Mulyorejo, Mengenal Kampung Surabaya


Mengenang Gugurnya “Mulyono dan Sarirejo”

Pemberian suatu nama tentu mengandung maksud agar mudah dikenal sekaligus, ingin menanamkan kesan yang baik. Begitu juga dengan nama kampung Mulyorejo, yang sebelumnya dikenal sebagai pedukuhan Kepiting Lor dan Kepiting Kidul. Sejak tahun 1950, pedukuhan tersebut berubah nama menjadi Mulyorejo. Perubahan itu berkaitan dengan gugurnya warga di sana dalam perang revolusi akhir tahun 1945. Kedua pahlawan tersebut adalah Mulyono dan Sarirejo.

Dua pemuda dukuh Kepiting yang dengan gagah berani menghadang tank pasukan Belanda. Keberanian yang tidak didukung oleh senjata, membuat kedua pejuang tersebut gugur di pinggir kampung tanah kelahirannya. “Makanya setelah adanya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda tahun 1950, tokoh-tokoh masyarakat di sini mengusulkan perubahan nama kampung menjadi Mulyorejo, sebagai gabungan nama Mulyono dan Sarirejo. Usulan sebagai bentuk penghormatan warga kepada pahlawan sekaligus ingin memberi ingatan kepada warga bahwa di sini telah gugur pahlawan bangsa,” ujar H Joko Siswoyo, mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Mulyorejo yang juga salah seorang saksi sejarah peristiwa gugurnya kedua pahlawan tersebut.

Karena perubahan nama itu, maka nama pemerintahan juga berubah. Sebelumnya dikenal sebagai Desa Kalikepiting akhirnya berubah menjadi Desa/Kelurahan Mulyorejo. Sekarang ini sebutan Mulyorejo meliputi empat pedukuhan, yakni Kalikepiting Kaliwaron, Ngembong, Kali Alu. Selain itu, warga di sana juga berinisiatif untuk membuat patung kedua pahlawan tersebut, yang terletak di Jl. Mulyorejo, tepatnya perbatasan antara wilayah Mulyorejo dan wilayah Kelurahan Mojo Kecamatan Gubeng. Digambarkan dalam patung itu, Mulyono naik kuda sedang Sarirejo berdiri sambil memegang bambu runcing.

Lebih lanjut Joko Siswoyo mengatakan, Mulyono dan Sarirejo memang memiliki keberanian luar biasa untuk menghadapi Belanda waktu itu. Betapa tidak, hanya dengan senjata seadanya seperti takiari atau bambu runcing dan granat mereka berani menghadang pasukan Belanda yang dilengkapi senjata modern, seperti tank serta senapan. “Saya masih ingat, waktu itu Mulyono naik kuda, dengan pakaian ala Jepang dan bersenjata tumigun. Sedangkan Sarirejo berpakaian putih-putih tanpa sepatu. Keduanya juga membawa granat. Karena senjata tak seimbang keduanya gugur dalam penghadangan itu.

Sarirejo luka di bagian dada, sedang Mulyono di kaki, perut dan kepala. Kejadiannya sekitar pukul 03.00 sore dan dimakamkan menjelang shalat Maghrib,” tambah bapak tujuh putra ini. Pada akhir tahun 50-an, makam kedua pejuang tersebut dipindah ke makam pahlawan Ngagel. Pemidahan itu atas prakarsa pemerintah. Semoga, perjuangan sang pejuang Mulyono dan Sarirejo membawa berkah  kampung Mulyorejo. (suyono),

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   MEMORANDUM, Bekerja dan Membela Tanah Air, Rabu, 28 Mei 1997 . hlm.11

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s