Laras Food, Gresik


“LARAS FOOD” Buah Tangan Pekerja Pabrik

Siang itu Ririn terlihat sibuk mengawasi beberapa pekerjanya yang tengah memasukkan martabak udang siap saji ke bungkus plastik sebelum kemudian dimasukkan ke mesin pendingin besar berukuran 1,5 meter. Sesekali, ibu dua orang putra ini mengusap sedikit keringat yang menetes di wajahnya.

Tempat produksi usaha makanan siap saji miliknya di Jl. Raya Tenaru, Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik memang terbilang lumayan kecil, sehingga aktifitas enam mesin pendingin membuat suhu di tempat usahanya terasa lumayan panas. Meski begitu, tujuh karyawannya masih terlihat semangat dan terampil memproduksi martabak udang pesanan langganan yang akan diambil besok siang. Ririn adalah salah satu pengusaha makanan siap saji berbahan produk laut seperti ikan, cumi-cumi, dan udang yang kini tengah berkembang. Bahkan, istri Ali Usman ini kini tengah melakukan pembicaraan dengan salah satu supermarket terkenal agar produknya dapat dipasarkan di supermarket.

“Pembicaraan kami hampir mencapai kesepakatan,” katanya. Keahlian Ririn, dalam memproduksi makanan siap saji dari makanan produk laut didapatkannya sejak dia bekerja di salah satu perusahaan makanan pengolahan udang yang memproduksi makanan sejenis di Kabupaten Gresik. Posisinya sebagai salah satu staf penjaga mutu produk membuatnya paham betul bagaimana membuat makanan siap saji, tentu saja termasuk bagaimana cara menjaga mutu dan spesifikasi kandungan produk yang dihasilkan.

Namun sejak dua tahun terakhir, Ririn terpaksa berhenti bekerja di perusahaan yang diikutinya selama enam tahun itu karena tutup secara mendadak tanpa alasan yang jelas. “Alasan penutupan perusahaan hingga saat ini, saya belum tahu,” katanya. Menghilangnya produk buatan bekas perusahaan Ririn membuat jaringan pasar lokal maupun intemasional yang dibangun menjadi panik karena kehilangan produk yang selama ini dikonsumsi. Hal itu kemudian membuat banyak perusahaan lain memintanya untuk membuat produk sejenis untuk memenuhi banyaknya permintaan pasar.

Sejak saat itu, kesibukan Ririn bertambah, dia seringkali diminta perusahaan memberikan pelatihan cara pembuatan makanan siap saji. Kesibukannya itu diakuinya cukup menyita waktu dirinya dan keluar ganya. “Bahkan pernah saat malam takbiran menjelang hari raya, saya masih harus kerja untuk memenuhi pesanan dari Eropa,” katanya.

Hanya 20 bungkus
Merasa kesibukannya tersebut telah mengganggu waktunya untuk keluarga, diapun berinisiatif memproduk sendiri makanan siap saji dengan jumlah dan modal kecil, namun dengan tetap bekerja di perusahaan. Saat itu, produk yang pertama kali dihasilkan adalah makanan siap saji hasil laut berupa campuran ikan, udang, cumi-cumi ditambah sedikit sayuran, mie, dan bumbu yang dibungkus kulit lumpia.

Saat itu, produk yang dihasilkan hanya sebanyak 20 bungkus, dengan berat 250 gram berisi 17 biji. Produk siap sajinya yang dapat langsung dikonsumsi dengan digoreng sebelumnya itu dipasarkannya ke teman-teman dekat, tetangga dan koleganya. Tanpa diduga, produk perdana buatanya yang diberi nama -Crispy Sea Food Deli- itu laris terjual. Seiring berjalannya waktu, produk Ririn banyak digemari, sehingga dia pun memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan dan  mengembangkan usahanya.

Dibantu beberapa kali akses permodalan dari perbankan dan memperluas pasar melalui bantuan dinas perikanan dan kelautan kabupaten gresik, maupun provinsi, kini Ririn pun menjadi pengusaha makanan siap saji dengan legalisasi bentuk usaha berbentuk CV. Dibantu 18 karyawannya, dan tujuh unit mesin pendingin, pemilik brand produk “Laras Food” ini kini dalam sehari memproduksi 1 kuintal makanan siap saji yang sudah jadi, dengan omset usaha setiap bulannya mencapai kurang lebih Rp40 juta.

Hingga kini, Laras Food sudah mampu memproduksi sembilan jenis makanan siap saji, yakni Kekian Udang, Spring Roll Udang, Tail on Shrimp Dumpling, Martabak udang, Crispy Sea Food Deli, Drumb Stick, Tail on Shrimp Roll, Pastel Udang, dan Shiomay Udang. Produk buatannya dijual dengan harga Rp 13.500-19.500 untuk setiap kemasan berisi 17 biji dengan berat produk 250 kilogram. Pasar yang dikembangkan pun saat ini tidak lagi di sekitar Gresik, dan Surabaya, namun sudah mencapai Jakarta, Jogjakarta, dan Kalimantan.

Untuk ekspor, Ririn mengaku masih belum siap melakukannya, karena usahanya masih terhitung skala kecil dan belum bisa memproduksi dalam jumlah besar. “Saya khawatir tidak dapat memenuhi permintaan pasar ekspor yang volumenya sangat besar,” ujarnya. Meski begitu, Ririn merasa lebih menikmati hidup, dari pada bekerja di perusahaan dengan gaji besar, namun banyak menyita waktu. Dan yang lebih penting lagi, dia merasa bersyukur karena usahanya juga mendukung program pemerintah dalam mengkampanyekan agar masyarakat gemar makan ikan. (fa)

 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pro-Ikan: Upaya Pengembangan Perikanan dan Kelautan Jawa Timur, Edisi 08 (2010), Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur. hlm. 32-33.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Gresik, Wisata, Wisata Kuliner dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s