Kampung Kemasan, Gresik


Wisata Gresik, Keindahan Masa Lalu di Kampung Kemasan

Kota Gresik yang sebagian wilayahnya didominasi pegunungan kapur, menyimpan Kota Tua di balik asap pabrik skala nasional. Meski sering kali digenangi air banjir luapan Bengawan Solo dan laut, kota tua itu masih terpelihara sampai sekarang. Satu di antaranya kampung kemasan yang pada Malam  Anugerah Wisata 2011 yang lalu Kampung Djaloe atau biasa dikenal dengan Kampung Kemasan masuk dalam kategori daya tarik wisata favorit.  Kampung Kemasan merupakan sebutan bagi penggalan sebuah gang  sepanjang sekitar 200 meter di kawasan yang dikenal dengan nama Pakelingan, Kecamatan Kota Gresik. Lokasi ini pada abad ke-19 M merupakan pemukiman orang-orang Eropa dan kaum pribumi yang cukup mapan dari segi ekonomi.

Bangunan-bangunan di kanan dan kiri gang ini memiliki arsitektur perpaduan antara corak Eropa dan China. Unsur Eropa dapat dilihat dari tampilan atau tampak depan bangunan, yang umumnya memiliki susunan anak tangga yang makin mengecil ke atas. Ditambah lagi dengan tiang-tiang bergaya doria dan ionia, serta pintu jendela berukuran besar dengan lengkung-lengkung di bagian atasnya. Sedangkan unsur chinanya tampak dari sejumlah ornament maupun tempat hio di pintu gerbang rurnah.

Sebagian besar rumah-rumah tersebut berlantai dua. Menurut tradisi lisan, pada masa pendirian rumah-rumah tersebut seluruhnya didominasi oleh warna merah. Rumah-rumah ini, biasanya dihuni oleh orang-orang yang masih mempunyai hubungan keluarga, dan termasuk rumah megah untuk ukuran zamannya. Penduduk sekitamya menyebut dengan kemasan yang berkonotasi masa-masa keemasan.

Sejarah Kampung Kemasan
Pada Tahun 1853 di tepi sungai kecil yang menghubungkan Desa Telogo Dendo melewati perkampungan-perkampungan penduduk dan berakhir di lautan bebas. Di perkampungan berdiri rumah yang dibangun oleh seorang turunan China yang bernama Bak Liong. Bak Liong mempunyai keterampilan, membuat kerajinan dari emas. Dari keterampilannya yang juga merupakan usaha ini, nama Bak Liong menjadi terkenal. Banyak orang yang datang untuk memesan atau memperbaiki perhiasannya. Sejak itu kawasan ini dinamakan Kampung Kemasan (tukang emas).  Sepeninggal Bak Liong kampung ini sempat mangkrak, hingga akhimya ada seorang pengusaha kulit benama Oemar. Dia terketuk untuk membeli bangunan-bangunan yang ada di Kampung Kemasan dari tangan Bak Liong. Maka pada tahun 1855 H. Oemar bin Ahmad, warga keturunan Arab, yang dikenal sebagai pedagang kulit mendirikan rumah di daerah ini.

Di samping pedagang kulit H. Oemar juga mengusahakan penangkaran burung walet. Tahun 1861, setelah usaha kulitnya semakin maju, dia mendirikan dua rumah lagi di sebelah kiri rumahnya yang pertama. Tahun 1896, ketika kesehatan dan kekuatan H. Oemar mulai menurun, dia menginginkan anak-anaknya untuk meneruskan usaha perkulitannya. Dari tujuh anak H. Oemar, lima di antaranya (Asnar, H. Djaelani, H. Djaenaeddin, H. Maechsin dan H. Abdoel Gaffar) melanjutkan usaha ayahnya. Dua anak H. Oemar lainnya (Marhabu, Abdullah anak kedua dan ketiga), memilih usaha lain.  Setelah dua tahun kemudian mereka mendirikan pabrik penyamakan kulit di Desa Kebungson Gresik. “Usaha kulit keluarga Oemar mengalami masa keemasan pada 1896-1916, dengan menguasai 26 kota di Jawa Timur. Itupun belum termasuk dari luar negeri,” jelas Oemar Zainuddin, keturunan ke-3 dari H. Oemar, yang akrab dipanggil Nud.

Pabrik penyamakan kulit ini baleh dikatakan telah memberikan kantribusi bagi perkembangan Gresik sebagai kota dagang. Bahkan manakala sistem kolonial tidak memberikan tempat bagi kemunculan kelas pengusaha lemah pribumi, pengusaha menengah pribumi Gresik mampu bertahan menghadapi tekanan ini. Mereka bisa bersaing dengan kelas perdagangan perantara yang sebagian besar dari komunitas China dan Arab. Pada awal abad ke-20 Gresik sudah mampu melahirkan pengusaha-pengusaha kelas menengah yang berhasil. Dari hasil pabrik penyamakan kulit, ditambah dari hasil penjualan liur walet, keluarga turunan H. Oemar bin Ahmad berhasil mendirikan sederetan rumah di kampung kemasan yang saling berhadapan. Bangunannya memiliki keunikan arsitektur yang pada periodisasi tertentu menjadi ikon kemajuan kota Gresik.

Gaya arsitektur rumah-rumah itu beragam, ada yang bergaya kolonial (Belanda), Otina, Melayu dan Jawa yang sekarang usianya rata-rata 100 tahun lebih. Bangunan yang paling menonjol di kawasan Peranakan ini adalah rumah tinggal Gajah Mungkur milik H. Djaelani, putra keempat H. Oemar bin Ahmad. Dari 23 bangunan di Kampung Kemasan sampai saat ini masih dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya, tinggal 16 bangunan (rumah) yang masih terpelihara. Berada di sana membawa kita ke suatu atmosfer masa silam. Melihat begitu banyak sisa bangunan lama di sana, memberi bukti betapa daerah ini sangat disukai pada masa itu dan mengingatkan kita akan masa pendudukan Belanda di negeri ini. Kehadiran mereka pula yang membawa unsur budaya asalnya. Itu juga termasuk dalam seni bangunan, walau harus melalui bermacam adaptasi terhadap pola masyarakat di Kota Gresik.

Pusat Kota Gresik yang diapit Bengawan Solo dan Sungai Brantas, layak menjadi kota dagang.  Pada masa itu, kedua sungai besar itu merupakan jalur utama perdagangan antar-daerah oleh para gujarat (pedagang Islam), maupun pedagang keturunan China, yang melakukan transaksi dengan para kolonial. Peran ini ditunjukkan juga dengan adanya Pelabuhan Lama tempat bersandar perahu dan kapal-kapal dagang. Kondisi inilah setidaknya yang kemudian membawa pengaruh dari gaya-gaya bangunan di kawasan Kampung Kemasan. Karena mereka juga mendirikan bangunan untuk dijadikan tempat tinggal, bahkan tempat bisnis, untuk menjalankan roda transaksi perdagangan. Usaha keluarga Oemar terus berkembang hingga berhasil mendirikan pabrik kulit di Desa Kebungson, letaknya dekat Kemasan. Saat itulah pembeli dari Belanda tertarik datang ke Kemasan.

Jejak Islam
Dari sejumlah bangunan yang ada berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat sejarah ada pula sebagai masjid yang sebelumnya hanyalah sebuah surau kecil. Bangunan ini juga didirikan oleh keluarga Oemar. Pada masa itu menurut Oemar Zainuddin, kakeknya adalah seorang pengusaha yang sangat kuat dengan tatanan ajaran agama Islam. Tak salah bila hingga saat ini nuansa itu masih terasa, saat kita menginjakkan kaki di sana.  Terlebih lagi masih di sekitar kawasan Kampung Kemasan terdapat Makam Nyai Ageng Pinatih, yang dikenal sebagai ibu asuh Sunan Giri (seorang waliyullah asal Gresik). Banyak bangunan di Kampung Kemasan yang secara fisik bentuk bangunannya relatif asli, meski ada sedikit perubahan pada bagian-bagian tertentu. Bangunan lama yang ada relatif belum banyak yang mengalami alih fungsi, yang biasanya disertai dengan perubahan bentuk menyesuaikan fungsinya yang baru.

Satu bangunan rumah yang diberi nama Gajah Mungkur, yang kental dengan gaya kolonial, didirikan pada 1896 (ditempati pada 1902) hingga kini masih seperti aslinya. Di depan rumah megah itu terdapat gajah yang menghadap ke rumah tersebut, yang posisinya membelakangi Kampung Kemasan. Ada banyak orang berpendapat, rumah yang sekarang ditempati oleh menantu dari Djaelanii (putra ke-2 dari Oemar) itu, bermusuhan dengan keluarga yang tinggal di Kampung Kemasan. Tetapi pendapat itu ditepis Nud. “Itu salah, sebenarnya Djaelani bersama istrinya membuat patung gajah itu menghadap ke rurnalmya, agar lebih mudah bagi keduanya menggoda patung gajah itu.” Sayang memang, padahal animo masyarakat dari luar Gresik yang datang ke Kampung Kemasan juga luar biasa. Bahkan menurut Oemar Zainuddin, Kemasan kerap kedatangan tamu wisatawan asing dari Amerika Serikat, Belanda, Perancis, China, dan Jepang.

Kampung Kemasan yang terletak di Jalan Nyai Ageng Arem-arem Gang III ini banyak dikunjungi oleh wisatawan asing. Obyek yang diamati berupa bangunan-bangunan rumah tinggal terletak di kiri dan kanan gang tersebut sepanjang 200 m. Bangunan rumah tersebut masih terawat dengan baik, karena masih ditempati sebagai rumah tinggal dan bagian atasnya dimanfaatkan untuk budidaya Burung Walet. Untuk sampai ke kampung kemasan, dari Alun-alun Kota Gresik hanya berjarak sekitar 700 m. Dari Terminal Bus Bunder dapat ditempuh dengan transportasi angkutan umum sejauh 6 km, menuju Aloon-aloon kota atau depan kantor lama PLN Cabang Gresik, selanjutnya mengikuti petunjuk arah masuk Kampung Kemasan.

Kabupaten Gresik mempunyai daya tarik lainnya berupa kerajinan khas Gresik. Antara lain sarung tenun, songkak, rotan, bordir, damar kurung, batu onix, tikar pandan yang baru berkembang akhir-akhir ini. Wisatawan juga bisa menikmati makalan khas Gresik yaitu pudak, nasi krawu, otak-otak bandeng, jubung, ayas, gula aren, petis, keripik bayam. Serta produk olahan hasil laut yang dapat dijadikan souvenir dan oleh-oleh. Yang tak kalah menarik Kabupaten Gresik juga memiliki peninggalan-peninggalan dan situs-situs bersejarah serta adanya berbagai upacara adat dan acara tradisional, seperti Rebo wekasan, sanggring, malam selikur (tradisi kolak ayam Masjid Gumeno), malam selawe, malam pasar bandeng dan tradisi maulud (mauludan) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Prasetya, Sumber Inspirasi Birokrasi,
Volume III, No. 35, November 2011

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Gresik, Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Kampung Kemasan, Gresik

  1. Gresik sebagai kota wali.. Lestarikan budayanya jangan sampai terkikis oleh peradapan asing…. Kebungson sang kampong- isun kangen – wes suwe isun dak mole rek…

  2. Diah Sofi berkata:

    Rumah2 di Kampung Kemasan banyak yang lapuk dimakan usia… Perlu perhatian lebih dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Gresik untuk lebih peduli terhadap upaya perawatan dan pemeliharaan aset2 pariwisata di Kota Gresik.

  3. Isa Anshory berkata:

    Kalo kita mau menelusuri perkampungan di Gresik akan banyak kita temukan bangunan kuno semacam ini.
    Atau di jalan2 seperti jl R Santri, jl Hos Cokro A, jl Basuki Rahmad sebagian bangunan ini berusia sama dengan yang di kampung kemasan.
    contoh: di jl Basuki Rahmad ada kantor POS INDONESIA yg bangunannya terawat dan masih dalam bentuk asli. Ada juga rumah dinas Wakil Bupati…..
    monggo silahkan di telusuri….

  4. Ping balik: Menelusuri Kota Gresik – Jawatimur | babahboim

  5. dewi muninggar berkata:

    saya sudah jalan di kampung kemasan. Wah sayang bangunan-bangunannya kotor tidak terawat, jalannya pun demikian, lalulintas semrawut dan lagian nggak bisa lihat dalamnya karena bangunan masih dihuni. Ini jadi pr buat pemdanya, bangunan harus bersih, jalan terawat, ada toko suvenir, wisata kuliner dlsb. para pemilik gedung juga harus dihimbau untuk merawat dan memperbolehkan pengunjung untuk masuk untuk menikmati dan menghargai warisan bangsa.

  6. Gresik adalah sebuah kota industri, kota seribu makam, kota wali… Jangan sampai budaya dan bahasanya yg klasik tsb. Terkikis oleh sang waktu.. Yuk arek arek warga Gresik kabeh ayuk podo di jogo kelestarianne kota Gresik iki !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s