Festival Cak Durasim Bangkitkan Wisata Pertunjukan Budaya


Suara terompet khas Reog Ponorogo memecah keheningan malam di pendapa Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim, di Jalan Genteng Kali, Surabaya. Tiupan terompet seniman Reog Semen Gresik itu mengiringi para penari saat menampilkan tari Jaran Kepang, Caplokan, dan drama kolosal Pendekar Kesatria. Kepiawaian para penari mendapat aplaus meriah pengunjung Festival Cak Durasim (FCD) yang menonton secara gratis.

Malam Minggu, 11 Oktober lalu itu terasa semakin menggelitik tatkala Cak Kartolo melantunkan kidungan banyolan, namun sarat kritik sosial. Tak terkecuali soal “pembakaran” Pasar Wonokromo untuk membangun Hypermarket. “It is very temptational, ” celetuk Betty, mahasiswi asal Kanada yang tengah studi diJogjakarta.

Sesaat lampu yang semula terang benderang, berubah temaram , semburat warna kuning emas. Enam penari cantik meliuk-liukkan tubuhnya yang terbalut kain kuning. Mereka menyuguhkan tari karya Peni Priyono asal Probolinggo. Sebuah tari yang memikat dan sarat ekspresi. Terasa beda dengan tari tradisional murni.

Hitungan menit kemudian, setting panggung sederhana itu berubah. Ada panggung dalam lorong yang “mengandung” gamelan tradisional dan moderen. Beberapa seniman musik gabungan mahasiswa lSI JOgjakarta asal Indonesia, Jepang, Kanada, Amerika Serikat, dan Inggris menyatu dalam dentingan GameIan Concerto In Pelog 02, hasil aransemen Haryanto (Jogja) dan Tata Gado karya Wibowo, masih dalam grup yang sama. Mereka menyatukan langkah dalam grup Orkestra Kolaborasi Taliwongso.

“Dentingan gamelan ini seakan mengajak telinga kita untuk merasakan suatu rasa persahabatan yang sangat haIus, ” komentar Drs Dardjono, seniman yang tampak begitu terhanyut irama musik sampai kepalanya terus menganggukangguk. Kreativitas para seniman semakin terasa kental saat ditampilkan Tari

Prashanti Yowana, karya Clair Sumrall dari Amerika. Tari ini berkarakter nuansa Bali. Sebuah tari yang mengisahkan penegasan peranan penting wanitaBalidalam masyarakat.

Acara pembukaan FCD ditutup dengan pagelaran Ludruk Mega Budaya dari Surabaya, sampai larut malam. FCD digelar selama 10 hari, 11- 20 Oktober 2003, diisi berbagai acara. Rincinya; pemutaran film peraih penghargaan Non Hollywood, antara lain film 7}oet Nya’ Dhien (Indonesia) peraih penghargaan Asia Pasific Film Festival, Ame/ie (Prancis) penghargaan Cannes Film Festival, The Road Home (China) penghargaan Berlin Film Festival, Kundun(USA) penghargaan AcedemyAward. Juga Ada berbagai tari kreasi baru, pembacaaan puisi, pembacaan cerpen dan geguritan(puisi), tentu saja lengkap dengan penampilan seni teater. Hal yang lebih menarik adalah gelar ketoprak anak-anak.

 Semangat Seniman
Bekupon omahe doro, melok Nippon  tambah soro … (Bekupon sangkar burung dara, ikut Nippon (Jepang) tambah sengsara). Kalimat tersebut merupakan sebait kidungantokoh senimanSurabaya, Cak Durasim, yang bermakna menolak penjajahan. “Saya tidak tahu siapa Cak Durasim,” ucap ringan seorang remaja bernama Riri saat nonton acara pembukaan FCD, 11 Oktober lalu. Sebuah fakta yang mengenaskan dari sebuah catatan sejarah.

Menurut Sekretaris FCD, Suharyanto, sangat wajar jika nama Cak Durasim diabadikan di Taman Budaya Jawa Timur sebagai upaya menghargai karya seni anak  bangsa, sekaligus agar tiap generasi bisa mengenalnya. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di lokasi tersebut memang untuk menghidupkan Gedung Cak Durasim plus mewadahi serta mengembangkan aktivitas seniman dalam berkesenian. Tidak hanya seniman Jawa Timur saja tapi juga seluruhindonesia. Bahkan seniman mancanegara.

FCD salah satu acara yang gaungnya sudah cukup dikenal. Selain itu ada dua agenda tahunan, setiap Juni ada Surabaya Full Music dan setiap September  ada Pameran Seni Rupa.Para seniman berbagai bidang, baik seni rupa, tari, teater maupun budayawan, senantiasa bersemangat menghidupkan Gedung Cak Durasim. Mereka didukung Dinas Pendidikan dan Dewan Kesenian Jawa Timur.

“Ini sebenarnya sebuah potensi wisata pertunjukan budaya yang sangat potensial, tapi sayang pihak Disparta Jatim maupun PHRI dan ASITA kurang begitu rnendukung. Buktinya, beberapa kali kami undang untuk menggodok acara ini mereka tidak responsif sama sekali. Ya sudah, the show mustgo on,” keluh Cak Har (panggilan Suharyanto) dalam percakapan dengan Jatim News. Sayang memang, jika benar demikian.       Naskah dan foto : Aida Ceha

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatim News EDISI 21, 24 Oktober-7 November 2003. Tahun I, diterbitkan PT. Nurani Timur Sepakat Sukses

 

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s