Yadnya Kasada 2003 : Reformasi di Dunia Pari Wisata


Kesetiaan kultural masyarakat Tengger dalam menjaga adat leluhumya, sungguh menarik. Hal itulah yang menghasilkan ketahanan social amat kuat. Meski banyak pengaruh masuk ke lingkungan mereka, namun tidak menimbulkan benturan. Bahkan sebaliknya, masyarakat di lereng Gunung  (bijaksana) dalam menghadapi dan menyikapi kehidupan yang makin kompleks. Ketahanan kultural itu tidak bisa dilepaskan dari peran dan jasa para dukun (pemangku adat) yang sangat setia dalam mempertahankan adat, turun-temurun.

Sehubungan dengan hal itu, dalam upacara Kasada tahun ini masyarakat Tengger mencoba memisahkan antara upacara adat dan agama. Ide jernih itu muncul dalam sarasehan di rumah Mudjono, Ketua Dukun (baru), dihadiri seluruh (35) Dukun Tengger, pekan lalu, di Desa Ngadas, Sukapura. Gagasan bernuansa reformasi itu disambut baik oleh masyarakat Tengger. Upacara adat yang sangat kental dengan aroma keagamaan sering menimbulkan ketidakmantapan para pemuka masyarakat.Paratokoh muda yang berpendidikan juga mulai kritis dalam melihat pelaksanaan upacara adat yang beraroma agamis. Pernah ada seorang pemuda yang menanyakan pemasangan penjor dari janur dalam upacara adat.

Berkaitan dengan hal tersebut, perhelatan Kasada kali ini dikembalikan pada bentuk semula. Paradukun yang akan melayani umat tidak lagi di dalam paten, namun di tempat sebelumnya. Dalam Kasada kali ini pun ada ritual yang sangat ditunggu-tunggu oleh wisatawan  yaitu pelantikan Ketua Dukun Tengger, mengganti almarhum Mbah Dja ‘i.

Prosesi Pekan Ini

Upacara Kasada yang oleh masyarakat Tengger lazim disebut Wilujengan Kasada, diselenggarakan pada “tanggal purnama bulan keduabelas”, bertempat di paten. Acara ini juga disebut Yadnya Kasada. Dalam penanggalan Masehi, masuk bulan Oktober, pekan ini. Prosesi Yadnya Kasada. Dalam penanggalan Masehi masuk bulan Oktober, pecan ini.

Prosesi Yadnya Kasada diawali dengan acara mendhak tirta (mengambil air suci) di kaki Gunung Widodaren, 9 Oktober 2003. Kemudiann air suci itu dibawa dengan bumbung (bambu) ke pura agungdi Cemoro Lawang, Ngadisari. Hari Minggu, 12 Oktober, bertepatan dengan bulan Purnama Sid,; tanggal15 Kasada, tahun 1936 Saka, semua dukun dari seluruh kawasan Tengger, berjumlah 35 orang, berkumpul di Cemoro Lawang.  Acara dimulai dengan pembacaan sejarah tentang asal-usul masyarakat Tengger, kemudian dilanjutkan dengan persembahan sesaji oleh seluruh dukun. Beri kutnya , acara paling sakral, pembacaan doa untuk seluruh umat di dunia agar diberi keselamatan dan kemakmuran . Jadi yang didoakan tidak hanya komunitas warga Tengger, namun semua umat di mana pun berada.

Usai pembacaan doa , dilanjutkan dengan pelantikan para dukun baru (termasuk dari Ngadisari , j ika sudah terpilih. ). Tengah wfmgi (tengah malam) pukul 00.00 WIB tepat, pintu menuju kawah Bromo dibuka Seluruh dukun berjalan berurutan dan beriringan, mulai dari yang tertua dengan membawa sesaji menuju kawah Bromo. Tepat bangrahina (matahari mulai menampakkan sinarnya), sekitar pukul 05.00, upaca ra labuhan dimulai.

Dalam acara labuhan ini , benda yang dilabuh(dipersembahkan ) berupa segala macam tanaman yang menghasilkan (tandur tuwuh) dari hasil pertanian warga Tengger, seperti kentang, kubis, dan ketela. Keindahan rutual labuhan terletak pada penataan materi yang dilabuh, karena ditata sangat indah. Dua batang pohon pi sang lengkap dengan buahnya di bawa dengan menggunakan ongkek bambu- Cara penataannya pun ada aturannya. Disusun mulai dari yang paling bawah berupa pala pendem (hasil bumi seperti ketel a, kentang), lalu di atasnya pala kesimpar( kubis , tomat ), kemudian pala gumantung (pisang, nangka, dan sejenisnya)

Persembahanjuga berupa ayam, kambing, atau uang logam. “Ini (persembahan tersebut) biasanya bagi mereka yang mempunyai nadar,” ujar Pak Mujok, panggilan akrab Mudjono, Ketua Dukun baru yang terpilih menggantikan almarhum Mbah Dja ‘i. Banyak orang yang dating ke Bromo untuk meminta berkah. Bila mereka sukses, kelak mereka akan  mempersembahkan sesuatu. Ketika mereka sudah berhasil, nadarpun dipenuhi saat Kasada . Labuhan juga bisa dilakukan sebelum acara Kasada , dan lazim disebut dengan istilah Nyu/ung Bisajuga Ngareni (menyusul setelah acara)

Kasada tidak hanya untuk masyarakat Tengger. Masyarakat umum juga  oleh mengikuti prosesinya, tetap dalam panduan dukun. Syaratnyajuga mudah. ereka menghadap ke dukun sambil membawa kemenyan , kemudian menyampaikanmaksudnya. Dukun akan membacakan mantera, kemudian langsung menuju ke kawah Bromo. “Mudah-mudahan acara ini (Yadnya Kasada) bisa lancar,” kata Mudjono.

Peran Dukun

Mudjiono yang semula berada di posisi Wakil Ketua Dukun Tengger, naik “peringkat”. Secara aklamasi. Warga Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, itu terpilih menggantikan almarhum Mbah Dja’i. “Sampai

hari ini belum ada yang mencalonkan diri, ” ujar Mudjono dalam percakapan dengan Jatim News, pekan lalu. Proses pendaftaran calon dukun itu sudah diumumkan kepada masyarakat Tengger mulai 25 September 2003.

Dukun dalam komunitas masyarakat Tengger memang mempunyai kedudukan tinggi. Perannya tidak hanya memimpin upacara adat. Lebih dari itu, dukun juga berkewajiban menjaga kelestarian adat yang diturunkan leluhur mereka. Lantaran itu menjadi dukun tidaklah mudah. Adabeberapa syarat yang harus dipenuhi. Hal paling utama, seorang dukun harus menguasaijapa mantra (doa atau manteramantera). Merekajuga harus memahami hitungan neptudan pasaran. Pasalnya, hampir segala kegiatan masyarakat Tengger menggunakan hitungan tersebut Seorang dukun juga harus keturunan langsung (anak) dukun. Semasa hidupnya teruji berperilaku baik dan tidak pernah melanggar aturan adat. Dalam situasi sekarang, peran dukun bertambah kompleks. Banyaknya generasi muda yang berpendidikan memunculkan pemahaman baru terhadap adat mereka.

Seorang dukun harus bisa menjabarkan secara jelas ihwal mengapa suatu upacara adat  dilakukan. Lantaran itulah seorang dukun dituntut mampu memisahkan mana yang adat dan mana yang bukan adat.

Masyarakat Tengger saat ini tersebar di empat wilayah kabupaten, yaitu di Pasuruan (tersebar di 11 desa), Lumajang  (6 desa), Malang(3 desa), dan yang terbanyak di Probolinggo (17 desa). Setiap desa memiliki satu dukun. Kebanyakan mereka memeluk agama Hindu (87 ribu jiwa). Sedangkan yang bermukim di sebelah barat Gunung Bromo (Kabupaten Malang) mayoritas beragama Budha. Mereka dikenai dengan sebutan umat Budha Jawa Sanyata

Hal yang menyatukan mereka hingga saat ini adalah, mereka berkeyakinan masih bersaudara, sama-sama keturunan Roro Anteng dan Joko Seger. Konon, nama Tengger berasal dari akronim Anteng dan Seger. Kehidupan ritual mereka lebih cenderung mengik.uiti adat  leluhur, yaitu adat Tengger. Mereka juga mempunyai istilah/sebutan hari dan bulan sendiri, seperti hari Radite(Minggu), Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, dan Saniscara. Demikian pula nama bulan, Kasa (Sura), Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, Kadasa, Desta, dan Asada.

Jelaslah, upacara Kasada merupakan upacara adat yang digelar pada bula ke sepuluh (Kadasa atau Oktober). Pada bulan ini sesuai dengan kepercayaan warga Tengger, mereka harus melaksanakan labuhan di kawah Gunung Bromo. Selain upacara Kasadajuga ada upacara Karo (digelar Februari), dan Unan-unan yang akan dilangsungkan Desember nanti.

Secara etimoligi, Tengger berarti berdiri tegak. Filofisnya, Tenggering Budi Luhu Orang Tengger selalu berorientasi pada sifat dan kepribadian. Lantaran itu seorang dukun di bumi Tengger harus berbekal pandangan hidup waras (sehat) , wareg (cukup pangan), wastra (cukup sandang), wisma (memiliki tempat tinggal), dan Wldya(berilmu dan terampil). Serta berpedoman pada sikap prasaja (sederhana), prayoga (bijaksaazaz), prayitno (waspada) dan prasetya (kessetiaan ).

Agaknyakesetiaan menjadi landasan utama bagi terciptanya hubungan sosial masyarakat Tengger. Pasalnya mereka mengamalkan Setya budaya (taat pad a tradisi dan adat  istiadat), setya wacana(mematuhi ucapan, saran dan nasehat), setya semaya (menepati janji ), setya laksana (tekun melaksanakan perintah), dan setya mitra (setia kawan). ” Inilah yang harus dijaga kelangsungannya oleh seorang dukun,” kata Supayadi (50) dukun Desa Wonokitri.

Legendanya

Upacara Kasada , konon , bermula dari legenda perjalanan rumah tangga Roro Anteng, putri Prabu Brawijaya , Raja Majapahit terakhir, dengan Joko Seger, seorang senapati berdarah Brahmana. Pasangan suami-istri (pasutri) itu tak kunjung dikaruniai keturunan hingga bertahun-tahun. Akhimya mereka bertapa di Watukuta, tepat menghadap ke arah Gunung Bromo. Saat bertapa itulah mereka mendapat wisik (suara gaib) yang menyebutkan mereka akan punya keturunan . Dan benar. Bahkan, anak mereka sampai berjumlah 25 orang!

Setelah si bungsu, Raden Kusuma lahir, muncul wlsikmenagihjanji. Pasutri itu bimbang. Pasutri itu memilih mengingkari janji. Mereka ungsikan 25 anaknya ke balik Gunung Pananjakan. Takdir berkata lain. Kawah Bromo murka. Lidah apinya menyambartubuh si bungsu. Raden Kusuma pun raib, namun mengirim wislkagar mengirimkan hasil pertanian setiap tanggal14 Kasada ke kawah Bromo. Dari peristiwa itul ah lahir Yadnya Kasada. Pasutri Joko Seger dan Roro Anteng yang sejak awal memimpin langsung pelaksanaan upacara Yadna Kasada, telah kembali ke alam baka. Peran mereka digantikan oleh dukun (ketua ad at Tengger), hingga kini. Dukun itulah benteng terakhir budaya Tengger. Pemegang amanat leluhur, hingga kini.                                   TIO AZMI

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 20, 10-24  Oktober 2003, Tahun I

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Wisata, Wisata Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s