Monumen Gerbong Maut


-2011-
Tanggal 23 Nopember 1947 sejarah mencatat dengan tinta emas tentang perjuangan heroik rakyat Bondowoso melawan penjajah Belanda. 100 orang pejuang ditangkap dan diangkut dengan Gerbong No. GR. 10152 berisi 30 orang. Gerbong No. GR. 446 berisi 32 orang dan No. GR. 5769 berisi 38 orang dari Stasiun Kereta Api Bondowoso pada pukul 03.00 dini hari menuju Penjara Kali Sosok Surabaya, para pejuang/tahanan diangkut dengan gerbong tua  yang rapuh/keropos dalam keadaan tertutup yang mengakibatkan 46 orang dari 100 orang pejuang/tahanan gugur sebagai Kusuma Bangsa.

Kejadian tersebut dikenal dengan peristiwa Gerbong Maut, untuk mengenang pejuang yang gugur sebagai Kusuma Bangsa pemerintah daerah mengabadikan dengan membangun “MONUMEN GERBONG MAUT” yang terletak di jantung kota Bondowoso tepatnya di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Arsitektur bangunan monumen merupakan gundukan berbentuk trapesium berukuran panjang 9,5 m lebar 5,25 m dan tinggi 2,5 m. Pada bagian kanan dan kiri dinding terdapat relief yang menggambarkan pertempuran antara tentara republik melawan Belanda. Di atas gundukan trapesium terdapat patung-patung tentara Indonesia yang berjumlah 13 dan menggambarkan sikap menyerbu musuh. Diantara patung-patung tersebut ada yang membawa senjata panah, senapan, bambu runcing, pedang, dan keris. Pada komposisi letak patung para pejuang tersebut seolah-olah menggambarkan bersatunya rakyat dengan tentara republik. Selain patung-patung terdapat replika gerbong maut berwarna hitam, tanpa jendela sedikit pun. Monumen Gerbong Maut tersebut berukuran panjang 3,5 m, lebar 2,5 m, dan tinggi 3 m, untuk mengenang jasa para pejuang maka setiap tahun diadakan Napak Tilas yang dilaksanakan tiap-tiap tahun pada Hari Pahlawan.

Adapun nama-nama tawanan yang dianggap terlibat dalam gerbong maut adalah:
1.Mohammad Alwi, 2. Soewandono, 3. Soeparto, 4. Rasmin, 5. Rasimin, 6. Sidik, 7. Ismail alias P Wir, 8. Satamin alias Brotojoyo, 9. P. Sami alias Dulhakar, 10. Abdulrachman, 11. P. Tayib alias Adam, 12. Ali, 13. Parto, 14. Soewardi, 15. P. Singgih, 16. Pasik, 17. P. Tima alias Duramaan, 18. Sadang Radikin, 19. Hasan Assagaf, 20. Sahar alias S. Abdoer, 21. Endin 22. Astrodiredjo, 23. P. Arjono, 24. Misradin, 25. Abd. Maksar, 26. Arnimo, 27. Niman, 28. R. Koesmar alias Nyotoprawiro, 29. Soekawi, 30. P. Yahya alias Matra’is, 31. Tallip, 32. P. Mochdar alias Saleh, 33. Koestidjo, 34. Oewi, 35. Asmawi, 36. Pangemanan alias Longkang Hendrik, 37. Soeharto, 38. P. Kamar alias Sahri, 39. Arijadi, 40. Wiroto, 41. Moegiman alias Hadiwarsito, 42. Sajidiman, 43.Sali alias Suryopranowo, 44. Wirjopranoto alias Safiuddin, 45. Sahawi alias P. Noorsid, 46. Awi, 47. P. Rose alias Mistar, 48. Soeparjomo alias Dirjoatmojo, 49. Soetedjo, 50. Asboen alias Samak, 51. Sidin, 52. Roemin, 53. Akmi alias Sariman, 54. P. Hun alias Sarman, 55. P. Aris alias Abdulgafar, 56. P. Soesman alias Soeri, 57. P. Beng ‘alias Soebahar, 58. Sihat alias P. Supar, 59. P. Hari alias Sahwi,  60. P. Soewoto alias Sishadi, 61. Asmono alias Durachman, 62. P. Soewoto alias Sishadi, 63. P. Soerakmo alias Djatim, 64. P. Soewarti alias Djono, 66. P. Pakmina alias Djami, 67. P. Soeadri alias Mojo, 68. P. Satomo alias Dulkali, 69. P. Marjani ali, 65. Koes alias Durachim as Mai, 70. P. Rais alias Sahi, 71. H. Anwar alias Ali, 72. P. Murtami alias Maria, 73. P. Mistam alias sarbudin, 74. P. Achamad alias Ramidin, 75. P. Ti alias Misnadin, 76. Anwani alias Yahya, 77. Salim 78. Gadang Tawar, 79. P. Soenandar alias Soedarmo, 80. Reksowono alias, P. Dahnan, 81. Dai 82. H. Syamsuri, 83. Soedarjo, 84. Koeswari, 85. Dullah, 86. Abduljaman, 87. Tajib, 88. Masdar, 89. P. Soewari alias Asim, 90. P. Soetijo, 91. P. Soedjino, 92. P. Soewari alias Soemarto, 93. P. Roe alias Moenawar, 94. P. Pasmon alias Tahir, 95. Soewardi, 96. Sa’id, 97. Moesappa, 98. Moestapa.

Nama-nama tersebut oleh Belanda sebagai orang yang dianggap salah karena bertindak subversif, sehingga membahayakan kedudukan pemerintahan Belanda. Mereka ini semua kemudian ditahan oleh Belanda dengan dikeluarkannya surat penahanan oleh Dinas Keamanan Militer. =Who=

Bahan bacaan : Koleksi Deposit; Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bondowoso, Sejarah, Wisata, Wisata Sejarah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s