Flaminggo :Imigran Tanpa Paspor, di Segara Anakan


Ribuan camar sepekan lalu masih tampak kerasan tinggal di muara Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, belahan selatan Kabupaten Banyuwangi. Padahal, sebagian besar burung “imigran” dariAustraliaitu sudah berangsur pulang. Beberapa ekor jenis Flamingo masih bertahan tinggal, meskipun kemudian harus bergegas memburu musim panas di Negeri Kanguru.

Bermigrasi tanpa paspor. Berkunjung tanpa visa. Lazim dilakukan berbagai jenis  satwa aves (bangsa burung) di alam semesta. Bagi mereka tak ada batasan kewilayahan suatu negara. Iklim yang mendukung, serta ketersediaan pakan, menjadi daya tarik untuk datang dan .pergi. Alamiah.

Hutan mangrove yang mengapit Segara Anakan, Banyuwangi, setiap tahun pada bulan Juni-Juli pastilah kedatangan “tamu” dari Australiaitu. Berbagaijenis burung pemakan ikan, berombongan tinggal beberapa bulan, bahkan hingga Oktober. Pantauan Jatim News, hingga akhir pekan lalu, masih dapat dijumpai beberapa ekor dari mereka.

Delta muncul bersamaan surutnya air

laut. Beberapa spesies hewan tertinggal di atas “pulau ” dadakan tersebut. Pelikan (Pe/icanus conspicu//atus) berdatangan untuk melahapnya. Meskipun harus ribuan mil terbang, selalu dilakukan setiap musim dingin di Australia (musim kemarau diIndonesia).

Hutan mangrove di kawasan paling tenggara Jawa Timur tersebut boleh dikata masih utuh. Hutan yang kerap dinamai dengan hutan pasang surut itu didominasi tanaman rizhophora(bakau). Menghijau sepanjang tahun. “Masyarakat sekitar sadar betul perlunya kelestarian hutan bakau itu,” kata Nyoman Agus, mantan wakil Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Bidang Lingkungan 2001, asal Banyuwangi.

 

Kekayaan Mangrove

Kesadaran dimaksud didasari pengetahuan mereka pada fungsi hutan mangrove. Akar-akar yang menghunjam kuat, berfungsi menahan terpaan angin dan ombak. Ikan dan udang juga kerap bertelur di belukar bakau ketika pasang. Manfaat lain, sejumlah pencemaran sungai dapat diserap dan dinetralisasi tumbuhan tersebut. Tak pelak, hutan mangrove adalah kekayaan alam sebenar-benarnya. Banyak nelayan yang memanfaatkan Segara Anakan sebagai lahan mengais rezeki. Menangkap ikan, udang, kepiting, dan kerang, tak perlu berperahu jauh ke tengah laut. Ketika air pasang, banyak satwa laut terbawa masuk ke sungai. Saat surut, arus balik menuju laut. Sejumlah ikan terjerat jala. Udang-udang menyelinap di antara akar dan dedaunan yangjatuh di dasar sungai. Bertelur dan menetaskan benur(anak udang). Ketergantungan nelayan jelas bukan pada batang  kayu bakau, tapi lebih pada fungsi keberadaan dan kelestarian tanaman tersebut.

Bibir muara sungai yang melebar luas bagai segara(laut), meski segaraitu kecil (anakan). Tak salah disebut Segara Anakan. Semakin ke hulu semakin menyempit. Berpagar bakau dan rumput liar. Indah lestari. Berbagai jenis satwa tumbuh di dalam hutan yang terkenal sulit dilalui ini. Seperti ular, monyet, buaya, penyu, elang jawa, cucak ijo, dan jalak kerap tampak.

Mengunjungi kawasan lindung yang berada dalam Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) itu, lebih mudah lewat jalur Banyuwangi -Jember. Dari pusat Kota Banyuwangi , paling lama 90 menit perjalanan darat ke arah selatan. Sampai di kawasan Pantai Grajagan jalan beraspal.

Menuju bibir pantai cukup berjalan kaki. Menerobos gang-gang kecil, melewati permukiman nelayan. Selanjutnya, sewalah perahu pad a penduduk setempat jika ingin menyusuri Segara Anakan. Satu trip (perjalanan) uang sewanya berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu. Memang belum tersedia angkutan khusus menelusuri sungai tersebut. Selama ini wisatawan menikmati kecantikan Segara Anakan dari Bedulan di kawasan TNAP.

Hutan mangrove di Pantai Grajagan tersebut sangat mempesona. Kearifan masyarakat setempat mewujudkan kelestarian lingkungan patut menjadi

teladan . Motif apapun yang melatar belakangi mereka, jelas nyata.             Azmi

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 21, 7 -21 November 2003, Tahun I

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s