Malang, Warisan Sejarah dan Kultur


-Maret-April 2004-

Tanggal 1 April tahun ini Kota Malang merayakan hari jadinya yang ke-90. Tentu saja, perayaan itu mengacu pada besluit (ketetapan) Pemerintah Hindia Belanda yang secara resmi membentuk pemerintahan di kota ini pada 1 April 1914. Padahal, peradaban di kota berhawa sejuk ini sudah berumur jauh lebih tua dari “sekadar” umur 90 tahun. Setidaknya, sejak abad ke-7, dataran tinggi sekitar Malang sudah dihuni penduduk berperadaban. Berkat tanahnya yang kaya unsur hara, air yang berlimpah, dan iklim yang sejuk, masyarakat di kota ini berkembang cukup maju.

Tak heran jika pada abad ke-8 sudah terbentuk sebuah kerajaan agraris, yaitu Kerajaan Kanjuruhan. Prasasti berangka tahun 760 M yang ditemukan di Desa Dinoyo, menguatkan asumsi tersebut. Selain itu ada bukti lain berwujud candi, yaitu Candi Badut, sekarang masuk wilayah Kelurahan Karang besuki, Kecamatan Sukun. Kemakmuran datar tinggi Malang memang menyokong peradaban yang maju  Berbagai peninggalan tersebut, ditambah beberapapunden yang belum terkodifikasi sejarahnya, menunjukkan riwayat sebuah peradaban yang telah lama ada, dan berakar kuat di kota ini.

Itulah, antara lain, yang khas dari Malang. Sebuah daerah urban yang “tersembunyi” jauh di dataran tinggi Jawa Timur, dan punya daya tarik alami. Ciri utama dataran tinggi Malang memang kekayaan ragawi yang dimiliki dalam wujud tanah, air, dan udara. Kekayaan inilah yang mendukung pertumbuhan sektor pertanian, dan akhirnya melahirkan sebuah pengelompokan masyarakat agraris. Sepanjang masa penjajahan Belanda, bahkan sampai sekarang, sektor pertanian menjadi andalan Malang. Selain pertanian dan perkebunan, sector peternakan juga berkembang, dimana susu sapi dan daging potong dihasilkan.

Perubahan zaman membawa pergeseran. Dalam sepuluh tahun terakhir, corak agraris kota ini secara statistic semakin luntur. Data tahun 1999 menunjukkan 88% PDRB (produk domestik regional bruto) kota ini disumbang sektor industri, jasa, dan usaha. Sementara sektor pertanian hanya menyumbang 1 %. Angkatan kerjapun semakin terserap di sektor industri, tersebar di lima kecamatan, di kota berpenduduk lebih hampir 800 ribu jiwa ini. Sektor pendidikan juga menonjol. Terdapat lebih dari 40 perguruan tinggi swasta dan negeri (PTS-PTN), serta puluhan lagi lembaga kursus, mulai dari diploma 1-3 (01-03). Wajar kota ini berjuluk Kota Pendidikan.

Permukiman pun berkembang pesat, seiring dengan pertumbuhan penduduk. Mengepung dari empat penjuru. Mulai dari kelas menengah bawah hingga elit. Di belahan timur misalnya, ada Buring Satelit yang lahir setelah Perum Perumnas “menanam” ratusan unit rumah di Sawojajar. Di utara tumbuh perumahan elit Pondok Blimbing Indah yang berkembang menjadi “kota dalam kota” dengan lahirnya Kota Araya. Di barat, sentra pendidikan tinggi (PTS-PTN) juga ditumbuhi real estate, antara lain Joyo Grand dan Istana Gajayana. Kemudian di selatan dimulai dari munculnya Sukun Permai. Sekarang, lahan terbuka makin berkurang. Kota ini menjadi kota ruko (rumah dan toko). Kompleks ruko bermunculan di “sekujur tubuh” kota.

Kendati demikian, banyak orang yang lahir dan dibesarkan di Malang, bangga pada kota yang terkenal dengan kultur arek-nya ini. Kultur ini, menurut para ahli budaya, merupakan varian dari gaya hidup yang penuh semangat hidup, cair dalam pergaulan, serta cenderung spontan dan berani. Kadang-kadang juga kasar, namun tahu diri. Lalu terbentuklah frasa arek Malang yang merujuk pada kelompok-kelompok masyarakat yang mengidentitaskan diri mereka dengan gaya hidup tersebut, lengkap dengan ciri khas bahasa walikan (kebalikan). Misal, nakam (makan), rudit (tidur), atau kadit niam (tidak main yang bermakna berperilaku keliru).

Dalam proses pembentukan identitas diri, yang tertangkap memang keunikan bahasa walikan itu. Kemudian meluas, bahkan dalam bahasa perekonomian menjadi mirip trademark bagi kultur yang khas. Bisa jadi kebanggan arek Malang akan identitas unik ini adalah sebuah perpanjangan dari sikap tegar dan tak mudah berkompromi. Tentu saja, adalah kultur pula yang bisa mendorong masyarakat untuk bersikap tegas dan tanpa kompromi terhadap apapun yang melukai negeri ini. Dirgahayu –Kota Malang. Raymond Valiant R.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 31, 26 Maret-09 April 2004, Tahun II

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Malang [Kota], Sejarah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s