Menjala Emas di Brondong


-Juni 2009-

Di tempat ini, transaksi bernilai jutaan rupiah bergulir setiap hari. Tak heran jika keberadaannya memberi kontribusi istimewa bagi pemerintah setempat.

Pemandangan itu sudah biasa. Mulai dari matahari masih merah. Nelayan, penjual ikan, warga sebagai pembeli, hingga tengkulak sudah merapat di kawasan pelelangan ikan di Pelabuhan Nusantara Brondong, Kabupaten Lamongan. Kehadiran mereka untuk bersiap dan akan melakukan transaksi jual beli ikan hasil  buruan.

Ramai memang, disana sini ratusan manusia saling bersahut untuk tawar menawar. Ada nelayan yang sengaja menawarkan ikan tangkapannya pada pembeli di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dan ada pula yang menjual dengan cara berbeda. Yaitu dengan berburu agen penjualan atau makelar yang posisinya bisa ada di luar lokasi. “Ini lebih menguntungkan, laba agak besar daripada dijual di pelelangan. Selain itu saya dapat bersiap untuk melaut berikutnya”, jelas M. Soleh, 40 tahun, nelayan asal Blimbing.

Biasanya Soleh melaut bersama 12 anak buahnya. Selama 8 hari di laut mereka berhasil meraih lima ton ikan. Hasil tangkapan ini berhasil terjual secara borongan dengan harga Rp 13 juta. Padahal untuk modal keberangkatan modal yang dibutuhkannya, hanya sekitar Rp 5 juta.

“Modal itu saya gunakan untuk membeli solar, oli, atau beberapa bekal tambahan seperti makanan, minuman, camilan, dan terpenting adalah balok es batu,” ujar bapak tiga anak ini pada EastJava Traveler.

Ditanya sampai dimana beberapa nelayan Brondong biasanya mencari ikan. Soleh menjawab ringan, tentu sampai puluhan mil jauhnya bahkan sampai waktu melautnya seminggu lebih. “Tapi itu sudah biasa kami jalani,” tukas seorang nelayan lain yang duduk bersebelahan dengan Soleh.

Dari upaya melaut, ikan laut segar yang didapat para nelayan di Brondong, seperti ikan kuningan, bambangan, krese, golok sabrang, kapasan, kakap merah, kerapu, layur, cumi-cumi, tongkol, hiu, bawal, dan masih banyak lainnya. “Berbagai jenis ikan seperti itulah yang banyak didapat nelayan,” ujar Mas’udi, salah seorang petugas lapangan dari KUD Minatani, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan.

Lebih lanjut, Mas’udi mengatakan potensi perikanan yang diperoleh nelayan di Brondong ini relatif cukup banyak. Maka, tak salah bila TPI Brondong bisa dikategorikan penghasil ikan terbanyak yang ada di Jatim. Dan, pantas bila disejajarkan dengan yang ada di Prigi, Sendang Biru, Madura, dan beberapa tempat lainnya.

Kategori Nelayan
Sementara menurut penjelasan Mas’udi kategorisasi nelayan di Brondong terbagi menjadi beberapa jenis. Ini dilihat dari jarak jangkauan dan waktu penangkapan ikan. Ada yang mengistilahkan nelayan ngebok, maksudnya adalah para nelayan pergi jauh ke tengah lautan menggunakan kapal-kapal besar, yang dilengkapi kotak-kotak besar dipergunakan untuk menyimpan hasil tangkapan.
Waktu yang dibutuhkan nelayan jenis ini biasanya rata-rata lima hari dengan target tangkapam sekitar setengah ton. “Tapi itu untuk kategori kecil, sedangkan yang besar biasa pergi ke laut sampai dua mingguan dan target tangkapan sekitar 8 ton bahkan lebih,” tuturnya. . .

Dan jumlah-jumlah besar itu biasanya terjadi pada bulan panen nelayan, yaitu Agustus sampai Desember. Selain nelayan warga Brondong menyebut nelayan ngebok, ada juga yang menyebut nelayan korsin. Nelayan ini berangkat sekitar jam 12 malam, lalu pulang siang hari. Mereka pergi ke tengah laut dengan perahu kecil dan hasilnya pun relatif lebih sedikit.

Adanya nelayan jenis korsin, maka tak salah bila di TPI Brondong ada dua sesi pelelangan. Pertama mulai jam 4 pagi sampai jam 10 siang. Lalu yang kedua mulai sekitar jam 12-an sampai menjelang jam 3 sore.

Selain nelayan ngebok dan korsin, ada juga warga nelayan disana yang memilih sebagai nelayan pancing. Mereka biasanya berangkat ke tengah lautan tanpa batasan waktu, atau sesuka hati. Mengenai hasil tentu lebih sedikit dari dua kategori nelayan sebelumnya. Karena mereka berburu ikan cukup dengan alat pancing.

Pelabuhan Perikanan Nusantara
Brondong yang berjarak 6 kilometer dari lokasi Wisata Tanjung Kodok itu, kini telah berkembang pesat bahkan telah menjadi salah satu andalan Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam mendulang Pendapatan Anggaran Daerah (PAD).

Dari catatan beberapa sumber, sebelum tahun 1998 hasil retribusi yang dikumpulkan TPI Brondong berhasil meraup 60 persen PAD. Memang seperti dikatakan Mas’udi dari catatan KUD Minatani masa gemilang di Brondong pernah terjadi di tahun 1998. “Pada saat itu, dari hasil tangkapan nelayan saja menembus perolehan 30 ribu ton pertahun,” katanya.

Berurutan di tahun 1999 perolehan tangkapan menurun 22,5 ribu ton. Tahun 2000 kembali melorot menjadi 18 ribu ton saja. Lalu di tahun 2008 bisa diambil rata-rata sekitar 28 ribu ton dalam setahun. Mengetahui betapa besar peranan TPI Brondong bagi Kabupaten Lamongan, pemerintah setempat dibantu beberapa instansi terkait

Pelabuhan Ikan Brondong telah menjadi salah satu andalan Pemerintah Kabupaten Lamongari dalam mendulang Penqapatan Anggaran Daerah (PAD).
Nampak getol untuk terus mengembangkan sebagai sebuah aset berharga. Apalagi kini TPI Brondong dikelola oleh tiga intansi langsung dengan tugasnya masing-masing. Antara lain, di bawah naungan Pelabuhan Perikanan Nusantara meliputi pengembangan sarana dan prasarana. Lalu ada Perusahaan Umum (Perum) meliputi pengelolahan modal usaha. Dan ada KUD Minatani meliputi pengelolah dan pemberi swadaya pinjaman bagi usaha anggota nelayan.

Kondisi harus dilakukan karena dulunya Brondong adalah sebuah pasar ikan kecil yang dikelola warga desa setempat. Juga secara administratif penangan tempat ini meneruskan pola yang diterapkan pemerintah Belanda. Sebab kebetulan posisi letaknya di jalur Daendels (ruas jalan Anyer-Panarukan). Yang lebih tepatnya melewati jalur Gresik-Panceng-Paciran dari arah timur. Sedangkan dari arah barat jalur Tuban-Paciran.

TPI yang pada tahun 1980-an hanya memiliki area gedung seluas 150 meter persegi, dan luas total (area pelabuhan dan fasilitas-fasilitas tambahan) sebesar 4 hektar ini berubah menjadi wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong, Lamongan. Sehingga kondisi inilah yang membuat wilayah kawasan Pelabuhan Brondong diperluas, hingga menjadi seluas 30 hektar.

Irianto, Kepala Bagian Tata Usaha PPN Brondong, Lamongan pada EastJava Traveler menjelaskan, seiring dengan berkembangnya area kelolah di Pelabuhan Brondong. Maka, pihaknya telah membangun beberapa fasilitas penunjang bagi warga, nelayan dan pembeli yang datang kesana. “Ini sebagai upaya memberikan kelayakan pada sisi pengelolahan di TPI Brondong,” ucapnya.

Beberapa fasilitas penunjang itu antara lain kamar mandi, musholla, tempat parkir yang luas, keamanan, tempat makan yang memadai, dan masih banyak fasilitas lainnya, ejt m rido’i – loto; wt atmojo

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Easjava Traveler, Etalase Wisata Jawa Timur, EDISI 29, Tahun II, Juni 2009, Hlm.6-9.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Sentra dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s