Museum Trinil

Menelusuri Kehidupan Manusia Purba di Museum Trinil TRINIL0003
Mengunjungi Museum Trinil, mengajak kita kembali ke dalam kehidupan jutaan tahun yang lalu. Melihat lamanya waktu, sejarah ini pasti menceriterakan tentang kepurbakalaan. Satu-satunya situs kepurbakalaan berada di Ngawi Jawa Timur adalah Museum Trinil Di museum ini banyak sekali tersimpan fosil-fosil purba, mulai dari tengkorak manusia, gajah serta peralatan yang digunakan untuk mempertahankan diri pada zaman itu.Museum Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kec. Kedunggalar, Kabupaten Ngawi dengan jarak tempuh sekitar 14 km ke arah barat dari pusat kota Ngawi.Sepanjang perjalanan menuju museum kita bisa menikmati indahnya pemandangan desa yang sangat rimbun yang dipenuhi pohon bambu serta rumah penduduk yang memiliki ciri khas pedesaan terbuat dari bambu.TRINIL0004Pintu gerbang museum yang sangat sederhana terlihat setelah masuk ke dalam, sekitar satu kilometer dari jalan raya utama. Memasuki wilayah museum kita harus melapor ke pos penjagaan. Situs Trinil, menurut penelitian, merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengahsekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya. Museum ini dikelola bersama oleh Pemda Kabupaten Ngawi dan Dirjen Kebudayaan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jatim yang berada di Trowulan, Mojokerto. Isi Museum Trinil Menginjakkan kaki di halaman museum, wisatawan disambut dengan bangunan gapura museum dengan latar belakang patung gajah purba. Patung gajah ini cukup besar untuk ukuran gajah sekarang, dengan gading yang sangat panjang, dan anatominya lebih mirip Mammoth tetapi tanpa bulu. Selain patung gajah, juga terdapat monumen penemuan Pithecan­thropus erectus yang dibuat oleh Dubois. Pada mo­numen, tertulis: P.e. 175m (gambar anak panah), ONO serta di bawahnya tertera 1891/95. Artinya Pithecanthropus erectus (P.e.) dite­mukan sekitar 175 meter dari monu­men itu, mengikuti arah tanda panah (arah barat daya), pada ekskavasi yang dilakukan dari tahun 1891 hingga 1895. Begitu masuk museum jajaran redaksi Prasetya menemui Pak Sujono juru kunci yang juga cucu dari Wirodihardjo atau Wiro Balung, tokoh yang peduli pada fosil pada jaman Belanda. Setelah cukup menikmati patung gajah dan monumen, wisatawan bisa menggali informasi lebih jauh dengan melihat koleksi museum yang jumlahnya mencapai 1.200 fosil terdiri dari 130 jenis. Di dalam Museum dipamerkan beberapa replika fosil manusia purba berupa replika Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Karang Tengah (Ngawi), Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Trinil (Ngawi), serta fosil-fosil yang berasal dari Afrika dan Jerman, yakni Australopithecus Afrinacus dan Homo Neanderthalensis. Kendati hanya berupa replika, namun fosil tersebut dibuat mendekati bentuk aslinya. Sementara fosil-fosil yang asli disimpan di beberapa museum di Belanda dan Jerman.Di dalam museum pengunjung bisa menyaksikan diorama manusia purba serta tulang-tulang manusia purba seperti fosil tengkorak manusia purba (Phite­cantropus Erectus Cranium Karang Tengah Ngawi), fosil tengkorak manusia purba (Pithecantropus Erectus Cranium Trinil – Trinil Area), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus Upper Molar Trinil Area), fosil tulang paha manusia purba (Phitecantropus Erectus Femur Trinil Area), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau Horn Trinil Area), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus Horn Trinil Area) dan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus Ivory Trinil Area). Selain itu terdapat beberapa fosil tengkorak beserta peta sebarannya di seluruh dunia dilengkapi dengan lampu-lampu kecil seperti : Australopithecus Afrinacus Cranium Taung Bostwana Afrika Selatan, Homo Neanderthalensis Cranium Neander Dusseldorf Jerman dan Homo Sapiens Cranium. Yang tak kalah menarikny adalah adanya sebuah tugu tempat penemuan manusia purba. Selain fosil manusia. Di dalam museum juga dipamerkan fosil tulang rahang bawah macan (Felis Tigris), fosil gigi geraham atas gajah (Ste­godon Trigonocephalus), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus), serta fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus). Fosil-fosil hewan ini umumnya lebih besar dan panjang daripada ukuran hewan sekarang. Misalnya saja fosil gading gajah purba yang panjangnya mencapai 3,15 meter—bandingkan dengan gajah sekarang yang panjang gadingnya tak lebih dari 1,5 meter. Cikal-bakal Museum Trinil Wirodihardjo atau Wiro Balung (60 tahun) dari Kelurahan Kawu Adalah seorang sukarelawan yang menyadari bahwa tugu itu mempunyai makna besar dan sangat berguna bagi penelitian selanjutnya. Wajar jika dia berpendapat begitu, karena ia telah ikut ekspedisi yang dilakukan oleh ilmuwan Eugene Dubois dan Salenka. Kedatangan orang asing tersebut adalah mahasiswa yang datang silih berganti untuk melakukan ekspedisi dengan biaya yang mahal. Oleh karena itu, sebagai putra daerah, ia merasa ikut bertanggungjawab atas kelestarian tempat itu, dan melanjutkan eksplorasi. Kehadiran Wirodiharjo di Trinil sangat berarti, karena ia menjadi tempat untuk bertanya bagi para pengunjung tentang fosil di Trinil. Pada awalnya, walaupun tempat tersebut sekarang terkenal sebagai daerah fosil, namun waktu itu tidak satupun fosil ia temukan di Trinil. Untuk itu ia mengumpulkan setiap fosil yang ditemukan warga di Sungai Bengawan Solo dengan cara membeli atau ditukar dengan barang atau beras sesuai permintaan warga. Dari hari ke hari, fosil yang dikumpulkan dari tiga desa, sebelah barat Desa Kawu, sebelah utara Desa Gemarang dan sebelah timur Desa Ngancar semakin bertambah banyak. Setelah ditinjau oleh Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Ngawi, Mukiyo, ia mendapat bantuan tiga almari untuk menyimpan fosil-fosil yang terkumpul. Sejak saat itulah, Wirodiharjo terkenal dengan sebutan Wiro Balung, yang berarti Pak Wiro yang suka mengumpulkan tulang (balung-balung). Pada tahun 1980/1981 Pemprov Jatim mendirikan museum untuk menampung fosil-fosil di atas lahan Wiro Balung yang peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jatim “Soelarso” pada 20 Nopember 1991. Namun sayang, Wiro Balung tidak bisa menyaksikan peiesmian karena dia telah meninggal dunia pada 1 April 1990 akibat kecelakaan. Setelah Wiro Balung meninggal dunia, keahliannya diteruskan anaknya. Wajah Museum MendatangTRINIL0002 Nama museum Trinil telah dikenal oleh dunia kepurbakalaan. Tapi sayang, masyarakat Ngawi yang notabene sebagai tuan rumah sangat jarang berkunjung ke museum ini. Hal ini terlihat saat tim Prasetya berbincang dengan siswa Sekolah Kesehatan Ngawi, bernama Siska mengungkapkan, Museum ini sangat berguna bagi ilmu pengetahuan, agar kita tahu kehidupan jaman purba. Namun sayang, kondisinya kurang terawat. “Saya berharap museum ini mempunyai fasilitas pendukung yang lain agar lebih banyak masyarakat yang mau berkunjung,” ujarnya. Untuk kembali menarik pengunjung, pihak pengelola telah menata secara rapi taman-taman di sekitar areal museum terlihat bersih, indah, dan asri. Di depan museum juga terdapat pendopo yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat. Untuk wisata sejarah, yang mengurus bukan Pemkab tapi Pemprov. Jadi pemkab hanya menvediakan lahan dan kemudian Pemprov membangunnya,” pintanya. Kita semua pasti berharap, Museum Trinil bisa segera dibenahi, dan menjadi tempat favorit wisata agar wilayah museum menjadi ramai dan geliat ekonomi masyarakat setempat dapat dapat terangkat. ❖

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume V, No. 53, Mei 2013

Wisata Sejarah Surabaya

-November 2003-
Miskin Kemasan Susah Dijual
Surabaya sesungguhnya kaya objek wisata sejarah beraroma heroik-patriotik. Momentum Hari Pahlawan, 10 November pekan ini, semestinya mampu mencuatkan kekayaan dimaksud. Misal, menggencarkan propaganda lewat serangkaian “perang” publikasi. Tentu, setelah objek wisatanya digarap hinga menjadi layak jual. Golnya, khalayak (calon wisatawan) tergiur dan datang ke Kota Pahlawan. Namun, faktanya, masih saja jauh panggang dari asap.

 Ironis Dentuman bom Bali, 12 Oktober 2002, dalam prespektif pariwisata masih mampu mengundang minat khalayak untuk berkunjung. Membanjiri Pulau Dewata, meski berbalut rasa penasaran dan duka. Dentuman bom Sekutu di bumi Surabaya, 10 November 1945 hingga kini, belum mampu menyedot rasa penasaran dan duka khalayak. Malah, kini setelah 58 tahun berlalu, peringatannya terkesan (dan terasa) sekadar seremonial belaka.

Memang, Bali bukan Surabaya, dan sebaliknya. Bali adalah aset nasional yang amat signifikan dengan upaya memulihkan keterpurukan perekonomian nasional dari sektor pariwisata. Maka, saat Legian, Kuta, diluluhlantakkan – Imam Samudra dkk, spontanitas solidaritas membara. Surabaya 58 tahun lalu begitu juga. Mampu melahirkan spontanitas solidaritas yang amat membara. Persoalannya kini, bagaimana memelihara momentum “kesinambungan rasa spontanitas solidaritas membara” itu dalam bingkai kepariwisataan.

Andai saja “kesinambungan rasa” tersebut bisa dirajut, tidak mustahil objekobjek wisata sejarah yang terkait dengan peristiwa heroik-patriotik 10 November 1945, sangat diminati wisatawan. Merajutnya, tentulah dengan kreatifitas dan inovasi yang dikonkretkan. Misal,  bagaimana “merajut” Tugu Pahlawan, Jembatan Merah, Gedung Internatio (Lokasi meninggalnya Jenderal Malaby), dan Oranje Hotel/Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit Mandarin Oriental) sedemikian rupa, sehingga berdaya tarik wisata. Boleh jadi pula, mengemas kawasan Tugu Pahlawan sedemikian rupa sehingga daya tariknya “menyerupai” Tugu Monas di Jakarta.

Daya Tarik Rendah
Jujur saja, Surabaya masih miskin kemasan pariwisata atas objek-objek wisata sejarah yang terkait dengan momentum Hari Pahlawan itu. Apalagi kerap kali pusat peringatan Hari Pahlawan jauh dari tempat kejadiannya. Maka, meski sudah puluhan kali diperingati, bahkan sudah ada upaya mengemasnya dalam sendratari kolosal peristiwa 10 November, namun daya tariknya tetap lokal saja. Wajar bila Kolonel (purn.) Edy Siamet yang pernah bertugas di Korem Surabaya, mengaku pesimistis pada kelestarian peninggalan bersejarah di Kota Pahlawan.

Bagaimana perencanaaan peringatan Hari Pahlawan di Kota Surabaya sendiri, pekan ini?  Dinas Pariwisata setempat melalui UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) masih dalam tataran menghadirkan pergelaran budaya dan lomba-lomba. Jauh dari hakikat makna peristiwa sebenarnya. UPTD Balai Pemuda dan Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya, pas hari “H” menampilkan pergelaran reog dan wayang kulit. UPTD Tugu Pahlawan menggelar lomba melukis, menyanyi tunggal, dan jalan sehat.

Peninggalan bersejarah yang kini tereatat sebanyak 168 unit, sebagai cagar budaya, tak bisa “berbicara” sendiri. Butuh kemasan agar dapat “bercerita”. Jangan biarkan hancur, tenggelam, karena terlalu lama menunggu kreatifitas pemerintah dan masyarakat Surabaya. Perawatan peninggalan bersejarah jelas butuh biaya besar. Persoalan ini akan teratasi jika peninggalan tersebut dijadikan objek wisata, seperti UPTD Tugu Pahlawan, misalnya.

Objek wisata sejarah tidak berhenti pada persoalan perawatan saja. Daya tarik, kelengkapan sarana penunjang, faktor keamanan, dan promosi yang menjadi syarat tumbuh-kembangnya kepariwisataan, juga harus diwujudkan. Tingkat kunjungan wisata objek sejarah di Surabaya juga sangat rendah dibandingkan dengan objek wisata bahari dan objek lain. Daya tarik objek wisata sejarah sementara ini memang kurang mendapat perhatian. Butuh sinergitas berbagai pihak untuk membangkitkannya. Masyarakat, sejarawan, ekskutif, legislatif, hingga pihak swasta seharusnya bergandeng tangan membangkitkandaya tarik wisata sejarah.

Langkah kreatif memang ada dari pihak swasta. Seperti yang dilakukan manajemen Surabaya Plaza Hotel (SPH) dengan menggelar City Tour, sehari sebelum hari “H”, 9 November ini. Keliling kota mengunjungi sejumlah objek bersejarah. Start dari Tugu Pahlawan menuju ke Jembatan Merah, makam Bung Tomo, dan berakhir di SPH. Peserta City Tour terdiri atas tiga lembaga pendidikan, masing-masing mengirimkan 14 siswa plus seorang pembina. Narator perjalanan diambil dari Dewan Harian Daerah ’45 Surabaya. “Acara dilanjutkan dengan lomba menulis prosa bertema kepahlawanan,” ujar Henny Adystyarani, Public Relation Officer SPH. Pengumuman pemenang lomba disampaikan saat buka bersama di restoran hotel setempat.

Kehilangan Makna
Direktur Penjualan SPH, Andi Ananto, menyebut langkah non-komersial itu dimaksudkan agar generasi muda (peserta) tidak kehilangan makna Hari Pahlawan, serta mengetahui lokasi situs kepahlawanan. Namun, diajuga mengaku kecewa, karena banyak obyek wisata sejarah yang terlupakan. Padahal punya potensi. Semestinya Pemkot Surabaya bisa menampilkan dan mengelola objek-objek wisata sejarah, sehingga Surabya Kota Pahlawan konkret kasat mata. Hal senada juga disampaikan M. Fajar Mulya. “Di Surabaya, mereka (wisatawan) hanya sekadar transit,” ujar Humas Hotel Shangrila Surabaya itu.

Dari sudut pandang seni-budaya, Surabaya juga dikenal sebagai gudangnya seniman-seniman pahlawan pada zamannya. Sebut saja, salah satunya, Cak Durasim. Kidungan Jula-Julinya yang populer, sarat kritik tajam pada kolonial. Begupon omahe doro, melu Nippon tambah sora (begupon sangkar burung dara, ikut Jepang tambah sengsara), adalah salah satu kidungan pedasnya.

Kini, makam Cak Durasim (meninggal 7 Agustus 1944), tak gampang dicari, meski makam di kawasan Tembok, Surabaya, itu sempat dirombak tahun 1956. Untuk menuju ke area makam itu, pengunjung harus melewati salah satu lorong di Pasar Tembok. Tak disangka, di dalam kawasan pasar terdapat makam  tokoh seniman Surabaya itu. Menurut Mamik (47), juru kunci makam Cak Durasim, sebagian besar peziarah adalah kerabat almarhum sendiri. “Tapi awal puasa kemarin Paguyupan Kesenian RRI yang dipimpin Kartolo berziarah ke sini,” ujarnya. Ihwal dana perawatan makam, dia katakan berasal dari kerabat almarhum sendiri. Memang, tidak semua orang mengenal sosok Cak Durasim. Ari Kurniawan (34), wiraswasta, menyebut Cak Durasim tidak terlalu populer baginya dan tidak terlalu penting untuk dikenali. Sedangkan Kartolo, tokoh seniman lawak/ludruk Surabaya yang dihubungi per telepon, juga mengaku tidak tahu sejarah Cak Durasim. “Saya hanya tahu Cak Durasim ditangkap (penjajah) karena kidungannya,” ujarnya. Meski demikian, pemerintah menghargai jasanya. Pada 2 Mei 1999 membangun gedung teater tertutup berjuluk Gedung Cak Durasim, sederet dengan pendapa dan Sawunggaling Hall, di Jl Gentengkali 58.

 Kaya Kenangan
Meski miskin kemasan, namun Surabaya kaya kenangan. Saat melintas di bawah Viaduct di Jl Pahlawan misalnya, kenangan mudah menerawang kembali ke masa heroik 58 tahun silam. Jembatan rel kereta api itu bagai sebuah garis demarkasi bagi arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kotanya. Mereka bertempur bak banteng ketaton (banteng terluka) melawan pasukan sekutu yang diboncengi pasukan Belanda. Pihak Sekutu dan pemboncengnya terbelalak. Ultimatum agar meletakkan senjata pada 9 November 1945 tak digubris. Esoknya, 10 November, meledaklah pertempuran dahsyat. Banyak penjuang gugur. Itulah Hari Pahlawan Indonesia.

Kisah heroik-patriotik tersebut sebenarnya bisa dikemas menjadi even wisata. Ada peluang menerobos pangsa dan sekmen pasar generasi muda sekarang dengan even-even yang beraroma perjuangan bangsanya sendiri. Kemasan even Hari Pahlawan harus lebih menarik dari buku-buku sejarah yang ada. Peristiwa heroik itujuga banyak meninggalkan situs yang bernilai kejuangan. Sampai saat ini baru Tugu Pahlawan, GNI, dan Balai Budaya yang sudah mendapat sentuhan dan dikelola Dinas Pariwisata.

Surabaya sesungguhnya merupakan kota ke-2 terkaya peninggalan sejarah kolonial Belanda. Namun juga masih banyak peninggalan bernilai heroik-patriotik yang belum tersentuh. Di antaranya, rumah di Jl. Mawar 10-12, Kantor NU di Bubutan, dan Masjid Kemayoran eks markas Hisbullah. Dinas Pariwisata selayaknya segera mengambil langkah agar tidak didahului ruilslaag (tukar guling), lalu dibongkar. “Saat ini gedung-gedung itu ditangani oleh Bapeko Surabaya” ujar Suhardi Djaharudin, Kasi Sejarah Dinas Pariwisata Surabaya. Sebagai kota yang berjuluk Kota Pahlawan, tentunya harus ada upaya untuk menyelamatkan peninggalan/situs bersejarah, kemudian mengoptimalkan keberadaannya agar memiliki nilai tambah bagi pengembangan kepariwisataan. Namun, entah kapan hal itu bisa terwujud . • Azmi, Alida, Tio

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur :  Jatim News EDISI 21, 7-21 November 2003, Tahun I