Ceprotan, Budaya Pacitan


Ceprotan Keselamatan bagi Pacitan

Tradisi dan mitos menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nyaris tak ada yang bisa mengubahnya. Seperti yang terjadi di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Warga desa tersebut memiliki, upacara bersih desa yang sarat muatan religius. Upacara memetri desa (selamatan untuk desa) itu mereka sebut dengan istilah ceprotan. Lazim dilaksanakan secara gotong royong. Namun setelah dikemas menjadi objek wisata, Pemkab Pacitan dan Dinas Pariwisata setempat ikut andil dalam pelaksanaannya.

Keselamatan desa merupakan tujuan pokok dari pelaksanaan prosesi ceprotan. Warga desa berharap mendapatkan keselamatan lahir-batin, rukun, damai, terbebas dari gangguan makhluk halus, dan terhindar dari malapetaka. Upacara ceprotan dilaksanakan setahun sekali, tiap bulan Selo atau Longkang (Dulkangidah/Dzul Qa’dah), hari dan pasaran Senin Kliwon. Bila pada bulan tersebut tidak terdapat hari Senin Kliwon, maka upacara dilaksanakan pada hari Minggu Kliwon. Even kali ini tepat tanggal 19 Januari 2004. Prosesi ceprotan berlangsung selama dua jam mulai pukul 14.00.

Sebuah tradisi dan mitos (sejarah) sebuah desa, lazimnya tidak boleh berubah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan pola pikir masyarakat Desa Sekar, ceprotan pun tak luput menjadi dua versi cerita. Sehingga tak mustahil terjadi pro-kontra dan saling tuding ketika terjadi malapetaka. Semua itu bermuara pada pelaksanaan upacara ceprotan yang dianggap tidak sesuai dengan tatanan awal.

Versi pertama mengalir dari tradisi lokal di Desa Sekar, seperti yang disampaikan H. Sakiman, mantan lurah. Konon, desa tersebut semula merupakan kawasan perbukitan tandus dan tak berpenghuni. Lokasinya di utara Keraton Wirati, kediaman Prabu Prawirayuda yang populer dengan julukan Gusti Kalak. Ketika Ki Gadheg (salah satu anak Gusti Kalak dengan garwo selir yang bernama Mbak Prawan) membuka hutan untuk membangun padepakan, bertemu dengan Dewi Sekartaji yang sedang berkelana mencari Panji Asmarabangun, kekasihnya.

Konon, dalam perjalanan itu Dewi Sekartaji kehausan dan minta air kepada Ki Gadheg. “Jangankan air untuk minum, sedangkan hutan saja baru dibabat,” jawab yang dimintai. Namun, demi Dewi Sekartaji, dia berusaha mencari air minum. Sesaat dia bersemedi di dekat sebuah teleng (goa). Dengan kekuatan gaib, sekejab mata Ki Gadheg telah masuk Laut Selatan, lokasi Keratan Wirati, dan kembali dengan membawa sebuah kelapa muda. Setelah minum air kelapa tersebut, kesegaran dan kekuatan Dewi Sekartaji pulih. Sisa air kelapa ditumpahkan di tanah. Dengan kekuatan Sang Hyang Widi bekas tumpahan itu menjadi sumber mata air. “Bila suatu saat nanti terjadi kemakmuran (rejaning jaman), namakan tempat ini Sekar. Setiap tahun harus diadakan upacara bersih desa,” pesan Dewi Sekartaji.

Dilempar Kelapa
Versi kedua yang disampaikan Mbah Iman Tukidjo, lurah sekarang, lain lagi. Status Dewi Sekartaji dan Ki Godheg adalah suami-istri. Mereka mendirikan padepokan untuk mengembangkan ilmu. Calon murid yang hendak berguru harus membawa perlengkapan persyaratan. Rincinya, cengkir, beraspari, beras ketan, mori, pitik putih mulus, kembang setaman, dan menyan. Pada waktu yang ditentukan, para murid datang menghadap sang guru. Mereka ada yang membawa perbekalan dan ada juga yang tidak. Murid yang membawa perbekalan dianggap tidak faham wejangan Ki Godheg. Sedangkan yang tidak membawa dianggap faham, karena yang dimaksud perlengkapan tersebut adalah falsafah berupa akronim. Cengkir adalah kencenge pikir (lurusnya pikiran). Beras pari maksudnya biar aber kekerasane (tak mudah marah). Beras ketan maknanya keket tan ana tandinge (menjadi manusia seutuhnya). Mori dimaksudkan supaya bisa ngemori (menyatu dengan masyarakat). Pitik putih mutus artinya pikirane mletik lan tulus, dengan maksud jika orang sudah beragama hidupnya akan berlandaskan tujuan baik dan iman kuat. Kembang setaman maksudnya mengembangkan perbuatan baik yang utama. Menyan atau dupa, bermakna bahwa setiap orang harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Maka perlengkapan yang sudah dibawa para murid dimasak bersama-sama dan dibagi-bagikan secara merata.

Hingga kini, jenis makanan itulah yang dijadikan ragam sesajen. Pada saat pembagian selesai, tersisa dua ayam panggang. Ki Godheg membuat sayembara, “Barang siapa yang dapat mengambil dua buah ayam panggang serta berani dilempari dengan cengkir (kelapa muda), boleh memiliki ayam panggang tersebut. Akhirnya terjadilah peristiwa pelemparan kelapa muda pada murid yang mengambil ayam panggang dimaksud. Karena yang dilemparkan kelapa muda yang telah dikupas, maka terjadi percikan (cipratan) air kelapa muda. Peristiwa ini akhimya di sebut ceprotan. Meski ada dua versi, namun sajian pertunjukan tetap serupa. Mulai dari sesajen hingga ucapara ritualnya yang diakhiri saat matahari terbenam. Saat itulah diyakini roh-roh halus yang akan mengganggu ketentraman warga desa muncul.

Prosesi pelemparan cengkir pun dilaksanakan saat menjelang matahari terbenam. Upacara ditutup dengan pembagian sesaji pada warga, dan diberkati doa. Acara ceprotan itu telah menjadi sajian budaya khas Pacitan. Hebatnya, ceprotan itu mampu menyedot puluhan wisatawan manca negara. Diantaranya dari Jerman, Cekoslovakia, Jepang, Belanda, Taiwan, dan Inggris. “Begitu pula untuk even mendatang, diperkirakan tamu-tamu tersebut (wisatawan) akan hadir,” kata Endro Waluyo, Kabag Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pacitan.Aida Ceha

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Jatim News, Tabloid Wisata Plus,
 Edisi 26, 9-23 Januari 2004 Th. II


Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pacitan, Seni Budaya, Th. 2004 dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s