Kerapan Sapi, Budaya Nenek Moyang


-25 Oktober 2011-
Kerapan Sapi tradisi masyarakat Madura muncul dipenghujung abad 13 dan 14 masehi. Yakni, versi yang diprakarsai Pangeran Katandur seorang Raja di Kabupaten Sumenep, dan versi diprakarsai Adi Poday, anak Panembahan Walingi yang berkuasa di daerah kepulauan Sepudi, Sumenep.

Dari versi berbeda yang muncul tentang Kerapan Sapi, tidak perlu diperdebatkan. Namun secara jelas Kerapan Sapi bahasa krend-nya Bull Race menjadi kesenian yang paling populer dan paling diminati masyarakat Madura.

Walau ada warga Madura di luar Madura mempopulerkan Kerapan Sapi tetapi tidak semeriah maupun tidak sesakral bila Kerapan Sapi itu digelar di Tanah Madura pada Empat kabupaten ini (Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan).

Sepintas, secara kasat mata memang kita hanya melihat pasangan sapi pejantan melaju pesat dari garis start menuju garis finish yang dipandu oleh seorang Panongkek (Penunggang, red). Dari majang Sapi Kerapan diadu dengan lawan pasangannya itu, terlihat trik-trik yang membuat masyarakat penghujung terhibur. Dan tanpa dikomando mereka secara serentak berteriak mendukung si pemenang, bila salah satu pasangan sapi lebih dulu menginjakkan kaki di garis finish.

“Teriakan Hoooyyyyy. Dilontarkan para penonton dan penggemar Sapi Kerapan berulang kali setiap salah satu pasangan sapi menginjakkan kaki di garis finish ,” kata Abdul Hakim, seorang penggemar Sapi Kerapan asal Sumenep ini.

Sejarah  Singkat
Awal munculnya budaya Sapi Kerapan, karena kehidupan masyarakat di Pulau Sapudi adalah dengan bercocok tanam dan membajak sawahnya dengan menggunakan tenaga Sapi atas izin dan dukungan Adi Poday. Di Sumenep dia mengajak masyarakat membajak sawahnya dengan tenaga sapi dan diikuti semua masyarakatnya. Lambat laun, mereka (petani) balapan atau beradu cepat dalam setiap membajak sawahnya.

Atas dasar semangat itu, kemudian diadakan perlombaan balapan sapi, yang kini dikenal dengan tradisi Kerapan Sapi. Kedua tradisi membajak sawah dengan tenaga Sapi dan Karapan Sapi masih terus dilestarikan masyarakat Madura hingga sekarang ini. Seksi Publikasi dan Dokumentasi, Dewanto Harimurti, menuturkan, kerapan sapi mengadung nilai tradisi yang sangat tinggi terutama bagi masyarakat. Hal ini menjadi munculnya semangat kerja keras orang Madura pantang menyerah.

Filosofi orang Madura “asapo’ angin selanjengah” artinya berselimut angin sepanjang masa. Yaitu semangat pantang menyerah sebelum mencapai tujuan. “Nilai semangat juang ini tercermin dalam setiap prosesi kerapan sapi. Dan nilai-nilai itu patut dijadikan pedoman menjalani kehidupan. Yakni Kerja keras, Kerja sama, Persaingan dan Kejujuran,” ucapnya.. din

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Harian Bhirawa, Mata Rakyat Mitra birokrat, Selasa Legi 25 Oktober 2011 hal. 12

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bangkalan, Madura, Pamekasan, Sampang, Seni Budaya, Sumenep dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s