Candi Watu Payung, Mojokerto


Blentreng adalah salah satu dusun di Desa Ngembat yang berada di puncak gunung wilayah Kecamatan Gondang. Dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan air laut yang mayoritas masyarakatnya mengandalkan hidupnya dari sektor pertanian. Keadaan tanahnya yang subur menjadikan Blentrang sangat berjasa menghidupi penduduknya. Betapa tidak di dusun ini untuk tanaman padi misalnya, bisa panen tiga kali setahun.

Blentreng berjarak sekitar 8 km dari Ibukota Kecamatan Gondang dan 30 dari Kota Mojokerto. Yang khas dari dusun ini adalah lokasinya terpencil dibanding desa-desa yang  ada di kecamatan Gondang, Untuk menuju kesana orang  harus melewati beberapa desa. Masyarakat Mojokerto dan Sekitarnya mungkin belum tahu.  keberadaan Dusun Blentreng  terutama karena di tempat ini  ternyata juga menyimpan benda-benda peninggalan sejarah Majapahit yang patut diperhitungkan berupa Candi Goa Pari dan Candi Watu Payung.

Menurut penuturan Kepala Desa Ngembat, Sutrisno, candi tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit, karena letaknya yang jauh di atas gunung, masyarakat belum banyak yang tahu keberadaannya. Hal ini dibenarkan oleh masyarakat Blentreng yang sering ke lokasi candi orang harus melewati bukit-bukit dan hutan.   Namun jangan khawatir kalau ingin melihatnya bisa dipandu masyarakat desa setempat untuk bisa ke lokasi.

Dengan kondisi alam yang indah dan bebas polusi, dan enak untuk olah raga mendaki gunung. Ada satu pesan penting dari warga setempat yang layak kita simak: kalau ke lokasi jangan lupa mambawa bekal beras ketan secukupnya untuk dimasak karena lokasinya yang jauh dari perkampungan, demikian pesan masyarakat Blentreng. Cara memasak inilah yang belum pernah kita jumpai mungkin di daerah lain yaitu beras ketan dimasukkan sepotong bambu lalu dibakar sampai matang. Ukuran memasaknya disesuaikan dengan kebutuhan.

Usai melihat candi, dalam perjalanan pulang kita jumpai sungai yakni Kali Tirta Galuh yang biasanya dipakai mandi usai melihat candi tersebut. Menurut cerita sesepuh desa Ngembat, air sungai tersebut bisa menghilangkan pegal-pegal setelah turun dari lokasi candi.

Dengan adanya peninggalan sejarah yang belum banyak dikenal masyarat, harapan masyarakat Desa Ngembat agar Pemerintah bisa turun tangan Sehingga obyek ini bisa dikembangkan dan nantinya bisa menjadi tujuan wisata sekaligus pemandangan yang indah. (Hery Purwanto PLPI Gondang)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Warta Majatama. Wawasan realita & data, Edisi 39, 20 April- 4 Mei  2003. hlm. 11

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Mojokerto, Wisata, Wisata Sejarah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Candi Watu Payung, Mojokerto

  1. teguhtigor berkata:

    cukup menguras tenaga waktu aq ke candi pari dan watu payung 1,5-2jam perjalanan melewati hutan bambu….

  2. Andi Syaifuddin berkata:

    ya ,, memang saya saja yang rumahny DEKAT dengan lokasi candi,, belum pernah kesana,,

  3. Mimit Widratama berkata:

    kalo naik mobil atau sepeda bisa gak ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s