Tancak Kembar, Bondowoso


Tancak Kembar di Bondowoso (seperti) masih menyimpan misteri. Terlebih setelah objek wisata alam beruwujud air terjun kembar itu dinyatakan ditutup sejak September 2002. Kendati demikian, keindahannya masih bisa dinikmati. Cuma, harus ekstra hati-hati. “Kalau ke sana jangan sendirian. Ajaklah teman,” pesan Kepala Dinas Pariwisata (Kadisparta) Kabupaten Probolinggo, Wasita Rahardja, menanggapi niat Jatim News menapaki air terjun tersebut. Ada apa sebenamya? Saat memasuki wilayah kabupaten seluas 156.010 ha, berpenduduk 662,559 jiwa itu, yang terlintas kali pertama di benak adalah makanan khasnya, tape singkong.  Setelah putar-putar, ketahuanlah, “kabupaten tape” ini ternyata memiliki sejumlah aset berupa objek wisata alam yang bernilai jual tinggi. Salah satunya, air terjun Tancak Kembar di Desa Andungsari, Kecamatan Pakem. Air terjun berketinggian 77 meter ini tergolong unik. Pasalnya, terdiri atas dua “unit” air terjun yang berjajar, berjaraknya sekitar 20 meter. Kubangan yang dihasilkan air terjun kembar itu juga tidak menyatu, sehingga menambah kuat julukan kembarannya. Selain itu, aura keindahannya semakin terpancar dengan bertebarnya bebatuan kecil dan besar yang dilapisi lumut tebal. Kejernihan airnya yang dingin juga memperkuat nilai keunikan objek wisata alam ini.

Sayangnya, untuk menikmati keindahan dan keunikan Si Kembar ini, relatif tidak mudah. Apalagi saat musim hujan. Ancaman bencana tanah longsor dan banjir seolah mengintip perjalanan wisatawan. Maka menjadi tidak aneh jika Kadisparta setempat sampai wanti-wanti agar ekstra hati-hati saat menikmati keindahan air terjun kembar itu. Paling ideal untuk berwisata ke sana memang saat musim kemarau, Pesan Kadisparta itu sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti. Dari pusat kota Bondowoso, jaraknya boleh dibilang tak terlalu jauh, Hanya sekitar 23 km, ke arah barat.

Namun, rute yang harus dilalui penuh dengan tantangan, dan siap menguji mental wisatawan. Bila berangkat dari kawasan kota, akan  melewati jalan raya beraspal mulus menuju ke arah Besuki, sekitar 9 km. Selanjutnya melintasi jalan desa (beraspal) sejauh 12,5 km. Di sanalah tantangan dimulai. Badan jalan sempit, berkelok-kelok, dan menanjak tajam karena kemiringannya sekitar 80 derajat. Berarti kondisi sarana transportasi harus prima. Sampai di ujung jalan desa beraspal, perjalanan memasuki jalan setapak, cukup hanya untuk satu sepeda motor saja, sejauh sekitar 2 km. Kawasan bertebing curam yang seharusnya ditumbuhi pepohonan ini sudah beralih fungsi menjadi areal persawahan.

Sangat mungkin terjadinya bencana tanah longsor bila musim hujan. Sesampai di lokasi, rasa capek akan disapu hawa sejuk dari percikan air terjun kembar itu. Keindahannya spontan melahirkan ketakjuban siapa pun yang menikmatinya. Namun, sekali lagi, tetap harus waspada. Jika langit mendung, bergegaslah meninggalkan objek wisata itu, senyampang belum terjebak hujan. Bisa gawat. Kadisparta Wasito Rahardja mengungkapkan, aset wisata tersebut sebenamya sudah pemah dikelola pemkab setempat. Sejumlah fasilitas penunjang berupa jembatan, kamar mandi dan area parkir kendaran di sekitar lokasi juga sudah dibangun. Bahkan, untuk membawa kendaraan roda empat pun dahulu sangat memungkinkan. “Dulu mobil juga bisa masuk,” tandasnya, meyakinkan.

Keadaan berubah setelah pemerintah pusat memutuskan menutup titik-titik rawan bencana alam. Tragisnya, alam pun “memutuskan menutup” objek wisata itu lewat bencana tanah longsor yang menimbun badan jalan. Sekarang lebar badan jalan menyempit drastis. Fasilitas bangunan juga rusak lantaran tidak terawat. Ya sudah, wassalam. Lantas, apa ada rencana Disparta alas objek wisata air terjun itu ke depan, terkait dengan adanya Pusat Penelitian Kopi Arabica seluas 180 ha di kawasan tersebut? Wasito menjawab, “Ya menunggu sampai tempat itu aman.” Ya, menunggu, sampai kapan? Rosi

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 35, 21 Juni-09 Juli 2004, Tahun II

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bondowoso, Wisata, Wisata Alam dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Tancak Kembar, Bondowoso

  1. adi berkata:

    subhanallah ternya masi ada yang peduli dengan keindahan tancak kembar salam kenal saya dari desa ardisaeng bondowoso!

  2. CAHYO berkata:

    tempat2 wisata yang ada di bondowoso tidak kalah bagus dengan tempat wisata d daerah laen cuma bagaimana cara kita untuk mengelolax dengan benar dan membiayai fasilitas pariwisata tersebut demi kemajuan kota kita tercinta BONDOWOSO

    • Jangan khawatir Sdr. cahyo, Bondowoso merupakan Kabupaten yang lebih dewasa dari pada Jember yang baru berumur kemaren. Bila para pemimpin di Kabupaten Bondowoso ada kemauan untuk maju contoh aja Jember.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s