Sesaji Sri Aji Jayabaya


Upacara tradisional 1 Sura di loka muksa Sri Aji Jayabaya bertempat di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Jarak dari kota Kediri ke arah utara ± 14 kilometer, naik bus atau taksi umum ke jurusan Kediri-Pare-Surabaya turun di Gurah Sukorejo (± 10 km) dari Gurah ke desa Menang ± 4 km. Setiap tanggal 1 Sura (tahun tarikh Jawa), ribuan orang datang dalam rangka mengikuti upacara tradisi ritual “CAOS DAHAR” dan “TABUR BUNGA” di Loka Muksa Sri Aji Jayabaya dan dirangkai dengan upacara “SIRAM JAMAS” (mandi keramas) dan atau minum air Tirta Kamandanu dengan keyakinan bisa awet muda. Konon sendang Tirta Kamandanu ini tempat taman sari permaisuri putri Kediri.  Di sini dilengkapi bangunan pendapa, tempat sesaji berupa padupan dan bunga.  Semula merupakan pundhen yang dikunjungi setiap malam Jum’at legi dan Selasa Kliwon.

Upacara ritual 1 Sura, yang dilaksanakan setiap tahun sejak tahun 1975  ini dipimpin oleh Yayasan Hondodento Yogyakarta, dimulai ± pukul 10.00 WIB. Peserta upacara berangkat dari pendapa kelurahan Menang (± 1 km dari lokasi petilasan) dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Dan semua peserta berpakaian tradisi Jawa-Yogyakarta. Urut-urutan peserta dimulai dengan barisan remaja putri ayu pembawa tabur bunga, disusul pembawa pusaka dan tempat kemenyan yang dikawal pembawa payung susun tiga, kemudian pemimpin upacara yaitu Bapak Kyai Plered disertai juru kunci, Kepala Desa dan Ketua Yayasan Hondodento, selanjutnya pembawa bunga dengan dipayungi payung emas, yang paling belakang para undangan dengan diiringi gending pakurmatan (khusus) yaitu gending Monggang atau Kodokngorek disajikan oleh kelompok pengrawit.

Upacara tersebut mempunyai daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Setelah sampai di halaman (pelataran) petilasan, semua peserta duduk bersila menghadap satu arah dimulai dengan Kyai Plered mengungkapkan rasa syukur, hormat serta sembah sujud memasyhurkan nama Prabu Jayabaya, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta menghormat arwah pahlawan bangsa dan leluhur yang telah gugur, kemudian dengan pembacaan doa diteruskan penaburan bunga ke petilasan. Acara ini diawali kelompok remaja putri dengan duduk berjongkok mengawali persembahan, dilanjutkan penaburan bunga di tempat petilasan, tempat penyimpanan busana/pakaian dan mahkota Prabu Jayabaya. Selanjutnya pengunjung diberi kesempatan untuk ikut menabur bunga yang disediakan di “jamban” khusus berupa guci besar berisi air siraman. Jalannya upacara khusus sebetulnya tidak memakan waktu lama, namun oleh panitia biasanya disediakan waktu antara pukul 10.00 sampai 17.00 WIB yang berkaitan dengan melihat obyek lainnya seperti yang ada di Tirta Kamandanu yang berjarak sekitar 500 meter dari petilasan ke arah barat laut.

Catatan: Sujarwo (Pustakawan)
Rujukan:
– Panduan Obyek-obyek wisata Wisata di Kabupaten Kediri. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Kediri. 2010.
– Profil Kebudayaan Informasi Nilai-nilai Budaya dan Legenda Kabupaten Kediri. Disbudpar Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010.
– Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri.  Kantor Parsenibud Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Seni Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s