Khidmat Ampel Ramadhan


Tatkala kaki menginjak kawasan Ampel, suasana religius sangat terasa. Di dalam kawasan objek wisata religius inilah terdapat makam Sunan Ampel, salah satu Walisongo. Sebagian besar para penziarah adalah kaum mukimin (para santri pondok pesantren). Sebagian lainnya dan berbagai kalanga, yang datang secara berombongan atau sendirisendin.  Fani (30) misalnya. Perempuan asalManado ini mengaku rutin melakukan ziarah ke Ampel dan mengunjungi mesjid-mesjid diSurabaya.

Ada”Fani-Fani” lain yang datang bersama suami atau kerabatnya. “Saya keAmpel bersama suami, karena ada niat khusus. Harapan saya, tahun 2005 nanti kami dapat menunaikan ibadah haji, ujar Nurhayati (38) dalam percakapan dengan Jatim News sambil menunggu waktu buka puasa, menjelang akhir pekan kemarin.

Peziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya Utara itu juga ada yang berasal dari luar negri. “Adayang dariMalaysia, Singapura, Rlipina, dan negara-negara lain,” tutur Haji Ali (84),juru kunci makam. Di kawasan Ampel tak hanya makam Sunan Ampel yang menarik perhatian peziarah, namun juga Mesjid Ampel. Daya tampung masjid itu sekitar 800 jamaah.

Pada waktu Ramadhan seperti sekarang, shalat tarawih di Masjid Ampel berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 21.30 WIB. Waktu tarawih yang relatif lama itu, meski hanya 11 rakaat, tetapi bacaan surat AIQur’an yang digunakan sebanyak satu juz. Ditambah dengan shalat witir tiga rakaat Imam shalat tarawih berasal dari kawasan Ampel sendiri.

Selama bulan puasa, telah diagendakan imam yang memimpin shalat tarawih yaitu K.H. Yakoshim Zubair, Gus Robbi (putra K.H. Yakoshim Zubair), dan K.H. Mas’ud. Direncanakan pula, dalam memperingati Nuzulul Qur’ an, imamnya akan didatangkan dari luar kawasan Ampel. “Tapi itu belum pasti,” tutur Badrul, anggota takmir masjid setempat..

Ketika tarhim (bacaan menjelang magrib) berku mandang, maka mulailah nasi bungkus, air mineral, plus dua biji kurma dibagikan kepada 500-an jamaah. Sekitar 30 menit  kemudian, ditandai bunyi beduk,jamah buka puasa bersama. Makanan yang disajikan sebagian besar berasal dari para habib, sedangkan kurma berasal dari para peziarah. Untuk sahur, ta’mir masjid menyediakan makanan sebanyak 400 bungkus nasi , dibagikan mulai pukul 02.00 dini hari.

Nyamplungan – Kampung Arab
Sebelum dan setelah Ramadhan, kawasan Ampel terkenal dengan maraknya penjual makanan, minyak wangi, dan perlengkapan shalat. Aneka mata dagangan itu dijajakan di sepanjang lorong sempit menuju Masjid Ampel. Saat Ramadhan seperti sekarang, keramaiannya meningkat nyaris dua kali lipat. Di sepanjang tepi badan jalan JI. Nyamplungan misalnya, dipadati penjual makanan untuk buka puasa. Mulai dari kurma, bakso, sampai dengan anekajajan pasar.

Tak ayal, arus lalu lintas kendaraan di kawasan jalan tersebut semakin macet. Su’riyah (26), penjual kurma, mengaku selama Ramadhan kali ini pemasukannya tidak seberapa. Penyebabnya, lokasinya berdagang di JI Nyamplungan itu kurang strategis. Namun, H. Syiah, pedagang kurma di lorong menuju Masjid Ampel, mengaku omzetnya naik tajam. “Sebelumnya hanya laris pada hari Kamis mal am Jumat. Apalagi Jumat Legi. Sekarang lebih laris. Mungkin karena adanya sunnah Rasullullah untuk berbuka dengan makanan yang manis,” ungkap dia, akhir pekan lalu.

Puncak keramaian di kawasan Ampel lazim berlangsung pada tanggal-tanggal ganjil likuran, yakni tanggal 21, 23, 25 Ramadhan (16, 17, 18 November) nanti. Kawasan Ampel menjadi lebih ramai, karena banyaknya jamaah yang mengunjungi Masjid Ampel. Dalam agama Islam, tanggaf-tanggallikuran pada bulan Ramadhan tersebut (dimulai dari 21 Ramadhan) merupakan malam Lailatul Qadar. Selain JI Nyamplungan, pusat makanan juga ada di JI K.H.Mas Manshur. Di kawasan KampungArab inilah berbagaijenis makanan dijajakan. Mulai dari gule kacang hijau, roti : maryam, hingga martabakIndia. Makin malam, makin ramai pengunjung. Terlebih pada bulan Ramadhan. Seusai shalat tarawih hingga menjelang sahur, marak. Gule kacang hijau laku keras. “Mungkin karena harganya yang murah meriah,” komentar Salim, si penjual. Maklum, satu porsi gule kacang hijau (terdiri atas karang hijau, daging sapi, dan lontong) “hanya” Rp 1.500,00. Selama Ramadhan, Salim mengaku membutuhkan bahan baku 8 kg daging sapi, 8 kg beras untuk lontong, dan 8 kg kaeang hijau tiap hari

Menikmati gule kaeang hijau dapat pula dinikmati dengan roti maryam. Pengunjung tidak perlu bedalanjauh untuk mendapatkan roti itu. Jika menegok ke belakanggerobak gule kaeang hijau, pengunjung dapat menemukan roti asal Indiaitu. Rasanya yang tawar dan renyah, pas jika disajikan bersama gule kacang hijau yang hangat. “Jangan salah kira, roti maryam juga enak dinikmati dengan gula atau madu,” tutur H. Tohir (84), pemilik depot roti maryam. Muneulnya sejumlah fen omena tersebut membuat kawasan Ampel layak dijadikan pilihan alternatif untuk berwisata religius bersama keluarga pada Bulan Suci ini  Naskah dan foto : Alida

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 21, 7 -21 November 2003, Tahun I

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Khidmat Ampel Ramadhan

  1. Ping balik: Revitalisasi Ampel | Pusaka Jawatimuran

  2. Broor Anwar berkata:

    Inilah calon pemimpin generasi Muslim masa depan Indonesia, aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s