Bong Ampel


Bobg Ampel, Ikatan Arab-Tionghoa
Tjoa Kwie Soe meninggal dalam usia 54 tahun, atau tahun ke-20 setelah kedatangannya di Surabaya. Mertua dan istrinya, Tumenggung Onggodjoyo dan Nyai Roro Kindjeng beserta beberapa keturunan Tjoa dimakamkan di kawasan Ampel. Sedangkan Tjoa Kwie Soe sendiri, konon, dimakamkan di daerah Kebangsren sekarang.

Sejak awal abad ke-18, di Surabaya telah terjadi “penyatuan” etnis Arab dengan Cina, Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perkawinan antar etnis pada masa itu. Buktinya, simaklah kawasan Ampel, ada sekelompok bong (makam Tionghoa), tepatnya di barat kompleks Masjid Agung Sunan Ampel (MASA), Bong-bong itu sepintas tidak menarik. Setidaknya, dibandingkan dengan keberadaan makam lain yang memang lebih menonjol dan menjadi tujuan utama peziarah ke Ampel.

Namun, keberadaan bong tersebut ternyata tidak bisa lepas dari bagian sejarah perjalanan Surabaya. Memang, tak sedikit perantau Tionghoa yang akhirnya memeluk Agama Islam, The Boen Liang, penulis pada masa itu, menulis pada majalah Matahari terbitan Semarang edisi 1 Agustus 1934 tentang awal mula datangnya sekelompok pemuda perantauan dari Tiongkok ke Surabaya. Kelompok pemuda itu kemudian dikenal dengan nama famili Tjoa, Salah seorang yang menonjol di antara mereka adalah Tjoa Kwie Soe.

Sebagai perantauan, Tjoa Kwie Soe dipercaya memiliki kelebihan, diantaranya dia mahir ilmu bela diri. Pada masa kedatangannya, Surabaya dalam keadaan rusuh, kompeni Belanda versus pribumi (Jawa dan Madura). Belanda bermaksud mengambil alih kekuasaan pribumi atas tanah di Surabaya. Pribumi pun memberontak, dipelopori beberapa tokoh, seperti, Suropati dan Adipati Passaroean (Pasuruan), Kiai Tumenggung Onggodjoyo yang keturunan Arab. Melalui Tumenggung Onggodjoyo inilah Tjoa Kwie Soe dikenal dan kemudian diminta membantu perjuangan Sang Adipati melawan kompeni. Suatu ketika dengan dibantu Tjoa Kwie Soe, peperangan bisa dimenangkan pihak Adipati Onggodjoyo. Atas kemenangan itu, Adipati menikahkan Tjoa Kwie Soe dengan anaknya, Nyai Roro Kindjeng dengan secara Islam.

Inilah catatan tentang kejadian pertama perkawinan antar etnis keturunan Arab dengan Tionghoa yang ada di Surabaya. Tjoa Kwie Soe meninggal dalam usia 54 tahun, atau pada tahun ke-20 setelah kedatangannya di Surabaya. Mertua dan istrinya, Tumenggung Onggodjoyo dan Nyai Roro Kindjeng beserta beberapa keturunan Tjoa dimakamkan di kawasan Ampel. Sedangkan Tjoa Kwie Soe sendiri, konon, dimakamkan di daerah Kebangsren sekarang.

Pengembangan kawasan Pecinan di Surabaya Utara telah lebih dulu digarap oleh pihak pemkot setempat, yaitu dengan membangun kawasan wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun, Mei 2003. Sementara itu kawasan Arab sendiri kabamya bakal digarap tahun ini. Sebenarnya, kawasan Arab cukup menarik untuk dikembangkan menjadi tempat wisata serupa Kya-kya. Dua jalan utama yang melingkari kawasan Ampel bisa dikatakan memenuhi syarat. Selain lebar jalan sekitar 15 meter, banyaknya gedung cagar budaya. Objek menarik. Selain itu kampung-kampung Arab yang memadati kawasan sekitar Ampel pun berdaya tarik.

Saat ini, ada lebih dari tiga bangunan cagar budaya di kawasan Ampel (Jl. KH Mas Mansyur), antara lain dua rumah tinggal opsir Belanda dan bekas pabrik milik NV Nederlundseh Indisehe Industrie. Rumah Belanda itu saat ini dihuni warga keturunan Arab dan satunya lagi menjadi Rumah Sakit al-Irsyad. Sedangkan bekas pabrik Belanda itu kini menjadi industry PT. Boma Bisma Indra. Beberapa bangunan cagar budaya lainnya tersebar di dalam kawasan kampung Ampel, termasuk MASA, komplek makam Sunan Ampel dan keluarga, makam kerabat Tjoa dan Adipati Kiai Tumenggung Onggodjoyo.

Selain itu juga ada makam al-Habsji di dalam Masjid Kubah, yaitu makam keluarga Pangeran Asseijid Asjarief Hassan, di Jalan Ampel Suci menuju arah MASA Semuanya masih dalam keadaan baik meski telah mengalami beberapa renovasi. Setidaknya, inilah yang bakal bisa menjadi modal bagi upaya pengembangan kawasan Ampel. Sementara itu, ada pertimbangan lain, yaitu kawasan Arab yang berdekatan dengan kawasan Tionghoa yang hanya berjarak sekitar 200 meter ke arah Jembatan Merah.

Sangat memungkinkan jika dua kawasan itu digarap serius sebagai daya tarik wisata Surabaya. Kepala Disparta setempat, Drs-Ee H Muhtadi MM, membenarkan hal itu. Dia katakan, keberadaan cagar budaya di kawasan Ampel menjadi daya tarik sendiri. Penyatuan paket kunjungan Ampel dengan Kya-kya punya potensi yang sangat besar “Tanggung jawab Disparta dalam hal pengembangan kawasan kultural. Seni dan budaya masyarakat, juga keteraturan kampung-kampung Arab di sekitaran lokasi ke masjid dan makam akan kami perhatikan,” ujamya. Memang demikian idealnya. naskah dan toto: Dias

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 35, 21 Juni -09 juli 2004, Tahun II.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s