Kekumuhan Kenjeran: Imbas Pariwisata


-April–Mei 2004-
Tempo doeloe, bocah-bocah kampung di kawasan tersebut selalu bermain air di tepian pantai. Kaceriaan alami itu sekarang raib. Suasana riang di kawasan pantai sunrise itu berubah drastis sejak dimulainya proyek pembangunan kawasan Pontai Ria, tahun 1974. Padahal, dengan hadirnya OTW baru di kawasan tersebut diharapkan mewarnai kegembiraan warga Surabaya khususnya warga sekitar kawasan Pantai Kenjaran.

Percaya nggak percaya, kekumuhan kawasan sekitar outlet tujuan wisata (OTW) Kenjeran, Surabaya, adalah imbas dari pariwisata di kawasan itu sendiri. Pemandangan yang sangat akrab di kawasan tersebut adalah, penjemuran ikan di sepanjang tepi jalan dan tepi sungai Kali Kenjeran. Praktis menghadirkan aroma khas, memang. Keberadaan penjemuran ikan itu, hingga kini menjadi “pelengkap” kunjungan wisatawan di Kenjeran. Uniknya, masyarakat sekitar maupun wisatawan nyaris tak ada yang memprotes realitas tersebut.

Sejak awal 1970-an, kawasan sekitar Kenjeran dihuni nelayan yang sekarang jumlahnya kian banyak. Kini tak kurang dari 1.500 kepala keluarga (KK) tinggal di kawasan tersebut. Sebagian dari mereka memproduksi krupuk ikan laut dan ikan asin. Dahulu aktivitas penjemuran ikan dilakukan di tepi pantai. Maklum, kala itu Pantai Kenjeran terhampar mulai dari pesisir Romo Moro Krembangan di utara hingga pesisir Tambak Sukolilo di selatan. Meski pasirnya hitam, masih lumayan cantik dibandingkan dengan Kenjeran sekarang yang tanpa pasir pantai.

Tempo doeloe, bocah-bocah kampong di kawasan tersebut selalu bermain air di tepian pantai. Keceriaan alami itu sekarang raib. Suasana riang di kawasan pantai sunrise itu berubah drastis sejak dimulainya proyek pembangunan kawasan Pantai Ria, tahun 1974. Padahal, dengan hadirnya OTW baru di kawasan tersebut diharapkan mewarnai kegembiraan warga Surabaya, khususnya warga sekitar kawasan Pantai Kenjeran.

Haji Anas Zamzami (70), sesepuh nelayan Sukolilo, menyebut sejak awal pembangunan OTW itu warga sekitar tidak pernah memprotes. Pasalnya, masyarakat beranggapan positif. Hanya saja, beberapa waktu berikutnya, mencul imbas yang tak diperhitungan sebelumnya. “Setelah dibangun Pantai Ria, pasir pantai di sepanjang Sukolilo habis dikikis ombak (abrasi), ” ungkap pengurus Himpunan Masyarakat Nelayan Seluruh Indonesia (HMNSI) Surabaya Timur itu.

Kakek yang juga aktif di organisasi keagamaan itu munduga terjadinya abrasi karena imbas reklamasi Pantai Ria yang menjorok ke laut sejauh sekitar 300 meter. Sayangnya, reklamasi tersebut tanpa disertai pembangunan pemecah gelombang. Buntutnya buruk. Terjadi abrasi sepanjang pantai sampai sekitar 300 meter dari Pantai Ria ke arah utara. Sayangnya, lanjut Anas, tanggapan Pemkot Surabaya lewat Dinas Lingkungan Hidup (LH), kurang memuaskan.

Dihubungi terpisah, pihak Dinas LH setempat mengatakan, masalah penjemuran ikan yang dianggap mengganggu kesedapan pandangan di sekitar OTW Kenjeran itu bukan bagian dari tugas Dinas LH. Peliknya, Dinas Pariwisata setempat, seperti diungkapkan seorang stafnya, menolak anggapan bahwa kekumuhan itu bagian dari tugas instansinya.

Prastowo, staf Sub-Dinas Penanggulangan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas LH Pemkot Surabaya, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum pernah menerima keluhan masyarakat tentang adanya pencemaran lingkungan di kawasan Kenjeran. Itu artinya masyarakat Kenjeran tidak pernah merasa terganggu. Lantaran itulah instansinya tidak bereaksi atas tuduhan lambannya penanganan pencemaran lingkungan, meski ada fakta aroma khas tak sedap di Kenjeran. Selain itu aroma dimaksud sudah menjadi ciri umum kawasan tepi pantai yang warganya berprofesi sebagai nelayan. Galibnya, wajar-wajar saja.

“Pemkot pernah merancang kegiatan Beach Cleaning tahun lalu. Kawasan sekitar itu kan menjadi bersih. Namun setelah acara itu selesai, ya kotor lagi. Ini kan masalah etika warga akhirnya,” kata Prastowo. Mungkin saja demikian. Hanya, hal yang perlu jadi catatan adalah keadaan demikian itu telah terjadi sejak lama. Sehingga yang muncul kemudian adalah masalah terse but terkesan sangat klasik. Padahal, ukuran sebuah kawasan dijadikan objek wisata tidak saja terletak pada sunrise atau sunsight di pantai. Lebih dari itu, yaitu keadaan/kondisi pendukungnya ya kerapiannya, ya kebersihan kawasannya, dan tentu saja keamanannya. Semuanya harus terpadu. Itulah yang memunculkan rasa nyaman pada wisatawan. Percaya nggak percaya, terpulang pada wisatawan yang merasakannya. dias

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 33, 23  April – 7  Mei 2004, Tahun II

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya, Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s