Pecel, Madiun


Dibutuhkan lima karung (sekitar 250 kg) kacang tanah. Itu belum termasuk bahan baku pendukung, seperti asem, cabe, daun jeruk purut, dan gula merah. Proses produksi “dikeroyok” enam orang tenaga kerja yang terampil meracik kompisisi bumbu. Produk LM, seperti halnya produk produsen bumbu pecel lain di Madiun, merambah berbagai kota di Indonesia.

Pedas? Setengah pedas? Tidak pedas? Ah, semua selera tinggal cur …. lantas diaduk. Gitu aja kok repot. Sangat mudah diracik, dan dijamin nikmat. ltulah bumbu pecel khas Madiun. Memang, pecel tak hanya ada di Madiun. Banyak juga di daerah lain di Jatim. Namun, Madiun sentra produksi bumbu pecel Produk yang terdaftar di Depkes ada sekitar 30-an, dari Madiun saja. Jumlah itu tidak termasuk yang belum terdaftar, baik yang bermerk maupun home industry yang tak terbilang banyaknya. Ketika Dinas Pariwisata (Disparta) Jatim mengikuti pameran International Tourismus Borche (ITB) di Berlin, seorang pejabat Kedubes Indonesia di Jerman mengundang makan bersama, salah satu menunya adalah pecel. Salah seorang tamu bule heran melihat bumbu pecel yang dia sebut saos. Namun begitu mencicipi rasanya, di langsung berkomentar, More saus with more chili.” Maklum, di Itali memang ada saos mentega, di Amerika Serikat saosnya lebih banyak diwarnai tomat, dan kali ini ada “saos” yang bahan bakunya sebagian besar kacang. Itulah bumbu pecel. Lumpang Mas (LM) adalah satu diantara sekian produsen bumbu pecel.

Home industry milik Teguh Santosa ini tak henti mencoba selera/cita rasa (taste) baru guna memenuhi selera pasar. Meski baru dua tahun berdiri, LM mampu menduduki peringkat dua predikat produsen bumbu pecel se-Madiun. Kemasannya pun agak beda dengan produk sejenis. Ada beberapa bentuk kemasan menarik dan unik, warna-warni dan cantik. Kemasan 2 ons (dibungkus plastik), kemasan 5 ons dan 1 kg (dalam tas mini berbahan kertas). Pas untuk souvenir atau oleh-oleh.

“Kemasannya memang kita buat sedemikian rupa agar menarik,” kata Teguh seraya menambahkan LM selalu menjaga kualitas produk. Istrinya, seorang apoteker, selalu mengontrol nilai higienis produknya. Hal yang melegakan adalah, setiap produk yang diluncurkan bertanda kedaluarsa. “Kami benar-benar menjaga kualitas,” tambah Bu Ninik, sapaan akrab istri Teguh. LM pun membuka pintu bila ada konsumen yang ingin melihat proses produksi.

Sebagai Paket Wisata mungkinkah?  Wisatawan kini memang tak hanya  sekadar ingin membeli produk. Sebut saja wisatawan minat khusus di sentra produsen bumbu pecel. Pastilah dia ingin melihat proses produksi. Malahan kalau perlu wisatawan bisa mencoba bagaimana rasanya menumbuk bumbu. Realitas itu bila bisa diangkat  tentulah layak jual dalam satu paket perjalanan wisata. Bagi produsen bumbu pecel berkualitas, sudah pasti sangat menjaga kualitas bahan baku.

Di Madiun, kacang tanah asal Tuban menjadi pilihan utama untuk bahan baku bumbu. LM milik Teguh, dalam sebulan saja membutuhkan lima karung (sekitar 250 kg) kacang tanah. Itu belum termasuk bahan baku pendukung, seperti asem, cabe, daun jeruk purut, dan gula merah. Proses produksi “dikeroyok” enam orang tenaga kerja yang terampil meracik kompisisi bumbu. Produk LM, seperti halnya produk produsen bumbu pecel lain di Madiun, merambah berbagai kota di Indonesia.

Khusus pemasaran ke super market, sejumlah produsen, termasuk Teguh, mengaku kesulitan. Kendalanya, selain soal sistem pembayaran, juga stok yang harus dikirimkan ke super market  dalam jumlah relatif besar. “Pernah kami coba. Ternyata sangat sulit bagi pengrajin,” paparnya. Model pemasaran mereka tergolong tradisional, melalui kenalan atau teman. Kalangan produsen bumbu pecel di Madiun mengaku punya keinginan untuk bisa ekpor, menembus pasar mancanegara.

Namun sejumlah kendala masih mengganjal. Sebut saja, antara lain, kalangan pialang eksporter masih didominasi “orang-orang tertentu”. Kendati demikian, pecel bisa pula dijumpai di hotel dan restoran di Malaysia, Singapura, dan di sebagian negara-negara Eropa. Satu hal pasti, seperti yang dialami LM, nominal modal terus membengkak seiring meningkatnya kapasitas produksi. Peningkatan itu buah dari kemitraan dengan Perum Peruri dan peningkatan ketrampilan yang diberikan Disperindaq. GM

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatimnews Edisi 36, 09 -22 Juli 2004, Th. II

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madiun, Wisata, Wisata Kuliner dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s