulillah, dalam bentuk apa pun, kami tidak mau menerima. Kami tidak mau di belakang hari muncul masalah,” kata Amir.

Infak jamaah yang didapat ketika salat Jumat juga tidak disimpan di bank. Karena itu, hendahara takmir harus mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Amir me- ngatakan, bunga dari bank mirip sekali dengan riba. “Daripada ka­mi ragu-ragu, lebih baik kami me­ngelolanya sendiri,” ungkapnya.

Saat bulan Rajab, ada satu kegiatan rutin yang menjadi agen­da wajib di masjid tersebut. Yak­ni, mengadakan festival hadrah tingkat Jatim dalam rangka haul Mbah Qawiyudin. Karena itu, halaman masjid pun harus ber­jejal-jejal untuk menampung banyak peserta. (git/c6/end)

———————————————————————————–134N70nulisDW-Jawa pos, Selasa 23 Juli 2013, hlm. 1 dan 30

Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung

Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.

Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung

Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

Masjid Agung Bangil

masjid-jami-bangilMasjid Agung Bangil terletak Jl. Alun-Alun Barat No.66 A, Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan masjid ini berdiri dengan megah, keberadaab masjid ini persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, menurut cerita masyarakat setempat bangunan masjid ini adalah masjid tiban (tiba-tiba muncul), dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada salah seorang Kyai yang menjelaskan bahwa masjid tidak begitu saja muncul dengan tiba-tiba, namun sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut.

Jumlah Pengurus Masjid Agung Bangil 16 orang, Imam 4 orang dan Khatib 12 orang,  masjid ini berdiri Tahun 1278 H. terbukti dengan data yang tertera pada artifak mihrob. Bangunan masjid ini bediri diatas sebidang tanah yang mempunyai keluasan 2.500 meter persegi, adapun status tanah tersebut merupakan tanah wakaf. Sedangkan Luas Bangunan mesjid 2.000 meter persegi. Daya Tampung 5.000 Jamaah. Masjid Agung Bangil adalah sebuah bangunan masjid dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dengan jumlah tiang penyangga utamanya ada 4 buah,  yang masyarakat menyebutnya sebagai SOKO WOLU, yang masing-masing berukuran keliling 120 centi meter  dan tinggi 15 meter. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 centi meter  dengan panjang 7 meter  , di tasnya yang saling memaku. Sekarang ruangan utama masjid telah mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan masjid tersebut, tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Fasilitas ruang dan peralatan yang tersedia di dalam kompleks Masjid terdiri:

  1. Taman,
  2. Gudang,
  3. Tempat Penitipan Sepatu/Sandal,
  4. Ruang Belajar (TPA/Madrasah),
  5. Ruang Aula Serba Guna,
  6. Ruang Perpustakaan,
  7. Ruang Kantor Sekretariat,
  8. Penyejuk Udara/AC,
  9. Sound System dan Multimedia,
  10. Pembangkit Listrik/Genset,
  11. Ruang Kamar Mandi/WC,
  12. Tempat Wudhu,
  13. Sarana Ibadah ,
  14. Ruang dan peralatan Radio.

Kegiatan dalam kompleks Masjid Agung Bangil ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang cakupannya juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan serta umum, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak pengurus dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak, adapun kegiatan – kegitan tersebut adalah:

  1. Peribadatan meliputi: Menyelenggarakan Sholat Jumat,  Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Menyelenggarakan Dakwah Islam, Pengajian Rutin,
  2. Pendidikan umum meliputi: Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
  3. Pendidikan keagamaan meliputi: TPA,
  4. sosial-keagamaan: Pemberdayaan Zakat, Pemberdayaan Infaq, Pemberdayaan Shodaqoh dan Wakaf.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti:

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam,
  2. Menyelenggarakan /Tabliq Akbar.

Pendirian Masjid ini waktu bangil masih menjadi kabupaten, hal tersebut terbukti dengan keberadaan makam Bupati Bangil yang terakhir yang bernama RT Soenjotoningrat leih dikenal dengan nama panggilannya Kanjeng Soendjoto atau Raden Soenjoto. Makam tersebut berada didalam komplek masjid tepatnya pada sisi bagian barat halaman masjid.  Banyak pengunjung Masjid Agung Bangil ini, biasanya para peziarah ke makam Wali Songo, biasanya mampir di masjid ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto,panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya. Nama RT Soenjotoningrat masih terlihat meskipun buram. Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun yang rumahnya dekat dengan makam, namun tidak mau disebut sebagai juru kunci. Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, cucu kanjeng Soenjoto  setahun sekali ziarah kesini.

——————————————————————————————–oleh: Dian K. Pustakawan Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

MASJID MUJAHIDIN SURABAYA

Masjid Mujahidin Surabaya

Masjid Mujahidin berlokasi di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275 di daerah kawasan pelabuhan berada di Surabaya utara. Letaknya berada di tengah kawasan pemukiman dan daerah penunjang kegiatan pelabuhan. Keberadaan masjid ini seakan ditengah jalan sebab sekeliling masjid merupakan jalan, sebe­lah Timur jalan dua jalur Tan­jung Perak Timur dan Tanjung Perak Barat, samping Selatan dan Barat terdapat jalan masuk ke wilayah pemukiman dan sebelah Selatan berdampingan dengan Jalan Teluk Aru yang menuju ke daerah pemukiman. Jalan masuk utama terdapat di Jalan Perak Barat dan samping Utara.

Kawasan sekitar masjid  kini padat dengan bangunan, namun tetap teratur untuk memenuhi kebutuh­an penghawaan, penerangan alami dan penghijauan agar tetap tercukupi. Di samping kompleks masjid diseberang jalan masih terdapat areal untuk keperluan pendidikan keagamaan dan pemondokan. Halaman depan terdapat taman serta perluasan salat dan sebagian untuk tempat parkir. Hala­man belakang tidak ada namun terdapat dua halaman pada sisi kiri-kanan bangunan induk. Pengaturan ini agar masjid tetap mendapat prioritas utama sedangkan fasilitas pendidikan dan kemasyarakatan diletakkan pada bagian samping dan lantai kedua.

Sejarah Pembangunan Masjid.

Untuk menampung kegiatan peribadatan masyarakat, kawasan pelabuhan Tanjung Perak dan pangkalan Angkatan Laut Rl diperlukan adanya masjid jamik. Tersebutlah, H. Sabran Gazali ketua Panitia Pendiri Masjid Jamik Tanjung Perak Su­rabaya, pada tanggal 25 Agustus 1955 telah mendapat izin dari Direktur Pelabuh­an Surabaya untuk mendirikan kompleks masjid ja­mik itu pada sebidang tanah seluas kurang lebih 5022 m2 di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275.  Akhirnya panitia berhasil membangun masjid yang diidamkannya, atap liwan berbentuk piramida dari genteng dengan kubah besar di atasnya, serta 2 buah kubah kecil pada kedua sudut depan.

Disamping kegiatan peribadatan masjid ini juga mengelola lembaga pendidikan yang semakin hari tumbuh dengan pesat, baik yang bersifat keagamaan maupun pendidikan umum. Maka untuk itu diperlukan sarana dan prasarana yang layak sebagai penunjang tercapainya tujuan pendidikan yang baik, maka diperlukan tambahan bangunan yang baru. Pada tahun 1979/1980 mendapatkan sumbangan dana dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebesar US. $ 100.000-.

Pembangunan perluasan masjid ini dikelola sendiri oleh Yayasan dan tidak diborongkan kepada pihak lain. H. Djakfar Yasman, seorang purnawirawan TNI AL sebagai pimpinan yayasan, mengelola dana tersebut dengan tertib, jujur dan berwibawa, dengan sistem menejemen terbuka. Dibantu dengan dua tenaga dari Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang menangani bidang arsitektur dan bidang teknik sipil, Ir. Zein dan Ir. Udman Hnf. Selanjutnya mulailah pembangunan perluasan masjid ini. Diawali dari serambi depan yang terbuat dari konstruksi beton dibongkar dan dibuatlah bangunan berlantai dua bagaian bawah sebagai serambi masjid dan kantor serta pengelola masjid, adapun lantai atas digunakan untuk keperluan pendidikan dan pertemuan. Upaya perluasanpun tidak berhenti setapak demi setapak berjalan terus sesuai dengan laju perkembangan dana yang terkumpul. Maka dibangun lagi bagian utara untuk kegiatan pendidikan ba­ngunan dua lantai empat local, tempat wudu dibongkar dan dipindahkan di sebelah Selatan halaman depan.

Kegiatan dalam kompleks masjid jamik ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan, pendidikan umum, kesehatan, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak yayasan dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak.

Ketua Yayasan Masjid Mujahidin dibantu langsung oleh sekretaris, pembukuan, keuangan dan urusan material. Ketua membawahi unit-unit usaha yakni:

  • pendi­dikan meliputi, TK, SD, SMP, SMA, MTs, MA, PGA dan Pesantren,
  • BPH masjid memiliki Seksi Ibadah dan Seksi Ceramah,
  • Radio PTDI,
  • Badan Dakwah memiliki Seksi Perpustakaan, Seksi Majalah dan Seksi Wanita,
  • Unit Pramuka dan Kepemudaan mempunyai Seksi Bela Diri dan Gugus Depan Pramuka,
  • Poliklinik meliputi Pengobatan, BKIA. dan pengurus jenazah/ambulan.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti PHBI, Panitia Zakat Fitrah dan sebagainya. Pendidikan non formal juga dilaksanakan seperti kuliah subuh, kuliah bakdal isyak, ceramah radio, dan kursus bahasa Arab. Demikian kegiatan periba­datan, kemasyarakatan dan sosial untuk dewasa dan orang tua, pembinaan dan pendidikan bagi anak dan remaja, semua mendapatkan tempat yang luas, tercermin sudah fungsi masjid jamik ini sebagai pusat peribadatan sekaligus merupakan pusat kebudayaan. Namun pemugaran- pemugaran untuk perluasan sarana pendidikan atau sebagai pusat kebudayaan tetap mempertimbangkan kondisi semula bahwa fungsi masjid sebagai pusat peribadatan tidak terganggu, bahkan pengurus mengkondisikan dengan suasana yang saling menunjang. Dari jauh kompleks masjid ini ditandai dengan kubah besar yang menjulang tinggi sedangkan setelah sampai ke pintu gerbang atau halaman ditandai de­ngan bangunan serambi bertingkat yang tertib dan representatif.

Ruang – ruang yang terdapat di dalam kompleks Masjid terdiri:

Pada lantai bawah terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan pria,
  2. Mimbar dan Mihrab,
  3. Ruang mekanik/monitoring (mezanine),
  4. Liwan wanita,
  5. Serambi,
  6. Ruang Guru,
  7. Ruang Keamanan Masjid,
  8. Kantor Badan Kerjasama Masjid Jawa Timur,
  9. Tata Usaha,
  10. Ruang Ketua Yayasan,
  11. Ruang Kepala SMP,
  12. Show room/Ruang kursus,
  13. Kamar mandi/WC,
  14. Tempat wudu pria,
  15. Tempat wudu wanita,
  16. Taman kanak-kanak/Pra karya,
  17. Kantin,
  18. Ruang Stasiun Radio PTDI,
  19. Ruang Kepala SD,
  20. Ruang kelas SD,
  21. Ruang kelas SMP,
  22. Garasi ambulance,
  23. Poliklinik – BKIA,
  24. Pemondokan pegawai masjid,
  25. Ruang Kepramukaan dan Pemuda,
  26. Telepon umum,
  27. Ruang mekanikal,
  28. Tempat sepeda murid.

Pada lantai dua terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Kelas-kelas untuk SMA
  2. Kelas-kelas untuk SMP
  3. Ruang Tata Usaha SMA
  4. Ruang Kepala SMA
  5. Koridor
  6. Ruang pertemuan Besar/guna ganda
  7. Ruang Osis
  8. Laboratorium Kimia
  9. Bak penampung air atas
  10. Ruang Pengawas.

Penerangan ruang sistem alami kecuali ruang mekanik memanfaatkan ruang bawah tangga yang tak berjendela. Penerangan malam hari, dalam ruangan menggunakan lampu TL untuk bagian luar lampu pijar/baret, aliran udara tak sampai ke dalam ruangan Liwan meskipun ketiga dindingnya terbuka, sehinga dipasang kipas angin beberapa buah pada langit-langit ruang liwan dan mihrab, ruang serambi dan kantor ventilasi cukup memadai. Sistem akustik memakai satu loudspeaker tunggal yang besar diletakkan di pojok depan sebelah Selatan ruang liwan, sehingga semua anggota jamaah dapat mendengarkan.

Lantai masjid tegel teraso ruang liwan ditutup dengan karpet warna hijau, semua tempat wudu hygienis dengan kran mancur dan dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm. Tempat wudu pria dibuat relatif terbuka sedemikian sehingga mendorong secara psychologis agar para anggota jamaah yang bersuci untuk selalu mematuhi norma-norma kebersihan, tempat wudu wanita disediakan ruang wudu tersendiri yang lebih terlindung memegang norma kebersihan dan kesopanan. Kamar mandi dan WC tersedia di bagian de­pan dan samping Utara, dinding dilapisi porselin lantai dari mosaic tile dengan peralatan sanitasi modern.

Kesatuan ruang ibadat cukup terbina hampir dari setiap bagian ruang dapat melihat kearah mihrab dan mimbar, karena liwan dan serambi relatif terbuka dibatasi jendela dan pintu kaca dengan kosen alumunium. Antara liwan wanita dan liwan pria dibatasi oleh jendela dan pintu kaca yang tembus pandang. Koridor atas juga dilengkapi dengan jendela penghubung pandang ke li­wan pria/mihrab sehingga menyatukan kekompakan ruang.

Ruang-ruang kelas di samping atas Selatan yang digunakan untuk perluasan ibadah salat tarawih saat bulan Ramadhan, juga dibuat jendela penghubung pandang ke ruang liwan pria dan  dilengkapi pula de­ngan pengeras suara.

Ruang liwan, mihrab dan mimbar meniadakan ragam hias, warna dinding dan langit-langit didominasi warna putih. Warna lantai/karpet hijau dengan baris saf salat strip kuning kecoklatan.

Masjid ini cenderung sederhana, mimbar untuk berkhotbah dari papan kayu seperti layaknya mimbar untuk berpidato.

Kekhusyukan di dalam ruang liwan cukup terjaga, selain ruang-ruang pendidikan terpisah di luar atau di lantai atas, pada saat salat jamaah semua kegiatan dihentikan dan semua siswa dan guru bersama-sama mengerjakan ibadat.

Untuk memnampakan sebagai ba­ngunan masjid, maka tampak depan masjid jamik ini dibuat bentuk-bentuk lengkung yang sekaligus merupakan kerangka pemegang penyaring sinar matahari/sun screen. Jadi hiasan ini pun bersifat fungsional, bukan sekedar keperluan estetika semata.

————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986          CB-D13/1986-6[1]

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto

Masjid-Agung-Al-Fattah

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto terletak di jalan KH Hasyim As’ary 1, Kauman, Kota Mojokerto ini merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua, dperkirakan berusia lebih dari satu abad. Masjid yang terletak persis di sisi barat Alun-alun  kota Mojokerto. Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh pada saat kepemimpinan Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro. pembuktian tersebut dikuatkan dari catatan surat almarhum Mohammad Thohar, Panitera Pengadilan Negeri  yang sekaligus Pengurus Kas Masjid. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena mulai dari peletakan batu pertama seperti tersebut diatas baru bisa dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1295 H.

Arsitektural pada bagian dalam interior Masjid terdapat Empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter tanpa Sambungan sampai sekarang masih kokoh berdiri sebagai saksi sejarah, kayunya didapatkan dari Hutan Jabung. Soko Guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Tampilan eksterior berupa kubah Stupa Limasan merupakan ide dari Raden Aeresedan putra dari Raden Bagus Anom Kromojoyo Adinegoro II dalam melakukan syi’ar agama Islam. Saat itu beliau memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Sehingga bentukan atap Stupa Limasan masjid pada tiga wilayah tersebut, memiliki bentuk kubah yang serupa. Hali ini dibuktikan dengan peninggalan prasasti yang masih bertahan, terdapat di masjid Baitul Amin yang berada di Perak-Jombang, serta masjid di Gemek Sooko-Mojokerto, berupa papan dengan aksara jawa, arab, latin juga di Masjid Al Mustofa di Losari Terusan-Mojokerto, dan Kubah Masjid Agung Kota Lamongan sampai sekarang masih dipertahankan.

Tanggal 1 Mei 1932, pertama kalinya masjid ini direnovasi oleh panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan pada 7 Oktober 1934 oleh M.Ng Reksoamiprojo, pada masa bupati IV – V. Tanggal 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas oleh R Sudibyo dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati Mojokerto RA Basuni juga melakukan perluasan lagi, peresmian dilakukan bertepatan dengan moment peringatan 17 Agustus 1969. Perjalanan sejarah berdirinya masjid hingga setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini masih belum memiliki nama. Kemudian melalui seorang Ulama terkenal ialah KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jami’ Al Fattah.

Tanggal 4 April 1986, pada masa jabatan Wali Kota Mojokerto Moh. Samiuddin bangunan masjid Jami’ Al Fattah mengalami pemugaran lagi, pemugaran tahap I. dilanjutkan pemugaran tahap II di lokasi sebelah timur atau depan masjid.  Pada masa pemerintahan walikota ini pulalah istilah Masjid Jami’ diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.

Masjid Agung Al Fattah yang merupakan Masjid Waqaf  Kota Mojokerto tersebut, di kuatkan dalam Surat Sertifikat Waqaf  No. 559 diserahkan waqaf dari Haji Achmad Rifa’i Kepada Nadzir dengan susunan kepengurusan Haji Achmad Rifai sebagai Ketua Nadzir, Moch. Soeparlin sebagai sekretaris, H. Mas’ud sebagai Bendahara   yang diterbitkan pada 10 Juni 1994, selanjutnya Nadzir menunujuk Ta’mir Masjid Agung Al Fattah sebagai pelaksana kegiatan, dan untuk selanjutnya akan diperbaharui sesuai masa kepengurusan organisasi Takmir Masjid Agung Al Fattah selanjutnya. Selain itu Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto mengemban VISI dan MISI sebagai berikut.

VISI DAN MISI

MASJID AGUNG ‘’AL FATTAH ’’

Visi

Terwujudnya Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto sebagai tempat ibadah, pengembangan berbagai ilmu Pengetahuan  dan Pembangunan sosial keagamaan yang berasaskan Islam ahlus sunnah waljamaah

Misi

  1. Meningkatkan fungsi dan aktifitas masjid sebagai tempat peribadatan, dakwah, pendidikan, pengembangan kebudayaan, tempat musyawarah dan kegiatan sosial.
  2. Membangun suatu system pembinaan keilmuan yang mampu menghasilkan intelektual muslim yang berakhlakul karimah dan sanggup menghadapi tantangan
  3. Menjadikan Masjid sebagai media dakwah serta menjadi filter terhadap munculnya aliran Islam yang mengarah pada faham sekulerisme serta terjadinya pendangkalan agama dariberbagai sudut dan
  4. Menggali dan mengembangkan potensi jamaah masjid, sebagai upaya meningkatkan kwualitas kehidupan sosial ummat Islam serta sebagai upaya memakmurkan
  5. Memberikan pelayanan terbaik bagi ummat atas bernagai problema kehidupan yang mereka hadapai, sehingga mereka mendapat keamanan, kenyamanan, kemudahan serta ketentraman.

Setiap Rabu, diselenggarakan pengajian di tempat ini. Salah satu khotibnya adalah KH Masud Yunus yang lebih dikenal dengan panggilan Yai Ud (menjadi walikota Mojokerto  periode 20..-20..). , beliau sering memberi tauziyah saat pengajian Rebu, Orang nomer satu di Pemkot ini mempunyai jamaah pengajian yang dinamakan Al Umahaj. Hampir 10 ribu jamaah aktif.

Masjid Al-Fattah saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang meliputi:

  • Perpustakaan,
  • taman pendidikan Al-Quran,
  • poliklinik,
  • koperasi,
  • tempat melaksanakan akad nikah.

Masjid Agung Al Fattah berusia lebih dari satu abad ini mulai 28 Mei 2015 di rehab dan direncanakan rampung akhir tahun 2018 mendatang, dalam rehabilitasi nantinya akan dilengkapi dengan empat kuba. Warna hijau akan mendominasi bangunan peribadatan yang berstatus waqaf,

Dari desain terlihat rehabilitasi akan mengubah drastis penampilan luar, Masjid Agung Al Fattah yang semula hanya memiliki satu menara itu akan dirombak menjadi bangunan baru lengkap dengan dua menara megah di sudut belakang. Nantinya masjid ini berlantai dua dengan empat kuba, dengan satu kuba utama. Rehabilitasi itu melibatkan arsitek yang memahami lanskap sejarah budaya masjid agung agar nilai historisnya tetap terjaga.

Meskipun terhitung rehab berat, namun nilai historis masjid tetap dijaga.  Rehabilitasi masjid agung masjid seluas 2.874 meterpersegi ini, mengembalikan khazanahnya sebagai ikon Kota Mojokerto. Zona inti masjid tetap dipertahankan, soko guru atau tiang penyangga akan tetap dipertahankan.  Panitiaan rehab dikawal 46 anggota kepanitiaan dari berbagai unsur dan elemen masyarakat, antara lain Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota Mojokerto dan unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), para kyai dan tokoh masyarakat proaktif melakukan penggalangan dana. Diantaranya, membuka rekening donasi dan kupon donasi infaq dan sodaqoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi Dian K: Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2013

dari:
Profil Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Brosur  Panitia Rehab Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Nara sumber:
Bpk. Choirul Anwar / Pertengahan 2015.

Masjid Al Akbar Surabaya

KOMUNITAS - Copy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid bukan hanya tempat ibadah namun juga merupakan pusat kegiatan berdimensi luas, di masjid orang bermusyawarah, mengurus jenazah, melaksanakan manasik haji, menyelenggarakan wisata religi dan bahkan mengatur strategi perang. Maka tidak mengherankan bahwa di zaman modern ini banyak masjid dilengkapi dengan perpustakaan, sarana olah raga, fasilitas penyelenggaraan akad nikah dan sebagainya.

Surabaya ibukota Jawa Timur dan kota terbesar nomor dua di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta jiwa dan 90% beragama Islam, Tidaklah berlebihan jika dikatakan disini bahwa perjuangan rakyat Surabaya di tahun 1945 adalah perjuangan umat Islam tercermin dalam pekikan takbir “Allahu Akbar”,  sebagai ajakan berjuang untuk arek-arek Suroboyo. Begitu pula semangat perjuangan rakyat Surabaya dalam menegakkan syi’ar Islam dan mendirikan masjid, terbukti dengan hadirnya 2000-an masjid. Meskipun memiliki cukup banyak masjid, masyarakat Surabaya berkeinginan untuk memiliki masjid berskala nasional baik fisik maupun fungsi ibadahnya.

Masjid Al-Akbar Surabaya merupakan wujud Impian umat Islam di kota ini. Masjid Al-Akbar didirikan di atas tanah seluas 11,2 hektar. Luas bangunan 28.509 m2 dengan kapasitas 36.000 jamaah, berlokasi di kawasan Pagesangan Surabaya Selatan, tepatnya di tepi jalan tol Surabaya-Malang. Masjid Al Akbar dibangun pada tanggal 4 Agustus 1995 atas gagasan Mantan Walikota Surabaya Soenarto Soemoprawiro. Sedang peletakan batu pertama oleh Wapres Try Sutrisno dan diresmikan Presiden KH Abdurrahman Wahid, 10 November 2000.

Salah satu daya tarik Masjid Al-Akbar Surabaya, adalah kubah masjid yang berbeda dari bentuk dan warna kubah masjid umumnya. Keunikan bentuk kubah ini bentuk kubah yang hampir menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer memiliki tinggi sekitar 27 meter. Bentuk ini menumpu pada bentuk piramida terpancung dalam 2 layer setinggi kurang lebih 11 meter dengan bentang tumpuan atau diameter 54 m x 54 m.

Salah satu keunggulan corak Masjid Al-Akbar Surabaya, ialah menonjolnya corak ukiran dan kaligrafi yang menghiasi berbagai elemen di Masjid Al-Akbar Surabaya, banyak sekali dimunculkan ornamen ukir dan kaligrafi sebagai pelengkap struktur utama masjid. Secara umum, kondisi ini hampir sama dengan bentuk ornamen interior masjid jaman dahulu. Dimana bentuk ukiran dan kaligrafi banyak sekali menjadi penghias masjid-masjid besar di tanah air. Beberapa bagian yang umumnya dihiasi dengan ukiran dan kaligrafi adalah pintu, hiasan dinding di atas yang sering di ukir dengan kaligrafi, podium, dan beberapa elemen yang sering kali menghiasi masjid-masjid tempo dulu.

Beragam bentuk ukiran dan kaligrafi yang bisa disaksikan di Masjid Al-Akbar Surabaya ini, hendak memasuki masjid pengunjung sudah disambut oleh 45 pintu ukir dari kayu jati. Di serambi depan masjid nampak bedug besar yang berciri khas ukiran khusus, juga terdapat kentongan. Lebih masuk kedalam masjid, pengunjung akan disuguhi oleh ornamen ukir dan kaligrafi yang sangat dominan menguasai dinding-dinding masjid. Di mihrab, di relung imam, dan di dinding-dinding utama, di tempat-tempat rak Al-Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru masjid, ukiran-ukiran bernuansa khas indonesia menghiasi dengan cantik dan anggun. Pun di ornamen atas yang penuh dengan kaligrafi Al-Qur’an sepanjang 180 meter dengan lebar 1 meter. Semua elemen ukir dan kaligrafi itu menambah keagungan dan keteduhan Masjid Al-Akbar Surabaya.

Keindahan masjid, adalah salah satu sentuhan yang menjadi perhatian penting, dukungan keindahan dalam hal penerangan Masjid Al-Akbar Surabaya, PT. Philips Ralin Electronics yang menata seluruh kebutuhan penerangan, dari kebutuhan penerangan dalam gedung, halaman, taman, hingga lampu yang menerangi kubah dan menara. Kelengkapan dan kemutakhiran teknologi dalam hal penerangan itulah, yang menjadi salah satu titik keindahan Masjid Al-Akbar Surabaya, pada malam hari jika seluruh tata lampu yang dimiliki dinyalakan secara menyeluruh. Menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan ketika malam hari.

Penunjang keindahan yang lain, adalah elemen interior seperti hiasan kaca patri, kaca ukir seni ini merupakan kekuatan dan keindahan tersendiri di bidang eksterior dan interior. Hiasan kaca patri yang dipergunakan, dibuat dengan sistem pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Sistem ini selain bermanfaat menghemat energi, juga sangat baik untuk keperluan peredam suara bising. Pada jaman dahulu, dalam pembangunan masjid-masjid kuno, hiasan sejenis ini memang telah dipergunakan, dari segi corak, motif dan keindahan, kadang memiliki kekuatan yang sama.

Dalam menjalankan proses Pewarnaan, dipergunakan sentuhan warna elegan yang bisa memberikan suasana kesejukan bagi Masjid Al-Akbar Surabaya. Semua titik diberi warna yang serasi, dengan dominasi warna cerah. Hasilnya, dari segala sudut, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak anggun, tenang dan nyaman. Sebuah kondisi yang dibutuhkan untuk menemukan titik konsentrasi ketika menghadap ke Illahi Robbi. Warna-warna cerah yang anggun ini, secara umum sama dengan kondisi pewarnaan pada masjid-masjid jaman dahulu. Kalu toh ada perbedaan, mungkin hanya sekedar pada tataran selera dan kemajuan teknologi.

Tapi yang jelas, walaupun perbedaan yang ada hanya beberapa, namun dengan sentuhan teknologi mutakhir dan dengan penggarapan finishing yang sempurnanya, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak lebih agung, tenang dan membuat orang betah untuk tinggal berlama-lama menjalankan aktifitas perjalanan rohani didalamnya.

Lantai sebagai salah media yang berhubungan langsung dengan jamaah yang sholat di Masjid Al-Akbar Surabaya, panitia pembangunan proyek masjid mendatangakan langsung marmer dengan kualitas pilihan dari perbukitan di propinsi Lampung. Dipilih marmer yang berasal dari Lampung, karena ternyata kualitas lebih bagus dan harga sangat murah.  Marmer Lampung memiliki jumlah yang relatih banyak untuk bisa memenuhi selera warna sesuai kebutuhan. maka panitia pembangungan bisa leluasa menentukan titik-titik warna sesuai dengan kebutuhan. Dan keinginan untuk bisa menghadirkan warna-warna yang sejuk, damai, tenang dan nyaman di Masjid Al-Akbar Surabaya bisa dengan mudah direalisasikan.

VISI:

“Menjadi Rujukan Nasional dalam Da’wah, Ibadah, Pendidikan dan

Manajemen menuju Masyarakat Madani”
MISI :

Mengembangkan Da’wah dan Ibadah

Mengembangkan Pendidikan Akhlaqul Karimah

Mengembangkan Manajemen Masjid

Mengembangkan Fasilitas dan Arsitektur

MOTTO

“Ikhlas Profesional”
Motto ini mengandung arti bahwa: Pengelolaan MAS berorientasi pada ibadah semata, hanya mencari ridha Allah SWT, ditangani oleh personal yang ahli di bidang masing-masing. Unggul dan berdayaguna

NILAI :

Nilai yang dijadikan pedoman adalah Amanah, Istiqomah, Uswah, Mas’uliah dan Li jami’ il-Ummah

Amanah: Dipercaya dalam mengemban visi dan misi

Istiqamah: Konsisten dalam mengemban visi misi dan terus mengadakan inovasi.

Uswah: Menjadi teladan masjid lain dalam berbagai aspek.

Mas’uliah: Setiap langkah dan keputusan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah, umat dan stakeholders.

Li jami’ il-Ummah: Setiap praktek ibadah dapat diterima oleh semua umat Islam, sesuai syara’ dan peraturan perundangan yang berlaku.

PROGRAM UNGGULAN SETIAP DIREKTORAT MAS

  1. Direktorat Idarah : Menyempurnakan Implementasi Manajemen Sistem ISO 2001
    b. Direktorat Imarah/Ijtima’iyyah : Merealisasikan Jama’ah Satisfaction dalam 19 poin layanan
    c. Direktorat Shiyanah : Mewujudkan Kapasitas 80.000 jama’ah
    d. Direktorat Ma’had Aly : Mencetak Sarjana al Qur’an dengan 15 juz hafalan

 

menara

Fasilitas

  1. Masjid bertaraf Nasional,
  2. Dukungan Pemerintah Kuat,
  3. Kapasitas 75.000 orang jama’ah,
  4. Lokasi strategis, memiliki akses tool,
  5. Manajemen handal , memperoleh ISO 9001 – 2008,
  6. Dukungan dana masyarakat kuat,
  7. SDM pendukung sangat kuat,
  8. Area Parkir Luas dan Aman,
  9. Mengakomodasi seluruh faham / aliran,
  10. Imam para qori’ dan huffadz,
  11. Jadwal kegiatan padat terstruktur,
  12. Jejaring dengan masjid sekitar kuat ( 80 masjid pendukung binaan),
  13. fasilitas pendidikan PG/TK / RA , MI dan Ma’had Aly (mulai PG sd Perguruan Tinggi),
  14. Penggunaan IT dalam memasyarakatkan program,
  15. Menjadi tujuan wisata religi regional (masuk dalam paket wisata)
  16. Perpustakaan,
  17. Poliklinik,
  18. Thibbun Nabawi,
  19. Menara,
  20. Radio,
  21. Gedung,
  22. Infaq,
  23. Fasilitas Database Jama’ah,
  24. Konsultasi,
  25. Bimbingan Muallaf,
  26. Ayo Ngaji,
  27. TPQ,
  28. LAZ MAS.

 PROGRAM LAYANAN JAMA’AH MAS 
1. Sholat yang tepat waktu
2. Kebersihan tempat sholat terjaga
3. Imam / Khotib / Penceramah qualified
4. Sound system jelas
5. Pengatur shof yang menata
6. Bulletin yang cukup
7. Muadzin yang nyaman didengar
8. Air wudlu yang cukup dan bersih
9. Tempat wudlu tidak bau dan tidak licin
10. Kamar kecil tidak bau dan tersedia sabun
11. Tempat sepatu/sandal bersih dan aman
12. Kotak saran cukup dan responsif
13. Tempat parkir rapih dan aman
14. Tim pengaman yang melayani
15. Pusat informasi yang menjelaskan
16. Guide yang siap dan mampu
17. Ta’jil ramadlan yang cukup dan layak
18. Pelayan ta’jil yang damai dihati
19. Manajemen yang komit terhadap kepuasan jamaah

MITRA DAKWAH

  1. Remas,
  2. Pengamal,
  3. Hisamal,
  4. Karang Werda,
  5. Club Jantung Sehat,
  6. Forkomas.

————————————————————————————–Dinukil oleh: Dian K.
Sumber: Sekretaeiat Masjid Alakbar

 

Masjid Jamik Sunan Giri

Masjid Jamik Sunan Giri ini berada di wilayah Gresik, 20 km dari kota Surabaya dan terletak di Kampung Sunan Giri, Kelurahan Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Kotamadia Gresik, Provinsi Jawa Timur. Masjid Jamik Sunan Giri berbatasan dengan pabrik PT Semen Gresik sebelah utara, sebelah selatan dengan jalan raya, sebelah timur dengan pemukiman penduduk, dan sebelah barat berbatasan, dengan pemakaman. Masjid berdampingan dengan kompleks makam Sunan Giri di Bukit Giri. Untuk mencapainya harus menaiki tangga sebanyak 105 buah.

Masjid Jamik Sunan Giri merupakan kompleks paling besar diantara masjid-masjid di Gresik. Luas lahan tanah 3.000 m2 dengan luas bangunan 1.750 m2. Kompleks ini terdapat dua buah pintu gerbang yang terbuat dari beton. Pintu gerbang tersebut mempunyai ukuran panjang 95 cm, lebar 1,5 m dan tinggi 3,5 m. Kompleks masjid terdiri atas ruang utama, serambi, dan bangunan lainnya.

Ruang utama
Ruang utama masjid dibentuk oleh empat buah dinding. Keempat buah dinding masjid tersebut terbuat dari tembok dan berdiri di atas pondasi setinggi 0,7 m. Tebal dinding 0,9 m, tinggi 6 m. Dinding utara dan selatan masing-masing tiga buah jendela. Pada dinding barat terdapat dua buah jendela. Pada ruang utama lama terdapat juga tiang-tiang yang berjumlah empat buah dengan empat persegi.

Pada setiap dinding terdapat pintu-pintu dengan susunan sebagai berikut: satu buah ditengah sebagai pintu masuk dengan tiang empat persegi. Pintu utama diapit oleh dua buah tiang kiri-kanan. Pada bagian atas dibuat berlapis-lapis sehingga menyerupai pelipit. Jendela pada ruangan berada pada dinding barat dan utara saja. Jumlahnya ada enam buah dan masing-masing berukuran 1 x 3 m. Sedangkan daun jendela berupa kayu berukir. Jendela dilengkapi pula dengan teralis besi berjumlah enam buah berwama kuning berhias bulatan.

Ruangan ini terdapat tiang sokoguru atau tiang utama dan tiang penopang lainnya. Jumlah tiang secara keseluruhan adalah 16 buah. Sembilan buah merupakan tiang utama sedangkan sisinya merupakan penopang. Tiang utama berbentuk bulat. Bagian tiang penopang maupun tiang utama dilapisi porselin berukuran tinggi 30 cm.

Mihrab
Seperti masjid tua lainnya, Masjid Agung Sunan Giri memiliki mihrab yang merupakan sebuah ruangan yang menonjol keluar disisi barat, berukuran 1,5 x 1,2 x 3,5 m. Berbentuk ruangan kecil yang terbuat dari beton dengan dua buah tiang persegi empat berwama coklat tua tanpa hiasan. Dinding belakang pengimanan terutama pada bagian atas terdapat kuncup teratai. Atapnya terbuat dari semen dan berbentuk limas melengkung. Pada sudut-sudutnya terdapat tonjolan seperti mahkota. Tonjolan ini melengkung ke arah ujungnya seperti tanduk kerbau.

Mimbar
Mimbar mempunyai ukuran 1,3 m x 80 cm x 3,5 m. Menuju ke atas mimbar dijumpai pipi tangga yang yang juga berhias empat persegi panjang. Tangga mimbar terbuat dari kayu dengan empat buah anak tangga. Pada mimbar atas terdapat tiang persegi empat yang menopang puncak mihrab. Pada tiang mimbar ini dilapisi emas.

Serambi dan teras
Serambi terletak di sisi utara dan selatan masjid yang menyatu bangunan ruang utama. Di dalam terdapat ruangan berukuran 25 x 7,5 x 6 m. Tangga menuju ruangan menempel pada dinding barat. Kalau ingin menuju ke serambi dan teras tersebut terlebih dahulu menaiki anak tangga sebanyaklimabuah.

Bangunan lain
-Tempat wudhu dan WC
Tempat untuk mengambil air wudhu berjumlah dua buah yang berada di sebelah sisi timur menyatu dengan masjid berukuran 10x 2 x 6 m dan di sebelah utara tempat untuk mengambil air wudhu terpisah dengan masjid berukuran 5 x 2 x 4 m. Kedua tempat yang terpisah tersebut dapat dibedakan antara tempat pria dan wanita dan juga terdapat WC umum yang berada di sebelah utara.

-Bangunan pendopo
Bangunan ini berada di timur masjid. Tempat tersebut merupakan tempat peristirahatan bagi para peziarah yang berukuran 10,5 x 10,5 x 5 m, mempunyai tiang penyangga sebanyak dua buah yang terbuat dari kayu. Pendopo tersebut berbentuk empat persegi panjang. Pendopo tersebut dihiasi oleh keramik berwama putih polos. Di samping kanan terdapat ruangan untuk menyimpan bedug.

-Makam
Di daerah Gresik juga masih terdapat suatu kompleks makam diantaranya yang terkenal ialah makam Sunan Giri. Makamnya terdapat dalam suatu cungkup yang diberi ukiran dengan warna cat-cat asli (sebagian cat baru). Bentuk kubur maupun nisan-nisannya juga masih menunjukkan corak seni pahat klasik. Kita ketahui bahwa makam terutama adalah makam Sunan Giri hanya berdasarkan tradisi. Meskipun, demikian segi ilmu purbakala bentuk nisan dan kubumya masih menunjukkan kekuasaan dari sekitar abad 16. Kecuali itu dimana terdapat masjid kuno yang telah mengalami perubahan-perubahan. Bentuk arsitektumya tetap menunjukkan corak asli. Pintu gerbang pintu gerbang yang dibuat dari batu bata menunjukkan bentuk candi-candi bentar seperti pernah didapatkan pada zaman Majapahit. Tempat ini terkenal terutama sejak Sunan Giri (kemudian Sunan Prapen), sebagai tempat pesatren yang pengaruhnya sampai ke Maluku. Di sebelah barat masjid terdapat makam Muhammad Ainul Yaqin, Raden Paku, Raden Samudra, dan Prabu Satmoko.

– Latar Sejarah
Masjid Jamik Sunan Giri dibangun pada hari Ahad, 14 Muharram 1277 H oleh H. Ya’kub, dan selesai pada hari Ahad Ramadhan 1277 H. Pendiri Masjid Giri ialah Kanjeng Sunan Giri pada tahun yang disebutkan dalam candrasengkala yang berbunyi Lawang Gapura Gunaning Ratu. Bangunan ini berdiri diatas sebuah bukit Kedaton Seda Sidomukti yaitu suatu tempat dimana Kanjeng Sunan Giri berdiam dan memimpin Pesantren. Baru pada tahun 1407 S (menurut Candrasengkala berberbunyi Pendito Nepi Akerti Ayu) secara resmi oleh beliau dijadikan masjid jamik.

Masjid Jamik Sunan Giri didirikan telah lima kali mengalami perombakan dan penambahan serta pengecetan ulang. Terakhir dipugar pada tahun 1950 M oleh Panitia Kesejateraan Makam dan Masjid Sunan Giri, pada tabun 1975 pemah dilakukan pengecetan dan perbaikan atap, tiang-tiang masjid Sunan Giri oleh  PT. Semen Gresik.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh Dian K dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.181-183, Deposit : CB-D13/1999-339.