Legitnya Nagasari: Kampung Plemahan


Di antara kemegahan pusat perbelanjaan di pusatkotaSurabaya, ada sebuah kampungj kecil yang mencoba bertahan melestarikan jajanan tradisional agar tak lekang digusur jaman.

Sebuah kampung di daerah Kaliasin, tepatnya di Plemahan gang IX, beberapa warganya masih konsisten meneruskan usaha pembuatan jajan basah yang dirintis turun temurun. Sebuah rumah kecil terlihat mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah sekitarnya. Tumpukkan daun pisang, setandan pisang tanduk dan dua baskom berisi adonan beras ketan tampak mengisi ruang tamu yang tak seberapa luas. Empat orang tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing, ada yang menyobek daun pisang, ada yang memotong pisang, dan dua orang lainnya kebagian tugas mengisi adonan beras ketan dan pisang ke dalam gulungan daun.

Inilah kesibukan sehari-hari yang dilakukan oleh Ibu Djamilah. Kebetulan hari ini dia mendapat pesanan 300 buah jajan nagasari. Jika hari biasa kegiatan itu dilakukan saat malam hingga menjelang pukul tiga pagi. Khusus hari ini, bersama anak dan mantu dia harus manyisihkan waktu istirahat untuk menyelesaikan pesanan. “Ya beginilah seharihari, selain rutin mengirim ke pasar, saya juga menerlma pesanan jajan pasar;’ ujar Bu Djamilah sembari menggulung daun pisang.

Menurut Bu Djamilah awal mula merintis usaha pembuatan jajan basah dimulai dari sang nenek. “Dulu, sehari bisa membuat sepuluh macam jajan basah sekarang hanya nagasari. Tapi saya juga menerima pesanan lainnya seperti; wingko, wajik, lapis, dan koci-koci,”  kisahnya.

Diakui Bu Djamilah yang membuatnya bertahan menekuni sebagai penjual jajan pasar semata-mata karena tidak memiliki keahlian lain, sehingga meski harga minyak dan bahan makin tinggi, ia masih tetap bertahan, untuk menekan pengeluaran, Bu Djamilah lebih memilih untuk mengurangi jenis jajanan yang dijual. Selain Bu Djamilah, masih ada pembuat jajan pasar yang masih bertahan. Tepatnya Plemahan Gang VIII. “Tapi dia hanya membuat kue lumpur saja:’tuturnya. Bersama kedua anaknya, Bu Djamilah setiap hari membuat jajan pasar. Dan pukul tiga pagi ketika masih banyak orang terlelap, ia

sudah mengirim kue nagasari di pusatjajan pasar yang berada di Pasar kembang. Nagasari buatannya dijual seribu rupiah. Kata Bu Djamilah, ia menerapkan sistim jual putus sehingga tidak ada risiko rugi karena barang tak laku.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, EDISI maret 2010

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Wisata Kuliner dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s