Liang-liong Kya-kya di Kembang Jepun


Sepasang naga merah dengan mulut terbuka lebar, bertengger di pintu gerbang berarsitekturgayaoriental. Itulah gerbang kompleks Kya Kya Kembang Jepun (K3J). Musik klasik asal daratan Tiongkok mengalun lembut, menghanyutkan kenangan ke sejarah masa silam. Kenangan ketika para pedagang dari daratan Tiongkok berlayar ke Tanjung Perak dan menyusuri sungai Kali Mas untuk berdagang di lokasi yang kita kenai sebagai Kembang Jepun sekarang.

Di tangan Dahlan Iskan, pebisnis bertangan dingin, dan beberapa kelompok masyarakat yang memiliki “obsesi gila” untuk merakit dan merajut kembali kenangan pada masa silam, lahirlah K3J di Surabaya Utara itu. Pusat bisnis tertua di kawasan Indonesia belahan timur itu, kini menjadi salah satu sudut Kota Surabaya yang menjanjikan sebagai tempat kya kya  (jalan-jalan), kongkow (dudukduduk), chiak (makan) dan bersantai. Bahkan, sejak pertengahan September di Kembang Jepun lalu, liang-liong dengan sangat atraktif ber-“kya kya” di Kembang Jepun selama Tong Cu Pia (perayaan bulan purnama). Maka, K3J pun bagai memiliki magnit untuk menyedot pengunjung. Tak tanggung-tanggung. Mulai dari menteri, gubernur dan kalangan pejabat, tokoh agama, selebritis, hingga masyarakat awam. Dari sudut pandang pariwisata, lahirnya K3J menjadi objek dan daya tarik tersendiri bagi Jatim, khususnya Surabaya. Pendek kata, K3J-lah trade mark kota ini, sekaligus mampu menghadirkan kehidupan malamSurabaya dalam nuansa khas.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), I. Gede Ardhika, saat ke Surabayajuga menyempatkan diri mampir ke K3J, akhir Agustus lalu. Menbudpar berpendapat, terwujudnya K3J merupakan contoh kongkret yang dapat ditiru dan diterapkan di daerah-daerah lain. Pasalnya, pembentukannya sesuai dengan konsep Community Tourism Based, yakni pariwisata inti rakyat. Artinya, patron dan konsep K3J merupakan ide yang lahir atas kemauan masyarakat, dan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Kini, K3J yang identik dengan oriental telah terbentuk. Kelak, mungkinkah ada lagi obsesi kuat untuk mewujudkan kampong komunitas Timur Tengah, atau kampong bemuansa kolonial Belanda dalam penggarapan serupa K3J? Andai itu terwujud, makin kayalah daerah tujuan wisata Surabaya. Ros

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 19, 26 September -10  Oktober 2003, Tahun I

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s