Manukan, Mengenal Kampung Surabaya


Dari Ladang Mangga jadi Ladang Uang

Kecamatan Tandes, khususnya Manukan Kulon termasuk wilayah Surabaya barat yang paling pesat kemajuannya selama ini. Dalam waktu sekejap, wilayah padat penduduk itu mampu mengundang belasan toko besar untuk membuka usaha. Saat ini saja sudah 2 pasar swalayan besar bercokol di kawasan Manukan. Belum lagi deretan pedagang di Jl. Manukan Lor. Penduduk pendatang semakin banyak mengerumuni Manukan. Perumnas pun tidak rugi membangun ratusan rumah berbagai tipe. Manukan terus merangkak hingga mengubah kawasan ladang tandus menjadi ladang lain yang lebih subur. Tokoh masyarakat disana menuturkan semula daerah Manukan berupa hamparan luas kebun atau ladang. Lahan tersebut milik beberapa orang yang juga merangkap sebagai tuan tanah. Oleh pemilik lahan itu ditanami pepohonan produktif berupa mangga. Jika sudah panen mangga yang sudah ranum itu menjadi incaran anak-anak kecil. “Karena banyak pohon mangga itu, anak-anak sering mengambilnya, ya untuk dirujak atau dimakan begitu saja. Nama Manukan itu mungkin saja karena disini banyak manuk (burung) yang beterbangan. Tidak begitu jelas.

Hanya saja yang bisa diamati adalah pesatnya perkembangan pedukuhan ini,” papar HM Amin Fatchur, tokoh masyarakat yang tinggal di Jl. Manukan Rukun. Ditemui kemarin siang, lelaki yang pernah lama tinggal Arab Saudi ini menceritakan perumahan yang sekarang menjamur berasal dari kawasan blok-blokan. Di Manukan terdapat hampir 50 blok. Jika mencari alamat seseorang akan sulit jika tidak disebutkan bloknya. Nama jalan di Manukan semuanya didahului dengan kata Manukan. Lalu diikuti kata berikutnya misalnya, Manukan Tengah, Tama, Ranu, Subur, Peni, Asri, Indah, Rukun, Lor, Wetan, Telaga, Loka dan Yoso. Bahkan ada yang mengambil nama orang yakni Manukan Tohirin dan Manukan Kasman. Dua kampung terakhir itu dihuni oleh penduduk asli. Semula, lanjut Amin, kawasan Manukan tidak diperhitungkan orang. Jika akan ke Manukan banyak yang aras-arasen (malas) karena harus melalui jalan yang banyak gronjalan dan daerahnya tandus, panas.

Namun setelah tersentuh pembangunan, kawasan itu menjadi lirikan banyak investor baik untuk industri retail maupun real estate. Pada era tahun 1970-an, harga tanah per-m² hanya Rp110, namun kini melambung hingga ratusan ribu rupiah. Perumahan pun bisa bernilai puluhan juta rupiah. Semua karena perubahan zaman yang memang harus terjadi. “Sarana transportasi juga semakin maju. Kalau dulu saya menggunakan bemo roda tiga. Jalan-jalan semua tunggal dan tidak beraspal. Semua masih hamparan ladang, lain dengan kawasan Buntaran. Di sana awalnya dulu areal tambak. Dan anehnya sampai sekarang ya masih berupa tambak. Oleh pemerintah kita tahu bahwa daerah itu diklasifikasikan sebagai daerah Inpres Desa Tertinggal (IDT),” sambungnya. Saat ini ladang mangga sudah tidak bisa ditemui di kawasan Manukan. Kalaupun ada di kawasan Sambikerep dan Lontar Kecamatan Lakarsantri. Yang ada ladang uang. (kristina)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   MEMORANDUM, Bekerja dan Membela Tanah Air, Kamis, 29 Mei 1997 . hlm.11

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Manukan, Mengenal Kampung Surabaya

  1. enggak ada fotonya lagii yaaa ?? pliiiisss,, aku pengen tau manukan yang dulu,,
    http://aldofahreza.blogspot.com
    rubyronaldo@gmail.com

  2. Ian berkata:

    Tolong saya minta tentang Sejarah desa made dan kepala desa pertama didesa made kecamatan sambikerep surabaya

    trims

  3. kalfin kurniawan berkata:

    tlong kasih fto d0nk maz biar qw tw manukan yg dlu sprti pa

  4. tomek berkata:

    MANUKAN INDAH TLNG DIEKPOS MIN

  5. Yang masih penasaran saya itu foto daerah wonokromo, ngagel dan sekitarnya karena kebanyakan wilayah surabaya utara dan surabaya pusat saja

    4Jovem Tuban http://4jovemtuban.com

  6. ani berkata:

    Manukan Tirto belum di sebutkan juga

  7. Rahma Djunaedi berkata:

    manukan daerah tandus…dulu pernah denger cerita kalo tandus itu yg dijadikan kata TANDES??
    apa benar min…???ayoo ekspos semua sejarah manukan min…karena mau lawak ato bintang sinetron sekalipun juga banyak yg dari manukan…

  8. atmo berkata:

    dulu di manukan kulon taun 85’an masih bnyak ilalang dan kuburan dengan pohon gede.bahkan masih banyak rumah penduduk yang masih pake petromaks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s