Lily Chadijah Wachid, Politisi PKB yang Adik Kandung Gus Dur : Berjuang demi rakyat Malah Disingkirkan


-September 2011-
Balakangan nama adik kandung Gus Dur ini kembali mencuat ke permukaan. Ia membeberkan dugaan adanya aliran dana sebesar Rp 20 milliar kepada istri Menakertrans Muhaimin Iskandar Meski kemudian dugaan ini kemudian ia cabut. Di bawah ini adalah penuturannya yang disarikan dari berbagai sumber.

Aku memang telah terbiasa berpikir dan tenggelam dalam dunia perpolitikan semenjak aku remaja. Mempunyai kakek seorang imam besar pendiri NU (KH Hasyim Asyari) dan seorang ayah (Wachid Hasyim) yang merupakan tokoh dalam gerakan nasional dan menteri agama di tahun 1949, membuatku terbiasa untuk terlibat dalam nuansa perpolitikan yang sedang bergejolak.

Bahkan pada 1967, saat usiaku masih sekitar 19 tahun, aku sempat dicalonkan menjadi anggota DPR sebagai wakil ormas oleh PBNU. Namun, karena usiaku yang terlampau muda kala itu, aku pun kemudian membatalkan pencalonan tersebut.

Aku kemudian memutuskan untuk meneruskan pendidikan dan kemudian menikah dengan Indrawanto, seorang anggota TNI. Meskipun aku sering berpindah-pindah daerah karena mengikuti suamiku, namun aku tidak pernah berhenti dalam dunia politik.

Ketika harus pindah di Jakarta, aku pun dipercaya menjadi Ketua Umum Induk Koperasi dan aktif dalam Dekopin dan hingga aku dikarunia tiga orang anak aku masih tetap aktif menjadi aktivis di beberapa organisasi kemanusiaan.

Kemunculanku di panggung politik memang baru mencuat ketika terjadi konflik di dalam partai PKB. yaitu dari kubu Muhaimin dan kubu Gus Dur yang juga kakak kandungku sekaligus Ketua Dewan Syuro PKB. Aku saat itu diminta menjadi back-up dari kubu Muhaimin, dan mengambil suara di daerah pemilihan Jawa Timur II.

Setelah memenangkan pemilihan di dapilku, aku kemudian diberi tempat sebagai Wakil Ketua Dewan Syuro, hingga akhirnya pada Pemilu 2009 aku resmi menduduki kursi DPR-RI di Komisi I dari Fraksi PKB.

Setelah menjadi anggota dewan aku makin bertekad untuk terus memperjuangkan amanat rakyat yang dipercayakan kepadaku dan berusaha sebaik mungkin demi kebangkitan Indonesia. Namun Perjuanganku kian hari bukan kian mudah dan mendapatkan dukungan namun justru mendapatkan pertentangan dari berbagai pihak.

Bukan hanya dari oknum-oknum terkait yang gerah namun juga dari orang-orang yang mempunyai kepentingan pribadi. Termasuk dari dalam partaiku sendiri terutama para pembesarnya.

Berawal dari Maret 2010 ketika aku berdiri sendiri menyetujui kasus Bank Century untuk diungkap. Mungkin itu merupakan tamparan buat partai karena aku mengambil sikap yang berbeda dengan garis fraksi.

Kemudian pada saat sidang hak angket mafia pajak pada bulan Februari 2011, saat itu saya dan Gus Choi (Efendy Choirei, sama-sama duduk di Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB)  ikut memperjuangkan pendapat untuk mendukung usulan mengenai hak angket tersebut. Menurutku dan juga Gus Choi, Hak angket lebih efektif untuk membongkar kasus mafia pajak dibandingkan dengan Panja yang diusulkan Partai Demokrat.

Dan yang terbaru adalah saat aku mendapatkan informasi tentang aliran dana yang cukup besar dari proyek transmigrasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi ke DPP PKB dan istri Muhaimin.

Namun  aliran dana ke PKB tersebut belakangan terbantahkan. Saya juga telah menyampaikan permohonan maaf juga penyesalan yang cukup dalam atas hal tersebut.

Rentetan kejadian tersebut mungkin menjadi puncak kekesalan partai pada sikapku dan partai merasa tidak bisa lagi mentolerir perbedaan pendapatku dengan fraksi sehingga mereka pun mencari-cari kesalahan internal yang tidak masuk akal. Aku dianggap mbalelo terhadap partai.

Padahal aku berdiri menjadi seorang wakil rakyat di DPR adalah untuk menyalurkan dan menyuarakan aspirasi rakyat, bukan kepentingan partai. Menurutku, suara partai tak sejalan dengan aspirasi masyarakat.

Sesungguhnya aku merasa bahwa aku tidak pernah membelot dari partai karena aku tidak melawan partai secara keseluruhan, aku hanya melawan penguasa-penguasa partainya. Namun, lucunya meski aku dan Gus Choi didepak dari keanggotaan partai tapi kami tetap dikejar-kejar untuk  membayar iuran partai sebesar Rp 12  juta tiap bulan dipotong langsung dari gaji kami, dan apabila partai mengadakan acara apa saja aku masih diundang oleh meeka. Terkadang aku bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku.
Aku sendiri tidak punya keinginan apa-apa, tidak ingin jabatan atau kedudukan.

Saat ini aku sedang focus untuk mengupayakan pendanaan guna membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Dengan beberapa jaringanku dan investor dari beberapa negera Eropa, mereka bersedia menyalurkan dana investasi kepada masyarakat Indonesia, karena mereka percaya terhadapku dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Aku merasa beruntung dan bersyukur mempunyai banyak teman dan selalu mengingatkanku agar tidak gampang terpancing oleh keadaan. Maka saat aku diisukan oleh mereka (elit PKB) menerima uang dari Partai Golkar atas keputusanku mendukung hak angket mafia pajak kemarin aku hanya tertawa.

Dengan hidup dan kehidupan politikku, aku sudah pernah mengalami hal-hal yang lebih berat. Aku sangat bersyukur bahwa semua keluarga mendukung atas apa yang kulakukan termasuk suami dan anak-anakku.

Bahkan aku telah siap bila suatu saat ternyata aku harus dikondisikan dan ditangkap seperti Antasari yang kasusnya merupakan settingan itu.

Aku pernah berkata pada anak-anakku. “Kalau suatu hari nanti aku ditangkap itu resiko dari sikap yang kuambil,  Kalian nggak usah khawatir.  Segala biaya sekolah sudah kusiapkan dan kamu jangan kegat.” ebs-cw

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY, edisi 2461, 21-30  September 2011, Hlm. 1.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Sosok dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s