Gununganyar, Mengenal Kampung Surabaya


Asal-usul Kampung Gununganyar yang Menggunung

Mendengar nama kampung Gununganyar, pikiran kita mungkin langsung membayangkan adanya gundukan tanah besar yang mirip gunung atau bukit dan baru muncul. Memang tak salah kalau ada pikiran seperti itu. Sebab, di sebelah timur kampung Gununganyar sekarang ini memang terdapat gundukan tanah, yang oleh warga di sana disebut sebagai gunung.

Namun, kapan gunung itu muncul dan apa hubungannya dengan nama kampung sehingga dinamakan Gununganyar tidak ada jawaban yang pasti. Tokoh-tokoh masyarakat di sana, yang tergolong usia lanjut pun tidak bisa menjawab kapan munculnya gunung tersebut. “Saya tidak tahu kapan munculnya gunung tersebut, termasuk guru saya. Namun konon gunung tersebut berasal dari pegunungan di wilayah selatan,” ujar KH Abdurrobim, kiai sepuh Gununganyar yang telah berusia sekitar 80 tabun ini.

Tiga Pejabat Mataram Ikut “Babat Alas”. Warga di sana hanya meyakini, bahwa tokoh yang babat alas kampung Gununganyar adalah Kiai Amir, Kiai Mahmud dan Kiai Tanjung Alam. Makam ketiga tokoh tersebut kini dimakamkan di kampung tersebut, masing-masing di Gununganyar Kidul, Gununganyar Tengah dan Gununganyar Lor. Sebagai bentuk rasa hormat kepada ketiga tokoh tersebut, warga Gununganyar setiap tahun menyelenggarakan haul.

Acara tersebut digelar secara besar-besaran dalam bentuk doa bersama. Ketiga tokoh merupakan para pejabat Keraton Mataram yang berada di Jawa Tengah. Mereka menyingkir ke arah timur karena desakan penjajah Belanda. Ketiganya lantas menetap di perkampungan di pantai timur Surabaya yang akhirnya dikenal sebagai kampung Gununganyar.

“Memang tidak ada yang bisa memberi jawaban secara memuaskan kapan kampung ini berdiri. Namun yang jelas ketiga tokoh, yakni Kiai Amir, Kiai Mahmud dan Kiai Tanjung Alam yang dimakamkan di sini, diyakini sebagai pendiri kampung ini. Mungkin saja beliau yang memberi nama kampung dengan melihat gunung yang ada,” ujar H. Hasan warga Gununganyar lainnya. Tentang gunung yang ada di sebelah timur kampung tersebut, sejak dulu memang tidak berubah. Maksudnya, dari dulu  hingga sekarang gundukan tanahnya relatif tetap. Padahal gunung seluas sekitar 1.000 meter persegi tersebut masih aktif.

Dari badan gunung tersebut sering mengeluarkan zat cair ke  permukaan. Dan, pastinya tanah Gununganyar memang terus menggunung, apalagi masuk wilayah metropolis Surabaya, otomatis akan menjadi incaran investor untuk mengintip daerah bergunung dan lebih dekat dengan pesisir. Semoga saja, di usia Surabaya ke-704, Gununganyar membawa berkah bagi Surabaya. (suyono)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   MEMORANDUM, Bekerja dan Membela Tanah Air, Selasa, 27 Mei 1997 . hlm.11

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Gununganyar, Mengenal Kampung Surabaya

  1. silosemedi berkata:

    gunung anyar lor(utara) dulu sebutannya “gunung anyar kelanggri”sespuh kiyai tanjung alam
    gunung anyar tengah sesepuhnya” mbah mahmud”
    gunung selatan(gunung anyar kidul) sesepuhnya” mbah amir”

    kata abahku dulu ketiganya disebut kiyai tedak mentaram

  2. Ping balik: The Story Of Gunung Anyar, Surabaya | this is my spare time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s