Puji-Pujian Banyuwangen


Selayang Pandang: Puji-Pujian Banyuwangen

Tamba ati iku lima warenane
Maca Qur’an angen-angen ring maknane
Kaping pindo shalat wengi lakonana
Kaping telu dhikir ati ………………………………

Sesungguhnya puji-pujian adalah suatu tradisi yang tidak ditradisikan oleh Nabi Muhammad SAW maupun khulafa’rossyidien. Mengingat memang tidak ada contoh maupun perintah Rasulullah itu, maka wajarlah kalau ada sebagian insan, puji-pujian tersebut sebagai muspro saja. bahkan ada yang menyatakan, puji-pujian tersebut sebagai bid’ah dlolaalah. Artinya, sesuatu yang diada-adakan, yang tidak dilakukan oleh rasuluIlah, dan itu salah.

Namun ada kesan dan pendapat lain yang berpendirian, puji-pujian itu mempunyai tujuan yang baik, caranya pun baik, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai keimanan, dakwah, dan syiar Islam. Maka dianggaplah puji-pujian itu sebagai bid’ah hasanah. Maksudnya, sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah, namun mempunyai nilai atau arti yang baik dan bermanfaaf (aslahah), bahkan mendekati sebagai sangat dianjurkan.

HA Mughni Said, sarjana pendidikan agama Islam menyatakan, masalah puji-pujian itu sebagai suatu kenyataan yang hidup mentradisi di kalangan masyarakat. Baik yang dialunkan dalam bahasa campuran, bahasa Arab, bahasa Using yang disesuaikan dengan lingkungan, dan dengan irama lagu yang bervariasi.

Tentang puji-pujian berbahasa Using yang lebih dikenal dengan sebutan Puji-pujian Banyuwangen, Ketua FKP DPRD setempat ini secara pribadi berpendapat, di samping mempunyai nilai pendidikan dan dakwah, juga mempunyai sentuhan seni yang masih islami.

Bahkan dalam perkembangan akhir-akhir ini, menurut laki-laki kelahiran Lamongan 1949 lalu itu syair puji-pujian Banyuwangen dipakai untuk menyemarakkan tampilnya kesenian Kundaran (Kuntulan Dadaran) yang mempunyai corak khas Banyuwangi, seperti Tamba Ati. Sebagaimana tradisi-tradisi islami yang lain, puji-pujian di samping bisa diterima sebagai kontribusi yang bernilai pendidikan dan dakwah, juga terasa sentuhan-sentuhan nilai seninya, ada beberapa hal sebagai masalah yang perlu dikaji lebih profesional lagi.

Masalah tersebut antara lain masih sering puji-pujian itu dikumandangkan dengan alunan yang kurang menarik, dan waktunya kadang-kadang menjemukan, bahkan terkesan hanya dilakukan asal-asalan saja.

Termasuk adanya situasi yang kurang mendukung akibat kemajuan dan tuntutan masyarakat yang semakin terasa memerlukan waktu yang cepat, dan ingin serba praktis, sehingga terkesan bahwa waktu yang dipakai puji-pujian kurang bernilai ekonomis.

Di samping itu, semakin berkurangnya minat masyarakat terhadap puji-pujian. Apa alasannya? Dalam hal ini, Mughni yang pernah menjabat Kasubsi Penyuluhan pada Seksi Penerangan Agama Islam Kandepag Banyuwangi, mengakui belum melakukan pengamatan secara khusus.

Budayawan Banyuwangi, Hasan Ali mengatakan, memang tidak ada aturan yang mengharuskan semua kegiatan agama atau upacara keagamaan dilakukan dengan lagu. Namun ada beberapa kegiatan agama atau upacara keagamaan yang akan terasa janggal untuk tidak dilagukan, setidak-tidaknya lagu kalimat, lagu baca, atau lagu ujaran.

Dapat dibayangkan, semisal puji-pujian Banyuwangean yang cukup dikenal, yakni Tamba Ati, direkam dalam bentuk ngomong kemudian diputar kembali setiap usai maghrib: Dulur-dulur, tamba ati niku nggih, enten lima, kang sepisan .. . dan seterusnya.

Barangkali untuk sekali dua kali orang masih akan mendengarkannya, namun untuk selanjutnya orang akan menjadi bosan, dan tak akan mendengarkannya lagi. Lain halnya jika pujipujian itu dilagukan dengan baik oleh orang-orang yang suaranya baik, apalagi dengan cengkok dan improvisasi yang variabel, yang tidak monoton. Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) itu menegaskan, karena itulah sejak dulu sampai sekarang, dan barangkali sampai kapan saja, pujipujian Banyuwangen tetap dilagukan, walau diketahui lagu pun jika dinyatakan terus menerus juga akan membosankan. Diyakini pula, secara sadar atau tidak, para pelagu puji-pujian Banyuwangen cukup tanggap. Untuk menghindarkan kebosanan itu mereka biasanya selain selalu mengganti-ganti nyanyian puji-pujiannya, kadang-kadang untuk bentuk syair yang sarna.

Dicontohkan puji-pujian Tamba Ati. Sekali tempo mereka menyanyikan dengan nada petatonik anhemitonis atau slendro menggantikan yang diatonik mayur.

Menurut ayah kandung penyanyi Emilia Contessa ini, ada yang agak luar biasa pada para pelagu puji-pujian Banyuwangen, yakni tanpa melalui belajar tentallg teori musik secara alami mereka dapat melagukannya untuk syair puji-pujian. Dan umumnya, mereka menyanyikannya degan pas.

Puji-pujian Banyuwangen disebarkan dan diturunkan ke generasi berikutnya dari mulut ke mulut. Karena cara itulah mengakibatkan sering berubahnya lafal kata secara tidak didasari. Hal ini juga terjadi pada lagu-lagu klasik daerah Banyuwangi.

DKB bersama Yayasan Kebudayaan Banyuwangi (YKB) beberapa waktu lalu melakukan penelusuran ragam puji-pujian Banyuwangen ke berbagai desa. Hasilnya, tak mendapatkan lagi puji-pujian dengan nada pelog.

Jika tak segera diangkat kembali, hal yang sungguh memprihatinkan ini akan bermuara terancamnya kepunahan puji-pujian dengan nada pelog tersebut, dan yang tinggal hanya catatan sejarahnya saja.

Di sisi lain, tahun-tahun belakangan ini para pelagu puji-pujian banyak mengambil begitu saja lagu-lagu minor kasidahan, melayu, dangdut, dan barangkali,juga lagu-lagi India, lalu mengisinya dengan syair-syair karangannya sendiri.

Hal ini sangat disayangkan oleh kakek rapper nasional Denada karena masalah pengambilan tersebut apapun kepentingannya akan dapat menimbulkan kesan, citra. dan dampak yang kurang menyenangkan. Kebiasaan ini melahirkan kesan, para pelagu puji-pujian Banyuwangen tidak kreatif dalam penciptaan lagu.

Pengambilan dengan cara asal ambil, tidak menjamin mutu puji-pujian itu sendiri secara keseluruhan, karena biasa terjadi syair yang ditempelkan tidak sejiwa dengan lagu asalnya. Misalnya, dari lagu romantis, atau lagu porno yang terselubung ke lagu pujian kepada Tuhan . Jelas, selain itu hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak cipta, dan dapat menyinggung perasaan pengarang lagu asalnya.

Lalu bagaimana jalan ke luarnya? DKB dan YKB akan melakukan pertemuan dengan para takmir masjid dan mushola, serta para guru ngaji di langgar membahas perkembangan budaya pujipujian Banyuwangen. Dan menyelenggarakan festival atau lomba puji-pujian Banyuwangen.Kapan? Hasan Ali berujar: ini baru gagasan. (Pamo Martadi dan Yuliadi)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Prasetya no.5, Mei 2009.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Puji-Pujian Banyuwangen

  1. rif'an berkata:

    kalo download pujia pujian islami jawa dmana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s