Festival Bulan Purnama Tong Cu Pia


-September-Oktober 2003-

Liang-liong raksasa warna jingga, sepanjang 100 meter, meliuk-liuk mengarungi samudra, di bumi Kenjeran Park (Kenpark), Pantai Kenjeran, Surabaya. Liang-liong itu membuka jalan bagi kereta kencana yang di atasnya duduk Dewi Bulan (Chang Erl) dan Dewa Rezeki (Kwan Kong). Kereta kencana itu menyusuri koridor sepanjang hampir 1 kilometer dengan ribuan pendar lampion, sorot sinar laser, dan kembang api, menuju sanggar agung tempat sembahyang bagi umat Tri Dharma. Suatu ritual yang amat spektakuler.

Tong Cu Pia atau Festival Bulan Purnama yang berlangsung Kamis, 11 September lalu, amat meriah. Dihadiri hampir 10 ribu penonton. Mereka berasal dari berbagai kota, antara lain Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Perayaan tahun ini dinilai lebih sukses dibandingkan dengan sebelumnya.

Malam itu para penonton dimanjakan serangkaian hiburan dan atraksi. Mulai dari barongsai dan liang-liong, Marlupi Dance Academy, bazar, hingga pameran relik Sang Budha Gautama.

Pokok acara yang bersifat ritual bagi umat Tri Dharma itu, ditempatkan di Kuil Sanggar Agung, sekitar 800 meter dari panggung hiburan. Di sela-sela  kesibukannya dalam ritual, Leonardi, Ketua umat Tao Surabaya yang ditunjuk sebagai penyelenggara, menjelaskan Tong Cu Pia di Tiongkok merupakan ritual umat Khonghuchu, Tao, maupun Budha. Ritual itu merupakan ungkapan rasa syukur atas panen yang telah diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada umat-Nya. Lazimnya diselenggarakan pada saat bulan purnama. Di samping itu, festifal tersebut juga dalam rangka memperingati genap 25 tahun berdirinya kuil Sanggar Agung.

Acara yang diawali dengan karnaval tersebut mengarak patung Kwan Kong dan Chang Erl yang ditempatkan di kereta kencana menuju panggung yang didesain menyerupai klenteng. Saat acara pembukaan, Dahlan Iskan atas nama panitia, menyerukan merayakan Tong Cu Pia bersama masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, sebagai tanda syukur telah mendapatkan kehidupan yang lebih baik, aman, dan damai. Setelah itu disusul doa bersama oleh para tokoh agama. Agama Budha diwakili Bante Damawicayo dari Malang, Khong Hu Chu diwakili Bingki Irawan, Islam diwakili Ny. Nafsiah Dahlan, dan Kristen diwakili Freddy.

Berikutnya, 10 balon dilepas. Di dalamnya ada kupon berhadiah total setara dengan 5 ton beras. Kemudian acara dilanjutnya dengan penandatanganan kepala naga oleh tokoh agama. Pelepasan serangkaian kembang api yqng mewarnai kegelapan malam, menandakan upacara resmi telah selesai. Masyarakat boleh memilih tetap menikmati hiburan di panggung, atau mengikuti ritual sembahyang di Sanggar Agung. Menempuh jarak 800 meter ke arah Sanggar Agung. Arak-arakan yang dipandu oleh liang-liong sepanjang 168 meter (diimport khusus dari Tiongkok) dimainkan oleh 80 orang. Sangat atraktif dan spektakuler.

Memasuki Sanggar Agung, aroma dupa berbaur dengan kepulan asap. Nuansa merah dan emas mendominasi sanggar, menghantar umat pada kekhusyukan ritual mereka, ada beberapa patung sesembahan, ornamen seperti pagoda yang isinya miniatur patung Budha tersusun rapi membentuk bangunan mirip pagoda. Di halaman belakang berdiri kokoh patung Dewi Kwan Im yang dijaga 4 dewa penjuru, tampak berwibawa diterangi sinar rembulan bulat. Dewi Kwan Im seolah-olah menyimak keinginan umatnya dalam doa bersama yang intinya memohon kedamaian, kemakmuran, rezeki, jodoh, kesehatan, serta kesatuan.

Keinginan untuk bersatu juga disimbolkan dalam bentuk kue bulan yang berbentuk bulat, dan dibagikan kepada umat. Acara menjadi makin meriah saat para umat Tri Dharma berebutan menggapai permen yang sudah diberkati dan ditebarkan oleh duplikat Dewa Kwan Kong. Pasalnya, mereka percaya permen yang telah diberkati itu adalah simbol rezeki yang dikirimkan.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 19, 26 September -10  Oktober 2003, Tahun I, hlm.11

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya, Surabaya, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s