Menyiapkan Industri Kerajinan Menjadi Objek Wisata


-Oktober 2003-
Suatu daerah harus melakukan pengemasan atas objek-objek wisata yang dimilikinya, jika berobsesi menarik wisatawan. Dalam mengemas suatu objek wisata juga diperlukan serangkaian pembenahan konkret, baik bersifat fisik maupun non-fisiko. Dan, sesungguhnya, untuk mengembangkan suatu objek wisata tidak harus dimulai dengan pembangunan fisik. Hal ini kadang terjadi pada objek wisata yang telah dibangun fasilitasnya, tetapi justru menurun kunjungan wisatawannya.

Perlu pula dicermati, saat ini perilaku wisatawan mengalami perubahan, dari yang semula hanya sekadar melihat objek wisata yang ditawarkan, sekarang (menjadi) berusaha untuk terlibat dalam satu kegiatan pada saat menikmati objek dimaksud. Sehubungan dengan hal itulah Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Timur (Disparta Jatim) melaui Sub-Dinas Usaha Jasa Pariwisata menggelar kegiatan Peningkatan Manajemen Usaha Jasa Pariwisata pada Industri Kerajinan Kecil dan Menengah, di Jember.

Kegiatan yang berlangsung 30 September 2003 itu diikuti para perajin dari Lumajang, Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Tujuan kegiatan tersebut memberikan tambahan wawasan kepariwisataan

kepada para perajin, karena produk mereka merupakan salah satu  bagian yang sangat mendukung pariwisata, atau lebih dikenal sebagai cinderamata. Memang, tidak semua produk kerajinan atau karya seni dapat menjadi cinderamata bagi wisatawan. Untuk menjadikan sebuah karya seni/produk kerajinan bemilai cinderamata, tentunya harus melalui proses desain yang mempertimbangkan beberapa faktor. Sebut saja faktor unik, menarik, mempunyai ciri khas daerah setempat, portable (mudah dibawa), berkualitas, harga layak, dapat difungsikan, dan dapat menimbulkan kenangan. Faktor-faktor itu dikemukakan Drs Ponimin M.Hum, dosen jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang yang juga seorang praktisi kriya, dalam presentasinya di acara tersebut.

Menyimak Proses
Selain produk (barang) kerajinan, menyimak proses pembuatan barang kerajinan pun merupakan hal yang menarik bagi wisatawan. Dalam presentasinya, Dra Kun Aniroh MM, Direktur D3 Pariwisata Universitas Merdeka Malang, menjelaskan ihwal bagaimana membuat wisatawan lebih tertarik. Dia paparkan, untuk bisa lebih memikat, mestinya wisatawan tidak hanya disuguhi produk akhir barang kerajinan, tetapi juga disuguhi proses produksi dari awal hingga akhir. Proses produksi dimaksud idealnya dapat dinikmati wisatawan secara patut.
Diyakinkan, menyimak proses produksi barang kerajinan/seni itulah daya tarik tersendiri dan luar biasa. Dengan demikian keseluruhan unit usaha kerajinan/seni hingga membuahkan produk, dapat menjadi suatu objek wisata yang menjadi tujuan wisatawan. Senada dengan Kun Aniroh, Suyadi, pengusaha Batik Viidesdari Banyuwangi yang telah memproduksi lebih dari 20 macam pola, mengungkapkan ihwal unit usahanya yang telah menerapkan “paradigma” yang dipaparkan para penyaji materi di forum tersebut. Konkretnya, perusahaan batik miliknya yang antara lain memproduksi batik merek Gajah Oling, merupakan salah satu objek tujuan wisata di Banyuwangi yang kerap dikunjungi wisatawan. ‘Apalagi kalau ada acara kunjungan instansional (tamu dari mancanegara-Red.) atau pejabat ke Banyuwangi, kebanyakan mereka mampir ke perusahaan saya,” ungkap Suyadi.

Menjadikan industri kerajinan sebagai objekj tujuan wisata, maka pelayanan menj adi kunci utama. Pasalnya, pariwisata pada dasarnya adalah jasa pelayanan. Satu hal lagi yang perlu dijaga adalah, hospitality atau keramah-tamahan, karena pariwisata menjual pelayanan dengan ramah-tamah.

Kegiatan di Jember, 30 September lalu itu, diakui sangat bermanfaat bagi perajin. Seperti diungkapkan Ny. Baihaki, peserta dari Lumajang yang mengaku merasa senang, karena baru kali pertama mengikuti kegiatan seperti yang diselenggarakan Disparta Jatim itu. Secara teknis, para perajin cinderamata berada di bawah pembinaan Dinas Prindustrian. Namun, penguna produk mereka adalah wisatawan. Lantaran itulah diperlukan sinergitas antara instansi tersebut dalam pembinaannya. Semoga berkesinambungan. dy@


Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 20, 10-24  Oktober 2003, Tahun I

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya, Sentra, Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s