Ah, Madura: Sayang Susah Warung


Berwisata menjelajah Jawa Timur, sungguh mengasyikkan. Sasaran kami (belasan orang wisatawan domestik) antara lain adalah Pulau Madura, Gunung Kelud, Kawah Ijen, dan Taman Nasional Alas Purwo. Sebuah biro perjalanan umum diSurabayamembantu kami merealisasikan obsesi tersebut.

Di Madura, kami murni berwisata, bukan berziarah, meski sasaran pertama kami adalah Makam Aer Mata. Sungguh menarik menyimak batu-batu nisan makam raja-raja Bangkalan dengan latar belakang dinding batu cadas putih, terukir indah. Wisata kami berlanjut menuju sentra kerajinan batik di Tanjungbumi, sebuah kampung tradisional Madura, kemudian makan siang di Hotel Camplong.

Kala itu, medio Juli 2003, pengemudi bus dan pemandu wisata tidak dapat menemukan lokasi perajin batik. Dikatakan, karena hari Minggu, pusat perajin batik tutup. Kami langsung menelusuri jalan di pantai utara menuju Sumenep. Waktu makan siang lewat. Usaha mencari warung nasi, nihil. Ternyata Madura tidak seperti kota-kota di Jawa yang banyak ditumbuhi warung nasi. Baru pukul 15.30 kami temukan rumah makan sederhana di Kota Sumenep.

Usai makan, kami bergegas ke Pantai Lombang yang terkenal dengan budidaya pohon cemara udang. Lagi-Iagi beberapa kali kami salah jalan. Tiba di pantai sudah gelap. Terpaksa mengunakan sinar lampu bus dan lampu senter untuk menikmati indahnya cemara udang. Malam itu juga kembali ke Sumenep. Check in di hotel yang dijanjikan sebagai hotel terbaik dikotaitu. Sayang, ternyata sebuah penginapan setingkat losmen. Tidak tersedia handuk dan sabun. Waktu itu, bekas Gedung Kabupaten Sumenep sedang direhab untuk hotel bintang satu.

Hari kedua, di Kota Sumenep, kami kunjungi beberapa objek wisata. Mulai dari Asta Tinggi, Masjid Agung Sumenep, museum dan Kraton Sumenep, dan Gerbang Pangeran Letnan. Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, dekat Pamekasan, kami sempat melihat Api Tak Kunjung Padam, kemudian makan siang di Hotel Camplong. Tak mulusnya perjalanan wisata ke Madura, kami simpulkan karena pihak biro perjalanan tidak melakukan sigi (survei) dahulu. Selain itu, supir dan bus yang kami tumpangi didatangkan dari Bali. Peliknya lagi, pemandu wisata tidak mengenal baik jaraingan jalan raya di pantai utara Madura. Padahal, sebenarnya, Madura selain berpotensi wisata ziarah dan karapan sapi, juga dapat dikembangkan untuk wisata sejarah yang menarik. B.Kusuma

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 21, 7 -21 November 2003, Tahun I

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ah, Madura: Sayang Susah Warung

  1. mohamad jusuf berkata:

    Madura untuk kunjungan wisata menurut saya masih belum siap seperti di Pulau Jawa. Karena pihak Pemkab Madura belum membenahi sarana yang ada di tempat kunjungan wisata.Dengan adanya jembatan Suramadu saya mengharap kepada Pemkab untuk membenahi tempat-tempat wisata seperti penunjuk arah ke tempat wisata dan sarana didalam tempat kunjungan wisata perlu disiapkan seperti tempat istirahat pengunjung dan stan restoran dan stan souvenir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s