Kerapan Sapi: Bertahap Hentikan Perjudian dan Penyiksaan


-25 Oktober 2011-
Penyelenggaraan Kerapan Sapi yang masih diwarnai tindakan kekerasan/penyiksaan terhadap sapi kerapan juga menjadi perhatian serius Kepala Bakorwil Pamekasan Eddy Santoso.

Menurut Eddy pihaknya sangat memahami adanya seruan MUI dan LSM yang mendesak agar praktik penyiksaan terhadap hewan ketika menyelenggarakan Kerapan Sapi dihentikan. Namun demikian, pihaknya tentu tidak bisa serta merta melakukan hal tersebut.

“Penyelenggaraan kerapan sapi ini melibatkan banyak stakeholder, untuk itu tentu kami harus mendengar suara mereka semua,” tuturnya. Sikap tersebut bukan berarti pihaknya ingin mengabaikan desakan berbagai pihak yang memprotes penyiksaan terhadap sapi kerapan.

“Secara pribadi saya sangat menentang praktik penyiksaan kerapan sapi ini,” tegasnya. Melukai pantat sapi dengan menggunakan paku, kata Eddy Santoso memang banyak menuai protes berbagai pihak dan kalangan ulama di Madura karena menunjukkan perilaku yang tidak manusiawi. Bahkan, sambung Eddy, praktik semacam itu juga bisa merusak citra Indonesia di tingkat internasional.

“Kalau ada pendaftaran untuk mendukung penyelenggaran Kerapan Sapi yang tanpa kekerasan, maka saya akan mendaftar yang pertama kali,” tegasnya. Itu artinya, dirinya pun sangat mendukung niat baik MUI dan LSM yang peduli dengan hak asasi kehewanan tersebut. Namun demikian pihaknya berharap agar desakan itu tidak menjadikan budaya kerapan sapi ini punah.

“Ini adalah budaya khas Madura yang harus tetap dipertahankan. Bukan hanya sebagai produk budaya tetapi juga menjadi pengungkit bagi perekonomian masyarakat Madura,” tegasnya. Kalau semua pihak duduk bersama, lanjut Eddy pasti akan ditemukan jalan penyelesaian.

“Secara bertahap akan kita lakukan pembenahan dengan mengurangi ekses-ekses negatif yang muncul dari kerapan sapi ini,” lanjutnya. Sebagai contoh, untuk menekan praktik perjudian yang selalu marak saat penyelenggaraan kerapan sapi, panitia sudah memasang imbauan dan larangan melakukan praktik perjudian tersebut.

Sebelumnya, dalam surat nomor 073/DPK-MUII X/2011, tertanggal18 Oktober 2011 itu, MUI sebelumnya telah meminta agar segala jenis penyelenggaran pesta budaya, seperti Kerapan dan Sapi Sonok harus terbebas dari unsur penyiksaan binatang, praktik perjudian, pengabaian melaksanakan kewajiban salat serta unsur lain yang bertentangan dengan syariat Islam.

Surat yang ditujukan kepada Kepala Badan, Koordinator Wilayah IV Madura itu ditandatangani oleh tiga perwakilan Ormas Islam Pamekasan, yakni Ketua MUI, KH. Ali Rahbini; Ketua Fokus, KH. Abd. Ghaffar serta Ketua LP2SI, H. Moh. Zahid, M.Ag. din

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Harian Bhirawa, Mata Rakyat Mitra birokrat, Selasa Legi 25 Oktober 2011 hal. 12

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Pamekasan, Seni Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s