Kerajinan Kuningan Cindogo


Bunga-bunga Indah, Cindogo

Warnanya cerah, mencolok. Didominasi merah dan hijau. Motif lukisan, nyaris semua berbentuk bunga. Itulah ciri khas kerajinan kuningan Cindogo, Tapen, Bondowoso. Warna dasar kuning mengkilat, karena memang bahan bakunya memudahkan orang mengenal dari mana kerajinan itu berasal.

Melewati kawasan Cindogo, tampak deretan etalase yang memajang aneka kerajinan kuningan. Berbagai bentuk. Mulai dari model vas bunga kecil-besar, kinangan/set, sakramen penganten/set, paidon, asbak, gantungan pakaian, tempat bollpoint, sampai miniatur patung kuda dan singa.

Kerajinan tersebut produk home industry masyarakat setempat. Tak jelas, siapa yang memulai usaha ini. Yang jelas, ada secara turun-temurun, seperti yang dikisahkan Hj. Sus, perajin kuningan bermerk “Setia” sejak tahun 1950-an. Perjalanan model produknya pun mengalami  pasang surut. Mulai dari yang popular puluhan tahun lalu, yakni cetakan kue bikang dan kue matahari (kini langka), sampai aneka model terkini.

Proses produksi relatif sederhana, tapi memerlukan kecermatan. Mirip dengan cara membuat kerajinan cor logam/aluminium di Mojokerto dan Jombang. Mula-mula membuat bentuk sesungguhnya yang akan dicetak. Kuda misalnya, dibuat dari tanah/lilin. Kemudian disemen, dibungkus dengan tanah. Setelah itu dibakar hingga memungkinkan lilin leleh, sehingga otomatis meninggalkan bekas guratan di dalam tanah atau semen pembungkus.

Rongga cetakan itulah yang diisi dengan cairan kuningan. Jadilah bentuk yang dikehendaki. Kemudian dihaluskan/digosok. Lazimnya, proses mengukir merupakan bagian tersulit. Diperlukan ketelitian dan ketekunan tinggi. Kadang digam bar dahulu dengan pensil. Pengecatan merupakan bagian terakhir, tapi ada beberapa motif yang tidak membutuhkan pengecatan. Cukup coating agar halus. Seperti patung kuda atau kinangan/set.

PEMASARAN
Kerajinan Cindogo sudah melanglang buwana. Hampir setiap even pameran kerajinan di dalam mapun luar negeri, Cindogo selalu hadir. Pasaryang paling poten sial adalah Surabaya, Jakarta, Denpasar, dan Medan. Untuk pasar luar negeri, kebanyakan menembus Eropa dan Australia. “Biasanya mereka (buyers) dating sendiri atau pesan melalui telepon,” kata Hj. Sus.

Namanya saja home industry, kebanyakan pasar digarap secara tradisional. Mereka menunggu calon pembeli atau pemesan. Mereka kadang tak tahu jika produknya dijuallagi di luar negeri melalui beberapa perantara. Menembus pasar internasional secara langsung memang sulit. Di samping kemampuan dan pengetahuan yang minim, juga peluang seperti tidak ada. Seperti diungkapkan pengrajin kuningan bermerk “Imanda” yang belakangan kesulitan menemukan pasar.”Bantu kami, dong, pasarnya,” kata Ny. Kusaeri.

Ketika disarankan mencari peluang pasar lewat internet, dia jawab dengan gelengan kepala. Begitu juga soal model yang kebanyakan bercorak bunga, dan jenis/bentuknya pun pada tiap-tiap perajin hampir sama. Munculnya inovasi baru dalam produk, seperti bercorak abstrak atau contemporer, tidak ada. Mereka khawatir tidak laku. Satu set kinangan ukuran standard seharga Rp200 ribu. Vas bunga sekitar 30 cm, Rp75 ribu. Namun ada juga juga harganya Rp2 juta. Nominal harga (variatif) itu tergantung berat, ukuran, bentuk ukiran, dan tingkat kesulitan dalam proses produksi. Miniatur kuda atau singa yang tak memerlukan ukiran kembang (polos), lebih murah dibandingkan dengan vas yang sarat ornamen (lukisan) warna-warni, meski bahan bakunya sama beratnya.

Sekilah, harganya relatif mahal. Namun, jangan lupa, bahan baku kuningan (dari sekitar Bondowoso dan Surabaya) juga mahal. Kuningan bekas Rp15 ribu/kg. Wajar jika konsumennya, seperti  diungkapkan Ny. Kusaeri, kalangan menengah atas. “Ada juga pemesan yang memesan dengan desain buatan sendiri,” ungkapnya. Lazimnya, harga sedikit lebih tinggi, karena faktor kesulitan dalam proses produksi pun lebih tinggi. Sekali tempo kalangan pedagang dariJakarta, Surabaya, dan Denpasar memberi order lumayan besar. Order disertai gambar/lukisan. Tak sulit, asal harga sesuai dengan order.

Cindogo terletak 5 km di utara Kota Bondowoso. Badan jalan beraspal, mulus. Dapat dijangkau dengan segala jenis kendaraan dan bus umum dari arah Surabaya maupun Bondowoso. Bila Anda berwisata ke Gunung Ijen, singgahlah sebentar di Cindogo. Anda akan tahu sendiri keunikannya. GM. 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatimnews, Tabloid Wisata Plus, EDISI 30, 27 Agustus – 10 September 2004, Tahun II 


Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bondowoso, Sentra dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kerajinan Kuningan Cindogo

  1. wayansuliarsa berkata:

    saya dari Bali sangat tertarik akan kerajinan ini

  2. Ping balik: dewan kerajinan nasional jakartaCara Cohofest | Cara Cohofest

  3. Ping balik: Toko Baju Hamil Di Itc Kuningan - Pakaian Ibu Hamil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s