Turangga Yaksa: Menghentak Nggalek


-Oktober 2003-
Setiap daerah di Nusantara memiliki budaya khas daerah setempat. Aktivitas mengangkat seni budaya daerah pun terus digiatkan, hingga kini. Tiap propinsi dapat dipastikan memiliki lebih dari sepuluh budaya khas daerah setempat. Sekadar ilustrasi, di Jawa Timur misalnya, seni dan budaya Reog (Ponorogo), tari Topeng Malangan (Malang), tari Sentherewe (Tulungagung), tari Remo (Surabaya), dan tari Mowang Sangka, (Sumenep) sudah cukup dikenal. Itu baru sebagian kecil. Tentu, masih banyak lagi yang tersimpan.

Demikian juga di Kabupaten Trenggalek. Sebuah kabupaten yang memiliki Pantai Pelang yang sangat indah itu, juga memiliki budaya yang apik, dan tentu saja unik. Sekadar mengingatkan pembaca, Pantai Pelang tidak hanya memiliki lautan pasir yang putih, tapi juga air terjun dan gua dalam satu lokasi. Sangat eksotik.

Ternyata Kota Gaplek (nama makanan yang terbuat dari ubi kayu/singkong yang dikeringkan), tidak hanya memiliki potensi alam. Namun juga kesenian tradisonal yang cukup unik. Seni tari TuranggaYaksa, begitu masyarakat Nggalek (Trenggalek) menyebutnya. Tari ini  lazimnya dipertontonkan untuk menyambut tamu. Nama Turangga Yaksa memiliki arti jaran buto (baca: kuda raksasa). Konkretnya, turangga berarti kuda, dan yaksa berarti raksasa.

Tidak ada catatan sejarah yang pasti ihwal kapan seni tari itu diproklamasikan sebagai tarian khas Trenggalek. Namun, sampai saat ini, seni tari tersebut semakin mendarah daging di kalangan masyarakat setempat. Bagaimana tidak, Siswa SD kelas satu saja telah mahir melakukan gerakan tari Turangga Yaksa.

 Si Jahat Kalah
Dung, tak, dung, tak, dung bleer …
Sepasang kaki mungil menghentak-hentak bumi. Jantung setiap penonton yang ada di lokasi Gua Lowo pun berdetak seirama dentuman kendang pengiring penari. Siang itu, akhir bulan lalu, 20 penari mungil mengayun-ayunkan cemeti ke tanah. Sesaat debu mengepul ke udara, seiring semangat gerakan sang penari yang mengapit kuda kepang berkepala raksasa. Itulah Turangga Yaksa.

 Gerakan mereka meliuk-liuk, menunduk, dan kemudian bersujud seakan menghormat pada sang penguasa. Dalam diam bersujud, tiba-tiba muncul dua tokoh penari berbaju merah, menari di tengah penari kuda kepang. Mereka para kesatria kerajaan. Kegagahan penari kesatria seolah menyampaikan pesan penting sang raja.

Konon, mereka diutus sang raja untuk menumpas kejahatan yang sedang merajalela. Tokoh jahat di gambarkan dengan caplok’an (serupa barong). Tinggi, besar, dan menakutkan. Akhirnya mereka bertarung di medan pertempuran. Para penari Turangga Yaksa menjadi prajurit kerajaan yang ikut menumpas tokoh kejahatan (caplok ‘an) tersebut. Pertempuran pun terjadi sengit. Gemerecak tetabuhan mengiringi pertempuran para kesatria kerajaan.

Itulah yang khas dari seni tari Turangga Yaksa. Skenario seni tari itu seperti drama kolosal. Tidak terpisah-pisah. Tidak pula hanya seni tari. Mungkin hal itulah yang membedakan Turangga Yaksa dengan tari Jaran Buto (Banyuwangi) dan tari Jaran Kepang, atau tari Kuda Lumping dari daerah lain.

Dalam drama tari di Nggalek tersebut, para tokoh kejahatan kalah. Terkapar dimedan perang. Pertempuran pun usai. Para kesatria kerajaan bersukaria. Mereka menari berputar-putar sambil terus menghentakkan kaki ke bumi. Seolah mengatakan, kebenaran di muka bumi telah mengalahkan kejahatan dan menang!!

“Kami bangga memiliki seni tari ini,” begitu sekelumit kata sang pengasuh tari dengan senyum bangga saat menyaksikan sukses anak asuhnya. Tari Turangga Yaksa juga merupakan ikon pariwisata andalan Trenggalek. Tampak jelas bagaimana Disnas Pariwita dan pemerintah kabupaten setempat mengemasnya dengan rapi. Semoga begitu juga di daerah lain. Aida Ceha.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 20, 10-24  Oktober 2003, Tahun I.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Trenggalek dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s