Bung Tomo, Pejuang Kemerdekaan


-2011-
Berbicara Hari pahlawan kita akan teringat tentang heroisme arek-arek Surobojo, teringat pula 10 November 1945 serta bayang-bayang seorang Bung Tomo pembakar semangat perjuangan arek-arek Surobojo tokoh ikon perlawanan bangsa menentang pasukan asing  ini mampu menggerakkan massa membakar semangat perjuangan rakyat melalui orasinya, dengan kemampuan orasi yang patriotik, Bung Tomo membakar semangat juang arek-arek Surobojo, hingga pertempuran 10 November 1945 menjadi pertempuran terdahsyat selama perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Sosok yang lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920, sepak terjangnya dimulai dari anggota Pramuka Garuda  tahun 1944 pada pendudukan Jepang Sutomo dipilih sebagai anggota Gerakan Rakyat Baru (Gerakan Rakyat Baru). Pada usia 17 tahun dipercaya menjadi Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Tembok Dukuh, Surabaya dan sudah bekerja di harian Oemoem sebagai wartawan. Jabatan tertingginya adalah Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara 1945, inilah yang semakin menempa semangat juang Bung Tomo. Pada tahun 1945–1949 Masa Revolusi Fisik, menjabat sebagai Ketua Umum Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), menjadi Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman, Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata seluruh Jawa dan Madura. Pada tanggal 9 Juni 1947, Sutomo menikah dengan Sulistina di Malang, Jawa Timur.

Dilantik Bung Karno menjadi anggota pucuk pemimpin Tentara Nasional Indonesia dengan pangkat mayor jenderal, di tahun 1968 ia menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Indonesia (UI), pada tahun 1950 hubungannya dengan Presiden memburuk hingga namanya tenggelam di kancah politik era orde lama, tahun 1965 Bung Tomo muncul lagi sebagai tokoh nasional, awalnya ia mendukung Soeharto yang menggantikan pemerintah Sukarno yang berhaluan kiri, tetapi kemudian menentang aspek-aspek dari rezim Orde Baru, pada tanggal 11 April 1978, ia ditahan oleh pemerintah rezim Orde Baru karena kritiknya yang anti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Setelah pembebasannya lima tahun kemudian, Bung Tomo masih tetap mengkritik keras. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena penuh dengan pahlawan yang tidak memiliki keberanian untuk membela bangsa, tetapi ketika keadaan damai tampil di depan publik untuk menunjukkan prestasi. Hingga membuat Bung Tomo ditangkap oleh rezim Soeharto dengan tuduhan subversi. Sebelum kematiannya, Sutomo berhasil menyelesaikan draft disertasinya tentang peran agama dalam pembangunan tingkat desa. Ayah empat anak ini menghembuskan napas terakhimya di Padang Arafah pada 7 Oktober 1981, dimakamkan di tanah pemakaman umum Ngagel, Surabaya, Jawa Timur.=Who=

Catatan: Sujarwo, Putakawan Jawa Timur, 2011.
Bahan bacaan: koleksi Deposit Badan Perpuatakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Sosok, Surabaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s