Kebun Binatang Surabaya, Paru-paru Kota yang Butuh Kepedulian


-Oktober-November 2003-

Pohon-pohon yang menjulang tinggi dan rindang di area Kebun Binatang Surabaya (KBS), memberikan kontribusi dalam wujud rasa nyaman berada di dalamnya. Kepenatan terasa bisa berkurang, bahkan hilang. Pas benar dengan salah satu tungsinya, yaitu sebagai tempat rekreasi dan apresiasi terhadap alam. Kebun binatang juga merupakan tempat yang tidak kurang penting apabila dibandingkan dengan museum zoologi, museum budaya, dan kebun raya.

Ny. Dasriana (43 thn), salah seorang pengunjung, menuturkan, “Dengan mengunjungi KBS, kejenuhan yang saya alami dapat terkurangi.” Ibu asal Gresik itu menambahkan, KBS merupakan media yang baik untuk mengenalkan berbagai jenis satwa kepada anak-cucu.

Selain sebagai tempat rekreasi dan apresiasi terhadap alam, KBS juga merupakan tempat untuk penelitian, pendidikan, dan sebagai sarana pelindung dan pelestarian alam. KBS yang terletak di jalan Setail No 1, Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, merupakan tempat untuk meneliti tingkah laku, sistematika, makanan satwa, serta penyakit satwa. Menurut Prasetyo, staf peneliti, sering para mahasiswa dan pelajar meneliti tingkah laku satwa di KBS. Pihak KBS juga memberikan pelayanan dengan menyiapkan pemandu wisata secara gratis. Pemandu itulah yang memberikan pengetahuan umum tentang satwa, lingkungan, dan KBS.

KBS juga merupakan sarana pendidikan untuk mengenal keanekaragaman hayati, ilmu hewan, tata lingkungan dan sejarah kehidupan. Bahkan, ada rombongan lembaga kursus bahasa Inggris yang mengagendakan setiap lima bulan sekali mengunjungi KBS. “Study tour lembaga kursus bahasa Inggris itu ingin mengajarkan kepada siswa agar mengenal dan menyayangi keanekaragaman hayati. Para siswa terlihat antusias. Mungkin karena tempatnya yang nyaman,” kata Prastowo, pendamping study tour lembaga kursus dimaksud.

Pendapat ihwal nyamannya KBS di kawasan tengah kota metropolis itu, boleh jadi tidak berlebihan. KBS seluas 15 ha memang “dikepung” pohon-pohon yang menjulang tinggi. Rindang, hijau segar. Ketika berada di sana, kita merasa seperti berada di hutan. Padahal jarak antara KBS dengan pusat Kota Surabaya hanya 5 km. Menjadi wajar jika keberadaan KBS tak hanya menyedot warga Kota Pahlawan itu, namun juga dari berbagai kota lainnya, bahkan dari mancanegara.

‘Orang Tua Asuh’

Jumlah pengunjung selama Januari-September 2003, tercatat 1.678.304 orang wisatawan Nusantara. Sedangkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 916 orang. Total 1.678.304 orang. “Ada bulan-bulan tertentu untuk  mendeteksi jumlah pengunjung. Misal, Januari dan Juli merupakan bulan yang padat pengunjung, karena bertepatan dengan tahun baru dan liburan sekolah.  Mungkin, Oktober hingga Nopember akan sepi, karena bulan puasa,” papar Humas KBS, Agus Supangkat.

Saat ini koleksi satwa di KBS mencapai 2.902 ekor. Jumlah itu meliputi 336 spesies. Berbagai upaya dilakukan untuk menambah koleksi satwa. Sebut saja melalui alam (habitat ash), pinjaman, sumbangan dari warga masyarakat, hasil penangkapan, atau bahkan dari hasil sitaan aparat Departemen Kehutanan.

Keunikan lain, di KBS juga ada empat jenis satwa yang memiliki “orang tua asuh”. Rincinya, harimau putih, singa, jerapah, dan gajah.
“Setiap bulan kami memberikan laporan kepada para ‘orang tua asuh’, dan mereka wajib membiayai makanan satwa tersebut,” ujar Humas KBS di sela kesibukannya. Semua satwa tersebut tidak langsung dipertontonkan kepada pengunjung, tapi dikarantina dahulu untuk mengetahui seluk beluk satwa secara keseluruhan. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah adanya penyebaran penyakit yang dibawa satwa dari habitat aslinya. Selama 87 tahun keberadaan KBS (didirikan 31 Agustus 1916), tiket (karcis) masih merupakan sumber dana andalan hingga 90% dari total pendapatan. Selebihnya berasal dari sumbangan berupa uang dan bentuk material/bangunan. “Pemerintah tidak pernah memberikan dana operasional kepada KBS. Sebaliknya, KBS harus membayar pajak kepada pemerintah. Padahal, ini semua untuk masyarakat umum,” ujar Drs. Amak Syarifuddin, pengurus Taman Flora dan Satwa Surabaya (TFSS). Tampak jelas, KBS sebagai sebuah institusi, bukan merupakan milik suatu organisasi atau kelompok tertentu, namun milik masyarakat. Lantaran itulah dibutuhkan bantuan dan dukungan masyarakat demi tetap eksisnya KBS di tengah hiruk-pikuk kota metropolis. Bagimanapun KBS adalah satu-satunya hutan kota, sekaligus “paru-paru” kota yang utama bagi Surabaya. Jika “paruparu” itu dibiarkan remek, maka “Tubuhnya” (Surabaya) pun akan bengek, sesak napas, Kan????    –Alida-

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatim News EDISI 21, 24 Oktober-7 November 2003. Tahun I, diterbitkan PT. Nurani Timur Sepakat Sukses

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s