Ul-Daul


Musik perkusi berlatar etnik, Ul Daul terasa semakin gaul saja. Musik tradisional yang bermula dari Kabupaten Pamekasan nyaris tak pernah sunyi dan selalu saja ditabuh mengitari ruas-ruas jalan. Bahkan, keunikan musik ini menggugah mahasiswa manca negara. Sejumlah peserta didik dari Austria, Afrika Selatan, Suriname, Jepang, Hongkong, Timor Leste, Itali, Solomon Island, Nauru Pasifik, Samoa serta Tonga melakukan studi banding. Eksotika musik Ul Daul antara lain terletak pada alat-alat yang dimainkan karena memanfaatkan benda-benda yang berada di sekitar kehidupan warga. Bas misalnya, dihasilkan dari bunyi silinder plastik besar. Selain itu, komposisi musik ini dipadu dengan kelenengan yang kerap dipakai saat pementasan saronen. Keunikan lainnya, musik ini melibatkan seniman musik secara kolosal hingga mencapai 30 orang dan dipentaskan dengan dua model: on the stage and mobile on the road.

Di luar itu, komposisi musik umumnya rancak, gegap gempita dan penuh semangat. Selain itu, nyanyian yang didengungkan  melampaui tiga bahasa (Madura, Jawa, Indonesia, Arab bahkan Inggris). Fenomena Ul daul sebenarnya merupakan pengembangan musik Tongtong, yang sejak awal menjadi musik yang berciri khas Madura yang dimainkan dengan pukulan monoton namun melahirkan irama dinamis sebagaimana musik-musik perkusi umumnya.

Musik asli kreasi masyarakat madura ini, saat ramadan tiba gaungnya semakin terdengar. Hampir setiap malam setelah salat tawarih dan tadarus malam, berbagai kelompok long march, menyanyikan lagu-lagu Islami bahkan hingga larut malam untuk membangunkan orang untuk bersahur. Di era selanjutnya, Ul Daul kerap show of force dan langganan baik di Grahadi Pemprov Jatim maupun di Istana Negara Jakarta.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Suluh MHSA, bonum commune: Majalah Berita dan Kebudayaan Madura,  Sumenep, Edisi 6/Th.1/Nopember 2001.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Madura, Seni Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ul-Daul

  1. Duwi agus berkata:

    Saya mau tanyak ni di kota saya kan ada juga musik perkusi
    dan saya sala 1. . .anggota.nya bagian pemukul tong bas .

    saya mau tanyak bagai mana cara nya buat alat saya biar suwara.nya keras dan enak di dengar.nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s