Ngojek ke Puncak Kelud


-April–Mei 2004-
Perjalanan wisata kami yang diatur sebuah biro perjalanan umum di Jatim, kurang lancar. Namun, tetap ada hikmahnya, yaitu malah membesarkan niat kami mendaki Gunung Kelud. Informasi awal yang kami petik menyebutkan, untuk mencapai puncak gunung itu harus berjalan kaki (mendaki) sekitar 2 km. Okelah Dalam benak terlintas pikiran, andai tidak kuat, ya sudah, balik kanan, turun saja. Maklum, rombongan kami terdiri atas orang-orang usia lanjut.

Tekad pun bulat akhimya. Sore itu, sekitar pukul 15.15, rombongan kami tiba di Desa Sugihwaras. Bus yang kami tumpangi tertahan, tidak dapat melanjutkan perjalanan mendaki. Kami mahfum, meski jarak menuju puncak masih 5 km lagi. Tantangan itu kami sikapi dengan optimistis. Kami berinisiatif menugaskan pemandu untuk mencari sepeda motor ojek, guna mengantarkan kami ke puncak.

Secara mendadak mencari belasan ojekan sepeda motor di sebuah desa kecil di kaki gunung, tentu saja tidak mudah, dan butuh waktu. Setelah menunggu hampir satu jam, solusi kami dapatkan. Syukur ada tambahan armada sepeda motor para pekerja proyek perbaikan jalan. Mereka siap membantu dan siap menjadi pengojek dadakan. Maka terkumpullah kebutuhan belasan unit sepeda motor. Ngojek ke Gunung Kelud pun jadilah. Pengalaman yang amat mengesankan.

Rombongan kami (dari Jakarta, sebagian besar ibu-ibu), memang belum pernah ngojek. Maklumlah di Jakarta mana sudi mereka ngojek. Namun, saat itu, situasi dan kondisi memaksa harus mau dibonceng pengojek. Awalnya agak canggung, tapi apa boleh buat. Jadi tampak lucu konvoi ojek yang kami tumpangi. Menelusuri jalan mendaki ke puncak, terguncang-guncang, terumbang-ambing di atas sadel sepeda motor, lalu tergoyang-goyang miring ke kiri ke kanan karena pengemudi ojek harus berkelok-kelok dan zig-zag mengikuti bentuk “badan jalan” yang bisa dilewati.

Pengalaman Indah
Di beberapa tempat kondisi jalan rusak. Sepeda motor tidak kuat mendaki,  meski knalpot meraung-raung karena gasnya digeber. Sebagian armada ojek mesinnya mendadak mati. Beberapa kali kami harus turun dari sadel, membantu mendorong sepeda motor supaya dapat melewati lubang serta batu-batu besar. Sebagian rombongan yang di depan berhenti sejenak, menunggu armada ojek yang “tercecer” di belakang. Setelah kumpul kembali, baru kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami tiba di mulut terowongan, dan harus memasuki terowongan yang gelap itu sepanjang sekitar 500 meter. Keluar dari terowongan  terlihat sinar terang benderang. Tidak jauh dari ujung terowongan itu, kami tiba di suatu lokasi. Dari sana kami dapat melihat ke arah bawah. Tampak kawah Gunung Kelud berwujud serupa danau. Airnya seperti susu berwarna kebiru-biruan, dikelilingi pohon-pohon lebal. Semua pengunjung berdecak kagum melihat pemandangan alam yang mempesona itu. Masing-masing dari kami tak henti-henti memotret panorama itu, seolah dalam kamera ada puluhan rol film. Tanpa terasa hari mulai beranjak senja. Kami harus cepat-cepat kembali. Melewati terowongan yang gelap itu lagi. Selanjutnya, perjalanan turun tidak seberat waktu mendaki. Hanya perlu hati-hati supaya tidak terperosok.

Tiba di tempat bus parkir, hari sudah gelap. Namun kami semua puas, karena pada akhirnya dapat tercapai hasrat mendaki ke Gunung Kelud. Malah dengan ngojek!  Luar biasa bagi kaum manula. Kepuasan kami jelas tak akan terlupakan.

Kepuasan menaklukkan Kelud dalam situasi dan kondisi sulit. Sungguh kenangan manis sekaligus dongeng indah untuk anak-cucu. Meski di antara kami ada yang iseng menyeletuk, “Ini, sih, bukan naik ojek, tapi mendorong sepeda motor”, namun para pengojek pun dapat tips lumayan.

Dalam perjalanan menuju Kediri, kami ngomel pada pemandu wisata. Ternyata, lagi-lagi dia tidak melakukan survei lapangan terlebih dahulu. Untung saja kami tak segan merogoh kantong untuk membayar biaya ekstra: ojekan! Lebih dari itu kami pun mau bersusah payah dan menempuh risiko ngojek ke puncak Kelud. Andai tidak, wisata kami hanya sampai di Desa Sugihwaras. B.Kusuma

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 33, 23  April – 7  Mei 2004, Tahun II

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Wisata, Wisata Alam dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s