Jaran Kencak Probolinggo: Bertahan dalam Kebersamaan Kolaborasi


-Maret-April 2004-
Sulaiman berjoget diiringi gaung gong, saron, dan kempul dalam irama rancak, bertalu-talu. Sesekali dia melirik penonton di kanan kirinya. Gerak tarinya disempurnakan ringkikan kuda di sebelahnya yang mengangkat sepasang kaki depan sambul manggut-manggut, seolah-olah menyetujui gaya tari Sulaiman. Itulah suasana pentas tari Jaran Kencak (kuda tari) asal Probolinggo. Rombongan kesenian tradisional itu ke Surabaya khusus meramaikan Gebyar Wisata pada even Kuda Pacu Pelana Emas Jatim 2004, di Kenjeran, belum lama ini.

Rombongan Jaran Kencak itu sekitar 40 orang, plus tujuh ekor kuda kencak, dan seekor kuda akrobatik. Dalam rombongan itu termasuk dua penari ular, sepuluh pengrawit, dua pelawak berkostum unik, serta dua pemeran banci. Kesenian tradisional itu didatangkan dari Desa Besuk, Kecamatan Bantaran. Dinamakan kencak, karena bergaya gerak menyerupai gerak kuda. Punggung kuda berpelana kulit kerbau dengan hiasan unik. Agar tampak cantik, kulit kerbau diukir, dicat, dan berumbai dengan aneka pernik warna-warni.

Kesenian tradisional ini sangat popular di Probolinggo. Nyaris selalu ditanggap penduduk yang punya hajat, terutama. khitanan. Menariknya, anak yang dikhitan berbusana ala busana wayang orang, didudukkan di pelana kuda kencak, kemudian diarak bersama keluarganya keliling desa. Arak-arakan itu bias berlangsung berjam-jam, bergantung pada jumlah kuda yang dimainkan.

Ihwal jumlah kuda tari itu setara dengan biaya tanggapan (pentas). Begitu pula peran pemain pendukung, seperti pelawak, penari ular, dan pemeran banci. Jumlah mereka bisa lima orang, bahkan bisa 50 orang.

Setrata sosial-ekonomi penanggap, agaknya bisa diketahui dari marak-tidaknya arak-arakan Jaran Kepang saat kirab keliling desa. Sekadar ilustrasi, biaya tanggapan untuk seekor kuda kencak dengan tiga orang pengrawit, Rp 200 ribu per jam. Satu hal yang pasti, kuda kencak keliling desa merupakan cara promosi yang paling efektif bagi kesenian tradisional itu. Iring-iringan Jaran Kencak itu selalu dibuntuti anak-anak desa. Diharapkan apabila kelak mereka dikhitan juga menanggap kuda tari itu. Dengan demikian kesenian tradisional itu tetap bisa eksis di tengah derasnya arus modernisasi. “Kami selalu memberi tarif tanggapan semurah mungkin, “ungkap Sulaiman yang bercita-cita melestarikan kesenian tradisional itu.

KOLABORASI
Bulan Besar (penanggalan Jawa) merupakan bulan rezeki bagi kelompok-kelompok kesenian tradisional Jaran Kepang, Siapa pun tahu setiap bulan Besar berarti banyak orang punya hajat. Sulaiman dan kawan-kawan pun kebanjiran order, Hari Sabtu dan Minggu hampir dipastikan panen tanggapan, Bahkan, sampai menolak order, karena harus tampil pada hari dan jam yang bersamaan.

Bila order membanjir, kelompok-kelompok kesenian tradisonal itu lazimnya bersatu. Sebuah bentuk kebersamaan yang positif, contoh, konsumen (penanggap) menghendaki penampilan 10 ekor kuda kencak, jarang ada kelompok yang memiliki kuda kencak sampai 10 ekor. Solusinya, sejumlah kelompok kesenian tradisional itu bergabung memenuhi order. Begitu pula bila konsumen meminta kehadiran penari ular dan jumlah tertentu. Saling mengisi kekurangan antarkelompok. Langkah maju dalam bentuk kolaborasi tersebut merupakan perkembangan kesenian tradisional ini. Dahulu, penampilan Jaran Kepang hanya sebatas menampilkan seorang bocah dikhitan, didudukkan di atas pelana kuda tari, diarak keliling desa dengan hanya diiringi dua-tiga orang penabuh gamelan. Sekarang, seiring dengan kemajuan zaman, paket pertunjukan diubah sesuai dengan tuntutan konnsumen. Agar tidak membosankan, penampilan ditambah bermacam-macam asesoris dan pemik-pernik. Atraksinya pun ditambah, antara lain menampilkan penari ular, pelawak, dan banci. Atraksi tambahan itu terbukti mampu memarakkan penampilan kesenian tradisional tersebut. Keterampilan akrobatik kuda pun ditingkatkan. Tidak hanya ringkikan kuda yang dilatih, tetapi juga aksi mengangkat kaki sambil berputar sesuai dengan isyarat sang pawang.

Ditanya sejak kapan ada kesenian tradisional Jaran Kepang, Sulaiman geleng kepala, Tak tahu persis kapan dan siapa pencetusnya, Dia sendiri menekuni “bisnis” itu sudah cukup lama, namun merupakan usaha sampingan, meski dilakukan secara turun-temurun. Dia berharap regenerasi pemain dalam kesenian tradisional ini bisa tetap berlanjuit ke anak cucu, Jadi, kelestariannya terjaga.

Memiliki kelompok kesenian ini juga lumayan dari sisi ekonomi. Bila tidak ada tanggapan, kuda bisa digunakan untuk keperluan lain, Misal, menarik pedati. Namanya saja usaha sampingan, rata-rata pemain kesenian ini bermata pencaharian sebagai petani. Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo mendukung penuh pelestarian kesenian tradisional ini, Selain melestarikan budaya leluhur, kuda kencak dapat dipakai sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan, Semoga, GM

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 31, 26 Maret-09 April 2004, Tahun II

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Probolinggo, Seni Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jaran Kencak Probolinggo: Bertahan dalam Kebersamaan Kolaborasi

  1. abdul muin berkata:

    mohon info kalau mendatangkan jaran kencak ke kabupaten mojokerto biaya berapa…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s